
Alex tak mau menebak berapa banyak musuh yang dimiliki orang seperti ayahnya. Para kriminal jelas tak suka akan kehadiran ICPA terutama setiap pemimpinnya. Dengan sekadar perintah sederhana, mereka bisa mencegah kejahatan ringan hingga global. Untuk membunuh sesuatu, memang paling mudah mengincar kepalanya.
Tapi, bagaimana dengan dirinya?
Pemikirannya terpotong oleh sebuah suara mesin. Lebih tepatnya, suara komputer canggih dari mobil Gavin. Suara itu seperti suara perempuan. Ketika bicara, layar di bagian tengah dashboard menunjukkan simbol gelombang suara dan tulisan singkat ‘Parana’.
[Memulai pengacak sinyal.]
Suara itu menyadarkan Alex kalau sistem komputer menyadari transmisi yang terus terpancar dari Zet-Arm.
Gavin melihat ke belakang lewat kaca spion tengah. Dia tahu sebuah mobil mengikuti mereka lekat-lekat dari belakang. Mobil yang tadi ditumpangi Alex tak lantas meninggalkannya. Dia bisa membayangkan anggota berbadan terbesar Special Force sedang berada di balik kemudi.
“Batalkan, Parana,” ujar Gavin. Kemudian, dia melirik anak laki-laki di sampingnya. “Pengacak sinyal tidak akan berfungsi. Tidak untukmu.”
[Peringatan adanya transmisi tak dikenal dari dalam mobil dalam jarak radius dua puluh meter. Apa kamu yakin ingin membatalkan pengacak sinyal, Gavin?]
“Batalkan.”
[Pengacak sinyal dibatalkan.]
Alex pyn berkomentar. “Lumayan. Sistem komputer canggih di dalam mobil sport mulus.”
“Masih kalah dengan punya kalian. Semua orang di ICPA tahu kalau Nadira memimpin kalau soal teknologi. Bukan salahnya. Kalian juga berhadapan dengan kriminal-kriminal menyebalkan. Robot pembunuh seperti kapan hari? Itu teknologi luar biasa.”
Tanpa sadar, Alex tersenyum simpul. Gavin memang benar. Pengacak sinyal biasa tidak akan mampu mengacaukan transmisi Zet-Arm. Jaringannya sulit ditembus. Selama masih terhubung, Emil dan Tiger di mobil belakang terus bisa memantau apa saja pembicaraan Alex serta lokasinya.
“Kemana kamu membawaku?” tanya Alex.
“Tempat yang aman. Bagimu dan bagi orang di rumahmu,” jawab Gavin.
__ADS_1
“Aku enggak tahu kalau kalian punya tempat aman di sini. Ini bukan daerahmu.”
“Percayalah, kami punya banyak tempat di luar pengawasan ICPA. Salah satunya di pelabuhan.”
“Kargo? Gudang kosong? Pelabuhan?” tebak Alex.
Gavin terdiam sebentar. Meski enggan mengakui, dia tetap memuji. “Kamu jauh lebih pintar dari bayanganku.”
“Peraturan di sana lumayan longgar dan akses kaburnya mudah.”
Gavin melirik Alex lagi saat menyadari anak itu terus menerus menatapnya. “Dengan sedikit uang pelicin, beberapa profil bisnis samaran, orang dalam, — dan longgarnya peraturan di sana — kita bisa dapat kontainer terbaik untuk dijadikan tempat persembunyian. Bukan satu, bukan dua. Banyak.”
Alex menyipit. “Kamu sadar kalau pembicaraan kita bisa didengar orang lain, ‘kan.”
“Maksudmu, mobil di belakang? Mereka butuh waktu dan alasan yang tepat untuk menggeledah semuanya.”
“Jadi, kamu membantuku lari dari pembunuh yang belum jelas kenapa mengincarku?”
“Kamu menyiapkanku komputer di sana?”
“Jangan salah sangka, ICPA melengkapi setiap tempat persembunyiannya dengan makanan, obat, kendaraan, senjata, dan komputer. Itu standar kelengkapannya. Kamu bisa bertahan lama di sana kalau ada serangan zombie atau alien.”
“Zombie? Alien? Sangat lucu.” Alex terkekeh. Kemudian, dia tersadar akan adanya kemungkinan lain. Dia pun ternganga. “Tunggu! Kalian berhadapan dengan zombie sebelumnya? Juga alien?”
