
Selagi Alex dan Tiger sedang ngobrol, Jayden juga tengah ngobrol dengan para calon yang akan dia ajukan sebagai asisten profesor Otto. Dia telah ngobrol dengan empat orang dan semuanya membosankan. Dua orang dari mereka merupakan anggota lapangan seperti Caitlin pada awalnya. Dua lagi merupakan anggota di balik meja seperti dirinya. Mereka semua berasal dari keluarga baik-baik yang tidak pernah tahu kalau anggota keluarga mereka telah bergabung dengan organisasi rahasia internasional. Mereka punya prestasi. Dalam hal ini, menyelesaikan misi dengan baik. Mereka juga tidak punya sepak terjang di dunia kejahatan seperti dirinya di masa lalu. Paham? Membosankan.
Jayden masih mengantongi tiga nama. Ketiganya tidak bisa bertemu denganya hari ini. Jadi, dia harus menundanya besok. Dua orang juga merupakan agen lapangan sementara satu lagi adalah Emil, si agen aneh.
Ketujuh orang tersebut sempat mendapat surel darinya. Mereka setidaknya menunjukkan ketertarikan pada operasi khusus mereka ini. Ketika operasi itu akhirnya dibuka ke markas besar, banyak perubahan terjadi.
Berbeda dengan Tiger, Jayden tidak begitu disegani. Wajar saja, dia dulu berada di pihak seberang. Dulu, dia bekerja untuk kriminal. Ketika dirinya tertangkap, Nadira merekrutnya di sini. Itu sudah jadi rahasia umum. Wajar pula banyak protes terpendam di antara para agen sendiri. Intinya, masih banyak orang yang lebih baik dari Jayden yang bisa bekerja di sana. Seseorang dengan prestasi lebih banyak juga riwayat bersih.
Nadira punya pilihannya sendiri. Bagi Jayden, Nadira hanya memakainya untuk disiksa. Dia lebih sering kena marah dan pukulan daripada pujian. Hal kemarin yang terjadi di mobil memang hal langka. Dia dipuji karena berhasil mendapatkan data. Bukan hal besar. Itu memang kebiasaannya. Dapatkan informasi sebanyak mungkin dari musuh.
Jayden seorang diri di ruangan tersebut. Ruangan monoton itu punya sebuah meja di tengah dengan dua pasang kursi saling berhadapan. Persis seperti ruang interogasi di markas kepolisian. Di depan Jayden ada tablet PC berisi data-data calonnya. Setelah melepaskan desahan pendek, Jayden membenamkan wajahnya dalam kedua tangan.
Jam dinding mengiring keresahannya. Detak jam tersebut terasa mengganggu ketika jadi penguasa tunggal. Setelah mengatur jadwal kegiatan dalam otaknya, Jayden beranjak keluar ruangan.
Di luar ruangan, ada koridor membosankan lainnya. Koridor ini punya desain futuristik. Lebih baik daripada yang ada di asrama para agen. Dia memang sedang berada di markas pusat ibu kota. Ini salah satu markas yang paling sering dikunjungi Nadira. Ibu kota ini sendiri merupakan kota penting di benua Sinde. Bukan hanya karena sejarah panjang tapi juga karena luas dan aneka kantor birokrasi yang ada. Tipe kota metropolitan di mana para penduduknya merupakan individu unggul.
Hanya orang-orang terpilih bisa hidup di sini. Itu salah satu rumor yang beredar. Orang tanpa kapasitas hanya akan jadi bulan-bulanan di sini. Lebih baik mereka mencari kota lain untuk ditinggali. Kota yang tidak sesibuk itu.
Ibu kota menawarkan banyak ladang kesempatan kerja, sama banyaknya dengan godaan di setiap sudutnya. Obat-obatan terlarang, barang-barang di pasar gelap, organ tubuh, sampai hal-hal terlarang lainnya. Agaknya ucapan itu memang benar. Hanya orang-orang terpilih bisa hidup di sana. Mereka yang memang memiliki kapasitas dan mereka yang terlalu bodoh untuk menyadari bahaya.
Jayden tidak sampai memikirkan apa yang terjadi ketika dia pertama kali tiba di sana. Matanya mengenali sosok yang baru saja melewati persimpangan di depannya. Orang itu mengenakan sweater hijau gelap di bawah jas lab putih. Telinganya tertutup headset besar hitam. Suara musiknya terdengar samar dari luar. Suara Jayden tak pernah bisa mengalahkannya.
__ADS_1
Jayden menepuk pemuda tersebut.”Hei! Emil!”
