ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Daniel Sang Provokator


__ADS_3

Daniel dan Laura berharap bisa mendapat keturunan seperti anak-anak Alvan. Makin ke depan sifat garang Alvan makin memudar. Kini Alvan tak ubah singa ompong takut pada anak isteri. Daniel menduga ini akibat Alvan takut kehilangan anak isteri lagi maka rela tunduk kepala untuk menyenangkan Citra.


Ini jelas bukan gaya Alvan yang terkenal garang. Daniel kurang suka pada sikap Alvan yang berkesan kehilangan pamor. Alvan bukan lelaki tanpa kuku tajam. Dia punya segalanya mengapa harus bertahan di tempat yang bukan tempat dia. Daniel harus ketok kepala Alvan agar bersikap tegas pada Citra dan anak-anak. Citra bukan isteri tak punya akal sehat biarkan suami tunduk pada orang lain. Daniel bersabar sampai ada kesempatan bicara empat mata dengan Alvan.


Hari pertama berlalu beri kegembiraan pada keluarga Lingga dan Perkasa. Telah hadir empat bocah akan warnai kesemarakan keluarga ini.


Pagi cerah Alvan dan keluarga sarapan pagi seperti biasa. Bau bedak bayi tercium ke seluruh rumah. Hati Alvan makin lapang setelah bayi-bayinya pulang ke rumah. Semua betah berada di rumah Alvan karena ada penghuni baru yang cukup menggemaskan. Heru dan Afung turut sarapan bersama untuk cari tahu sampai di mana hasil kesepakatan nama anak-anak. Heru tak sabar ingin beri nama Perkasa pada anak-anak Alvan namun Heru harus main cantik agar tidak tampak menekan Alvan.


"Gimana soal nama anak-anak?" tanya Heru di sela makan pagi.


Semua mata menatap Heru mengapa pagi-pagi sudah sibuk dengan nama bayi. Nama memang harus disematkan pada setiap anak namun butuh waktu untuk pertimbangkan. Apa arti sebuah nama? Tapi nama itu adalah jati diri seorang manusia hingga akhir hayat. Harusnya bagus dan keren.


Citra tersenyum melempar pandangan ke arah Alvan. Orang yang paling berhak ambil keputusan adalah Alvan. Dulu dia tak punya kesempatan menamai anaknya kini Citra berserah pada Alvan.


"Ini berserah pada mas Alvan. Semalam kami ada diskusi sedikit tapi mas belum jawab. Mungkin mas Alvan ada pemikiran sendiri?"


Alvan agak salting ditatap semua penghuni rumah. Yang paling antusias tentu saja Heru. Maunya nama yang dia pilih masuk daftar nama.


"Baiklah! Aku sudah pikir semalaman nama terbaik untuk bayi-bayi kita. Yang laki namanya Azril Perkasa Lingga dan Azkar Perkasa Lingga. Yang perempuan Alika Perkasa Lingga dan terakhir Alisa Perkasa Lingga. Maaf bila Perkasa kuletakkan di tengah karena anak-anak ini memang bermarga Lingga!" ujar Alvan penuh wibawa. Alvan ingin tunjukkan bahwa nama ini memang sudah dia tetapkan tanpa ada yang boleh ganggu gugat.


Kemarin pak Sobirin meletakkan Perkasa di belakang untuk tunjukkan anak-anak ini milik Perkasa. Alvan mana rela anak-anaknya jadi milik Perkasa. Apapun cerita anak-anak tetap milik Lingga.


Heru menunduk kecewa tapi dia tak bisa berbuat apa-apa karena anak-anak itu memang anak Alvan. Dia yang berhak menentukan nama anak-anak itu. Pak Sobirin hanya bisa manggut setuju karena pihaknya memang tak punya hak sepenuhnya terhadap bayi-bayi tersebut. Bu Sobirin tidak peduli gunakan marga siapa. Yang penting itu cicitnya.


Gibran tertawa lebar karena dua nama saran dia masuk pilihan. Afifa juga senang karena pilihannya sangkut di salah satu nama adiknya.


