
Cinta pertama dia kandas akibat ulah Alvan. Daniel sudah suka pada wanita itu sewaktu jadi kacung Alvan. Daniel menanti kemunculan Citra namun diakhiri kepahitan. Citra tetap kembali pada Alvan. lantas beberapa wanita muncul terakhir hadir Laura. Dokter muda sedikit gila. Pantang mundur mengejar cinta Daniel.
Daniel terpaksa menerima Laura karena dorongan moral. Secara tak sengaja dia telah membuat Laura kecelakaan dan berakibat tangan gadis itu cacat. Dari sini Daniel menyerah biarkan Laura tetap berada di sampingnya.
Ketiga pria dewasa itu duduk sambil menikmati kopi capuccino sebagai penghalau rasa penat setelah seharian aktifitas. Wajah Alvan paling berseri karena telah mencapai tujuan akhir dari berumah tangga. Berjalan di jalan lurus ternyata lebih nikmat daripada keluar masuk jalan tikus.
Daniel perhatikan wajah Alvan dengan iri hati. Wajah laki itu makin berminyak tanda makmur.
"Lhu lagi kasmaran ya bro?" tanya Daniel.
"Iya...kasmaran banget!"
Daniel menatap Heru berharap laki itu ilfil pada suami keponakannya. Heru santai saja tak open pada jawaban Alvan yang dianggap angin lalu.
"Gila lhu bro! Bini secantik bidadari mau lhu bodohi! Parah lhu!" rutuk Daniel tak rela Citra disakitin Alvan lagi.
"Apa dosa kasmaran pada bini sendiri? Dia kan lagi hamil. Wajar dong gue senang." ujar Alvan sumringah.
"Iya..dasar papi bucin! Dulu aja dibuang tak dianggap. Sekarang kayak perangko dan amplop. Citra itu cocoknya sama gue. Bukan elu!" semprot Daniel ingat perlakuan Alvan pada Citra di jaman masih hangat dengan Karin.
"Itu cerita sudah tamat. Ini kisah baru yang hanya ada kisah manis. Tuh opa lagi sakit otak! Kisah asmara kena virus mematikan." Alvan panjangkan bibir ke arah Heru.
Daniel ngakak dengar Alvan ngejek mertua sendiri. Mereka sama-sama punya taring dan kuku runcing. Alvan mana takut ngejek mertua seumuran. Kali ini Alvan di atas angin telah sukses menambah anggota keluarga.
"Bisa tutup mulut nggak? Aku ajak kamu ke sini bukan dijadikan bahan ledekan. Dosa ejek orang tua." Heru pasang raut wajah lesu ingat kemelut sedang mencoba imannya.
"Syukur sadar sudah tua! Oya.. kan sudah jadi opa. Tua dong!" olok Alvan bikin wajah Heru makin suram.
"Kalian datang ke sini bukan untuk saling mengejek kan? Ada prahara apa lagi? Dua singa liar disatukan dalam kandang sama beginilah jadinya! Ayo kita mulai bahas topik kita!" kata Daniel hentikan perang kecilan antara dua singa berkuku tajam ini.
"Menantu durhaka ini mau pamer dia ini macho bisa cetak anak segudang. Sok keren!" rutuk Heru kesal pada Alvan.
Alvan tertawa lebar bangga pada diri sendiri telah ciptakan sensasi memicu rasa heran setiap orang yang dengar.
"Opanya sudah bilang gitu ya begitulah! Maklumlah! Bibit orang keren!" Alvan menyisir rambut membuat gerakan pria sejati. Heru mencibir iri pada keberuntungan Alvan.
"Bagi aku satu ya! Yang seperti Azzam. Cool, pinter serta menyihir cewek. Aku akan didik dia jadi playboy kondang." ucap Daniel ringan anggap anak Alvan gampang diraih.
Alvan besarkan mata kesal pada dua lelaki di depan mata. Seenak dengkul minta jatah anak. Emangnya anak mereka anak kucing bisa diadopsi sesuka hati.
