
Alex bingung bagaimana harus menyebut dirinya dalam kondisi seperti ini. Zetta Sonic itu memakai seragam tanpa embel-embel ICPA. Tidak ada garis hijau. Semua garis hiasannya hanya berupa garis polos hitam atau lekukan rendah. Mereka serupa parit di antara deretan prajurit berupa kepingan penyusun perisai.
Karena bagian pelindung tangannya sudah rusak, Alex menggantinya dengan sepasang sarung tangan lain yang harus dipakai manual. Tapi, kali ini, Alex mengabaikannya. Dia tahu jelas akan menembak si monster dengan kekuatan barunya.
Alex mengulurkan tangan kirinya ke depan. Dia tak perlu bantuan penglihatan helm pelindung untuk membidik. Lawannya tidak secepat itu. Dinosaurus palsu setinggi dua meter seperti yang pernah dia kalahkan. Monster palsu itu bahkan tidak akan bertahan lebih dari lima menit. Itu yang dipikirkan Alex.
Ternyata tidak.
Ketika sinar hijau memelesat dari tangan Alex, si monster menghindar. Meski serangannya mengenai sisi tubuh bagian kanannya, tapi si monster sukses tak hancur dalam satu serangan. Alex harus mengakui kalau dirinya terkejut. Sekarang, gantian dirinya yang harus menghindar. Monster tersebut bukan hanya mampu kabur dari serangannya. Monster itu juga lebih cepat. Tampaknya monster itu lebih bisa berpikir daripada monster sebelumnya.
Alex berlari menjauh. Dia menjaga agar dirinya juga tidak terlalu dekat ke drum. Mereka lebih baik bertarung di tengah gym. Alex tak mau si monster sampai tak sengaja menabrak salah satu drum dan membuat ledakan beruntun. Itu bukan hanya akan mematikan buatnya tapi juga bisa menelan korban selain mereka.
Lokasi gym memang tidak berada di tengah sekolah. Namun, letaknya cukup dekat untuk menghancurkan gedung sekolah. Saat pikiran tersebut terlintas, Alex menyadari dirinya jauh lebih bisa berpikir daripada sebelumnya. Maksudnya ketika dia pertama kali tersadar sebagai Zetta Sonic atau pertarungan di atas kapal.
Alex sadar benar kalau kadang ada bagian dari dirinya yang berusaha mengambil alih. Bagian yang lebih menikmati pertarungan. Bagian yang tak mengenal rasa takut dan sakit. Bagian yang mungkin bisa membuatnya masuk kategori senjata biologis.
__ADS_1
Jantungnya berdegup kencang. Alex tahu ada bagian dari dirinya yang begitu haus akan pertempuran. Dia menyalahkan Dragon Blood. Cairan itu membuatnya begitu bersemangat. Alih-alih rasa takut, Alex menghindari terjangan monster itu dengan senyum simpul. Dia merasakan kepuasan setiap berhasil mengecoh lawan.
Alex melompat tinggi. Dia menjatuhkan dirinya di atas kepala lawan. Serangan itu jelas membuat lawannya langsung terjerembab. Alex melompat menjauh. Dengan jarak yang cukup, Alex menembakkan kekuatannya lagi.
Si monster ternyata masih berhasil menghindar. Serangan Alex berhasil menghancurkan sebagian sisi bahu dan perut kanannya. Sosoknya seperti kue berbentuk dinosaurus yang sudah dirusak anak kecil. Bagian yang hancur tersebut mengeluarkan aroma busuk menyengat dan hangus. Meski hidungnya terlindung, Alex tetap mengernyit dibuatnya. Selain menjijikan, itu siksaan buat hidung sensitifnya.
Alex mundur pelan.
Lawannya jelas berbeda versi dengan lawan sebelumnya. Seolah tak merasakan sakit akibat serangan, si monster bangun lagi. Dia meraung kencang, menunjukkan deretan gigi mungil dan tajam. Sosok predator berhadapan dengan sosok manusia berpakaian serba hitam. Alex pernah melihat hal serupa di film. Dia tahu pemenangnya dan berniat melakukan lebih baik.
