
Alvan berniat segera ajak Citra pulang untuk buka lembaran baru esok hari. Semoga esok hari matahari akan bersinar lebih cerah jalan yang berliku-liku mulai diperbaiki sehingga lebih mudah dilalui oleh Alvan.
Citra dan Alvan berberes untuk pulang ke rumah. Namun sebelum keduanya sempat keluar dari kantin ponsel Alvan berbunyi. Lelaki ini mengeluarkan benda pipi itu dari saku celana. Di layar tertulis nama Untung.
Alvan menduga telah terjadi sesuatu yang penting. Untung bukan orang iseng suka main ponsel bila tidak ada hal urgen.
Alvan beri kode pada Citra untuk menunda langkah menuju keluar dari kantin. Alvan menyambungkan panggilan Untung.
"Ada apa?"
"Begini pak! Pihak kepolisian mengabarkan kalau tahanan bernama Selvia muntah-muntah sampai pingsan. Badannya panas hingga menggigil. Mereka ijin bawa tahanan ke rumah sakit."
"Untuk apa ijin pada kita? Bukankah itu wewenang mereka? Kita hanya menunggu hasil sidang. Penggelapan uang perusahaan dan rencana pembunuhan." ujar Alvan dingin. Alvan sudah muak bila harus beri toleransi pada orang berhati picik.
"Mereka tetap kasih kabar agar jangan dituduh mengeluarkan tahanan tanpa sepengetahuan penggugat! Ya mereka takut dibilang terima sogokan keluarkan pasien."
"Bagus kalau ada tanggung jawab. Pantau terus kasus Selvia."
"Siap pak! Bagaimana kondisi Bu Dewi?"
"Masih gitu-gitu. Oya coba besok kau tanyakan kalau tergugat Kayla dan mamanya minta disidangkan di Kalimantan. Apakah ini diperbolehkan? Kasusnya kan di sini. Apa bisa ditahan di sana?"
"Baik...besok aku akan ke kantor polisi! Aku juga akan pastikan Selvia berada dalam pengawasan polisi."
"Bagus...kalau ada apa-apa langsung hubungi aku!"
"Iya pak! Selamat malam!"
Hubungan terputus. Alvan membuang nafas berat dari mulut bikin bibir sexynya maju satu senti. Kalau ada cewek yang suka cowok macho pasti akan jentik bibir itu saking gemas.
Citra sendiri terpesona sejenak namun cepat sadar dia yang empunya bibir itu. Takkan dibagi lagi sama kaum hawa lain.
"Ada apa mas?"
"Selvia muntah dan demam. Pihak kepolisian ingin memindahkan Selvia ke rumah sakit."
Citra termenung. Ini mungkin efek dari virus HIV yang telah menjangkiti wanita itu. Berada di rumah sakit tanpa perawatan tepat membuat virus itu merajalela gerogoti tubuh Selvia. Di tambah mental psikis Selvia yang sudah pasti hancur makin lengkap virus itu akan jadi raja atas tubuh Selvia.
"Sudah tahu dari mana asal virus itu?"
"Untuk apa kita repot dari mana? Dia wanita bebas, dengan siapa dia bergaul kita mana tahu. Semua pilihan dia yang buat. Ayok kita pulang!"
"Tunggu mas! Kalau dia gunakan Zaki jebak kak Karin artinya dia tahu Zaki pengidap HIV. Tak mungkinlah dia ikutan naik ke ranjang Zaki." Citra analisa dari mana Selvia tertular virus HIV.
Alvan menyentik kening Citra melarang isterinya putar otak untuk orang tak penting. Selvia hidup bebas, pasti sering hubungan dengan aneka macam lelaki. Tertular penyakit itu juga bukan hal luar biasa.
"Untuk apa kamu pikirin hal itu? Kamu cuma pikir pasien, suami dan anak-anak. Itu saja tugasmu. Jangan jadikan persoalan orang lain jadi bebanmu."
"Mas...Aku tak sangka Selvia penganut aliran bebas. Bukankah ini merugikan diri sendiri. Bunuh diri perlahan untuk seteguk kenikmatan."
"Kau sedang sindir mas?"
"Apa mas merasa begitu? Kalau iya ya syukur mau sadar. Berhubungan badan dengan beberapa orang beresiko terjangkit beberapa penyakit kelamin. Terutama mereka yang doyan gunakan jasa wanita malam. Wanita-wanita itu layani puluhan orang. Dari situ sudah ada jutaan kuman dan bakteri. Pas pula jatuh ke mas, kuman bakteri berkembang biak mutasi jadi penyakit kelamin. Itu beresiko punahkan masa depan seorang lelaki." Citra gurui Alvan tentang resiko berhubungan intim dengan sembarangan wanita. Kenikmatan sesaat membawa bencana seumur hidup.