Si pemuda berbalik. Dia melihat Jayden dari ujung kaki hingga kepala. Jayden tahu tidak ada yang salah dari pakaiannya. Sepatu olahraga, celana jean, kaus lengan panjang berleher V warna kelabu. Jayden tidak sedang bertugas. Si pemuda melambai, membuat senyum tipis lalu berpaling lagi.
‘Hei!” Jayden memegangi sebelum pundak itu menjauh darinya. Ketika si pemuda berbalik lagi, Jayden menunjuk telinganya sendiri, memberi isyarat agar Emil melepaskan headset.
Emil, si pemuda, menurut. Dia menjauhkan headset dari telinga kiri. “Bisa kubantu?”
Dibandingkan Jayden, Emil lebih pendek. Dia memang lebih muda. Emil punya rambut ikal medium warna coklat cerah nyaris pirang. Wajahnya selalu nampak sayu, salahkan kelopak dan warna bola matanya yang membosankan. Warnanya sama seperti papan tulis. Suaranya pun tak kalah sayu dan nyaris tanpa intonasi.
Jayden ingat sekali alasan Emil menolak wawancara hari itu. “Kukira kamu sedang menjalankan misi. Memandu agen untuk keluar dari masalah.”
“Memang benar, agen Jayden.”
“Negatif. Para penculik menolak melepaskan sandera. Kami berada di situasi rumit. Pak menteri sudah menyanggupi membayar tebusan. Kamu tahu. ICPA tak pernah mau bernegosiasi dengan penculik. Nadira mungkin akan menyuruh kami melakukan kloning. Pada putri pak menteri. Kalau kami gagal.”
Dari ucapan Emil, Jayden paham kalau dia masih berada di tengah misi. “Kalau begitu. apa yang kamu lakukan di sini?” Seorang agen atau pun operator paham kalau bahkan masalah kecil bisa menentukan hidup dan mati. Misalnya, urgensi ke kamar mandi. Emil sepertinya tidak begitu menghiraukannya.
“Mencari inspirasi.”
“Maaf. Mencari apa?”
__ADS_1
“Inspirasi. Ruangan tempat mereka menyekap si putri. Ruang pendingin yang tidak lagi digunakan. Tepat di atas mereka ada ventilasi. Sayangnya, ventilasi tersebut tidak terhubung ke mana pun. Padahal, aku sudah meretas sistemnya. Kupikir bisa mengubah pendinginnya jadi pemanas.”
“Apa tujuannya seandainya ventilasi bisa menyalurkan hawa panas itu? Untuk mengalihkan perhatian?”
“Kasihan gadis kecil itu. Seperti boneka salju.”
“Boneka salju?”
“Tanpa arang di matanya atau wortel untuk hidung dan scarf.”
“Ruangan itu sebuah ruangan pendingin aktif tapi sudah tidak lagi digunakan?” Jayden memperjelas. “Mereka menyekap seorang gadis di lemari freezer? Bagaimana dengan para penjaganya?”
“Hawa panas akan melelehkan para penjaga juga pengikat gadis itu.”
Jayden bisa menebak kondisinya. “Kalian berhadapan dengan Mr.North Pole.”
Mr. North Pole adalah salah seorang ilmuwan gila yang mulai diincar oleh ICPA tahun lalu. Dia mengembangkan sebuah cairan yang bisa membekukan apa pun. Kurangnya peminat pada penelitian ini membuatnya sulit mendapatkan dana. ICPA curiga kalau ada dalang dari dunia gelap yang sangat berminat. Setelah mendapatkan dana dan keberhasilan akan penelitiannya, dia pun bergabung pada mereka. Menamakan diri Mr. North Pole, laki-laki tua tersebut membuat teror yang selalu berhubungan dengan hawa dingin. Tujuannya selalu uang atau balas dendam.
Emil mengusap dagunya. “Mr. North Pole kini punya para elf untuk membantunya. Seperti santa. Tapi, bukan santa. Mereka bersenjata. Dan, mudah meleleh. Kita bisa membakar semuanya. Sayangnya, putri mentri tak akan suka kalau ikut hangus.”
“Begitu pula dengan pak menteri.” Jayden setuju. Dia paham kenapa kasus itu diserahkan pada ICPA bukan polisi biasa. “Apakah ada cara lain untuk mengalirkan hawa panas di sana selain ventilasi?”
__ADS_1
“Lubang tikus? Nihil. Bahkan, kucing tidak akan masuk ke sana untuk mencari tikus. Karena tidak ada tikus di dalam. Aku sempat terpikir untuk memanaskan semuanya dari luar. Seperti memanaskan kaleng. Dalam panci berisi air panas. Saat berkemah.”
“Itu sempurna.”