Indikator pada Zet-Arm memberitahukan dua hal. Pertama, suhu tubuhnya memang meningkat. Kedua, indikator Dragon Blood menunjukkan kalau energinya perlu diisi ulang kembali. Isinya tidak sampai dua puluh lima persen. Kini, Alex sadar kalau melakukan lebih baik dari film agaknya sedikit sulit dari perkiraan. Ini perlombaan soal waktu. Dirinya lebih cepat kehabisan energi atau si monster mengalahkannya lebih dulu.
Alex memejamkan mata sejenak, merasakan hentakan di lantai yang dibawa oleh si monster. Dia hanya bisa melakukan satu kali lagi serangan laser semacam tadi. Satu kesempatan. Lebih dari itu, Alex tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Tangannya telah terulur ke depan. Meski berusaha sekuat tenaga agar bisa tenang, Alex mendapati tangan kirinya gemetar.
Bukan pertanda baik. Keraguan membuatnya batal menembak. Kakinya berlari di atas lantai gym. Suara decit menggiring pelariannya dari sang monster. Secepat apa pun Alex berlari, ancaman lawan terasa dekat. Beberapa sisi lantai tak lagi mulus akibat hentakan si monster. Dia menghancurkan apa pun yang dia lewati.
__ADS_1
Alex berada di ujung batas aman. Kalau lebih dari itu, dia bisa membuat si monster menabrak salah satu drum. Alex berbelok tajam. Si monster mengulurkan kepala. Terlambat sedikit saja, tangannya akan terkena gigitan. Si monster tak kehabisan akal. Bukannya mengejar, si monster malah berputar. Ekor lebarnya berhasil menghalangi langkah kaki Alex. Ini membuatnya terjerembab di atas lantai. Alex bersumpah kalau itu bukan serangan wajar seekor makhluk prasejarah.
Dagunya terasa sakit saat ketika beradu dengan lantai, padahal dia mengenakan helm yang bisa menahan serangan. Kepalanya pun didera pusing. Posisinya berada dekat dengan bagian monster yang terkena tembakan tadi. Bagian itu kini tak lagi berbentuk. Penampakan onggokan cokelat hitam di atas lantai itu sudah cukup membuatnya mual. Belum lagi baunya yang tak tertahankan.
Alex tahu jelas kalau tak punya waktu untuk mengeluh. Dia cepat-cepat berbalik. Saat itu, kepala si monster sudah begitu dekat. Alex bahkan tak yakin apa yang sedang terjadi. Rasa sakit tajam melompat dari tangan kiri ke otaknya. Mulutnya mengeluarkan teriakan tanpa perlu diperintah. Matanya menatap bayangan dirinya sendiri pada bola mata si monster. Ekspresinya tertutupi dalam helm, meski begitu Alex bisa membayangkan bagaimana wajahnya saat itu. Hidungnya mencium bau besi bercampur amis serta busuk sementara dengusan dari si monster menerpa helm pelindung. Pandangannya mengabur dengan cepat. Tubuhnya terdorong jatuh. Badan si monster menekannya ke tanah pula, membuatnya tak mampu bergeming.
Alex terlambat. Monster itu sudah berhasil mendapatkannya.
[Bangun, Alex! Tembak dia!]
Kepalanya tak sempat mencerna suara dari mana atau suara siapa itu. Suara itu terdengar begitu saja. Alex berteriak pada dirinya sendiri. Tidak ada kata, hanya teriakan mentah. Bentuk perintah pada Dragon Blood untuk bangkit dan menyelamatkan dirinya dari semua kekacauan itu.
Seolah menyambut perintah, pemandangan di depan Alex seolah disinari warna hijau. Tangan kirinya yang tadi terasa sakit dan basah kini terasa begitu panas. Alex kini melihat mata lawannya terbelalak lebar. Uap mengepul di antara mereka. Cahaya yang lebih terang menyusul. Tak lama setelahnya, suara kasar terdengar. Tak ada api, hanya bau hangus. Lidahnya terasa pahit akibat bau menyengat. Sosok di depannya pun lenyap.
Entah apa yang terjadi. Dunianya telah menggelap.
__ADS_1