“Zombie dalam arti mayat yang hidup lagi? Ya. Beberapa kali. Mereka menyebarkan. Untungnya, mereka tidak menyebarkan virus lewat gigitan. Mereka hanya menyebar lewat suntikan bahan kimia. Semacam itu. Alien? Hampir. Ada transmisi asing yang masih diselidiki sampai saat ini. Lebih baik berharap mereka tidak menyerang kita sungguhan. Aku enggak yakin kita siap.”
“Kamu serius soal itu semua?”
Gavin melirik Alex sekali lagi. “Kamu mendapat injeksi ramuan bernama Dragon Blood. Berhadapan dengan robot pembunuh. Melihat manusia berubah jadi monster dengan mata kepala sendiri. Lalu, kamu mempertanyakan apakah zombie ada atau tidak?”
__ADS_1
Alex malah berdecak kagum. Matanya memperhatikan jalan lebar dan sepi yang mulai menanjak. Mereka sedang melintasi jembatan layang panjang dengan pelabuhan di ujungnya. Melihat langit luas terbentang dan kosong menyadarkan dia akan banyak hal yang belum bisa dia pahami saat ini.
Apakah dia ingin bertemu dengan zombie sungguhan seperti Gavin? Di dalam lubuk hatinya, dia tak akan berbohong. Alex ingin bertemu dan melihat seperti apa mereka. Agaknya setiap benua punya permasalahan mereka sendiri-sendiri. Kalau Gavin bilang Nadira memimpin dalam bidang teknologi, itu memang dorongan karena penjahat yang mereka hadapi juga menggunakan teknologi tinggi.
“Bagaimana caramu mengatasi zombie?” Alex bertanya lagi. “Kamu enggak akan melawan zombie dengan zombie, ‘kan?”
“Sempat ada pemikiran soal itu. Tentu saja, banyak perdebatan banyak timbul. Manusia sering menganggap apa pun yang tak bisa mereka pahami sebagai monster. Begitu pula zombie dan senjata biologis.” Gavin merendahkan suaranya dan tak berani melihat ekspresi Alex. “Kami melawan mereka dengan senjata. Incar kepalanya. Mereka akan tumbang kalau kepalanya dihancurkan.”
“Kamu memperlakukan mereka sebagai monster.”
Gavin terdiam, tak ingin menjawab.
“Apa kamu juga berpikir kalau senjata biologis adalah monster?”
Gavin lebih tak ingin menjawab pertanyaan tersebut. Dia sengaja diam, berharap Alex akan mengganti topik. Pikirannya sendiri mencari pengalih pembicaraan, namun tak menemukan satu pun. Akhirnya, Gavin pun menjawab. “Aku menyelamatkan seseorang dari sungai beberapa waktu lalu.”
Alex menanti lagi bila Gavin akan melanjutkan. Setelah beberapa waktu berlalu, dia sadar kalau memang hanya itu yang diucapkan Gavin. ‘Seseorang’. Kata itu membekas di hati Alex. Gavin tidak menyebutnya monster atau senjata biologis seperti yang sempat dia dengar dari beberapa pihak.
Walau begitu, kenangan mimpi buruk kembali mengusik Alex. Dia tak ingin memikirkannya lagi. Sayangnya setiap membicarakan soal Damon dan Dragon Blood, dia sadar akan risikonya. Dia bisa jadi monster seperti Damon. Mungkin itu hanya masalah waktu, tidak ada yang tahu. Tanpa profesor Otto, rahasia Dragon Blood tampaknya telah terkubur untuk selamanya.
Ketika pembicaraan mereka berangsur reda, Parana memecahkan keheningan. [Gavin, peringatan dari Safe House 72. Kode 10-70.]
Alex mengernyit. Dia tak hafal kode-kode seperti itu, namun dia mendapat kesan tak menyenangkan. “Apa itu maksudnya?”
“Kontainer tempat kita bermalam hari ini sedang terbakar.”
“Sedang apa?” Alex tak percaya.
“Oh… Tidak.” Gavin menggigit bibirnya.
__ADS_1
Mereka telah mendekati ujung jembatan layang. Mata keduanya sekarang bisa melihat asap hitam membumbung di tengah langit malam. Sumbernya jelas. Kobaran api besar tengah membara dari sisi laut. Besarnya tak bisa tertutupi oleh tumpukan kontainer. Raungan sirene terdengar makin kencang. Dari belakang, deretan mobil pemadam kebakaran dan mobil polisi baru menyalip mereka.
Apakah ini tanda kalau mereka telah ditemukan?