"Setuju...nama bagus. Tinggal kita tetapkan hari baik bikin sedikit upacara cukuran dan kasih nama. Sekalian aqiqah." ujar Bu Sobirin gembira cicit-cicitnya telah punya identitas. Perempuan ini senang saja cicitnya dinamai apa. Yang penting ada panggilan manis. Nama pilihan Alvan cukup nyaman di kuping.


Semua senang kecuali Heru. Mau protes malu pada yang lain. Yang usaha orang lain dia yang mau petik hasil. Dari mana logika konyol ini.


"Iya Oma! Oma lebih ngerti biarlah Oma yang atur. Ok anak-anak siap-siap ke sekolah. Tuh kak Tokcer sudah menunggu!" Citra ingatkan kedua anaknya untuk segera berangkat sekolah. Gibran juga bersiap karena mereka sekali jalan.


Alvan juga pamitan mau ke kantor. Punya anggota keluarga baru bukan berarti bisa santai. Justru Alvan harus makin giat cari uang untuk nafkahi bocah-bocah yang perlu banyak biaya. Beli keperluan bayi dan susu formula karena ASI Citra mana cukup bagi untuk empat bocah.


"Mas berangkat dulu ya! Banyak istirahat..." Alvan mengecup ubun Citra sebelum berangkat kerja.


"Iya mas... hati-hati ya! Anak-anak menunggumu!"


"Pasti... assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..." Alvan pergi diiringi pandangan orang tersisa di rumah.


Heru juga bangkit akan mengais rezeki untuk nafkahi keluarga kecilnya. Dia kalah total dari Alvan. Hasil produksi Alvan sampai tujuh orang sedang dia cuma satu. Itupun hasil pabrik lama. Pabrik barunya masih mandek belum bisa hasilkan produksi berkualitas.


Alvan masuk kantor dengan wajah sumringah. Satu kantor tahu kalau bos mereka sedang bahagia mendapat anugerah empat bocah. Mereka belum melihat anak bos mereka namun dipastikan ganteng dan cantik. Anak Alvan yang duluan saja ganteng dan cantik, adiknya pasti tak jauh dari kedua gambaran itu.


Untung tetap setia menanti bos di depan pintu kantor. Sikap setia yang tak pernah luntur.


"Selamat pagi pak!" sapa Untung mengambil alih tas kerja Alvan.


"Pagi...apa jadwal kita hari ini?"


"Jam tiga nanti jumpa orang Jepang di hotel."

__ADS_1


"Baiklah! Atur waktu nanti. Oya. nanti panggil Andi masuk ke ruangan aku!"


"Iya pak...apa Andi buat masalah?" Untung kuatir calon adik iparnya bikin masalah buat Alvan marah. Kadang mulut Andi tak bisa direm. Tampak yang tak wajar langsung protes tak peduli siapa orangnya.


"Oh tidak...kami ada sedikit bisnis!" Alvan berjalan terus sampai ke lift khusus untuk bos. Hanya bos, Untung dan Andi boleh gunakan lift itu. Pegawai lain tidak diijinkan gunakan angkutan listrik itu naik ke atas.


Untung menarik nafas lega tak ada masalah. Gimanapun Andi itu adik Nadine gadis yang akan segera dia nikahi pertengahan tahun ini. Untung sedang renovasi rumah agar layak untuk Nadine.


Alvan masuk ke ruangan tanpa didampingi Untung. Untung masih ada tugas lain harus persiapkan dokumen pertemuan dengan klien dari Jepang.


Andi datang sesuai amanah Untung bahwa pak Alvan ingin jumpa. Alvan ingin membahas masalah rumah Bu Hajjah yang ingin tukar tambah dengan rumah Citra. Sampai sekarang tidak ada kabar berita dari pihak keluarga Bu Hajjah. Alvan sudah tak sabar ingin memboyong keluarganya keluar dari rumah keluarga Perkasa. Sudah cukup Alvan sabar menurut semua keinginan Citra untuk berkumpul dengan Opa dan Omanya. Sekarang mereka telah memiliki keluarga yang sangat besar tak mungkin menumpang hidup pada orang lain lagi.


