Zetta Sonic

Zetta Sonic
Big Red


__ADS_3

Cody tak bisa bergerak. Lidahnya kelu, kakinya lemas, tangannya gemetar. Dia belum pernah melihat robot semacam itu sebelumnya. Tinggi si robot hampir mencapai jembatan yang tadi dia lalui. Cody, yang sekarang berada di tengah tangga turun, berada sejajar dengan dada si robot. Seolah ingin melihat lebih jelas, si robot mendekatkan wajahnya.


Bukannya lari, Cody malah merosot di posisinya. Jason pun menolong. Drone itu mengeluarkan moncong kecilnya. Dari moncong itu, serangan laser pun memelesat di udara. Mereka mengincar kepala lawan. Laser itu tidak memberikan serangan berarti, hanya menimbulkan lecet dan bekas hangus pada bagian yang terkena.


Si robot mengerang dibuatnya. Dia mengangkat satu tangannya untuk menangkap Jason. Si drone bergerak lincah. Dia bergeser di udara sambil tetap menembak. Jayden telah banyak belajar dari kesalahan. Dia memperbaiki sistem Jason. Tidak sempurna namun si drone setidaknya bisa bertahan lebih lama ketika bertemu robot sebesar itu.


Alex bangkit setelah menabrak dinding dengan keras. Dinding itu bukan hanya retak namun berlubang. Alex menembusnya hingga ke ruangan lain. Tanpa sempat memeriksa ruangan apa itu, Alex buru-buru bangun dan berlari pada si robot.


Dia melompat di udara. Tangannya telah terkepal. Dia mengincar kepala si robot. Untungnya, robot itu memang tidak lincah. Si robot hanya sempat menoleh. Itu justru memudahkan Alex. Alex meninju keras kepala robot itu sampai hampir jatuh ke tanah. Kalau si robot tidak berpegangan pada rangkaian pipa besar, dia pasti telah tumbang.


Si robot mengerang keras. Dia mengulurkan tangannya untuk menangkap Alex.


Alex sendiri telah menyalakan roketnya. Roket itu mendorongnya pelan. Tidak perlu membuatnya sampai terbang ke udara. Alex hanya perlu menghindar. Dia hendak mendekati si robot dan merusak panel bagian dadanya. Tentu saja, sebelum itu terjadi, Alex harus memaksanya membuka bagian dada lebih dulu. Dia butuh umpan. Itu akan jauh lebih mudah daripada merusak lapisan si robot dengan tangan kosong.


Nah, sekali lagi, itulah masalahnya. Dia butuh umpan.


Seragam tempur Alex bisa menahan serangan robot gorila tadi. Namun, robot ini lebih besar. Daya rusak mereka pasti berbeda. Bahkan, mungkin jauh berbeda. Dia hanya bisa berharap kalau seragam tempurnya cukup kuat untuk itu.


“Cody. Aku akan coba memancingnya supaya menembak.” Alex separuh berteriak. Dia melakukannya sambil berlari menghindari serangan musuh. Gorila besar ini bukan hanya lebih berukuran raksasa tetapi juga lebih agresif. “Kalau dia menembak, buka kotak panel di dadanya.”


“A— Apa? Kamu mau aku apa?” Cody berusaha memulihkan diri dari ketakutannya.

__ADS_1


“Kalau dia menembak, dadanya akan terbuka. Saat itu, buka panelnya. Pakai seranggamu.”


“Ba— Baik. Akan kucoba.” Cody mengangguk tanpa yakin harus berkata apa lagi.


Alex mencoba menyelinap di antara dua tangki besar. Dia berharap si robot gorila akan menembaknya. Robot itu telah mengangkat kedua tangan. Di saat Alex berpikir kalau lawan akan menembak, lawannya malah menghantamkan kepalan tangan ke tanah. Lagi. Lantai pun kembali hancur dibuatnya. Tangki terdekat berikut dengan pipanya sampai bengkok. Hempasannya membuat Alex sampai terdorong.


Setelah terguling, Alex buru-buru bangkit. Gorila besar itu jelas punya cara menyerang yang berbeda dengan robot gorila sebelumnya. Kecerdasan buatan sepertinya juga berbeda.


Alex mengawasi sekelilingnya. Dia melihat sebuah celah sempit lain di antara dua tangki lagi. Tanpa pikir panjang, dia menyelinap ke sana.


