
“Jadi, Caitlin mengandung?” tebak Tiger. “Kukira dia belum menikah dengan Baron.”
[Yang pasti, aku tidak diundang.]
“Kita, J. Aku juga tidak diundang. Kalau dipikir-pikir, tentu saja. Kita musuhnya sekarang.”
Tiger menyetir mobil SUV hitam itu seperti biasa. Kecepatannya membuat Cody merasa cukup mual. Itu memang bukan murni kesalahan Tiger. Itu kombinasi. Ketegangan yang memuncak setelah ditodong pistol, mendengar perdebatan kekasih dari radio, lalu melihat Alex meringkuk kesakitan di kursi belakang.
“Jadi,” kata Tiger lagi, “kita menangkap Baron?”
[Ya, kita berhasil menangkapnya. Berkat ide gila Alex memberikan seragam cadangannya pada Caitlin. Di depan layarku sekarang, aku sedang melihat Baron masuk ke mobil khusus ICPA. Baron akan segera dikirim ke penjara ICPA. Sel terpisah. Isolasi.]
“Oh, seandainya aku bisa melihatnya.”
[Kamu bisa melihat rekamannya nanti. Ada dalam memori Jason.]
“Bagaimana dengan bomnya?”
[Caitlin memaksa Baron berjanji tidak akan meledakkan satu bangunan pun. Nanti dia akan memberikan daftar lokasinya pada kita.]
“Cukup satu Caitlin dan kita berhasil meringkus salah satu penjahat paling berbahaya di dunia. Kekuatan cinta itu menakutkan.” Tiger bersiul. “Kamu bahkan tidak perlu menurunkan Orion.”
[Dia masih ada di bengkel. Robot gorila itu merusaknya! Jadi, aku minta Fergus memperbaikinya sekaligus menambahkan beberapa fitur keamanan.]
“Huh! Selalu begitu. Tunggu rusak baru diperbarui.”
[Ngomong-ngomong, kamu diam sekali Cody. Kamu harus bangga pada dirimu. Kamu membantu kami menangkap Baron.]
Cody hanya mengangguk.
Tiger langsung menebak. “Mual karena tegang?”
__ADS_1
Cody mengangguk lagi.
Tiger pun tertawa. “Nanti kamu akan terbiasa.”
Itu membuat Cody mendesah. Sepertinya hidupnya memang tidak akan sama lagi. Cody pun menoleh ke belakang. Alex meringkuk dengan selimut tebal menutupi badannya. Dia kelihatan sakit, sangat sakit. “Apa ini sudah biasa terjadi?” bisik Cody lirih seraya mengembalikan tatapannya ke depan.
“Tidak, kecuali pada Alex.”
“Apa yang sebenarnya terjadi padanya?”
“Banyak. Aku tidak yakin apa boleh menceritakannya padamu. Kalaupun boleh, aku tidak yakin apa kamu akan paham.”
Cody tak menjawab lagi.
“Tidurlah! Kamu membutuhkannya.”
Tiger benar. Cody, Alex, semuanya. Mereka berhak mendapatkan tidur nyenyak setelah apa yang terjadi. Baron telah tertangkap. Mereka bisa bernapas lega sejenak.
Ketika mengedarkan pandangan, Alex mendapati kaca besar yang sebagian tertutup oleh tirai kuning muda. Tidak ada rangkaian peralatan rumit, langit-langit bergaris hijau, apalagi komputer canggih. Hidungnya mencium bau obat. Ada infus yang menancap di tangannya. Itu penanganan yang biasa terjadi di rumah sakit bukan Special Force.
Alex juga baru menyadari kalau Zet-Arm tidak lagi ada di tangannya. Gelang itu mungkin sedang diperbaiki.
Selain ranjangnya, Alex juga melihat sofa bed untuk penjaga. Ada pula lemari, televisi, dan beberapa perlengkapan kamar VIP lainnya. Namun, tidak ada seorang pun selain dirinya.
Alex mencoba bangun. Badannya terasa lemas. Punggung dan tangannya terasa nyeri. Ruam merah di sana masih belum sepenuhnya hilang. Dia terbatuk beberapa kali. Perutnya terasa keroncongan dan itu pertanda baik. Alex lebih sering terbangun dengan kepala seperti ditusuk paku dan perut seperti dikocok. Kondisinya saat ini terasa jauh lebih sehat daripada yang biasa dia alami selesai misi.
