Zetta Sonic

Zetta Sonic
Red Dot


__ADS_3

Kalau boleh memilih, Alex jelas tidak akan memilih Caitlin. Ketika mengingat sepak terjang Caitlin dalam video dan laporan misi, sayangnya Alex tak bisa menyangkal kalau Caitlin memang agen yang baik. Dia berulang kali menyelesaikan misi dengan baik, entah itu jadi agen lapangan atau hanya pendukung. Tak heran kalau dia jadi satu-satunya agen wanita yang bisa terlibat dalam Special Force.


Alex mengenakan seragam Zetta Sonic lagi. Seragam itu terasa begitu nyaman. Sensasinya persis seperti pertama kali dia mengenakannya. Tidak hangat justru sejuk. Ada pula aroma menyegarkan yang sulit dijabarkan. Semuanya terasa dekat, tentu saja akan lebih lengkap bila suara Jayden yang dia dengar saat ini.


[Semua aliran listrik di gedung depan mati.] Suara Emil bergema di sana.


“Kita sudah tahu itu. Di mana Rando? Lantai dasar?” sahut Caitlin.


[Kita tidak tahu di mana dia. Kamera pengawas. Pendeteksi panas. Inframerah. Semua mati. Dia bisa ada di mana pun. Kita butuh sedikit waktu untuk menyalakan kembali sistemnya. Seratus dua puluh detik. Maksimum.]


“Itu cukup lama,” protes Caitlin.


[Jangan protes padaku. Itu area kekuasaan operator lain. Bukan aku.]


“Bilang pada mereka agar membuatnya jadi empat puluh detik!” Caitlin berpaling pada sosok berselubung pakaian hitam di sampingnya. “Bagaimana, Alex? Kita berpencar?” tanya Caitlin yang langsung dia jawab sendiri. “Tunggu. Tidak. Itu tidak bijak.”


Alex tak menjawab. Dia masih sulit mempercayai dirinya tengah berlari berdampingan dengan Caitlin. Itu seperti beraksi bersama musuh. Dia bisa diserang kapan pun. Perdebatan mereka sebelum meninggalkan ruangan membuat kecemasannya meningkat. Kalau Rando muncul saat ini, maka akan ada tiga kubu. Alex tak yakin bisa memercayai Caitlin. Alex menggelengkan kepala, berusaha menekan ketakutannya.


Mereka menyusuri lorong dan melewati tangga dengan cepat. Entah kenapa tangga selalu lebih bisa diandalkan dalam kondisi seperti ini. Mereka kembali disambut lorong. Kali ini, lampu di sana kembali berkedip seolah memberitahu kalau mereka di tempat yang benar.


Caitlin melihat Rando lebih dulu. Pria berlengan besi itu tengah mencengkram leher seorang agen. Situasinya gelap. Mereka hanya bisa mengenalinya dari lengan besi yang berkilau dalam gelap. Tanpa peringatan apa pun, Caitlin melepaskan tembakan. Dia sengaja membuatnya meleset. Tembakan itu membuat Rando melepaskan si agen. Ketika tubuh itu terjatuh ke tanah, Caitlin melepaskan tembakan berikutnya. Rando menahan serangan tersebut dengan tangan besinya.


Di sanalah Alex sempat berandai-andai kalau saja mereka diizinkan menggunakan senjata laser. Serangan laser tidak akan bisa ditahan oleh tangan besi. Beda dengan peluru seperti itu. Apalagi saat ini, Caitlin menggunakan peluru bius. Mereka ditugaskan mengangkap Rando hidup-hidup bukan mati. Tapi, tentu saja ICPA tidak akan keberatan dengan Rando yang terluka. Masalahnya, menangkap Rando agaknya lebih sulit dari dugaan.

__ADS_1


Alex melompat cukup jauh ke depan Rando. Meski dalam gelap, Alex melihat bagaimana lawannya sempat terbelalak. Kepalan tangan Alex datang tanpa dia duga. Lagi-lagi, dia menahan serangan tersebut dengan menyilangkan tangan besi di depan dada. Serangan Alex gagal, hanya berhasil mendorongnya sedikit.


“Halo, Zetta Sonic.” Rando tidak terdengar takut ataupun terkesan.


“Kamu punya nyali juga datang kemari, Rando.” Alex membalas sambil mengabaikan peringatan yang muncul di helm seragam itu. Selalu ada peringatan ketika dia bertemu Rando. Sistem ICPA mengenalinya sebagai sosok berbahaya. Dia juga tahu itu.


Rando tersenyum. “Aku mencarimu.”


