Zetta Sonic

Zetta Sonic
Undead


__ADS_3

Mark tak lantas menjawab. Tangannya bergerak perlahan untuk mengambil pistol yang tersemat pada sabuknya. Gerakan itu seharusnya tidak terlihat dari si penodong, namun nyatanya orang itu telah bicara lebih dulu.


“Aku tidak akan melakukannya kalau jadi kamu, Mark Hill. Aku tidak akan ragu untuk membunuh. Sedikit berbeda dengan anak di sana,” katanya sambil bertukar pandangan dengan Alex.


Alex mengenali suara itu. “Naray?” tebaknya.


“Hai, Zetta Sonic!” Pria itu menarik topeng dan tudungnya lepas.


Alex mengenali sosok itu dengan jelas. Laki-laki tinggi dengan rambut cepak yang sebagian dicat merah. Itu jelas Naray. “Tapi… Tapi… Kamu—“


“Mati?” Naray langsung tergelak. “Kamu memang begitu polos, ya. Memangnya kamu enggak pernah dengar kalau pura-pura mati bisa menyelamatkanmu dari hewan buas tak berotak? Itu ternyata terbukti nyata. Sekarang aku bisa menggunakannya untuk keuntunganku sendiri.”


“Apa maumu?” sahut Mark. Dia melebarkan tangannya di depan Alex, bersiap untuk yang terburuk. Entah mana yang lebih buruk, Naray menyerang Alex atau sebaliknya.


“Kamu tahu siapa kami. Kami pemburu. Pemburu akan mengejar mangsanya sampai dapat—“


“Kamu sendirian.” Mark memotong pembicaraan itu.


Naray tertawa lagi. “Benar. Aku sendirian karena lebih baik dari mereka. Aku bukan tipe orang yang akan menyerahkan diri begitu pemimpinku tertangkap. Bekerja sama dengan orang-orang semacam itu memuakkan. Mereka pengecut.”


Giliran Dominic tertawa. “Lucu sekali. Bicara soal pengecut, kamu sendiri pura-pura tewas untuk bisa mengejar Alex sampai ke sini. Siapa yang lebih pengecut?”

__ADS_1


Pistol Naray meletus. Dominic tersentak. Naray tidak menembak dirinya melainkan tanah di dekat kakinya. Itu cukup untuk membuatnya mengatupkan bibir rapat-rapat. Mungkin seharusnya dia tidak seenaknya berkomentar. Dia bisa merasakan napas Naray di belakangnya juga moncong pistol menyentuh punggungnya. Meski begitu, Dominic tetap menolak mengangkat tangan. Tangannya terkulai di samping pinggang. Jemarinya menyentuh benda persegi mungil di dalam kantung.


“Jadi, kamu mau Zetta Sonic,” ujar Alex sambil bangkit perlahan. Lututnya terasa lemas sekarang. “Aku di sini.”


Naray menyeringai. “Tepat sekali.”


Mark memandang putranya dan menggelengkan kepala. “Alex, jangan.”


“Kalau begitu, lepaskan dia,” pinta Alex. Menghiraukan semua ucapan Mark, Alex malah mulai melangkah. Dia melewati tangan ayahnya dan berjalan pada Naray. “Dia dokter. Kamu enggak seharusnya menembak tenaga medis. Lepaskan dia. Bawa aku sebagai gantinya.”


“Aku hanya perlu membawamu ke satu tempat, Alex. Alam baka.”


Naray menarik pistolnya. Dia tak lagi menodong profesor. Pistolnya kini terarah ke kepala Alex.


“Lari!” seru Dominic.


Naray kesakitan. Dalam kesakitan dan kesulitan melihat, dia tak putus asa. Naray menembak secara membabi buta. Dominic langsung tiarap. Sementara itu, Mark berlari pada putranya. Dia menarik Alex sampai jatuh sebelum peluru mengenai dirinya. Sebagai gantinya, dua peluru beruntun mengenai tubuhnya sendiri.


“Mark!” Dominic berteriak lagi. “Ya, Tuhan!


