Zetta Sonic

Zetta Sonic
Bee Worker


__ADS_3

“Kita harus menunggu. Sayangnya. Robot ini masih mengisi daya.” Emil menghela napas pendek. ”Sekarang, ikut aku.”


Alex berpikir kalau dia akan dibawa ke ruang komando atau setidaknya ruangan dengan banyak bangku dan komputer, di mana para operator sedang bertugas. Ternyata, emil malah membawanya melewati lorong putih lebar yang sedikit berbeda dengan lorong lainnya di sana. Letak perbedaannya ada pada garis hijau neon yang membentang pada tengah dinding. Itu bukan sekadar dekorasi. Ada kejutan menyebalkan di sana. Alex hanya berharap dia tidak melihatnya ketika mereka beraksi.


“Kita mau ke mana?” Alex bertanya. Jemarinya menyapu dinding, memastikan dugaannya akan kejutan-kejutan tersebut. Sesuatu dalam dirinya bisa merasakan listrik statis mengalir samar.


“Ruanganku. Privat.”


“Perlakuan istimewa?”


“Aku yakin itu karena Nadira. Aku anggota Special Force.”


Emil berhenti di depan sebuah pintu kembar putih. Dia mengetikkan sesuatu pada panel pada samping pintu. Segera saja bunyi ‘pip’ terdengar. Hampir bersamaan dengan itu, pintu pun bergeser.


Keduanya terkejut. Bukan karena dinding putih dengan aksen hijau. Bukan pula karena deretan komputer di tengah ruangan dengan layar selebar dinding di seberangnya. Bukan juga karena layar serta mekanisme rumit di sisi ruangan lain. Melainkan karena ada Fergus di sana. Alex mengenali pimpinan baru ICPA dari wajah kotak dan kumis tebal lengkap dengan bekas luka tersebut.


Saat keduanya menahan diri untuk bicara, Fergus sudah bicara lebih dulu. “Inspeksi mendadak tidak pernah menyenangkan untuk anak buah.”


Emil mengangkat bahunya. “Tidak masalah buatku.”


“Kamu tidak berpikir kalau aku ingin mengutak atik robot ini, ‘kan?” Fergus berkata seolah bisa membaca pikiran Alex. Setelahnya, dia meletakkan obeng yang tengah dia genggam kembali ke atas meja. Tepat di sampingnya, Alex melihat Jason dan si robot lebah. Mata si lebah berkedip putih dengan lambat.


Kalau Fergus tidak bicara seperti tadi, Alex pasti menangkap kesan kalau si pimpinan sedang berniat merusaknya. Setelah Fergus meletakkannya, Alex terjebak dalam keraguan. Itu justru membuatnya makin waspada.


Emil pun melanjutkan. “Aku membutuhkan asisten.”


“Anak baru? Kulihat dia sedang terluka,” ujar Fergus. Matanya memicing pada Alex, menyelidik dengan saksama.


Alex memilih tak bicara hingga tatapan itu lenyap. Untungnya, itu memang hanya sebentar.

__ADS_1


“Siapa namamu?” Fergus bertanya.


“Jason.” Alex tahu pilihan namanya buruk. Mungkin malah sangat buruk. Namun, itu satu-satunya nama yang terlintas dalam pikirannya saat ini. “Aku bisa bekerja dengan satu tangan. Jangan khawatir. Aku pasti bisa membantu Emil, pak.”


“Aku tidak khawatir. Apalagi sekarang kita telah berhasil menemukan Rando.” Fergus menghampiri komputer di tengah.


Dengan satu sapuan layar, Fergus mengubah tampilan layar. Terlihat video pendek seorang pria keluar dari mini market. Penyamaran itu seharusnya sempurna kalau dia tidak reflek membetulkan topinya yang miring oleh tiupan angin. Tangan besinya terekspos. Itu memang Rando dalam balutan mantel panjang dan topi. Sosoknya berjalan dan lenyap di perempatan depan. Video tersebut memang singkat tetapi lebih dari cukup untuk memberi tahu apa yang terjadi.


“Bendungan. Kenapa dia ada di sana?” Emil bertanya.


Alex tanpa sadar sudah mengepalkan tangannya. Dia juga mengenali susunan toko di dekat bendungan, lebih tepatnya di dekat markas mereka. Rando melenggang dengan santai di sana. Adanya musuh dalam radius sedekat itu akan membuat siapa pun panik. Tak terkecuali Alex dan Emil.


