
Alvan merasa kata Daniel mengandung ancaman agar Alvan tidak coba-coba main mata dengan wanita lain. Ketahuan dengan senang hati Daniel jemput Citra jadi nyonya pemilik cafe.
Anak-anak Alvan yang pintar pasti dukung Daniel sikat papi genit. Terutama di Azzam sang Terminator kejam bagi Alvan. Tamat riwayat Alvan kena sabetan senjata Azzam.
"Kau pikir aku ini orang berotak udang? Mau jatuh dua kali ke lubang sama?"
"Good kalau sadar! Aku ke sana sekarang?"
"Tak usah...nanti Citra malah ninggalin gue. Dia pikir sudah ada lhu maka dia akan pergi. Besok aja! Bawa buah segar ya! Jangan kau ambil dari sisa buah di etalase lhu yang tak habis jual!"
"Dasar kampret...banyak sekali mintanya. Sudah dijenguk masih banyak tingkah. Kudoain saluran lhu mampet!"
"Amit-amit...tega ya lhu! Gue belain operasi biar dapat kurcaci lagi! Lhu malah doain sebaliknya! Kualat lhu sama orang tua."
"Yee...sadar sudah tua! Anak masih orok lhu dah bongkok! Citra masih fresh dan cantik punya suami kakek tua bongkok. Kasihan amat nasib Citra! Mending sama gue! Muda, ganteng dan pasti tokcer!"
"Mimpi kali lhu ya! Gue masih sanggup nafkahi sepuluh cewek! Apalagi cuma Citra seorang. Satu hari lima ronde!"
"Dan lhu K O! Ya kan?" kata Daniel diakhiri tawa ngakak yang sudah punya hak paten.
"Sirik lhu! Kejar tuh Laura! Biar lhu di dor kalau macem! Save burung cucak Rowo lhu!"
"Itu tak perlu lhu ajar! Gue kan jago ngerayu makhluk terindah ciptaan Tuhan! Semua klepek kena gombalan Daniel."
"Daniel cap kadal buntung! Udah ach.. capek omong dengan playboy kadaluarsa. Playboy nggak laku! Gue sarankan lhu hati-hati sama Laura! Kalau serius lanjut, kalau nggak bilang langsung. Jangan kesandung hukum!"
"Ngerti... selamat nikmati honeymoon ya! Sayang honeymoon dalam puasa. Ijo mata lhu nahan ileran lihat kecantikan idola gue. Yayang Citra..."
Alvan mematikan ponsel sebelum dengar ocehan provokasi Daniel. Alvan tidak cemburu sama sekali pada Daniel kalau tahu kawannya itu mencintai istrinya. Alvan percaya dan yang mempunyai batasan.
Suasana kembali hening membuat otak Alvan berpikir terang. Andai kata dia salah melangkah sudah ada orang siap mendampingi Citra untuk melangkah ke depan. Alvan harus hati-hati dalam bersikap mengenai percintaannya. tak ada lowongan sedikitpun untuk mengering paha-paha mulus lain. Alvan sudah dihadapkan dengan gang buntu, tak ada jalan menuju ke perselingkuhan.
Daripada pusing mikirin nasehat Daniel, Alvan pejamkan mata istirahat. Matanya juga sayu akibat efek obat. Alvan tak sempat memikirkan Citra lagi. Isterinya itu tentu sibuk kontrol pasien di ruang perawatan. Sungguh beruntung orang yang jadi pasien Citra.
Alvan terbangun sesak buang air kecil. Dia tidur nyenyak sampai lupa diri. Citra jam berapa balik ke ruang rawatnya dia juga tak tahu. Mata Alvan mencari sosok yang telah merajai hatinya.
Sosok itu tertidur di atas sofa tanpa selimut. Wanita itu meringkuk kedinginan akibat AC lumayan dingin. Alvan turun dari brankar perlahan takut bangunkan Citra. Lelaki ini segera melepaskan hajat di kamar mandi. Alvan melangkah dengan hati-hati agar tak kena bekas jahitan. Kalau dia grasa grusu menciptakan luka baru yang kena masalah tentu Citra. Istrinya akan kerepotan mengulang pengobatan. Alvan tidak sampai hati menambah beban Citra.
