
Naray menyadari kesalahannya. Bukan soal tembakannya, tapi soal sasarannya. Targetnya, si Zetta Sonic, memelesat cepat di udara. Ini berbeda dengan informasi yang dia terima sebelumnya. Dia juga mulai meragukan informasi yang dia terima sebelumnya. Zetta Sonic tidak seharusnya bisa bergerak secepat itu.
Alex sendiri tahu jelas ini pertama kali buatnya. Seragamnya tidak sedang dilengkapi roket saat itu. Dia bahkan tidak memiliki serangga yang bisa membantunya melayang. Saat ini, dia hanya dilengkapi oleh seragam tempur hitam legam. Dan, itu sama sekali tidak menjelaskan bagaimana dia bisa menyeberangi sungai di udara secepat itu. Itu bahkan bukan termasuk melompat atau terbang. Kini dirinya telah berada tepat di depan Naray.
Pria di hadapannya terbelalak namun bereaksi dengan cepat. Sebelum kepalan tinju Alex mengenai wajah, Naray berhasil menutupi kepalanya dengan lengan. Bukan pertahanan terbaik memang. Setidaknya, gerakan itu menahan kerusakan yang lebih buruk. Serangan Alex terlalu kuat. Naray bahkan sampai terjatuh dibuatnya. Dia mengerang di tanah, lalu buru-buru bangun, tanpa sempat memeriksa apa ada tulang yang patah.
Alex melangkah maju dan segera saja berlari.
Naray bertahan. Dia menodongkan senapan panjangnya. Peluru-peluru pun dimuntahkan tanpa henti. Ada tembakan bantuan dari sisi yang lain. Setidaknya dari tiga arah berbeda. Naray membawa anggotanya yang lain. Mereka tiba lebih cepat dari bala bantuan ICPA.
[Alex! Mundur!] Jayden tak tahu apakah Alex masih bisa meresponnya. Bola mata Alex kini berganti menjadi warna hijau. Detak jantungnya meningkat terlalu cepat dan gerakannya tak lagi seperti manusia. Hal yang membuat Jayden luar biasa cemas. [Alex! Mundur! Ini berbahaya. Kamu kalah jumlah.]
Berbahaya bagi semuanya. Bagi Naray, bagi anggota kelompoknya, bagi bala bantuan ICPA, bahkan bagi Alex sendiri. Jayden punya kunci pengaman. Bila hal buruk terjadi, dia bisa mengaktifkan protokol keamanan Barb Wire. Lagi. Dia menghindarinya.
Tampaknya Alex tak memedulikan bila dirinya terancam. Alih-alih gentar apalagi mundur, Alex malah terus merangsek maju. Hujan peluru dari Naray diabaikan begitu saja. Setiap tembakan mengenai seragam membuat goresan baru yang makin lama makin dalam. Alex tak gentar. Tidak kali ini.
Sebaliknya, Naray terdesak. Ketika sosok Zetta Sonic telah berada di depannya, dia tak bisa melakukan apa pun. Gerakannya berhenti. Tubuhnya bergeming. Pandangannya tak bisa terlepas dari sosok itu. Bahkan napasnya tertahan bagai buruan yang tertangkap pemburu. Melihat Naray terdesak, rekan-rekannya juga tak berani lagi menembak. Mereka takut mengenai pimpinannya atau — lebih buruk — membuat Zetta Sonic berbuat nekat.
Alex berhenti sejenak. Dia melihat dirinya sendiri pada bola mata lawan. Ada ancaman yang dia lontarkan dalam suara yang tak dia kenal. Sebuah suara yang dalam dan rendah, seperti ancaman hewan buas. Alex hendak bertanya namun suaranya sendiri tak keluar. Tangannya bergerak ke leher Naray. Alex sadar tak lagi bisa menguasai gerakan tubuhnya.
__ADS_1
Jayden berteriak di telinga, memberinya perintah. Alex tak bisa mendengarnya dengan jelas karena telinganya juga berdenging.
Naray memberontak. Tangannya berusaha mencengkram balik tangan Alex untuk melepaskan diri tetapi dia kalah kuat. Dibantu oleh Dragon Blood, tangan Alex sekokoh dinding besi. Tak tergoyahkan sedikit pun. Ini membuat Naray mencabut pistol tangan kecil dari balik punggungnya. Sebelum sempat menembak, tangan lain Alex telah menjatuhkannya.
