
Azzam termenung mendengar penjelasan dari Andi. Mengapa mata hatinya tertutup untuk melihat kebaikan Alvan. Azzam bukannya tidak tahu Alvan berusaha menyenangkan mereka semua. Tetapi di dalam hati tetap tersimpan rasa tidak suka pada Alvan yang telah menyakiti maminya. Azzam sejujurnya ingin belajar mencintai Alvan seperti Afifa mencintai.
Andi hadir membuka mata hati Azzam agar melihat papinya dari lubuk hati. Andi sama sekali tidak menginginkan adanya perpecahan di dalam keluarga yang seharusnya bahagia itu. Citra orang baik dan Alvan juga orang baik. cuma takdir telah berbicara membuat kisah yang tidak menyenangkan di antara mereka.
"Ko.. kenapa melamun?" tegur Andi melihat Azzam tertegun tidak menjawab semua ceritanya. Mungkin lajang kecil Ini sedang berpikir keras apa yang terjadi dalam keluarga kecil mereka.
"Koko juga bingung kak Andi! Koko bukannya tak tidak melihat bagaimana baiknya papi. Tapi mempunyai wanita lain selain mami kami. Koko bisa merasakan betapa sedih mami memikirkan ada orang lain di hati papi selain dia."
"Jadi Koko marah pada papi gara-gara tapi ada perempuan lain?"
Azzam mengangguk tak bisa menyembunyikan perasaan hati yang sesungguhnya. Seorang anak tetap menyayangi ibu yang telah melahirkannya. Apalagi Citra susah payah membesarkan mereka tanpa bantuan orang lain. Apa yang dicapai Citra sampai hari ini semua berkat kegigihan Citra membesarkan mereka dan mencapai cita-cita menjadi seorang dokter. Azzam menghargai semua jerih payah tak mengizinkan seorang pun menyakiti hati Citra.
"Ko... mungkin di antara mami dan papi ada kisah yang tidak kita ketahui. Kak Andi mohon Koko memberi kesempatan pada papi untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu. Kita buka lembaran baru. Kak Andi percaya suatu hari Koko akan melihat betapa baiknya papi Koko. Semua orang pernah berbuat salah, selama dia menyadari kesalahannya kita harus memberinya kesempatan."
"Iya kak... Koko akan berusaha! Beri Koko waktu untuk lebih mengenal papi." sahut Azzam dengan nada lemah.
Andi tahu kalau Azzam telah tersentuh oleh ceritanya. Semoga saja hati Adam terbuka untuk menerima kehadiran Alvan di antara mereka. Sementara malam semakin tua. Angin berhembus semakin kencang. Hembusan angin terasa menggigit kulit.
"Ko.. sudah malam masuklah! Kak Andi juga mau pulang tidur! Semoga Koko mengingat apa yang dikatakan kak Andi. Masuklah! Kunci pintu yang rapat ya! Kak Andi pulang dulu!" Andi bangkit berjalan ke arah pintu pagar.
Azzam masih duduk termangu memikirkan semua apa yang dikatakan Andi. Azzam juga ingin bermanja pada Alvan seperti Afifa namun di hati terselip rasa janggal mengingat semua kesalahan Alvan pada Citra.
"Kak..." panggil Azzam sebelum Andi menyeberang ke rumahnya. Andi menunda langkah karena panggilan Azzam.
Azzam berlari kecil ke arah Andi dan memeluk lelaki bertulang lunak itu. Azzam menempelkan kepalanya ke dada Andi. Azzam ingin menangis namun teringat pada nasehat Citra kalau lelaki pantang keluarkan air mata.
Andi mengelus puncak kepala Azzam terharu melihat anak yang biasa cool bisa juga tersentuh oleh ceritanya.
"Terima kasih Kak... Azzam janji akan berusaha."
"Kak Andi pegang janji aja lo! Janji itu hutang jadi jangan lupa bayar hutang! Koko tenang aja kak Andi tidak akan meminta bunga cukup bayar janjinya saja. Ok?" gurau Andi supaya Azzam terhibur.