Alvan hampiri Citra lalu memberi kecupan di kening. Wanita ini berhak mendapatkan yang lebih dari sekedar kecupan. Seluruh hidup Alvan akan dipersembahkan pada wanita ini. Wanita gigih besarkan tiga anak tanpa bantuan Alvan.
Ingin sekali Alvan gendong Citra bergabung dengannya di brankar cuma mengingat bekas jahitan laki ini urungkan niat. Citra juga tertidur pulas walau kedinginan. Alvan mengambil selimutnya tutupi wanita tercinta.
Alvan tersenyum tatkala lihat tubuh mungil itu menggeliat nyaman. Kehangatan mengalir berkat selimut Alvan. Alvan sendiri naik kembali ke brankar untuk coba tidur lagi.
Tak ada suara apapun di sekeliling ruangan. Hanya ada suara desingan AC jadi penghias malam. Kalau Alvan sendirian di sini mungkin akan seram. Untunglah ada Citra menjadi teman sekamar. Bukan teman seranjang. Tubuh Alvan terlalu besar untuk berbagi kasur.
Alvan tak bisa tidur lagi sampai pagi datang perawat cek keadaan Alvan. Citra masih tertidur. Alvan tak tahu istrinya kontrol pasien sampai jam berapa. Pasti sudah lewat tengah malam baru balik. Citra tak pernah lewatkan sholat subuh kecuali sedang halangan.
"Ssssttt...jangan berisik! Isteriku masih tidur!" Alvan beri kode pada perawat itu agar ringan langkah. Alvan tak mau Citra terusik tidurnya.
Perawat itu tahu diri tidak berani kasar. Dia lakukan semua dengan perlahan tanpa timbulkan kebisingan. Tensi darah Alvan serta cek cairan infus. Untuk sementara semua aman. Tinggal menunggu datangnya makanan sarapan pagi. Setelah itu Alvan baru akan dapat jatah minum obat untuk pemulihan.
Sebenarnya Alvan bisa dirawat di rumah. Cuma tinggal datang kontrol. Berhubung isteri berada di rumah sakit maka lebih baik Alvan bed rest di rumah sakit di bawah pengawasan Citra.
"Sus...tolong beli sarapan untuk Bu Dokter!" pesan Alvan pada suster yang hendak pergi.
__ADS_1
"Oh iya...aku akan antar sarapan bapak dan Bu Dokter! Tunggu saja sini!"
"Eh...bawa uangnya!"
"Tidak perlu pak! Untuk bapak dan ibu ada sarapan khusus. Sudah di pesan oleh pak Hans!" sahut perawat itu simpatik.
Alvan hanya angguk kecil. Tahu juga Hans kalau bosnya sedang di rawat. Alvan pikir Hans tidak peka abaikan majikan yang sedang dirawat. Hans belum datang menjenguk Alvan selama berada di ruang rawat. Laki itu mungkin disibukkan oleh rutinitas rumah sakit. Di tambah munculnya anak magang yang karakternya berbeda-beda. Alvan maklumi saja kesibukkan Hans. Alvan tak butuh orang lain selama Citra berada di samping.
Alvan turun dari brankar duduk di dekat Citra memandangi putri tidur tercantik sedunia. Semua yang melekat di tubuh itu asli ciptaan Tuhan. Kenapa tidak dari dulu Alvan menempatkan netra di tubuh wanita ini? Apa dulu Alvan katarak tidak lihat mana barang bagus dan barang aspal (asli tapi palsu).
Insting Citra sungguh hebat. Ditatap Alvan dalam-dalam membuat wanita ini serasa dihujani tembakan halus dari pancaran mata Alvan. Citra membuka mata langsung disambut senyum Alvan.
"Selamat pagi sayang!" sapa Alvan lembut.
Citra menarik badan agar duduk bersandar pada sofa. Citra tersipu malu dipandangi Alvan lekat-lekat seolah ingin menembus relung hati Citra.
