
Untung segera mendekati Citra dan menyerahkan amplopnya kepada Citra. Sebagai seorang pegawai yang patuh untuk melaksanakan semua perintah Alvan dengan baik. Untung bersyukur mendapatkan bos yang baik seperti Alvan maka itu semua perintah Alvan dilaksanakan dengan sebaik mungkin.
Citra yang sudah tahu kalau amplop itu akan diberikan kepada Bonar makanya wanita ini menerimanya. Selanjutnya Alvan naik ke dalam mobil sambil melambaikan tangan ke arah Citra sebagai ucapan selamat tinggal. Ada rasa tidak rela meninggalkan Citra bersama anak-anak tapi apa daya ada yang lebih penting daripada sekedar menjaga perasaan anak-anak. Sejahat apapun Pak Jono dia tetap orang tuanya Alvan maka itu mau tak mau aflan harus segera berangkat untuk menjenguk keadaan bapaknya.
Perlahan mobil yang ditumpangi untuk dan Alvan meninggalkan pekarangan rumah Citra. Citra masih termangu merasa kehilangan sesuatu yang paling berharga di dalam hatinya. Tinggal beberapa hari bersama Alvan terasa ada sesuatu yang hangat di dalam dada. Citra sendiri tidak tahu perasaan apa itu? Yang ada sekarang perasaan Citra agak galau memikirkan nasib Alvan dan Pak Jono. Semoga saja keadaan tidak seburuk yang dibayangkan. Citra hanya bisa berdoa semoga semua berjalan dengan baik.
Setelah mobil Alvan menghilang dari pandangan mata Citra segera masuk ke dalam rumah. Tinggallah sepasang mantan preman itu kebingungan berdiri di depan teras mereka tak tahu apa yang harus mereka kerjakan karena tiba-tiba bos mereka pergi.
Kedua orang itu seperti anak ayam kehilangan induk. Termangu tidak tahu harus kerjakan apa dan harus ke mana.
"Tok.. kita ngapain sekarang?" tanya Bonar kebingungan.
"kita tunggu saja perintah selanjutnya. Kita tunggu di sini saja. Siapa tahu nanti Kak Citra akan memberi kita kerja." sahut Tokcer sambil mendudukkan pantat di kursi rotan.
Bonar ikutan duduk sambil melayangkan mata ke arah jalan. Bonar baru saja kegirangan mendapat perhatian dari bos tiba-tiba terasa diasingkan lagi. Bonar sangat berharap dapat bekerja sama dengan Citra dan Pak Alvan yang sangat baik itu.
Jarang ada orang kaya memberi perhatian pada preman kayak mereka. Selama ini mereka hanya dianggap sebagai sampah masyarakat padahal mereka tidak pernah melakukan sesuatu yang merugikan orang lain.
Citra melanjutkan pekerjaan di dapur yang sempat tertunda. Pikiran Citra melayang-layang memikirkan nasib Pak Jono di Jogja. Apa mantan mertuanya itu menerima karma telah berkhianat dari keluarga. Citra makin yakin kalau orang yang jahat akan menuai semua apa yang mereka perbuat. Kita tidak perlu mengadili orang yang bersalah karena ada yang membantu kita membayar semua kesalahan yang telah mereka perbuat.
Waktu berjalan dengan cepat tak terasa sore datang menjelang. Kedua kurcaci Citra terbangun pada saatnya. Afifa langsung mencari Alvan di ruang tamu. Afifa tahu tak mungkin papinya masuk ke kamar maminya.
Afifa panik tidak melihat sang papi yang telah berjanji akan menemani hingga esok hari. Afifa merasa lagi-lagi Alvan berbohong pada dia. Ada rasa kecewa membuncah di dalam hati gadis kecil ini.