"Iya kak...Kakak juga telah dewasa! Kita harus berubah ya kak!"
"Pasti dong! Sekarang Kak Andi hanya kuatir sama Kak Bonar. Sifat kasarnya tidak bisa dihilangkan. Kak Andi takut nanti papi tidak menerima."
"Besok kita sekolahin Kak Bonar biar lebih lembut! Koko masuk dulu ya Kak!"
"Masuklah! Kalau mami boleh kan besok kita pergi mancing."
"Koko akan coba minta izin Kak! Apa kita aja Amei?"
"Besok kita bincangkan lagi sekarang udah malam Koko masuk aja!"
Azzam pelukan dari Andi. Lajang kecil ini segera masuk ke dalam rumah. Andi pun segera menyeberang ke rumahnya untuk beristirahat. Besok cerah sedang menanti mereka. Harapan Andi besok lebih baik daripada hari ini.
Azzam masuk ke dalam rumah lalu mengunci pintu. Lajang kecil ini masih teringat-ringat kata-kata dari Andi. Haruskah dia menerima Alvan dengan segala masa lalunya.
Azzam mendengar suara ketawa berasal dari kamar Citra. Lajang kecil ini membawa langkah menuju ke asal suara yang sepertinya suara Afifa. Ternyata berasal dari kamar maminya. Betapa cerianya suara Afifa. Andai Azzam masih bersikeras menolak kehadiran Alvan maka akan melukai hati Afifa.
Azzam mengetuk pintu kamar Citra perlahan-lahan. Azzam tahu kalau Afifa sedang ngobrol dengan seseorang. tak perlu ditebak Azam tahu itu pasti Alvan.
"Masuk.." terdengar suara Citra menjawab ketokan pintu Azzam.
Azzam membuka pintu dengan hati-hati. Mata lajang kecil ini melihat Afifa sedang pegang ponsel video call dengan seseorang. Citra duduk di samping Afifa menemani gadis kecil itu ngobrol dengan orang di balik ponsel.
__ADS_1
"Siapa mi?" tanya Azzam padahal sudah tahu siapa di balik ponsel sana. Ini hanya sekedar basa-basi dari Azzam.
"Papi Ko.. yuk sini gabung!" sahut Afifa dengan riang.
Ragu-ragu Azzam berjalan ke belakang Afifa untuk melihat sosok di balik ponsel seberang. Tampak di layar wajah Alvan yang agak lesu. Entah kenapa hati Azzam terenyuh melihat wajah kuyup papinya.
"Pi.. ada koko nih! Papi mau ngobrol dengan Koko?" Afifa mendekatkan ponsel ke wajah Azzam berharap koko nya bersedia menyapa Alvan.
Azzam agak malu-malu kucing. Lajang ini belum terbiasa dekat dengan Alvan. Beda dengan Afifa yang terbiasa dengan kehadiran. Untuk tidak mengecewakan Afifa, Azzam memberi seula senyum pada Alvan.
Bagi Azzam hanya seulas senyum tipis namun senyum itu bak matahari menyinari seisi dunia Alvan. Harapan Alvan hanya pada Azzam karena anak itu satu-satunya anak lelakinya.
"Hai Zam..." sapa Alvan dengan hati berbunga. Biasa cowok hati berbunga karena jatuh cinta pada cewek. Beda dengan Alvan. Hati Alvan bagai dipenuhi kembang setaman gara mendapat senyum putra satu-satunya.
"Hai.." sahut Azzam pendek.
Citra besarkan mata surprise anak lakinya telah buka mulut membalas sapaan Alvan. Angin mamiri dari mana menyejukkan amarah Azzam ke titik rendah. Ini permulaan yang baik bagi hubungan anak bapak itu.
"Azzam jaga mami dan Afifa ya! Besok papi pulang bawa opa kalian! Papi tunggu kalian di rumah sakit!"
"Iya Pi..." sahut Azzam masih irit kalimat. Bagi Alvan itu sudah cukup.
"Terima kasih! Papi sayang pada kalian!"