"Jumpa orang gila kualitas super! Kalian ini sama gila ya! Anakku itu bukan sembarangan anak. Mereka akan menjadi pewaris Lingga. Tak satupun boleh pindah dari tangan aku." tegas Alvan matikan niat Daniel dan Heru adopsi anaknya.
"Wah papi keren! Aku salut deh! Dua kali jalankan pabrik langsung mulus hasilkan barang berkualitas super. Aku harus banyak belajar dari kamu bro!"
"Mau praktek sama siapa? Tempat praktek belum ada. Halalkan Laura biar bisa belajar cetak anak kembar sembilan." gurau Alvan buat Daniel ngakak. Kembar sembilan hanya ada di angan-angan di luar akal sehat.
"Tanggung bro! Dua belas saja biar satu lusin. Satu tim sepak bola beserta pelatih." timpal Daniel semarakkan suasana kaku. Kaku karena Heru lagi bad mood.
"Aku dukung..." ujar Alvan acung jempol kasih semangat pada Daniel.
__ADS_1
"Kalian ini berangan terlalu tinggi. Sekarang gimana masalah aku? Aku datang ke sini cari solusi bukan jadi bahan ejekan kalian." Heru memeluk tangan ke dada pasang muka masam. Heru masih kesal belum dapat jalan terbaik singkirkan Meng Si dari cerita mereka yang baru akan dimulai. Afung dan Heru baru akan harungi bahtera keluarga yang utuh setelah diresmikan.
"Masalahnya gimana? Kau berkhianat lagi? Ketangkap sama si mata sipit?" tanya Daniel pada Heru.
"Sialan lhu! Kapan aku main gila lagi? Cucu aku segudang, apa mungkin aku salah jalan lagi? Hidupku akan lebih cepat tamat dihajar Azzam dan Gibran. Jujur aku takut pada mulut Azzam. Sekali dia bicara langsung menusuk jantung."
Alvan dan Daniel tertawa tak menampik omongan Heru. Waktu pertama jumpa Azzam juga bantai mereka sampai kehabisan kata. Segala falsafah dan sindiran menusuk ke ulu hati.
"Keturunan Lingga harus cerdas. Itu untuk modal kelola aset Lingga." kata Alvan bangga pada anak sulungnya.
"Jangan lupa dia juga berdarah Perkasa! Itu karena gen Perkasa yang perkasa dari jaman dahulu kala. Kita bahas dulu kasus aku! Aku harus gimana agar Meng Si tidak usik isteri aku! Aku takut dia teror Afung dengan segala trik kotor."
"Dia tak mungkin datang ke sini. Paling dia akan hubung Afung lewat ponsel. Amankan ponsel Afung pasti aman. Kita juga harus kasih tahu Afisa bagaimana sosok Meng Si agar anak itu tidak diperalat oleh Meng Si." Alvan beri solusi.
"Lalu gimana kalau keluarga Afung mau hubungi Afung? Apa kita menutup akses dia kontak keluarganya?"
"Pangkal masalahnya apa toh? Aku kok nggak ngeh apa yang kalian bahas?" Daniel dari tadi nyimak tapi tak menangkap ke mana arah topik.
"Begini. Aku dan Afung sedang persiapkan diri resmi. Dipestakan gitulah! Teman Afung yang pernah datang ke sini menjelekkan isteriku dan minta jadi madu Afung. Aku tidak tertarik karena sudah cukup satu wanita. Repot kalau banyak."
Daniel angguk-angguk sok tahu. Daniel salut pada tekat Heru tinggalkan jalan hidup sebagai playboy kondang. Playboy itu sudah insaf akibat dapat hidayah punya cucu segudang. Pendek kata malu pada cucu.
"Jadi lhu takut dia teror bini lhu!"
Giliran Heru angguk."Itu yang kutakuti. Afung bukan Citra yang tegar hadapi wanita histeris. Apa solusi terbaik singkirkan wanita itu?"
