Zetta Sonic

Zetta Sonic
Black Dogs


__ADS_3

Alex tak suka ke mana arah percakapan mereka. “Baik. Saatnya pulang.” Alex pun beranjak.


“Kamu pikir ini saatnya pulang?” Tiger mendengus geli.


Alex terdiam sesaat. Kemudian dia menghela napas pendek. “Kamu pasti bercanda.”


Tiger membawa Alex ke mobil SUV putih khas milik ICPA. Dia tidak bertugas mengantar Alex pulang. Anak itu sendiri sadar kalau Tiger akan membawanya ke tempat lain, ke tempat di mana dia harus beraksi. Sesuatu telah terjadi di malam dingin itu dan mereka membutuhkan Zetta Sonic. Kalau boleh jujur, Alex sendiri membutuhkan ranjangnya. Dia mengantuk.


Dalam perjalanan itu, Emil yang duduk di belakang, mulai mejejalinya dengan berbagai informasi. Sebuah bar, para pemabuk, seorang wanita, barang-barang pecah, penembakan, juga beberapa ekor anjing neraka.


“Tunggu. Apa?” Alex berpaling ke belakang. Dia sempat menyangka dirinya salah dengar ketika mendengar Emil mengatakan soal anjing dan neraka. “Hal yang kupikirkan saat kamu bilang anjing neraka adalah cerberus yang ada di mitologi.”


“Memang.” Emil sibuk dengan tablet PC di pangkuannya. “Kamu tidak berpikir kami membawamu untuk menangkap para pemabuk, ‘kan?”


“Apa yang akan kutemui di sana?”


“Anjing neraka.”


“Kita sampai.” Tiger mendengus geli. “Ayolah, selesaikan ini dalam waktu lima belas menit, Alex.”

__ADS_1


Mobil mereka terparkir di belakang barikade beberapa mobil polisi yang sudah terbakar. Tak satu pun polisi terlihat lagi, begitu pula orang-orang. Di depan sana, terlihat bangunan kecil dengan gaya rural. Bata merah menyelimuti setiap sisi dindingnya dengan cerobong asap pada bagian ujung. Asap mengepul dari sana, begitu pula dari sisi jendela. Bagian dalamnya menyala membara. Tempat itu sedang terbakar.


Penyebabnya, diyakini Alex, berada tepat di depannya.


Sepasang anjing hitam menyalak pada mobil mereka. Mata mereka menyala merah. Gigi taring serta liur kental terekspos setiap kali mereka membuka mulut. Tak perlu waktu lama, keduanya berlari pada mobil. Bukan hanya itu, ada kobaran api keluar juga. Semburan apinya seperti keluar dari flamethrower.


“Anjing nakal!” Tiger menginjak gas. Dia tahu kalau mobil mereka tahan api. Namun, itu tidak lantas membuatnya berani menerjang kedua anjing tersebut. Dia menghindari semburan keduanya selagi Sonic bersiap-siap.


“Tolong jangan rusakkan seragam itu lagi,” bisik Emil.


Sayangnya, Alex tak lagi mendengarkan. Dia telah membuka pintu mobil. Badannya berguling di atas aspal. Saatnya mempraktikkan apa yang dia pelajari di ruang training. Pistol laser telah tergenggam erat di tangannya. Kuda-kudanya kokoh, bidikannya tepat. Sinar laser hijau membelah keheningan, tepat pada anjing pertama. Sinar itu mengenai kepalanya, meluluhlantakkan bentuknya dalam sekejap. Kehancurannya mengingatkan Alex pada monster dinosaurus yang beberapa saat lalu dia lawan.


Anjing kedua berlari padanya. Alex tidak merasa gentar. Kalau mobil mereka saja tahan api, apalagi seragamnya. Lagipula, serangan itu jauh dari kata akurat. Itu keberuntungan buatnya. Ketika semburan kembali datang, Alex menghindari titiknya dengan mudah, meski hawa panasnya sendiri berhasil menembus seragam, menjelma jadi kehangatan pada pipinya.