Yang ini Azzam belum mampu jawab karena dalam dada masih ada keraguan terhadap isi hati sesungguhnya. Azzam masih perlu melangkah jauh mencari jawaban yang keluar dari sanubari.
"Amei juga sayang sama papi kok! Koko dan mami juga. Papi cepat pulang ya!"
"Iya nak... Sekarang Afifa pergi bobok! Ini sudah malam. Bangun besok papi sudah ada di sini. Ok?"
"Siap Pi... good night love you!" Afifa dengan mentelnya beri kiss pada Alvan.
"Bye Pi.." Afifa menutup ponsel dengan hati puas.
Azzam mematung tidak melakukan apapun. Azzam sendiri tidak percaya telah bicara dengan papinya walau pembicaraan sangat sedikit. Apa mungkin Azzam telah termakan cerita dari Andi.
"Ko... belum ngantuk?" tanya Citra pada Azzam.
"Koko mau tidur juga!"
"Baiklah! Bersihkan diri dulu sebelum tidur jangan lupa sikat gigi ya!"
"Aduh mi iya malam itu saja pesannya! Amei dan Koko tidak pernah lupa kok! Good night mami!" Afifa memeluk Citra sebelum keluar dari kamar maminya. Azzam juga melakukan hal sama pada Citra.
Cinta kasih dari anak-anak itulah yang membuat Citra bertahan. Semua penderitaan Citra terasa terbayar oleh perhatian dari anak-anaknya. Azzam dan Afifa telah terdidik dengan baik menjadi anak sholeh dan sholehah. Semoga keduanya tetap begitu sampai mereka menjadi dewasa. Itulah doa seorang ibu.
Kamar Citra telah kembali sepi. Anak-anak telah kembali ke kamar masing-masing untuk. Citra yakin mereka akan mendapat mimpi indah setelah melalui hari penuh kegembiraan.
Citra merebahkan diri di atas kasur memikirkan Azzam yang telah membalas sapaan papinya. Apa mungkin Azzam telah luluh bersedia menerima kehadiran Alvan. Citra cukup bahagia melihat perkembangan hubungan anak bapak itu. Seorang anak dan bapak tak mungkin hidup dalam permusuhan. Terlepas dari semua kesalahan Alvan dia tetaplah bapak biologis Azzam dan Afifa. Citra tak berhak memutuskan hubungan darah antara mereka.
Bunyi ponsel membuyarkan lamunan Citra. Citra melirik ponsel melihat siapa yang telepon. Di layar ponsel tertera nama Pak Alvan. Tanpa ragu Citra klik tombol hijau untuk menjawab panggilan dari Alvan.
"Halo assalamualaikum... ya pak? Ada ada lagi?"
"Waalaikumsalam... belum tidur?"
__ADS_1
"Belum... anak-anak baru saja balik ke kamar masing-masing. Bapak pergilah istirahat! Pasti sudah capek."
"Citra... bolehkah aku meminta sesuatu darimu?"
"Minta apa? Aku orang miskin.. emang apa yang bisa kuberikan padamu? Soal anak-anak..Aku tidak akan melarang bapak datang melihat anak-anak. Bapak tidak usah khawatir soal itu."
"Bukan soal itu Citra! Aku hanya ingin dianggap jadi bagian darimu. Bukan orang lain ataupun atasanmu. Maukah kamu memanggil aku Mas atau Abang atau apa saja sesukamu asal jangan panggil bapak!"
"Apa arti sebuah panggilan kalau tidak dibarengi dengan ketulusan? Emang satu panggilan sangat berarti buat bapak?"
"Sangat berarti Citra! Kini aku makin mengenalmu. Aku makin tersiksa oleh perasaan sendiri melantarkan kalian. Semoga aku bisa menebus semua kesalahan aku pada kalian. Kejadian beruntung menimpaku adalah sebuah ganjaran telah bersalah pada istri dan anak-anak aku! Aku ingin menebus semua kesalahanku. Kumohon Kau beri aku kesempatan."
"Lupakan semua itu dulu! Sekarang kita mempunyai tugas yang lebih penting yaitu kesembuhan opanya Afifa!"