Heru dan Alvan termenung dengar wejangan seniman gagal itu. Tumben hari ini dia bijak. Bijak pada orang lain tapi tak bisa urus diri sendiri. Pacaran tak pernah berhasil.
"Baiklah! Kita coba usul Daniel! Untuk sementara ponsel Afung harus lenyap dulu. Aku akan cari jalan agar ponselnya hilang. Begitu ganti baru aku kasih nomor seluler lokal sini. Begitu toh?"
"Benar toh!" Daniel acung jempol Heru cepat ngerti maksudnya.
"Dan kau blokir nomor ponsel pengacau itu! Kita bersabar sampai kamu resmi. Aku akan hubungi Afisa cerita keburukan Meng Si?" Alvan perkuat usul Daniel untuk menyelesaikan kasus yang menimpa Heru.
Daniel tertawa kecil dengar Alvan mau beritahu Afisa soal Meng Si. Daniel tak bisa bayangkan wajah Meng Si bila kena sindiran Afisa yang sebelas dua belas dengan. Azzam.
"Baguslah...aku tak sabar dengar berita Afisa habisin wanita itu! Bicaranya pelan dan halus tapi ujung bicaranya sepeti jarum menancap di hati." Daniel lepas bicara ingat kelakuan Afisa.
"Biar saja! Afisa kan bela omnya. Aku jadi ingat waktu aku temani Afung latihan, si Meng Si ngekor ke mana kami pergi. Bahkan tak malu buka baju di depan aku sewaktu ganti busana senam. Aku yang malu segera keluar. Dia kan cewek seharusnya malu."
"Itu artinya dia sudah merancang dari dulu incar kamu. Untung bukan incar aku! Aku bisa rata kayak landasan pesawat digilas Azzam bila kasus terjadi padaku. Untung deh!" Alvan menepuk dada bersyukur tidak di incar oleh wanita nakal lagi. Alvan tidak tertarik tapi bisa saja wanita itu nekat sehingga menciptakan gap antara Alvan dan keluarga. Alvan bukan takut Citra tapi takut Azzam dan Afisa.
"Belum tentu Van! Harimu masih panjang. Siapa tahu satu saat datang lagi cewek model Viona dan Kayla. Modar kamu disikat cucu gue!"
"Amit-amit...jangan sampai deh! Untuk sementara begitu saja. Nanti sampai rumah usahakan ponsel Afung raib atau masuk air gitu! Untuk ke depan kita pikirkan cara lain kalau Meng Si belum menyerah. Ok?"
Heru setuju kata Alvan. Untuk sekarang cuma bisa lakukan jalan ini. Paling tidak sampai mereka resmi. Kalau sudah resmi maka tak perlu takut tantangan ke depan.
Kedua laki itu nongkrong di tempat Daniel sampai malam. Alvan dan Heru pulang setelah Laura datang bersama teman-temannya nongkrong di tempat Daniel. Laura selaku bawa teman agar cafe Daniel makin terkenal.
__ADS_1
Mobil Alvan dan Heru masuk ke pagar rumah keluarga Perkasa dengan mulus. Keduanya berpisah untuk berkumpul dengan isteri masing-masing. Alvan disambut Citra tanpa kehadiran anak-anak. Mungkin anak-anak sudah masuk kamar untuk belajar. Kedua anak Alvan berlomba untuk menjadi yang terbaik. Azzam sudah tunjukkan prestasi bagus disusul Afifa.
Alvan ajak Citra istirahat mengingat Citra butuh banyak waktu beristirahat untuk jaga kesehatan janin.
Citra menyimpan tas kerja Alvan lalu siapkan baju tidur suami seperti isteri umum lain. Melayani suami jadi satu keharusan bagi isteri Soleha.
Alvan keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk melilit di pinggang. Citra melihat tubuh suaminya mulai melar akibat jarang olahraga. Dulu tubuh itu tegap tanpa lemak kini agak subur.