Alex tak awas pada gerakan selanjutnya. Ada tangan Naray yang masih terbebas. Ketika satu tangan berhasil mengambil pistol, tangan lainnya mengambil belati. Selagi Alex menangkis pistol itu, Naray berhasil menghunuskan belati pada bahu Alex. Serangan itu berhasil. Belati tersebut merusak lapisan pelindung Zetta Sonic dan berhasil mencapai tubuhnya. Alex memang bisa merasakannya. Rasa pedih juga bau amis darah. Miliknya sendiri. Terasa manis. Memancing amarah.
Anggota suku Kloster yang lain berteriak satu sama lain. Salah satu di antaranya berusaha menghentikan Alex dengan melompat padanya. Alex bergeming. Serangan itu, tarikan itu, pukulan itu sama sekali tak menghentikannya. Sementara Naray semakin tak berdaya. Orang ini pun perlahan mundur. Para anggota suku Kloster melemparkan senapannya ke bawah. Sebuah tanda menyerah.
Alex paham. Sayangnya, ada sisi di dalam tubuhnya yang tidak paham.
Berikutnya, ada arus serangan listrik menyerang dirinya. Rasa tajam itu terasa di setiap jengkal tubuhnya. Jayden menggunakan kartunya lagi. Alex sendiri berharap ini akan menghentikannya. Sayangnya, tidak. Di tengah rasa sakit itu, tangannya tetap mencekik leher lawan. Matanya menatap lurus tanpa berkedip. Alex dipaksa menonton sesuatu yang tak ingin dia lihat.
“Bodoh!”
Kali ini Alex mendengar suara. Suara itu disertai sebuah tarikan dari belakang. Itu Tiger. Pria besar ini menarik dirinya menjauh dari Naray. Bukan itu saja, Tiger memberikan pukulan telak di wajah. Alex terjerembab ke tanah. Serangan itu berhasil memulihkan kesadarannya sepenuhnya. Denging di telinganya lenyap, matanya bisa mengerjap, dan tubuhnya kembali di bawah kendalinya.
Alex mendapati suaranya bergetar. “Apa yang kulakukan?”
Selain rasa sakit dan perih pada tubuhnya, ada rasa takut yang besar. Pandangannya kabur seiring basahnya kedua matanya. Sosok Naray yang bergeming membuatnya takut. Begitu pula tatapan para anggota Kloster.
__ADS_1
Bala bantuan ICPA juga telah datang bersama Tiger. Mereka meringkus setiap anggota Kloster, menekan tubuh mereka ke tanah, lalu mengikat kedua tangan mereka ke belakang. Dua anggota ICPA mendatangi Alex dengan tongkat panjang berkilat di bagian ujung. Stun gun? Alex memahaminya dengan cepat. Mereka hendak menangkapnya pula.
Alex mendengar suara lirih Jayden. [Jangan cuma diam! Bangun, Alex!]
Suara Jayden terdengar gelisah. Ada suara-suara lain terdengar di belakangnya. Suara bantingan pintu yang terbuka. Suara derap langkah kaki. Suara perintah dan teriakan. Diakhiri dengan suara putusnya hubungan komunikasi.
“Lari, bocah!” bisik Tiger.
Alex belum sempat merespon.
Tiger telah bangun, menyerang anggota ICPA yang hendak menangkap dirinya. Pertarungan yang tak pernah Alex harapkan terjadi. Pertarungan di dalam kubu ICPA sendiri. Panduan dari Jayden lenyap dan Tiger tengah bertarung dengan sesama agen.
“Bangun, bocah!” Tiger berteriak lagi. Dia menghiraukan pukulan yang baru saja dia terima di perutnya. Tiger menangkap pemukulnya lalu membantingnya ke tanah. Dia berteriak lagi. “Pergi dari sini! Jangan berpaling ke belakang!”
“Ta— Tapi…”
Alex tak mampu bergerak. Entah mana yang lebih menakutkan, melihat dirinya telah melukai orang atau melihat semakin banyak agen ICPA berusaha menyerang mereka. Tiger mundur, menyiapkan kuda-kuda. Sebelum menghadapi keroyokan itu, dia melemparkan drone putih pada Alex.
“Pergi! Jangan tertangkap! Sekarang!”
__ADS_1
Alex tak pernah berpikir akan lari dari pertarungan. Agaknya, itu terjadi hari ini. Dia pun berlari dengan Jason dalam pelukannya.