Afifa segera mencari maminya di dapur namun Afifa tidak menemukan maminya. Mata Afifa kembali berembun hendak menangis. Afifa dan Azzam di didik untuk tidak cengeng namun sejak mengenal Alvan entah kenapa perasaan Afifa menjadi lebih sensitif. Sedikit-sedikit merasa iba hati terasa diabaikan.
Akhirnya Afifa menemukan Citra sedang menggosok pakaian di belakang. Afifah segera memeluk maminya dari belakang. Citra kaget tiba-tiba dipeluk orang dari belakang langsung membalikkan badan melihat siapa yang memeluknya.
"Sayang sudah bangun nak?" Citra menurunkan badan agar sejajar dengan tubuh Afifa.
Citra tertegun melihat mata Afifa berkaca-kaca. Tidak perlu dijelaskan Citra sudah mengerti apa penyebab Afifa merasa sedih.
"Papi mana mi?" Afifa dengan raut wajah ditekuk.
Citra mengatur nafas sebelum menjawab pertanyaan Afifa yang pasti akan melukai perasaan anak itu. Alvan telah berjanji untuk menunggu Afifa bangun namun tiba-tiba Alvan harus pergi. Ini akan menjadi pukulan bagi anak kecil itu. Alvan dianggap melanggar janji.
"Sayang mari kita duduk di luar. Ada yang mau mami ceritakan!" Citra menggandeng tangan Afifa keluar dari belakang menuju ke ruang tamu. Afifa tidak berkata-kata apapun selain mengikuti langkah Citra menuju ke tempat lebih nyaman.
Citra mendudukkan Afifa di pangkuannya seraya mengelus kepala anaknya. Waktunya memberi pengertian pada Afifah untuk memahami kesulitan orang tua.
"Sayang... Amei sayang nggak sama papi?"
Afifah mengangguk menatap lurus ke bola mata Citra. mata bening Afifah masih berkaca-kaca menahan perasaan sedih ditinggal oleh Alvan tanpa pemberitahuan.
"Dengar ya nak! Papi itu punya papi yang artinya opanya Amei."
"Lantas?"
"Sekarang opanya Amei sedang sakit di Jogja. Nah... papi berangkat ke Jogja untuk melihat kondisi opanya Amei. Papi sudah minta maaf tidak sempat izin sama Afifa. Papi janji besok sudah balik ke sini sambil bawa opa yang sakit. Nanti kita jenguk opa sama-sama! Amei mau kan?" Citra memberi pengertian secara lembut pada Afifa.
__ADS_1
Perlahan wajah Afifa berubah sendu. Wajah yang tadi mendung ini berubah menjadi penuh pertanyaan. mengapa tiba-tiba muncul tokoh lain di dalam hidup dia. selama ini Afifa hanya mengenal adanya keluarga angkat mereka di Beijing sama Azam dan Citra. tokoh-tokoh baru bermunculan dalam hidup Afifa membuat gadis kecil ini merasa kebingungan.
"Mami... mengapa Amei baru tahu kalau kita punya opa?"
"Amei masih kecil... suatu saat nanti Amei akan memahami semuanya. Tunggu Amei sudah gede mami akan ceritakan semuanya pada Amei dan Koko. Sekarang Amei bangunkan koko karena hari sudah sore! Percaya sama mami besok papi sudah balik sini. Amei tak boleh sedih lagi ya nak ya!"
"Tapi papi selalu ingkar janji! Apa papi tak sayang sama Amel dan Koko?"
"Tapi sayang kok cuma papi kadang sibuk jadi Amei harus maklumi keadaan papi. Papi cari uang untuk Amei dan Koko. Anak mami yang cantik! Sekarang bangunkan Koko dan pergi mandi ya! Siap maghrib nanti kita keluar jalan-jalan sama kak Andi Kak tokcer dan Kak Bonar. Amei mau?"
"Mau mi..." sahur Ami dengan suara lebih ceria. Kesedihan di wajah terhapus sudah karena janji Citra akan membawa mereka pergi jalan-jalan. Citra tak punya jalan lain untuk membujuk Amei selain menyenangkan anak gadisnya yang sedang berduka.
