
Alex menyetir untuk pulang ke rumah. Dia melewati jalan-jalan yang biasanya dia lalui meski rasanya tak sama. Beberapa rumah mewah yang dia lewati adalah milik teman-temannya. Alex tak tahu apa yang terjadi pada mereka. Apakah mereka berhasil lolos dari ledakan karena belum hadir di sekolah? Apakah mereka terkena ledakan? Apakah mereka terluka atau bahkan lebih buruk.
Saat mata Alex basah lagi, White berbicara.
[Aku bisa memutar musik kalau kamu mau.]
“Tidak.” Alex tak ingin mendengar lagu apa pun. Leta punya suara yang indah. Itu talenta yang dimiliki seluruh anggota keluarganya. Alex tak tahu apakah mereka masih bisa menyanyi setelah tragedi ini terjadi.
Alex menggeleng. Dia berusaha menyingkirkan semua kenangannya pada Leta tetapi itu jelas mustahil. Baginya, akan lebih mudah untuk memilih tidak merasakan. Berpura-pura kebal dan tidak tersakiti oleh ledakan yang terjadi belum sampai dua puluh empat jam lalu. Dia butuh pengalih perhatian.
“White.”
[Apa yang bisa kulakukan untukmu, Alex?]
“Sambungkan aku pada Jayden.”
[Dia sudah membuka sambungan komunikasi dengan beberapa orang sekaligus. Ada Nadira, Fergus, dan beberapa agen lain. Apa kamu yakin ingin tersambung juga?]
“Ya.” Alex mengaktifkan kembali seragam tempur yang sempat dia matikan. Dia tidak mau sampai ada orang di luar Special Force yang melihat wajahnya.
[Sonic?] Jayden menyapa.
Panel layar White menyala dan Alex bisa melihat Jayden di sana. Matanya tidak melihat lurus padanya. Jayden sibuk mengetikkan sesuatu. Dia juga melakukannya sambil menoleh ke beberapa titik. Sepertinya memang ada banyak layar komunikasi yang sedang dibuka olehnya.
[Hei, bagaimana? Apa semuanya baik-baik saja? Atau, ada sesuatu yang terjadi di sana?] Jayden melihat ke arah Alex, menunggu jawaban. Karena Alex tak kunjung menjawab, Jayden mengalihkan perhatiannya lagi.
Sebelum berpisah tadi, Jayden mendukung Alex memeriksa rumahnya lebih dulu. Itu adalah salah satu sasaran yang baik bagi Baron. Terlepas apakah ada Mark Hill di dalamnya atau tidak dan terlepas apakah rumah itu dijaga oleh agen ICPA lain.
__ADS_1
“Tidak. Aku hanya ingin…” Alex terdiam sebentar mencari kata-kata. Hatinya yang gelisah dan pikirannya tak bisa menemukan kata mufakat untuk berbohong. Alex pun melanjutkan dengan sebuah kejujuran. “Di sini sepi. Kupikir aku butuh teman.” Suaranya hampir bergetar.
Jayden berhenti sejenak. [Dengan menghubungiku saat ini, kamu akan mendengarkan omelan Nadira, banyak praduga bersalah dari Fergus, omelan Nadira lagi, pergerakan tim penjinak bom, dan banyak omelan Nadira. Sangat. Banyak.]
[Aku mendengarmu, Jayden!] Nadira menyela.
[Kuharap kamu baik-baik saja di sana, Zetta Sonic.] Fergus menjaga agar dirinya tidak menyebutkan nama ‘Alex’.
“Sangat baik, terima kasih.” Alex mengeluarkan jawaban yang sudah dia latih selama bertahun-tahun. Dia tidak ingin orang-orang fokus pada kehadirannya, jadi dia malah menawarkan bantuan. [Jadi, apa yang bisa kubantu setelah mengecek, um, salah satu mansion siswa Wood Peak. Kalian punya sasaran lain?]
[Banyak.] Ada jawaban dari suara asing yang langsung dipotong Nadira.
[Zetta Sonic tidak seharusnya mengurusi bom ini. Dia seharusnya lebih fokus untuk melawan robot gorila yang gagal diurus Jayden. Jadi, Sonic, setelah kamu selesai memeriksa mansion itu, kembalilah ke markas Special Force. Secepatnya. Paham?]
“Sangat paham.”
Nadira ternyata juga bekerja sama dengan beberapa pihak lain, termasuk para petinggi kepolisian — karena polisi biasa tidak seharusnya tahu keberadaan ICPA —, dan juga agen ICPA benua lain. Gavin juga pasti dilibatkan di dalamnya. Lagi-lagi, Alex teringat Cody.