Andi datang dengan wajah ceria. Lelaki ini ikut bahagia Azzam telah mendapat adik-adik baru. Andi belum sempat berkunjung ke tempat Citra karena pekerjaan sangat banyak. Tak jarang dia harus lembur. Untung di rumah ada Jasmine menjaga Bu Menik sehingga Andi bisa kerja dengan tenang.


Alvan mendengar ketokan pintu dari luar. Tak usah ditebak Alvan sudah tahu siapa yang datang.


"Masuk!"


Andi nongol di depan Alvan seraya beri senyum manis. Kalau orang tak kenal Andi pikir anak ini mau rayu bosnya agar jadi AC/DC kayak dia.


"Aku mau tanya gimana kabar rumah Bu Hajjah? Masih bertahan?"


"Bu Hajjah sih sudah ok tapi itu lho keponakannya masih jual mahal. Malah di naikkan lagi."


Alvan manggut paham. Yang empunya rumah sudah menyerah malah orang samping kacaukan rencana baik mereka. Orang cari keuntungan atas kesusahan orang lain. Yang kasihan tentu Bu Hajjah bila Alvan sempat dapat rumah baru lain.


"Ya sudah! Kalau sampai besok belum menyerah kita cari tempat lain. Kau cek di internet rumah yang ada sepuluh kamar! Lokasi jangan jauh ke ujung langit. Yang strategis."


"Baik pak! Gimana kabar kak Citra dan dedek bayi? Apa mereka semua sehat?"


"Semua sehat. Nanti kamu ajak ibumu datang biar kakak kamu senang. Dia pasti rindu pada ibumu."


"Siap pak! Hari minggu nanti kami datang beramai sekalian dengan emak Tokcer." seru Andi semangat. Andi rindu pada Azzam dan Afifa. Sudah lama mereka tak jumpa ngobrol panjang lebar kayak dulu. Rindu pada semburan racun mulut Azzam dan pelukan manja Afifa.


"Pergilah kerja! Oya kamu luangkan waktu ambil bimbingan akuntansi maupun ekonomi. Semua biaya ditanggung kantor."


"Kuliah gitu pak? Kalau kuliah malam harus di swasta. Aku coba di D1 saja. Paling setahun."


"Semampu kamu! Kalau sanggup selesaikan S1. Itu lebih berbobot."


"Tapi itu lama pak! Paling cepat juga empat tahun. Itupun harus rajin." Andi kurang yakin bisa bertahan kuliah lama. Tak ada waktu pacaran dengan Jasmine lagi. Waktu terpakai di kantor dan kuliah. Kapan mainnya?


"Terserah kamu! Paling dikit D3." Alvan beri ultimatum Andi harus selesaikan kuliah jangka pendek.


"Iya pak!" sahut Andi lesu ingat tiap malam kejar ilmu lagi. Setua ini baru kuliah. Orang sudah gendong anak dia baru mulai jalani kehidupan mahasiswa.


Andi tak paham arti belajar tak kenal usia. Selagi masih bernafas tetap ada kesempatan menimba ilmu. Semakin banyak ilmu semakin bijak seorang manusia.


Alvan ditinggal sendirian dalam ruangan tapi itu tak berlangsung lama karena dari luar sudah terdengar keributan dari orang yang paling dia kenal.


Satu kepala menyembul dari balik pintu menggoda Alvan. Alvan hanya tertawa lihat wajah jelek siapa mendadak nongol ganggu kerja dia.


"Masuk bro!"

__ADS_1


Daniel berjalan santai lantas melempar diri ke sofa dengan kencang timbulkan suara gedebuk. Ntah apa dosa sofa sampai dianiaya oleh Daniel. Duduk perlahan dan manis kan tidak kena marah.


"Tumben cepat bangun?"


"Malu pada kata-kata Azzam. Anal lhu itu memang luar binasa. Binasakan harga diri kita! Kamu kasih makan apa anak itu sampai mirip kakek Wira?"