“Itu yang tidak kita tahu. Aku berusaha menjaga informasi ini tidak tersebar luas lebih dulu. Tidak semua lapisan agen tahu apa yang ada di sana.” Fergus berhenti sebentar. Matanya menatap Emil lalu Jason — alias Alex. “Entah disengaja atau tidak, kupikir Rando punya niat tidak baik di sana.”


“Menurutmu, itu tempatnya?” lanjut Emil.


Alex akhirnya ikut bicara. “Cairan yang kita bicarakan, cairan yang dibawa Rando. Dia mau mencampurkannya dalam bendungan? Lalu, apa? Menjadikannya ancaman dan meminta tebusan pada pemerintah kota?”


“Pemerintah tidak bernegosiasi. Kita bertugas mencegah hal-hal semacam ini terjadi.” Fergus tersenyum. “Aku tidak mau kecolongan. Tidak boleh ada penculikan agen terjadi di bawah pengawasanku apalagi cairan terkutuk mengalir dalam saluran air ibu kota. Bukankah begitu, Emil?”


Emil tak menjawab, hanya mengangguk sekali.


Fergus melanjutkan, “Aku sudah bicara dengan Nadira. Kupikir dia ingin kalian kembali. Nanti, dia pasti akan segera menghubungi kalian segera. Untuk saat ini, menurutku, lebih baik kalian bersiap.”


Fergus tak menantikan jawaban dari kedua orang di depannya. Dia melenggang pergi tanpa bicara lagi. Setelah pintu kembali tertutup, Alex bertukar pandang dengan Emil.


“Apa itu tadi?” tanya Alex. “Aku mendapat kesan kalau dia tahu siapa aku.”


“Asistenku. Jason. Nama yang bagus.”

__ADS_1


“Bukan itu.” Alex hendak melanjutkan pembicaraan namun mengurungkan niatnya. Dia mendatangi meja di mana Jason yang lain sedang diam berdampingan dengan si robot lebah. “Ini yang dirancang Jayden?”


“Mengingatkanmu sesuatu? Namamu?” Emil bergerak menyeberangi ruangan. Dia mengambil koper kecil dari bawah meja dan mulai mengemas barang-barang kecil di sekitarnya. Dimulai dari obeng yang tadi dipegang oleh Fergus lalu charger dan komponen lain. Dia meninggalkan Alex yang sedang terpukau.


Alex hanya mendengus geli. Dia mengambil sedikit waktu untuk mengagumi detail robot mungil tersebut kemudian bertanya. “Hei, Emil. Apa menurutmu Jayden sudah mempersiapkan semuanya? Maksudku, menyiapkan rencana seandainya dia diculik?”


“Pada umumnya, setiap agen ICPA selalu siap. Siap untuk diculik. Siap untuk terbunuh. Jadi, ya. Biasanya kami punya rencana. Rencana untuk mencegah hal buruk. Juga rencana kalau hal buruk sungguhan terjadi.”


“Jadi, robot lebah ini seperti rencana cadangannya?” Alex mendekatkan dirinya pada si robot lebah. Mata si lebah masih berkelip. Sebuah indikator kalau robot itu masih mengisi daya.


“Mungkin. Jayden itu jenius. Berpikiran panjang. Selalu penuh perhitungan.”


“Penuh perhitungan.” Alex mengulangi kata-kata tersebut. “Jayden memperkirakan semuanya seandainya dia tertangkap atau terbunuh. Kalau aku jadi dia, aku akan menyiapkan penghancur otomatis untuk data-data rahasia sebagai rencana terakhir. Tapi, sebelumnya aku akan menyiapkan rencana agar bisa diselamatkan.”


Emil ikut melirik si robot lebah. “Jayden biasa memasang tracker pada dirinya. Sayang sekali, itu ketahuan.”


“Bagaimana kalau ada tracker lain?”


“Apa maksudmu? Tracker lain? Penculik pasti sudah membuangnya. Apalagi kalau mereka profesional dan punya orang dalam. Seperti dugaan kita.”


Alex menggelengkan kepala. “Coba lihat baik-baik. Ini lebah pekerja. Bukan ratu.”


“Aku tidak paham. Apa maksudmu, Alex?”


“Mungkin Jayden tidak sekadar mengolok-olokku. Mungkin dia sengaja membuatnya untuk mengirim pesan.”


Emil berhenti sejenak. “Lebah pekerja bertugas melayani ratu. Di mana ratunya?”


Alex tersenyum simpul. “Kupikir robot ini akan membawa kita pada Jayden.”

__ADS_1


__ADS_2