"Mas gemuk sekali! Lihat perut mulai buncit! Mau jadi om senang ya?" Citra berkata duduk di pinggir ranjang.
Alvan menurunkan mata memeriksa perutnya. Dulu perut itu bebas lemak berkat fitness rutin setiap malam. Sejak jumpa Citra tak pernah olahraga lagi. Waktunya tersita oleh anak-anak dan semua kemelut panjang.
"Kau benar. Mas lupa kapan terakhir ke fitness center. Kau tak suka mas gendut dikit?"
"Nggak...maunya mas gagah kayak dulu! Perut buncit ntar kepala botak persis om senang cari mangsa anak gadis di mal."
Alvan bergerak mengambil pakaian lalu melempar handuk di pinggir ranjang. Tanpa malu Alvan telanjang di depan Citra. Satu persatu pakaian berbahan lembut melekat di badan Alvan. Malam ini Alvan tak ingin ganggu bayi dalam perut Citra. Tak baik terlalu sering menjenguk bayi karena isi rahim Citra istimewa.
"Mas tak ingin keluyuran lagi. Untuk apa cewek di luar? Di rumah ada cewek cantik menanti." selesai berpakaian Alvan mengambil handuk bawa ke kamar mandi di simpan di tempat semula. Alvan kerjakan semuanya agar tak beratkan Citra. Biasanya itu tugas Citra.
"Gombal... ke cafe kak Daniel pergi cuci mata?"
"Cuci mata apa? Kami hanya lepas rasa bosan seharian ingat proyek dan pelototi puluhan dokumen. Di kantor Mas hanya ada Untung dan Andi. Pemandangan gersang."
Citra menarik selimut lalu menyelinap ke dalam kain berisi busa tipis untuk hangatkan tubuh dari tiupan angin AC. Alvan tak mau kalah ikut masuk. Memeluk Citra sama saja memeluk calon anaknya. Alvan tak sabar ingin mereka cepat lahir agar dunia mereka makin indah.
"Kenapa mas tidak pekerjakan sekretaris cantik untuk dinginkan padang gersang? Biar makin semangat kerja. Jika perlu pakai acara duduk di pangkuan bos. Bosnya pasti akan makin bergairah. Jamin tak perlu keluar cari angin segar." ucap Citra dengan nada sinis.
"Apa dibolehkan sama nyonya bos? Takutnya baru kerja satu hari langsung kena PHK sama nyonya bos yang judes."
"Siapa larang? Pindah sekalian ke kantor. Alasan tiap malam lembur. Lembur bersama sekretaris cantik."
Alvan tertawa mengejek Citra bikin cerita lalu cemburu sendiri. Wanita ini lucu. Kasih ide lalu ngambek sendiri.
"Aku tak pernah ijinkan cewek jadi sekretaris aku. Aku cukup puas sama Andi. Aku tak mau kejadian Wenda terulang lagi."
"Apa mata tidak pedih asyik lihat padang tandus tanpa penyegar?" sindir Citra.
Alvan menarik tubuh Citra merapat ke tubuhnya agar tercipta chemistry lebih dekat. Alvan nyaman bersama Citra yang telah beri dia surga di dunia ini.
"Gersang di kantor tapi adem di rumah. Itu sudah cukup. Adek bayi tidak menyusahkan sang mami bukan? Apa sudah ada gerakan?"
"Belum..doakan saja semoga mereka sehat. Kurasa mereka tak bisa lahiran pas sembilan bulan. Begitu mereka sudah cukup waktu segera kita operasi untuk keselamatan mereka."
"Tapi belum waktunya apa tidak bahaya?"
"Kita Konsultasi sama ahlinya. Insyaallah semua akan berjalan baik. Berdoa saja!"
"Amin...tidur kita!" Alvan menempatkan kepala Citra ke dadanya Songsong hari lebih baik.
__ADS_1