Sambil menegakkan badan, kenangan itu kembali mengapung. Air matanya merembes tanpa bisa dia hentikan. Hari ini semuanya berbeda. Sekolahnya hancur dan Leta tidak ada lagi. Banyak hal yang kini mulai dia sesali. Masih ada banyak hal yang ingin dia katakan pada Leta. Masih banyak kegiatan yang ingin Alex lakukan di sekolahnya. Dia merindukan masa-masa itu.
Kenapa itu semua terjadi? Karena Caitlin, karena Baron, atau karena dirinya? Kalau saja dia tidak pernah terlibat dengan Zetta Sonic, situasinya pasti akan berbeda.
Tubuhnya meringkuk dalam kesedihan. Air matanya jatuh membasahi selimut. Dia tak bisa menghentikan dirinya. Lalu, tangan lembut itu datang. Ada pelukan hangat yang menaunginya. Dokter Vanessa tidak mengenakan parfum yang disukai Alex, namun pelukan itu jelas sesuatu yang dia butuhkan.
__ADS_1
Sampai Alex bisa mengendalikan diri, Dokter Vanessa terus memeluknya sambil mengusap punggungnya. Dia juga membisikkan banyak hal untuk menenangkan Alex.
Alex tak tahu berapa lama dia menangis dalam pelukan sang dokter. Pastinya cukup lama karena kini tenggorokannya sakit. “Maaf,” bisik Alex pelan.
“Untuk apa?” Dokter Vanessa memegang wajah Alex. “Kamu menangkap Baron. Kamu menolong kita semua dari penjahat seperti dia. Kamu pahlawan, Alex.”
Alex menggeleng. Dia ingin menyangkal namun mengurungkan niatnya. Kalau bicara lagi, Alex mungkin akan kembali menangis.
Dokter Vanessa tersenyum. Dia berusaha mengganti suasana. “Aku membawakan buah. Mau apel?” Tangannya melambai ke atas lemari pendek.
Alex tidak memperhatikan sebelumnya. Ada lemari pendek yang membentang pada salah satu dinding. Di sana terdapat banyak bingkisan dan karangan bunga. Dokter Vanessa membuka salah satu keranjang buah paling ujung. Dia tidak menunggu jawaban Alex dan mulai mengupas apel untuknya.
“Kamu pasti penasaran kenapa kamu tidak berada di markas.” Sambil mengupas, dokter Vanessa pun mulai menjelaskan. “Jadi, setelah kekacauan di pabrik itu, kami berusaha menangani kondisimu di markas. Semuanya sebenarnya berjalan lancar. Kondisimu stabil dan akan segera pulih. Namun, Nadira mengkhawatirkan ayah dan ibumu.”
“Mereka di sini?” tebak Alex.
“Mereka baru selesai bicara dengan dokter lalu sepertinya melanjutkan dengan sarapan. Jadi, aku bisa masuk ke sini selagi mereka di luar. Aku ingin memastikan kamu baik-baik saja.”
Alex sebenarnya penasaran apa yang mereka katakan pada ibunya, namun dia kehilangan minatnya ketika mengingat pertengkaran ayah dan ibu. Dia penasaran apakah kondisinya saat ini akan mengubah kondisi keluarganya. Tahu-tahu, tangan Alex telah terkepal lagi. Dia juga terbatuk lagi. Mungkin stress membuat kondisinya tidak enak.
Seolah bisa membaca keresahan Alex, sang dokter langsung bicara. “Apa yang bisa kubantu supaya suasana hatimu lebih baik, Alex?”
Alex terdiam sembari mengedarkan pandangan lagi. Ruangan itu seharusnya sudah cukup nyaman. Kasur empuk, sprei bersih dan wangi, ruangan hangat, televisi dan berbagai perlengkapan seperti hotel. Namun, siapapun akan lebih memilih kamar pribadi mereka, bukan kamar rumah sakit. Kemudian, pandangannya tertuju pada jendela besar yang membentang hampir pada seluruh dinding di sisi kirinya.
“Tolong bukakan tirai itu.” Tirai itu menutupi keindahan di baliknya. Dari sela kecil yang bisa dilihat Alex dari kejauhan, ada aneka warna hijau di sana.
Dokter Vanessa melempar senyum sambil mengoper piring berisi apel padanya. Kemudian, dia beranjak ke jendela untuk menyingkap tirainya. “Ayahmu benar, pemandangan dari lantai dua ini memang indah. Kamu bisa melihat taman dalam dari sini. Apalagi yang bisa kulakukan untukmu, Alex?”
“Aku ingin menonton berita.”
“Kurasa itu bukannya akan membuatmu lebih santai.”
__ADS_1
“Tidak apa-apa, dok. Aku akan baik-baik saja. Aku sudah tahu siapa saja korbannya.”