"Mas bukan orang gitu sayang! Mas masih punya akal sehat tidak menumpuk dosa. Orang berdosa maka wajar dihukum. Sudah...kita pulang! Mas sudah ngerti maksudmu! Mas takkan ngelaba sama cewek lain. Kamu satu saja belum habis dimakan. Nggak mungkin cari yang lain."
__ADS_1
Citra angkat tangan serahkan keputusan pada Alvan sendiri. Di depan mata sudah ada bukti sembarangan bergaul hasilnya petaka. Kalau masih maju jadi pahlawan mesum resiko tanggung sendiri.
Alvan meraup bahu Citra agar ada inisiatif bergerak pulang. Di beri kuliah gratis di tempat umum bikin Alvan gerah. Salah-salah orang akan berpikir Citra sedang kuliahi cowok penganut hubungan bebas.
Alvan merangkul Citra sampai ke pintu mobil. Dengan gentle Alvan membuka pintu mobil persilahkan Citra masuk sambil payungi kepala Citra dengan tangan agar tidak terantuk kap atas mobil. Orang yang melihat pasti beri penilaian Alvan so sweet.
Yakin Citra telah duduk aman di jok barulah Alvan bergerak ke kanan ambil posisi sebagai supir.
Alvan mengecup pipi Citra sebelum jalankan mobil. Ini adalah bonus sebagai supir pribadi Citra. Tidak dibayar dengan materi, cukup kecupan.
"Bismillah.." Alvan mulai tertular religi mengamalkan basmallah sebelum beraktifitas.
Citra tersenyum senang Alvan banyak berubah. Dari sok hebat perlahan tunduk pada agama. Citra menduga semua ini berkat anak-anak yang telah buka mata hati Alvan.
Tidak menambah kisah baru malam ini berlalu hingga fajar menyingsing. Biasa pagi cerah menyambut aktifitas keluarga Citra tapi pagi ini awan mendung tebal bergelayut di lembaran langit. Awan kelabu bergelantungan tanda akan basahi persada dengan air dari langit.
Tokcer sudah standby dari pagi untuk antar anak majikan sekaligus teman akrabnya si kecil Azzam. Langit mendung tak halangi Tokcer berbagi semangat pada kedua kurcaci Alvan. Apalagi cowok ini baru gajian dapat gaji pertama yang sangat lumayan. Tokcer menyimpan gajinya pada emak untuk jadi tabungan emak pergi umroh. Niat suci ini harus terlaksana untuk menyenangkan orang tua. Setiap umat Islam pasti bermimpi singgah di rumah Allah sebelum dijemput ajal. Cukup sekali dalam seumur hidup.
Tokcer antar anak-anak sedangkan Alvan mengantar Citra ke rumah sakit. Masing-masing punya kegiatan masing-masing. Rumah mewah Citra kembali sepi setelah penghuninya pergi. Bu Sobirin saksikan kepergian cucu dan cicitnya dengan hati lega. Awal yang baik di pagi mendung.
Bu Sobirin bukannya tak tahu Selvia sedang terpuruk di dalam kondisi buruk. Bu Sobirin tak dapat berbuat apapun karena semua ini salah Selvia dan ibunya. Bu Sobirin tak dapat berdiri di sebelah manapun. Dia harus netral biarkan hukum yang bicara. Yang salah tetap harus terima hukuman.
Alvan mengantar Citra sampai rumah sakit langsung berangkat ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Alvan juga ingin tahu sampai di mana kasus Selvia. Apa benar Selvia sakit atau hanya permainan untuk hindari jeratan hukum.
Kalau ada permainan model gitu Alvan akan tuntut wanita itu sampai ke lubang tikus sekalipun. Tak ada kata ampun dari Alvan. Sudah di penjara masih memainkan peran victim.
Untung tak ada di tempat. Alvan menduga asistennya sedang berurusan di kantor polisi untuk masalah Selvia. Alvan sudah wanti pada Untung untuk cek langsung kondisi Selvia.
Alvan terpaksa cari Andi untuk tanya jadwal tugas hari ini. Andi tetap di lantai bawah menempati tempat Wenda. Seharusnya Alvan pindahkan Andi satu lantai agar gampang komunikasi.