Citra menepuk pantat Amei agar melaksanakan perintah darinya. Amei dengan patuh turun dari pangkuan Citra menuju ke kamar Azzam.
Citra menarik nafas lega telah berhasil membujuk Amei melupakan kesedihannya. Kini tinggal menunggu datangnya magrib agar bisa membawa anak-anak pergi jalan-jalan sekaligus membantu Bonar mencari pakaian layak.
Citra keluar rumah mencari kedua mantan preman. Citra mendapatkan kedua mantan preman itu sedang tertidur di kursi rotan depan teras. Sebenarnya Citra tidak tega membangunkan kedua orang itu namun Citra ingin keduanya bersiap-siap untuk membawa Azzam dan Afifa mencari hiburan.
"Tok... bangun!" ujar Citra dengan nada lembut.
Bukan Tokcer yang terbangun melainkan Bonar meloncat kaget dengar suara Citra. laki lajang ini segera berdiri dalam posisi siaga.
"Kak Citra ada apa kak?" tanya Bonar dengan gugup.
"Tidak ada yang penting. Kalian pulang istirahat nanti setelah Magrib kita jalan-jalan bersama anak-anak. Setelah maghrib langsung balik sini."
"Ya sudah!" kata Citra balik ke dalam rumah.
Bonar segera bangunkan Tokcer yang sedang keenakan tidur.
"Woi Tok! Bangun..." seru Bonar tepat di pinggir kuping Tokcer. Suara khas orang Batak yang menggelegar pedih di kuping Tokcer. Padahal itu volume paling kecil.
Tokcer bangun dengan muka merah menahan amarah. Barusan tadi dia sedang bermimpi indah dan dengan tangan dengan cewek cantik di taman. Mereka mengitari taman sambil berjoget ala India. Datang Bonar tak tahu diri mengganggu mimpi indahnya.
"Sialan lhu..." rutuk tokcer dengan wajah kesal, "Apa suara lhu tak bisa disetel lebih kecil? suara kodok kejepit kaki lhu pertahankan. Punya duit operasi pita suara tuh!" Tokcer meraba kupingnya yang jadi korban pelecehan suara Bonar.
"Ngapain operasi pita suara mending duitnya buat beli bini! Musim hujan tidak dingin lagi bro."
"Eh lhu ya! Belum dapat kerja udah bermimpi yang bukan bukan."
"Lha lhu kan bilang kalau ada duit! Gue kan juga bilang kalau punya duit. Kalau nggak ya sabar bae bro! Tuh kita disuruh pulang! Magrib ntar bawa kedua bocil pak Alvan jalan-jalan!"
"Perintah siapa?"
"Yang ngomong siapa?"
"Lhu...dasar apa gue ikuti perintah lhu?"
"Perintah gue tapi yang nyuruh kak Citra!" Bonar senang bisa permainkan Tokcer.
__ADS_1
"Dasar Batak jelek..! Mau cari pasal ya? Yok kita duel!"
"Ok...hidup dan mati ya! Gue hidup lhu mati!"
"Boneng kampret...mulai berani ya! Gue sambit lhu pakai jurus pendekar gampar lutung telanjang!" Tokcer peragakan gaya pendekar hendak caplok batok kepala lutung terjelek sedunia.
"Bro...sedunia tahu kalau lutung itu nggak punya duit beli baju. Nggak usah dipromosikan dia telanjang. Kalau berpakaian bukan lutung lagi tapi lontong."
Tokcer tertawa oleh guyonan Bonar. Bonar memang tidak ganteng tapi hatinya baik. Tokcer kapan bisa marah pada sobat akrabnya teman seperjuangan di kaki lima.
"Serius kak Citra minta kita temani duo racun kecil jalan-jalan?"
"Sejuta rius...gue pinjam baju lhu ya! Malu pakai baju penuh jendela bolong."