Alex tak suka ucapan dan senyuman itu. Dia lebih tak suka lagi ketika melihat Rando menghunuskan belati panjang. Dari jarak sedekat itu, Alex yakin melihat belatinya berkilau kebiruan dengan suara mendesis. Seingat Alex, belati itu pula yang berhasil melukai seragam tempurnya. Dia pun bergegas melompat mundur.


“Siapa yang mengirimmu ke sini?” tanya Alex sambil menjaga jarak. “Uang atau ketenaran?”


Rando menyipitkan matanya. “Bagaimana dengan kesenangan?”


“Mengecewakan.” Rando berkomentar sebelum melontarkan dirinya pada lawan.


Alex terhuyung mundur. Rando memberikan serangan beruntun dengan kakinya. Tendangan berputar itu sempurna. Untungnya Alex siap. Sesekali dirinya mundur atau menunduk. Rando menghunuskan pisaunya dan Alex menangkap tangan tersebut.


“Kamu berkembang.” Pujian itu datang dari Rando tanpa kesan memuji sedikitpun.


Tatapan mereka bertemu. Wajah keduanya cukup dekat. Alex bisa melihat bekas-bekas luka di sana. Mata Rando menyipit. Ada hawa pembunuh yang tak bisa dijelaskan. Alex merasakannya. Dia tak bisa menghentikan dirinya ketika bergidik ngeri. Entah berapa banyak yang meregang nyawa setelah melihat mata itu.


“Aku enggak menerima pujian dari lawan.” Alex membalas. Suaranya keluar tanpa gemetar. Dia yakin Rando tidak akan merasakan ketakutannya.

__ADS_1


Rando mendorong tangannya pada tubuh Alex. Alex berusaha mendorong balik tapi kurang cepat kali ini. Pisaunya menggores bagian seragam luar. Peringatan pun muncul. Sistem seragam tempurnya menunjukkan adanya bagian yang rusak. Sejauh ini, hanya bagian luar saja. Alex harus menghentikannya kalau tak mau itu berlanjut.


“Menjauh darinya!” Caitlin berteriak.


Berbeda dari sebelumnya, Caitlin tak ragu untuk menembak. Dia tak perlu melepaskan tembakan peringatan. Dia juga tak peduli bila Alex terkena tembakannya sungguhan. Dia hanya ingin ikut menangkap Rando. Tembakan itu seharusnya mengenai kepala lawan kalau saja Rando tak menangkisnya dengan tangan. Lagi.


“Pengganggu harus disingkirkan.” Hanya itu yang dikatakan Rando sebelum meronta lepas dari Alex.


“Pergi dari sana!” Gantian Alex berteriak pada Caitlin.


Laki-laki berlari pada Caitlin. Sementara si gadis bergeming di posisinya sambil terus menembak. Ketika Catilin sadar kalau serangannya tak membuahkan hasil, dia sudah terlambat. Rando mencengkram lehernya dan mendorongnya ke dinding. Tangan Rando masih menggenggam belati besar itu. Lampu menyala di saat yang tepat. Caitlin melihat ancamannya. Dia menangkap tangan Rando sebelum menghunusnya.


Rando mengerjap. “Aku pernah melihatmu.”


“Aku pernah menembakmu.” Caitlin bicara meski sedikit sulit.


Rando menyipitkan mata, sepertinya berusaha mencerna ucapan gadis itu. Caitlin tak berusaha melepaskan diri. Tangannya telah mengambil pistol lain. Dia pun melepaskan tembakan. Dari jarak sedekat itu, Rando kesulitan menghindar. Rando hanya memukul tangan lawannya. Tembakannya mengenai badan Rando tapi tak begitu membuahkan hasil.


Menyadari hal tersebut, Caitlin menendang. Kali ini, dia melepaskan diri. Dia berguling di lantai untuk mengambil senapannya. Lalu, buru-buru menjaga jarak agar bisa menembak lagi.


“Penembak jitu, eh?” Rando terkekeh.


Caitlin tak suka saat lawan tertawa seperti itu. Rasanya seperti kemampuannya yang sedang ditertawakan. Dia bertekad mengehentikan tawa itu dan menjebloskan Rando ke penjara. Sayangnya selama dia tidak tahu bagian tubuh mana yang tidak dilapisi besi, serangannya tak akan pernah menjatuhkan lawan.

__ADS_1


Rando melangkah. Saat itu, dia menyadari kalau telah menginjak benda mungil. Sebuah benda hitam bulat sekecil kancing yang berkedip merah.


__ADS_2