Zetta Sonic

Zetta Sonic
Thrown


__ADS_3

Menggunakan bilik lift, Alex mencapai lantai dua puluh. Dia melihat bagian langit-langitnya menjadi reruntuhan. Alex naik lagi dan lagi, hingga dia menemukan sederet bola mata merah bercahaya dalam kepulan asap. Cahayanya bukan hanya lebih terang tapi juga lebih besar.


Alex yakin ukuran laba-laba ini sama dengan laba-laba yang pertama kali dia lawan. Apalagi ketika badan itu bergerak keluar dari kekacauan. Alex bisa melihat bagaimana salah satu kakinya terpotong akibat ledakan. Cairan kuning menetes dari sana tanpa sedikit pun jadi gangguan. Kecepatan makhluk itu berjalan membuat Alex bergidik ngeri. Sangat cepat dibandingkan laba-laba lain yang sudah dia hancurkan.


Alex melepaskan tembakan. Sayangnya, semua lolos begitu saja. Makhluk kali ini memang berbeda. Bukan hanya saja karena ukuran serta kecepatannya, warnanya yang sedikit kemerahan. Mulutnya terbuka. Asap hitam mengepul darinya. Ketika Alex mengira akan ada erangan atau jaring keluar, dia mendapati bola api besar terlempar.


Tanpa tali pengait, Alex melompat sejauh mungkin. Rasanya mustahil kalau lawan bisa mengenainya. Kenyataan berkata lain. Mulut itu melemparkan bola-bola api beruntun. Alih-alih tarantula, makhluk itu lebih mirip seperti naga penyembur api sekarang. Dan, seperti laba-laba betina yang dilawannya di lantai satu, laba-laba ini pun bisa berpikir. Dia menembakkan bola api ke arah yang akan dituju Alex.


Alex gagal berhenti mendadak. Bola api itu meledak depan wajahnya. Badannya terlempar jauh sampai menabrak dinding. Asap hitam mengepul tebal. Si laba-laba melompat ke tengahnya, berharap mendapatkan mangsa. Untunya, Alex sudah menghindar lebih dulu. Seragam tempur Zetta Sonic menyelamatkan dirinya. Meski begitu, dirinya tetap merasakan sakit akibat hempasan kuat dan terbatuk karena asapnya.


“Sejak kapan laba-laba menyemburkan api?” protes Alex sambil masih terbatuk.


[Sejak dia makan bom yang tadi.]


“Makan apa!?”


[Bom. Aku mendeteksi adanya bahan peledak di dalam perutnya. Sepertinya laba-laba kita kali ini penggemar makanan pedas. Cairan dalam perutnya mampu mencerna peledak itu untuk digunakan sebagai senjata. Menurut perhitunganku, dia masih bisa melemparkan setidaknya selusin bola api lagi sampai semua bahan peledak itu habis.]


“Kamu bercanda? Selusin?”


[Awas, Alex!] Jayden mendapati gerakan cepat di depannya. Laba-laba itu kembali datang. Dia menyadari bahaya di depan Zetta Sonic. Lebih cepat daripada kesadarannya kalau sudah menyebut nama Alex. [Ups.]


Alex sudah menghindar. Dalam kekacauan penuh asap seperti itu, sensor dalam helm berfungsi baik. Dia memberi tahu pergerakan lawan. Alex bisa mengamankan diri tanpa perlu melihat kedatangan si laba-laba. Sekarang saatnya menyerang balik. Dalam asap, Alex menodongkan pistol lasernya.


[Hei! Tunggu! Jangan--]


Peringatan Jayden tak terdengar lagi. Tembakan sudah terlepas. Ledakan lain terjadi. Jauh lebih besar, jauh lebih kencang. Apinya membutakan. Kekuatannya membuat retak dinding dan lantai. Asapnya mengepul ke langit yang masih gerimis. Angin malam tak mampu menerbangkannya menjauh.

__ADS_1


Tanah mengantar getarannya hingga ke area sekitar. Gedung itu bukan hanya bergetar. Gedung itu mulai pecah. Satu per satu lantai mulai terjatuh ke bawah lalu ke bawahnya lagi. Mereka menumpuk satu sama lain. Pemandangan langka ditambah suara yang mengguncang langit malam. Separuh gedungnya hancur.


[Sonic! Sonic, jawab aku!] Jayden merasakan napasnya tertahan. [Sial!]


 


 


Alex mengerjap dalam kegelapan. Kepalanya pusing, kupingnya berdengung, punggungnya nyeri. Alex mengerjap lagi. Perlahan, dunianya kembali. Rintik hujan turun tepat di atas helm, membuat pemandangan menenangkan.