"Ada baju lhu sama Andi! Masih perawan tuh baju! Belum ada yang pake!"
"Idihhh...ngomongnya dalem amat! Jadi kalau gue pinjam baju lhu artinya gue pakai janda lhu dong!"
"Isshhh ribet amat ngomong ama lhu ! Janda perawan lhu bawa-bawa!"
"Lah yang mulai kan elu? Yuk kita cabut!"
"Yuk siapa takut?"
Kedua mantan preman itu segera keluar dari teras rumah Citra. Hati keduanya plong karena tidak diabaikan oleh Pak Alvan. Pak Alvan serius memperkerjakan mereka. terbukti masih percaya pada mereka untuk menjaga keluarga Pak Alvan. Semoga saja Pak Alvan tidak berubah pikiran sehingga kehidupan mereka terjamin.
Seusai salat magrib Citra membantu kedua anaknya berpakaian rapi untuk pergi jalan-jalan sesuai janji Citra. tujuan kita membawa anak-anak jalan-jalan adalah untuk membantu Afifa melupakan janji yang telah diingkari oleh Alvan.
Kedua anak kembar cerita betul-betul mirip boneka yang diberi nafas oleh Yang Maha Kuasa. Siapapun yang melihat keduanya pasti akan mengakui bahwa itu adalah karunia Allah yang paling sempurna. Namun siapa sangka di balik semua ini ada kisah sedih di dalam kehidupan anak-anak itu. Hidup sampai umur delapan tahun tidak mengetahui siapa ayah mereka. Keajaiban telah mempertemukan mereka. Untunglah Alvan mengakui kalau itu anak-anaknya. Setelah urusan Alvan selesai maka kehidupan anak-anak ini akan menjadi terjamin.
Di luar teras telah menunggu Tokcer dan Bonar dengan pakaian yang sangat rapi. Bonar sangat berbeda dengan hari-hari biasa yang selalu berpakaian lusuh. Malam ini si Batak nampak kelihatan lebih ganteng dibanding hari-hari biasa.
Citra membawa misi membantu Bonar beli pakaian dan yang lainnya. Soal selera Citra serahkan pada pakarnya si centil Andi. Soal selera berpakaian Andi tidak kalah dengan fotomodel top cuma Andi tidak punya modal bergaya.
Citra ada anak-anak sudah bersiap untuk segera berangkat namun Si Andi dari tadi tidak nampak batang hidungnya. Entah apa yang sedang dikerjakan anak itu membuat orang harus menunggunya.
Afifa sudah tidak sabar untuk segera pergi jalan-jalan. Gadis kecil ini mondar-mandir menunggu bintang utama malam ini. Tokcer dan Bonar tidak kalah jengkel menanti kehadiran Andi. Azzam dengan sikap dewasanya tidak beri reaksi apapun. Azzam memang anak pilihan bertalenta tinggi.
"Mami mana kak Ance?" seru Afifa makin tak sabar. Lampu-lampu di jalanan telah telah hidup tanda hari mulai malam. Afifa takut main sebentar harus segera pulang hari makin malam.
Citra berusaha menenangkan Afifa agar bersabar sebentar. Calon bintang yang belum ngetop itu pasti sedang sibuk mematut diri di kaca.
"Amei tak boleh panggil kak Andi dengan panggilan kak Ance lagi ya! Namanya kak Andi!"
"Dari dulu juga kak Ance..kok berubah lagi?" sungut Afifa belum mengerti mengapa Andi tak boleh dipanggil nama manjanya.
"Nama Kak Ance hanya nama guyonan. Sekarang Kak Andi sudah kerja jadi tak boleh lagi dipanggil ke Ance! Nanti Kak Andi malu terdengar orang namanya Ance. Amei ingat itu lho!"
"Mami ini aneh! Mau kak Ance mau kak Andi orangnya tetap sama. Yang penting bagi Amei orangnya tetap baik."
__ADS_1