Kalau seandainya saja Nadira mengizinkan Cody dibebaskan, Cody bisa memberikan banyak bantuan bagi mereka. Dia memiliki serangga-serangga kecil yang hingga saat ini belum mampu dibuat ulang persis oleh ICPA. Meski begitu, Alex tahu ini bukan saat yang tepat untuk berdebat dengan Nadira. Apalagi disaksikan oleh banyak pihak. Semoga setelah memastikan rumahnya aman, dia bisa menghubungi Nadira secara pribadi untuk itu.
Alex akhirnya sampai di rumah. Dia melihat pagar rumahnya, tanaman yang sama, dan penjaga yang sama. Namun, sekali lagi, rasanya tidak sama.
[Aku terintegrasi dengan Zet-Arm. Kamu bisa memanggilku melaluinya.]
Alex hanya mengangguk. Dia pun turun di depan pagar dan membiarkan White membawa pergi mobilnya. Dia tidak tahu berapa lama akan berada di rumah. Dia tidak tahu apa reaksi ayah dan ibunya ketika melihatnya pulang. Dia bahkan tidak tahu kapan dirinya akan dibutuhkan. Nadira bisa memanggilnya kapan pun. Bom itu bisa ditemukan segera atau malah tidak ditemukan sama sekali. Pilihan yang mana pun, Alex tetap takut.
Anak itu melanggarkan pelan memasuki rumahnya. Preston berlari-lari dari dalam rumah untuk menyambutnya. Pria tua itu nampak lega melihat tuannya datang.
__ADS_1
“Aku khawatir namamu ada di berita, Alex,” katanya lirih.
“Aku di rumah Willy, menunggu sampai kondisi akan hingga pulang.” Itu jawaban yang telah ICPA susun untuk Alex. Entah sejak kapan berbohong jadi lebih mudah dilakukan bersama dengan bantuan ICPA. Telepon dari rumahnya ke rumah Willy akan dialihkan pada operator. “Di mana ayah dan ibu?”
“Mereka ada di ruang kerja ayahmu. Mereka pasti akan sangat senang melihat kedatanganmu.”
Alex terseyum. Apa yang lebih menyenangkan dari melihat ayah dan ibu tersenyum akan kedatangannya. Ayah akan memeluknya hangat dan ibu akan memberikan kecupan manis untuknya. Itu kesenangan sederhana di hari yang cukup menyebalkan ini. Namun, itu terlalu indah untuk jadi kenyataan bagi Alex. Apa yang terjadi di ruang kerja ayah sangat jauh dari bayangannya.
Ayah dan ibunya sedang bertengkar hebat. Mereka tidak menyadari kehadiran Alex. Anak semata wayang mereka sedang mengintip dari pintu yang terbuka.
“Kamu tidak pernah peduli padaku atau Alex. Kamu bahkan membiarkan dia berada di rumah temannya. Dia seharusnya ada di sini!” Alicia berteriak.
Tak kalah keras, Mark juga berteriak. “Coba lihat siapa yang bicara soal peduli. Kamu tidak juga pernah peduli pada Alex atau juga padaku. Kalau tidak, mana mungkin kamu malah tidur sekamar dengan laki-laki lain. Aku tahu apa yang kamu lakukan di belakang kami, Alicia!”
“Benarkah? Kamu tahu? Dari mana? Infotainment?”
“Tidak penting aku tahu dari mana. Tega-teganya kamu malah selingkuh di saat Alex membutuhkanmu.”
“Alex membutuhkanku? Anak itu membutuhkanmu. Dia butuh bimbingan ayahnya. Kamu tahu apa yang terjadi? Kamu sama sekali tidak ada saat dia membutuhkanmu. Ayah macam apa yang hanya pulang beberapa kali setahun? Itu pun hanya beberapa hari.”
“Aku bisa mengatakan hal yang sama padamu.”
“Aku bekerja di depan layar. Kamu bisa melihatku di majalah, televisi, internet. Aku bahkan selalu memberikan jadwalku padamu.”
“Kebanyakan dari jadwal itu palsu!”
“Itu masih jauh lebih baik daripada tidak memberi kabar sama sekali. Kamu sangat sulit dihubungi. Aku tidak tahu kamu ada di mana. Kamu membuatku selalu berbohong setiap Alex menanyakan keberadaanmu!”
__ADS_1
Alex berharap terlalu banyak. Tidak ada yang mengharapkan kepulangannya. Ayah dan ibu sibuk dengan dunia mereka sendiri. Untuk apa pulang ketika kamu hanya membawa masalah?