"Bukan aku tapi maminya! Dia sudah menjadi baru ketemu aku. Mau minum kopi?"


"Basa basi amat! Tamu ya harus disuguhi minuman! Kalau ada sekalian sarapan. Gue tak sempat sarapan."


Alvan meneleponi Untung untuk sediakan kopi dan sarapan untuk teman terbaiknya itu. Biasanya Daniel tak pernah bangun sepagi ini. Tentu ada hal luar biasa paksa dia datang.


"To the point...perlu bantuan apa?"


"Suudzon amat! Lhu bosan sama tampang gue?"


Alvan tertawa lihat Daniel sewot dicurigai datang dengan tujuan tertentu. Daniel akan segera menikah mungkin butuh bantuan dana untuk wujudkan pesta layak untuk Laura yang berasal dari keluarga tajir.


Pesta orang tajir mana mungkin asalan. Paling tidak harus menjaga muka keluarga Laura. Dana yang harus dirogoh dari kantong Daniel tentu bukan selembar dua lembar. Bisa bergembok-gembok.


"Gue kan heran tumben lhu nongol sepagi gini! Ada yang penting?"


Daniel tak segera jawab malah pindah duduk di atas meja kerja Alvan. Daniel menghujamkan pandangan lekat-lekat kepada sahabatnya. Daniel mau yakinkan diri sendiri apa orang duduk di kursi singgasana Lingga ini betul Alvan Lingga singa garang yang ditakuti orang. Ini kok seperti kucing manja takut air.


Alvan risih dipandangi Daniel tanpa bersuara. Tatapan Daniel aneh seakan ingin telanjangi Alvan di kantor.


"Kau gila ya?" tegur Alvan menutup wajah Daniel dengan kedua tangan.


"Kau ini Alvan bukan?"


Alvan berdiri sentuh kening temannya takut temannya itu sedang demam. Saking tinggi suhu tubuh sampai tak sadar siapa teman sendiri.


"Kau kesambet jin mana sih?"


"Bukan aku tapi lhu! Aku hampir tak mengenal kamu bro! Sekarang lhu dikendalikan oleh Citra dan keluarganya! Lhu ini Alvan Lingga bukan Alvan Perkasa. Ayok bangun bro! Sadar lhu ini seorang pemimpin disegani! Jangan bucin jadi lupa siapa kamu!" ujar Daniel dengan semangat berapi-api.


Alvan kembali dibuat tertegun oleh Daniel. Kata-kata Daniel seperti cambuk menyadarkan Alvan kalau dia telah menyerah pada keluarga Perkasa. Semuanya diatur oleh keluarga Perkasa. Dia hanya mengikuti saja.


"Apa aku demikian tak berharga?" gumam Alvan pelan.


"Bukan gitu bro! Kuncinya cuma satu. Keluar dari keluarga Perkasa. Kau tak boleh terlalu mengandalkan mereka. Kau harus punya kehidupan sendiri. Bawa anak-anak kamu pindah kembali ke rumah kamu."


"Aku memang sedang cari rumah tapi belum ada yang cocok. Ada yang cocok ada kesalahan teknis pula. Kau ada rekom rumah cocok?"


"Model gimana? Coba kutanya Laura. Ada saudaranya mau pindah ke Swiss? Rumahnya lumayan gede ada dua belas kamar di atas lahan satu hektar. Mungkin cocok untukmu. Bentar ya! Kuteleponi Laura dulu!"


Alvan seperti ayam diberi beras. Mematuk butiran beras disediakan oleh Daniel. Kepala ayun ke bawah angguk-angguk.


Daniel buka ponsel coba hubungi kekasihnya. Daniel cuma bisa berdoa semoga rumah saudara Laura mau dijual. Daniel sudah diajak ke sana sewaktu kenalan dengan saudara Laura yang rata-rata tajir.


"Halo beb...sibuk nih?"


"Nggak gitu sibuk! Ada Bryan bantu tangani pasien. Tumben bangun pagi?"

__ADS_1


Orang kedua heran Daniel bangun sepagi ini.


__ADS_2