Dia sempat berpikir kalau dirinya tertimbun reruntuhan. Ternyata triknya berhasil. Alex menyadari kesalahannya ketika tembakan itu memancarkan api yang tidak wajar. Kebanyakan laba-laba langsung hancur. Tapi, ketika dia menembak laba-laba terakhir itu, dia melihat kemunculan api. Bahan peledak di dalam laba-laba membuatnya tak ubah bom raksasa.


Tak punya pilihan, dia pun menembakkan tali pengait sejauh mungkin. Dirinya tertarik ke peluru tersebut sebelum ledakan terjadi. Dari daya tarik tersebut, Alex melompat ke luar. Ke luar gedung, ke langit gerimis. Dia ingat sempat melindungi kepalanya sebelum tubuhnya jatuh ke tanah. Dia tak sempat berguling karena hempasannya terlalu kuat. Tubuhnya terlontar jauh dari gedung, ke area kosong yang kini dipenuhi lumpur.


Alex mengerang lebih dulu sebelum menjawab rekannya, “Jayden?”


“Masih di dalam area ini. Seharusnya.” Alex mengerang lagi sembari mendorong dirinya bangkit. Dia sadar kalau bukan karena pakaian khusus itu, dirinya pasti sudah tewas sekarang. Saat ini, sepertinya tubuhnya hanya memar-memar. Alex berharap dokter Vanessa tidak akan menemukan tulang patah dalam tubuhnya.


[Aku tahu itu! Lain kali dengarkan dulu omonganku sebelum menembak!]


“Sebenarnya aku mau bilang kalau petunjukmu datang terlambat. Tapi, aku dapat poinnya. Akan kucoba memberi waktu tambahan.”


[Dasar!] Alex mendengar Jayden menggerutu. Dia juga mendengar ketikan Jayden disusul suara denting ketika mereka menemukan lokasinya dengan akurat. [Kami akan segera ke tempatmu dengan tim medis. Tunggu di sana.]


“Jangan khawatir. Sudah ada Tiger di sini.”


Alex melihat tubuh besar Jayden mendekat dalam balutan jas hujan putih. Warnanya tak seputih aslinya. Noda lumpur terlihat di sekitar sepatu bot. Cipratannya mengotori jas tersebut. ICPA sepertinya memang suka dengan warna putih, mengabaikan bagaimana seragam mereka bisa dengan mudah kotor dan kusam. Setidaknya seragam miliknya berwarna hitam.

__ADS_1


Tiger berlari padanya membawa kotak putih seperti kotak perkakas. Alex cukup meyakini kalau itu kotak pertolongan. Meski tidak ada lambang palang merah, Alex sepintas melihat tulisan ‘MEDIC’ yang hanya muncul ketika diterpa cahaya.


“Memang tidak apa-apa kalau kamu bangun begitu?” Tiger melemparkan pertanyaan ketika dirinya cukup dekat.


“Kupikir aku enggak akan pingsan.”


“Bukan itu maksudku.”


“Aku tahu.” Alex menggerakkan badannya ke kanan lalu ke kiri. Sejauh ini, seluruh tubuhnya bergerak sesuai keinginan. Dia makin yakin kalau tubuhnya baik-baik saja. “Dalam berkas yang dikirim Jayden padaku, katanya seragam ini mampu mengurangi serangan yang masuk. Daya jatuh sepertinya masuk hitungan.”


Tiger tertawa ketika mendengarnya. “Kamu baik-baik saja!”


“Sudah kubilang.” Alex meringis meski Tiger tak bisa melihatnya.


Tiger mengulurkan tangan. “Ayo, saatnya kembali.”


“Saat kita kembali nanti, bisakah aku dapat coklat hangat juga. Itu akan sangat membantu menghilangkan rasa sakit di punggungku.” Alex menerima uluran tangan tersebut. Dirinya berhasil berdiri di atas kedua kaki meski tangannya masih mengelus punggung.


“Lepas seragammu di kontainer medis. Akan kubawakan coklat hangat.”


“Sungguh? Manis sekali.”


“Jangan besar kepala, bocah! Cuma kali ini. Lagipula, ini latihan terakhirmu di tahap pertama. Kita tidak tahu kapan kamu akan terbunuh.” Tiger tertawa dengan ucapannya. Alex mendengus. “Besok kita akan pergi ke tempat yang lebih seru,” lanjut Tiger.


“Bukan gedung terbengkalai atau pabrik pengalengan ikan, ‘kan?”


“Tidak. Kita akan pergi ke pabrik robot. Tapi, sebelumnya, ke kontainer medis dulu.”

__ADS_1


__ADS_2