Alex tak sanggup berteriak ketika melihat ayahnya terjatuh di sisi lembah lalu berguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti. Di sisi lain, tembakan Naray akhirnya juga berhenti. Peluru dalam pistol tangan itu telah habis. Kini, Naray berteriak sambil menunduk. Sebagian wajah dan dadanya mengalami luka bakar. Begitu pula tangannya yang berada di balik sarung tangan.

__ADS_1


Dominic buru-buru bangun, berlari pada Mark.


Alex melihat kalau Naray belum selesai. Tangan Naray bergerak-gerak ke belakang pinggang. Pria itu mengambil belati panjang. Ada juga pistol lain di sana, Naray hanya mengambil yang terdekat dari tangannya. Dia tak memedulikan perih dan panas luka bakarnya. Matanya penuh kemarahan. Kepalanya bergerak melihat Dominic yang sedang berlari. Seperti katanya tadi, dia tidak akan ragu membunuh siapa pun. Alex tahu itu dengan benar.


Tanpa pikir panjang, Alex melompat pada Naray. Dia memukul Naray sebelum pria itu melukai siapa pun. Pertarungan tangan kosong tak bisa lagi terhindari.


Naray memejamkan sebelah matanya yang terluka akibat luka bakar. Meski begitu, dia masih bisa bergerak dengan baik. Tangannya sukses menahan beberapa pukulan beruntun dari Alex. Sebaliknya, Alex juga sukses menendang belati Naray hingga lepas. Berikutnya, Alex menendang berputar ke dada lawan, memaksanya mundur.


“Bocah sialan!” Naray menggeram.


Alex mengepalkan tangan. Emosinya sudah di puncak. Kalau kondisinya lebih baik dari itu, Alex yakin telah menembakkan Dragon Aura. Sayangnya, kondisinya tak memungkinkan. Dia menyambut Naray dan keduanya terlibat dalam pertarungan jarak dekat lagi. Pertarungan yang kali ini berjalan lebih berantakan. Naray kesulitan melihat sementara Alex sendiri cukup lemah untuk melakukan pukulan berarti.


Naray bisa menghindari pukulan-pukulan Alex. Lebih sulit menghindari tendangan karena pandannya yang makin lama makin kabur. Dalam keterbatasan itu, dia melihat pukulan datang. Naray berhasil terakhir Alex. Menggunakan kesempatan itu, dia balik menyarangkan pukulan telak di wajah anak itu.


Alex pun oleng. Buru-buru, dia memulihkan diri. Alex tak lantas menjauh. Dia menjaga jarak cukup dekat di antara mereka. Pada pukulan Naray selanjutnya, Alex menggunakan lututnya ke dada lawan. Serangan itu mengenai Naray dengan keras, membuatnya terbatuk dan langsung jatuh berlutut. Alex bersiap melakukan serangan selanjutnya. Namun, itu membuatnya tak awas. Tangan Naray yang berada di tanah ternyata berhasil memungut kembali belati. Ketika Alex mendekat, Naray menghunuskan belati. Seharusnya belati itu bisa menancap ke jantung kalau Naray presisi. Luka bakar itu kini menghalanginya. Naray harus puas cukup dengan melukai tepi perut Alex.


Alex berteriak. Dia mundur cepat-cepat. Luka itu cukup dalam meski tak begitu lebar. Tangannya memeriksa luka itu. Basah. Darah mengalir deras di sana. Kepalanya pusing oleh aroma darah dan rasa sakit. Alex terbatuk lagi. Kali ini, dia tak bisa menghentikan batuknya. Tahu-tahu saja, dia sudah berlutut di tanah. Tangan kanannya memegangi luka di perut, tangan kirinya memegangi mulutnya. Keduanya basah oleh darah.


Naray mencabut pistolnya yang lain dari belakang punggung. “Kenapa diam?” Naray bergerak mendekat. “Mulai sadar kalau kamu enggak bisa lari dari kutukanmu sendiri, monster?”


Alex menengadahkan wajah. Sekujur tubuhnya mulai gemetar. Perutnya mual, kepalanya pusing. Ketika tangannya mengusap bibir, darah segar pun menetes ke tanah. Warnanya tidak lagi merah seperti biasanya.

__ADS_1


Naray berhenti dan menodongkan pistol tersebut pada kepala Alex. “Orang yang akan membunuh Zetta Sonic adalah aku!”


Tembakan pun dilepaskan.


__ADS_2