"Tampaknya kamu masih belum mau memaafkan aku! Dengan cara apa agar kamu percaya bahwa aku telah menyesal."
"Percayalah Pak aku tidak membencimu! Yang lalu biarlah berlalu! Kita besarkan anak-anak bersama-sama. Ok?"
"Aku boleh tinggal bersama kalian?" ujar Alvan gembira.
"Pernah dikemplang pakai palang pintu? Rasanya nikmat lho!"
"Idiihh sadis! Ini pembunuhan berencana. Sudah tahu palang itu berbahaya masih dipraktekkan ke batok kepalaku. Ngebet banget jadi janda muda! Biar bisa pacaran sama si Heru playboy ya?"
"Kok bawa-bawa mas Heru? Emang dia itu apanya aku? Dia itu pasien aku! Kalau bapak tak suka dia berobat sama aku pecat saja aku! Biar aku pindah rumah sakit lain!"
"Kau berani? Ingat dendanya tujuh milyar memutuskan kontrak sepihak!"
"Aku akan pinjam sama mas Heru." sahut Citra enteng menggoda Alvan biar kebakaran jenggot. Tapi apanya mau dibakar. Jenggot saja dia tak punya. Wajah selalu klimis bersih. Citra tidak menampik Alvan itu ganteng maka anak-anak yang terlahir cantik dan ganteng.
"Aku pulang sekarang lho!" ancam Alvan terpancing ocehan Citra.
"Gila ya! Papa gimana? Siapa yang urus?"
"Aku carter pesawat besok jam tujuh pagi. Papa biar diurus pak Man! Aku pulang nih!"
"Wong edan... yang waras sedikit!"
"Kamu duluan sih! Singa di pancing. Ya jelas bereaksi."
"Ya sudah .. besok aku akan bawa anak-anak ke rumah sakit untuk jumpa opanya. Semoga saja kemunculan anak-anak tidak menambah beban di pikiran papa. Apa papa sekarang sadar?"
"Sadar cuma gerakan badannya agak kaku dan lemah. Kata dokter stroke ringan. Tidak sampai pecah pembuluh darah."
"Syukurlah! Itu lebih gampang kita obatin. Jaga perasaannya jangan sempat beliau drop. Ini sangat berpengaruh pada kesembuhannya."
"Aku bingung bagaimana memberitahu pada Mama keadaan kondisi papa. Apa Mama tidak akan drop setelah tahu papa dapat serangan stroke?"
"Kurasa kita diamkan dulu! Setelah kondisi papa agak membaik baru kita kasih tahu. Kalau beliau pulang melihat kondisi papa tidak apa-apa semua akan berjalan dengan baik."
"Iyalah! Percaya pada Nyonya aku! Kamu belum ngantuk?"
"Ngantuk juga... lebih baik kita istirahat. Jumpa besok... assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam..."
__ADS_1
Ada rasa puas di dalam hati Citra setelah ngobrol dengan Alvan. Hatinya sangat damai mendengar suara Alfan walaupun sedikit konyol. Tak disangka seorang CEO kaya raya ada juga rasa cemburunya. Padahal kalau Alvan mau puluhan wanita siap bertekuk lutut di bawah kakinya. Tapi belum pernah terdengar berita bahwa Alvan berhubungan dengan banyak wanita. Justru Heru yang terkenal mengoleksi puluhan wanita cantik. Citra sudah berjanji pada diri sendiri tidak akan masuk dalam koleksi Heru. Citra bukan pendambang kemewahan seperti wanita lain yang rela menjual harga diri demi materi.
Citra merebahkan diri di kasur ingin melupakan semua yang telah terjadi. Ambil hikmah baik lupakan semua keburukan. Merajut hari esok yang lebih indah penuh cahaya kemilau bersama anak-anak. Citra belum memiliki keyakinan untuk melangkah maju berdiri di samping Alvan. Citra masih perlu mengkaji semua yang telah terjadi. namun tidak menutup kemungkinan Citra akan merentangkan tangan menerima pelukan Alvan. Semua masih butuh proses panjang.