
Kalau Damon bertemu Alex sebulan yang lalu, Alex jelas akan kalah. Tapi, hari ini, ceritanya berbeda.
Kilatan hijau memenuhi pandangannya. Alex tahu kekuatan itu siap beraksi. Ketika giliran Alex mengerahkan kekuatan, bukan hanya tangannya yang berhasil mendorong tangan Damon, tapi jarinya juga berhasil membuat tekanan menyakitkan pada kepalan lawan.
Mata Damon terbelalak. Dari segi kekuatan, Alex lebih baik. Dalam kasus ini, itu juga berarti kalau Alex lebih unggul dalam penggunaan kekuatannya. Ini wajar karena Alex sendiri sudah menghabiskan waktu lebih lama bersama Dragon Blood. Menyadari kalau tak akan menang dalam kondisi seperti itu, Damon pun segera bertindak. Dia mengangkat kaki untuk menendang. Sebuah pilihan gerakan yang salah.
Begitu kakinya bergerak, dorongan Alex membuatnya malah kehilangan keseimbangan. Damon pun terjatuh ke tanah. Alex tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dia mengayunkan tinju. Namun, Damon sudah menghindar. Alex meninju tanah, membuat retakan besar, disertai debu berterbangan.
Damon mundur, sempoyongan. “Lumayan. Kamu berkembang. Lumayan.” Pujian itu datang dengan gugup.
“Masih berpikir kalau kamu lebih baik dariku?” balas Alex. “Ayo, akhiri dengan cepat!”
Alex membiarkan Dragon Blood menguasai dirinya. Sedikit demi sedikit, dia telah belajar cara mengontrolnya. Instingnya menajam, begitu pula pendengaran dan penglihatannya. Itu cukup menyenangkan. Seperti auto-pilot.
Kecepatan Alex melaju tak bisa dibandingkan dengan Damon. Alex lebih cepat. Damon tak berhasil dari serangan pertama. Tinju Alex mendarat sempurna di wajahnya. Dia pun terjerembab ke tanah dengan keras. Kalau bukan karena ada kekuatan lain dalam dirinya, mungkin rahangnya bisa patah.
Alex datang lagi. Damon menghindar dengan berguling. Tepat setelah serangan itu usai, Damon mendapati potongan besi panjang dekat tangannya. Kini, dia punya senjata.
“Aha!” Damon melompat di atas kedua kakinya. Besi panjang tergenggam erat pada kedua tangannya. Dia seperti pegulat yang diminta jadi ksatria dadakan. Posenya ringkih -- kalau tidak mau pakai istilah konyol.
Jauh di balik layar, Emil mendengus geli dan Tiger sudah terbahak-bahak.
[Ini akan jadi tontonan seru. Aku akan ambil popcorn.] Tiger malah membuatnya jadi bahan bercanda.
Alex spontan tertawa juga. “Ayolah, kamu pikir aku anjing jadi kamu membawa tongkat begitu? Kamu menyedihkan!”
Awalnya Damon tak paham kenapa Alex menertawakannya sampai dia melihat apa yang dilakukan lawan. Alex meraih semacam tabung hitam pada sabuknya. Sedikit hentakan membuatnya memuntahkan sinar panjang hijau. Saat itu, barulah dia sadar. Sosok di depannya bukan hanya punya baju pelindung hitam legam berteknologi tinggi, dia juga punya senjata.
__ADS_1
“Kaget?” Alex tersenyum simpul.
Meski Damon tak bisa melihat ekspresi Alex, dia tahu kalau Alex sedang menertawakannya. Ini membuatnya berdecak kesal.
“Aku enggak menyalahkanmu,” lanjut Alex, “pasti tidak banyak tontonan bagus di penjara.”
Damon sekali lagi berdecak kesal. “Enggak ada yang bilang padaku soal senjata, dia hanya bilang soal seragam tempur.”
“Kamu enggak punya kesempatan menang, Damon. Lebih baik menyerah. Aku masih punya banyak urusan daripada menyeretmu ke penjara. Coba pikir. Tidur dengan tulang retak enggak akan menyenangkan.”
“Apa kamu sedang mengancamku?” Damon menggeram.
“Tidak. Aku bicara soal apa yang bisa terjadi.”
Damon rupanya tidak takut dengan gertakan sambal. Bukannya menyerah, dia malah merangsek maju. Alex siap. Senjata buatan ICPA akan menghancurkan besi tersebut seperti ranting. Dan, memang itu yang terjadi. Satu ayunan saja membuat besinya patah jadi dua. Meski begitu, Damon tak terkejut. Itu memang sudah berada dalam perhitungannya.