"Mas sudah lama bangun?" Citra merapikan rambut seraya mengucek mata agar terbebas dari tai mata. Citra harus tetap rapi di depan Alvan walau susah resmi jadi milik pribadi.
"Sudah...susah diperiksa suster! Aku sudah suruh siapkan sarapan. Kau pergi cuci muka sana!"
"Mukaku jelek ya bangun tidur?"
"Kau tetap tercantik dalam keadaan apapun. Aku cuma mau kamu lebih segar. Apa hari ini kau akan buka praktek?"
"Harus dong! Mas kan bisa main sendiri. Nanti siang aku ke sini lagi."
"Di sini mau main apa? Ajak perawat main petak umpet? Atau ajak para dokter kawani aku main catur?" gurau Alvan membuat Citra tertawa.
"Ajak Kak Daniel atau Andi ke sini!"
"Huusss.. mereka kerja sayang! Ayo ke sana!" Alvan menunjuk kamar mandi biar Citra cepat berbenah. Matahari sudah cukup tinggi. Sebentar lagi jam praktek di mulai. Citra bisa terlambat bila santai-santai di ruang Alvan.
Alvan meluruskan kaki dengan hati-hati agar tidak terkena bekas jahitan. Operasi Alvan hanya sayatan kecil perbaiki syaraf yang bermasalah. Seharusnya tidak membahayakan bila dirawat di rumah. Cuma sebagai orang kaya apalagi pemilik rumah sakit Alvan butuh perawatan lebih sempurna.
Citra mandi membersihkan sisa keringat semalaman. Tubuh terasa lebih segar dan nyaman setelah mandi. Pakaian kerja sudah Citra persiapkan dari rumah. Citra memang sudah atur langsung masuk kerja dari ruang rawat Alvan. Segalanya telah Citra persiapkan dari semalam.
"Hmmm...sudah wangi ya! Mari duduk sini!" mata Alvan berbinar lihat sekuntum bunga sedang bermekaran indah hampiri dia. Orang lagi kasmaran semua jadi indah.
"Gimana kondisi mas pagi ini? Jahitan ada terasa nyeri atau ada keluhan waktu buang air kecil?" Citra memulai debut pertama di pagi ini periksa kondisi pasien sekaligus suaminya.
Alvan menggoyang tangan tanda tak ada masalah besar. Semua aman terkendali. Diajak pulang sekarang tak jadi soal asal bersama wanita kesayangan.
"Tak ada keluhan apapun! Cuma waktu bangun tadi ada ketarik sedikit. Si Otong baru bangun dari tidur."
Citra anggap laporan Alvan sebagai kelakar. Alvan lagi dalam masa pengobatan agak risih menyerempet ke hal intim. Bisa-bisa gairah Alvan naik ke ubun. Itu membahayakan bekas operasi. Butuh waktu untuk penyembuhan.
"Siapa suruh cabul bayangkan hal mesum? Suruh si Otong anteng agar cepat sembuh."
"Orang dia bangun sendiri kok! Suamimu kan laki sehat, wajar di Otong tegak kokoh!" goda Alvan mengerling nakal.
Citra buang muka masam. Citra baru tahu Alvan bisa juga bercanda bau mesum. Kadang tampak laki itu terlalu serius. Jauh dari kata humoris. Citra belum tahu bagaimana Alvan kalau jumpa Daniel. Tak habis keduanya berdebat dari hal halal sampai ke hal haram.
Citra duduk di samping Alvan setelah tapi siap pergi bertugas. Citra belum pergi menanti sarapan yang dijanjikan Alvan. Citra bukan menginginkan sarapannya tapi ingin menemani Alvan santap makan pagi. Setelah itu Citra akan bertugas sampai siang jam istirahat baru bisa temani Alvan lagi. Rentang waktu lumayan lama.
Alvan tidak berdusta. Seorang perawat membawa makanan dalam kotak putih dan dua gelas minuman berbau coklat.
__ADS_1
Perawat itu mengangguk sopan pada Citra sebelum meringsek masuk.
"Pagi Bu.."
"Pagi...kau yang piket?"