Saat itu, Alex melihat adanya anjing-anjing lain berlarian keluar dari sisi yang sama. Setidaknya Alex melihat setengah lusin sekarang. Mereka memamerkan gigi mereka dan segera saja api menyusul. Dia tak memberikan kumpulan anjing itu menyerangnya lagi. Alex membidik dengan tepat satu per satu. Terasa mudah sekarang apalagi setelah dia menjalani latihan di markas Special Force.


Sayangnya, sama seperti seperti ruangan training yang tingkat kesulitannya terus naik, ada kumpulan anjing lain. Mereka seakan-akan tidak pernah habis. Bahkan Alex mulai percaya kalau bar itu sebenarnya adalah pabrik anjing neraka. Sampai dia melihat siluat pria bertubuh besar berlari dari pintu belakang.


Sejauh ini, semua orang biasa telah meninggalkan tempat. Sebut saja seperti para pengunjung bar atau pekerja. Melihat seorang berlari dari bagian belakang gedung langsung saja terasa janggal. Dia tahu jelas harus menangkap orang tersebut sebelum terlalu jauh.

__ADS_1


Alex membuka jalan. Dia menembak beberapa anjing yang berusaha menghalangi jalannya. Itu termasuk melewati semburan api. Meski api tak benar-benar membakarnya, hawa panas itu tetap terasa menyengat di kulitnya. Alex berhenti ketika salah satu anjing melompat padanya. Untung saja dia telah siap akan adanya serangan kejutan. Kalau tidak, dia akan terjatuh. Terjatuh tidak akan memberi dampak baik baginya.


Mulut si anjing menggigit tangan kanannya. Meski demikian, tak ada luka berarti. Alex terlindungi seragamnya. Si anjing juga tampaknya menyadari hal tersebut. Si anjing mendengus dan segera saja Alex tahu apa yang akan terjadi. Semburan api pastinya merupakan hal buruk dalam kondisi sedekat itu. Alex meninju lepas si anjing. Hal tersebut justru memicu anjing-anjing lain berdatangan.


Tembakan datang dari sisi lain. Alex tersentak. Tembakan itu mengenai anjing terdekat lalu anjing lain lagi. Dia sempat mengira kalau itu bantuan dari Tiger namun arah tembakannya berbeda. Salah satunya memang dari Tiger, satunya lagi datang dari arah berlawanan.


“Hei, Sonic! Bala bantuan sudah datang.”


Alex mendengar seruan di antara deru tembakan laser. Asalnya dari seorang pria berseragam hitam seperti Tiger. Pria ini berdiri di atas mobil melalui sunroof yang terbuka. Siapa pun dia, Alex tahu kalau orang itu di pihaknya.


[Alex, tangkap dia!]


Kali ini, suara Emil terdengar dari dalam helm. Dia yang dimaksud Emil jelas bukan orang yang sedang memberinya bantuan melainkan sosok pria. Alex mendapati pria tersebut hampir menghilang di antara pepohonan. Itu tidak akan terjadi. Jason baru saja membawakan roket untuk Zetta Sonic.


Alex mengenakan ransel roketnya. Tanpa pikir panjang, dirinya memelesat di antara gonggongan anjing dan kobaran api menuju heningnya malam. Alex memicing. Dibantu teknologi helmnya, dia menemukan adanya mobil jeep di dalam hutan.


Orang yang sedang dikejar menyadari kedatangan Alex. Sosok itu menoleh ke belakang, menembak beberapa kali. Tak satu mengenai Alex. Tanpa menyerah, sosok itu terus berlari sambil mengayunkan parang yang dia sematkan di pinggang. Dahan-dahan mulai berjatuhan dari sisi pohon. Alex terhalang.


Sosok ini pun melanjutkan pelariannya. Saat mengira kalau telah berhasil meloloskan diri, Alex justru menjatuhkan diri ke atasnya.

__ADS_1


Alex menekan sosok itu di lantai. Namun, lawannya ternyata lebih gesit dari dugaannya. Orang itu bergulung menjauh.


Hal pertama yang disadari Alex adalah adanya benda asing di antara dirinya dan lawan. Benda yang dari tadi didekap lawan kini terlepas.  Sebuah kotak berukuran sejengkal tangan orang dewasa dengan lapisan besi dan tanda tengkorak. Hal kedua adalah kalau dia mengenali sosok tersebut.


__ADS_2