“Makan itu!”
Alex tak yakin apa maksud seruan Damon. Ketika tabung tersebut terlempar padanya, Alex menebasnya jadi dua. Sebuah tindakan spontan. Refleks yang bagus tapi bukan aksi yang bijak. Tabung itu jelas tidak kosong. Isinya kini tumpah ke atas tubuh Alex.
Apa itu tabung gas? Bukan. Mungkin lebih buruk. Nitrogen cair.
Alex berteriak panik. Menyadari kesalahannya. Sebenarnya, samar-samar, sebelum menebas tabung tersebut, Alex mendengar seruan Tiger serta peringatan Emil. Kini, suara keduanya jadi berantakan tidak jelas. Mungkin bukan sinyal penyebabnya, melainkan telinganya sendiri yang berdengung.
Ada banyak peringatan muncul pada layar helm pelindungnya. Pandangannya dipenuhi kabut putih. Suhu dingin terasa menusuk tubuhnya. Meskipun dia cukup yakin kalau nitrogennya tidak sampai benar-benar mengenai kulitnya, efeknya terasa. Di antara semua itu, hal yang paling membuat dirinya takut adalah indikator suhu dan kadar oksigen. Peringatan itu muncul silih berganti seolah menolak mengalah satu sama lain.
Belum sempat mencerna apa yang terjadi, ada peringatan besar tepat di tengah. Sebuah peringatan akan adanya serangan. Alex pun menyilangkan tangan di depan tubuh, berusaha mengurangi serangan apa pun yang datang. Dia melihat adanya tinjuan yang datang disusul tendangan. Alex bertahan sampai dia melihat peringatan lain dibarengi suara memekakkan telinga. Tak lama setelahnya, Alex melihat retakan besar tepat di tengah.
__ADS_1
Ini memaksanya mundur.
Suara tembakan terdengar dari sisi lain. Alex mengenali kondisi ini. Bala bantuan telah datang. Sama persis seperti sebelumnya, Tiger sudah melompat langsung ke lapangan. Dia menghujani Damon dengan tembakan. Alex tidak melihatnya langsung, hanya dibantu sistem dalam seragamnya yang kian merosot.
Perlahan, angin pun membantu menerbangkan nitrogen cair yang telah berubah jadi gas. Alex mengedarkan pandangan.
Tiger berjalan ke arahnya. Dia mengenakan balutan seragam hitam, lengkap dengan rompi tebal anti peluru, serta helm bermasker. Tangannya masih membopong senapan laras panjang, bersiap menyambut kejutan apa pun.
[Dia sudah pergi.] Suara Emil terdengar putus-putus di telinga Alex.
Tiger menurunkan senapannya dan mengumpat. Kemudian, dia tertawa lagi ketika melihat sosok Zetta Sonic di depannya. “Kamu kelihatan seperti manusia salju versi zebra! Hahaha…”
Alex mengernyit.
Sebelum Alex sempat bicara, Tiger pun buru-buru menguasai dirinya. Diawali dengan berdehem, dia pun berkata, “Eh, maksudku... Sial! Damon berhasil lolos. Kita harus segera kembali dan mengeluarkanmu sebelum terkunci permanen dalam seragam itu.”
“Apa itu bisa sungguhan terjadi?” Alex melirik kadar oksigen. Angkanya di dalam seragam pelindung itu terus menurun. Kalau sampai seragamnya sungguhan beku dan mengunci dirinya di dalam, itu jelas tidak akan baik.
“Sebenarnya…” Tiger mengurungkan niatnya bicara.
Sesuatu mulai terjadi pada Zetta Sonic. Bagian-bagiannya yang membeku mulai mencari. Setiap sisinya yang tadi tertutup oleh lapisan putih mulai lenyap. Biang es mencair cepat seolah Alex menghidupkan penghangat di dalam seragam. Secara teori, seragam itu memang punya sistem pengaturan suhu. Ada sistem untuk mencegah pemakainya dari kedinginan atau kepanasan. Namun, bukan itu yang sedang dilakukan Alex.
Alex menekan sisi leher seragam dan melepas helmnya. Dia sudah belajar kalau helm tersebut bisa dilepas terpisah setelah diaktifkan. Meski begitu, ada bagian pengaitnya yang macet. Alex yakin telah merusaknya sekarang.
Tiger berusaha menebak, “Apa kamu baru saja menggunakan--”
“Ya. Aku jadi lebih baik, kan?”
__ADS_1
“Tidak. Itu menakutkan. Dragon Blood sangat menyeramkan.”