"Iya Bu! Sebentar lagi turun piket. Tadi sudah tensi bapak, semua normal. Tinggal minum obat."
"Ok terima kasih. Cairan infus sudah boleh dibuka. Bapak bisa makan minum tak perlu infus lagi. Perbanyak kasih minum air mineral ya!"
"Ya .." perawat itu meletakkan sarapan di atas meja dengan super pelan. Kedua pembesar rumah sakit ini merupakan penopang kehidupan ratusan petugas medis di rumah sakit ini. Berkat adanya rumah sakit banyak petugas yang nganggur tertampung kerja..
"Kau kembalilah kerja! Ada pasien lain di lantai ini?"
"Ada Bu...dua pasien. Satu anak gadis tertabrak semalam. Dan satu lagi pasien penyakit jantung."
"Ok...kamu yang rajin dan hati-hati! Jangan lengah kawal obat pasien!"
"Iya Bu! Aku akan kontrol pasien lain. Katanya yang tabrakan calon dokter magang sini! Ntah pulang dari cafe tabrakan dengan sepeda motor. Mobilnya terguling dan tangannya patah."
Alvan dan Citra saling berpandangan. Calon dokter magang dan pulang dari cafe. Sosok yang sangat dekat dengan profil seseorang sedang mabuk cinta.
"Laura .." seru Alvan dan Citra barengan.
"Betul...namanya Laura!"
"Ya Allah...kapan dia masuk? Kok aku tak tahu?" kata Citra menyesal telah teledor pantau pasien. Padahal dia harus tahu siapa yang masuk tengah malam.
"Sekitar jam satu tengah malam. Rencana jam sembilan akan dioperasi."
"Ok...terima kasih! Aku akan cek langsung. Persiapkan segala sesuatu dan cek siapa dokter bedahnya! Aku akan ikut untuk lihat apa ada yang bisa kubantu."
"Iya Bu...permisi!"
Alvan merasa lidahnya kelu. Baru semalam dia dan Daniel bincangkan gadis ini. Pagi ini dengar dia sudah kecelakaan. Apa karena harapan mereka sangat jelek pada Laura.
"Daniel harus tahu. Ambil ponselku sayang!" Alvan meminta tolong pada Citra diambilkan ponsel dengan nada lembut agar jangan ada kesan Alvan main perintah.
Citra cukup syok Laura alami kecelakaan. Citra kuatir pada tangan Laura. Sepasang tangan itu adalah aset seorang dokter bedah. Tak boleh ada sedikitpun kekurangan. Andai tangan Laura patah apa kelak masih bisa pegang pisau operasi?
Setelah mendapat ponsel Alvan langsung diserahkan pada Alvan. Jujur Alvan tak enak hati ikut Daniel berpikir negatif pada Laura. Anak itu belum tentu buruk walau urakan. Sejauh ini dia tidak lakukan hal negatif selain kejar Daniel seperti orang gila.
Alvan aktifkan ponsel tekan nomor Daniel. Anak itu pasti belum bangun. Siang tidur malam melek sampai subuh. Dunia diputar balik oleh pemilik cafe itu.
Berkali-kali Alvan telepon namun tak diangkat. Betul-betul tidur vampire. Belum gelap belum bangun. Alvan tidak putus asa gempur terus panggilan keluar.
"Halo.. kutu kupret...setan bakso...ngapain bangunkan orang tengah malam? Citra mau lahiran?" semprot Daniel dengan suara serak.
"Lhu yang setan vampire! Siang gini bilang malam. Rezeki dipatok ayam...bangun Woi! Ada kabar buruk nih!"
"Kabar buruk apa? Lhu mau kawin lagi? Sampah mana lhu pungut?"
"Dasar orang stress...Tuh Laura lhu kecelakaan! Patah lima.."
"What? Jangan bercanda bro! Ini tak lucu..."
__ADS_1
"Lucu gundulmu...dia mau dioperasi bentar lagi! Nih Citra bersiap ikut bantu. Dia tabrakan sewaktu pulang dari cafe. Emang dia balik lagi?"
"Kacau...gue datang sekarang. Nanti cerita di sana."