“Aku tidak bisa melihatmu!” protes Cody.


“Kalau begitu, ikuti aku!” Alex berdecak kesal. Meski begitu, dia harus memuji karena Cody masih mau berusaha membantunya. Mungkin juga karena dia sudah terlanjur terjebak dalam masalah ini.


Robot gorila pertama memukul kedua dadanya lalu melompat. Cody terpaku di posisinya. Dia tidak berniat melawan robot tersebut. Kenyataanya, dia bahkan hanya disuruh membantu Alex. Selagi memikirkan cara kabur, Cody melihat robot gorila pertama ini mendarat di atas jembatan tak jauh darinya.


“Alex… Aku dapat sedikit masalah,” bisiknya.


“Masalahku lebih besar darimu!” Alex berteriak.


Robot gorila besar di belakang Alex mengayunkan tinjunya. Serangan itu mengenai tangki pertama. Tangki itu melesak. Alex berada di belakang tangki kembar tersebut, tak terluka. Robot gorila besar menyadari kalau dia gagal mendapatkan targetnya.

__ADS_1


“Ayolah… Tembak…” bisik Alex.


Si robot gorila menerang marah. Dia mengayunkan tinjunya lagi, membuat kerusakan lebih parah pada tangki pertama. Serangannya tidak bisa mencapai Alex. Kalau mau, Alex sebenarnya bisa lari lagi. Namun, dia berharap robot itu membuka dada dan menunjukkan senapan mesin di baliknya. Alih-alih menembak, robot gorila besar itu lebih suka memukul tangki pertama dan — sekarang — tangki kedua.


Sementara itu, Cody bisa melihat posisi Alex. Di antara Alex dan si robot gorila besar itu hanya ada dua tangki yang makin lama makin rusak. Tubuh gorila besar itu membelakanginya padahal dia harus melihat panel tersebut kalau terbuka. Kalau tidak, dia tidak akan bisa membukanya paksa.


Di depannya, justru ada robot gorila lain yang mulai menggeram. Cody tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau robot itu mendatanginya.


Saat itu, robot kedua juga datang. Dia mendarat tepat di belakang robot pertama. Pendaratannya membuat guncangan keras yang juga membuat jantung Cody hampir melompat keluar. Itu hanya berlangsung cepat. Belum sempat si robot itu menyerangnya, jembatan besi itu pun putus.


Cody hanya bisa melongo. Bobot kedua robot ditambah hentakan mereka ketika mendarat ternyata terlalu besar untuk ditanggung. Selusur jembatan terkoyak, baut jembatan itu sendiri terpental jatuh, lalu satu per satu potongan penyusun jembatan pun runtuh. Kedua robot itu kini jatuh menimpa satu sama lain.


“Oke. Kupikir masalahku sudah lenyap.” Cody mengerjap, menenangkan hatinya, lalu buru-buru melangkah lagi.


Mendekati jembatan yang runtuh, Cody melompatinya dengan mudah berkat bantuan para serangga. Itu membuatnya sadar. Dia memang hampir selalu seperti itu. Ketakutan. Melupakan potensi, terlalu fokus pada kelemahan. Padahal, dia seharusnya bisa terbang melewati kedua robot tadi kalau mau.


Cody berhasil tiba di sisi jembatan yang lain. Dia berada hampir di atas Alex. Dari sana, dia bisa melihat bagaimana si gorila merah besar itu terus memukul dan memukul. Dia juga bisa melihat cairan hitam yang mengalir keluar dari tangki yang bocor.


Selama ini, belum ada tangki yang benar-benar pecah. Beberapa peyok namun tidak sampai memperlihatkan isinya. Sekarang mereka bisa melihat isinya. Cairan hitam kental yang berasap. Ketika cairan itu keluar menuruni dinding tangki, bagian yang terkena itu mulai melunak.


“Cody!” Alex herteriak.

__ADS_1


Cody melihat si robot gorila itu mengerang marah. Kali ini, dia membuka dadanya. Empat pasang moncong senapan mesin pun nampak. Dua pasang pada setiap sisinya. Tak mau membuang waktu, Cody mengirimkan para serangganya hanya untuk menyadari sebuah kesalahan.


__ADS_2