Andi berdiri di depan Alvan dengan posisi gagah mirip seorang tentara menghadap komandan. Tubuh posisi siaga, kepala diangkat dikit biar elegan. Mirip peragawan tunggu jadwal catwalk.
"An...bagaimana catatan pembukuan? Ada yang mencurigakan?" Alvan bicara tanpa menatap Andi. Mata Alvan tertuju pada grafik penjualan di komputer. Sedikit menurun gara dia lengah nego dengan investor.
"Sejauh ini aman pak! Apa bapak sudah minta Azzam perbaiki sistim keamanan data?"
"Sudah..Azzam minta waktu."
"Maunya hati Sabtu bawa dia ke sini pelajari struktur keamanan awal. Biar dia dalami dan perbaiki!"
Alvan angkat wajah memperhatikan omongan Andi. Alvan masih meragukan kemampuan Azzam handel seluruh keamanan data satu perusahaan besar. Anaknya itu tak lebih seorang bocah kecil. Anak kecil bisa apa?
"Kau yakin adikmu bisa?"
"Yakin pak! Azzam sangat pintar tapi dia suka pura-pura bodoh. Bapak harus percaya pada Azzam."
"Baik...kita coba dia! Sabtu nanti kita ajak ke kantor. Oya.. rumah Bu Hajjah sudah kau selidiki? Dia mau lepas berapa?"
"Dia mau barter sama rumah kak Citra kok! Luas bangunan 30x25 dengan tujuh kamar lengkap kamar mandi. Di belakang masih ada bangunan untuk Art. Ada kolam renang dan lapangan basket. Katanya luas tanah sekitar setengah hektar." Andi melapor hasil penyelidikan rumah Bu Hajjah yang mau dijual.
"Ada yang harus kita perbaiki?"
"Kalau kerusakan tidak ada cuma tegel keramik model lama. Keramik kamar mandi dan dapur juga model jadul. Masih model kecil-kecil. Sekarang kan model batu granit."
"Itu gampang...kamu tanya berapa kita harus tambah duit? Nanti kita cari tukang bongkar seluruh tegel ganti model baru. Kita buat sesuai selera adik-adik kamu."
__ADS_1
"Siap pak! Cuma rumah itu terlalu gede. Apa tidak seram tinggal di rumah segede itu? Bu Hajjah saja sering nginap di rumah tetangga. Katanya ngeri tinggal sendiri di rumah segede gitu."
"Kita ramai...untuk apa takut? Mungkin nanti lahir adik-adik Azzam yang lain." Alvan ngawur berkhayal tambah anak dari rahim Citra.
Untuk ukuran harta keluarga Lingga tiga anak rasanya kurang. Selusin juga masih kurang. Alvan ingin punya sepuluh anak lagi biar ramai. Kalau berkenan punya anak Alvan ingin yang model Afifa saja. Tidak mengerikan macam Azzam dan Afisa.
"Iya...nanti malam Andi akan jumpai Bu Hajjah. Apakah Andi boleh ke bank sebentar untuk bikin buku tabungan? Kata Tokcer dia juga mau buat buku tabungan. Bonar titip uangnya pada aku untuk ditabung."
"Boleh...bilang sama Bonar buka buku sendiri. Tidak perlu titip. Siap Zuhur kalian boleh ijin sebentar. Jemput Bonar di tempat kerjanya biar pergi bareng. Jangan lupa bawa foto kopi KTP!"
"Siap bos!" seru Andi girang bakal jumpa dengan si Batak. Bagaimanakah tampang si Batak tidak pernah jumpa matahari? Makin putih atau sudah bau apak disimpan terlalu lama di gudang.
Andi tak bisa sembunyikan rasa rindu pada konco kentalnya. Sebentar lagi mereka akan segera kumpul walau sesaat. Sesaat juga berharga untuk lepas rasa kangen.
"Ada jadwal penting apa?"
"Rapat internal perusahaan jam sembilan nanti. Siang nanti ada acara makan siang dengan pak Li dari Hongkong."
"Baik...minta pada petugas pindahkan mejamu di samping ruang depan."
"Aku selantai dengan kak Untung? Wah...keren!!" Andi makin jumawa bisa selevel dengan Untung asisten Alvan yang terkenal angkuh. Andi sudah boleh ikutan angkuh biar dipandang lebih cool.
"Keren apa? Biar gampang perintah kamu ambil berkas."
"Oh..." Andi tidak rendah diri walau dibilang lebih gampang disuruh-suruh. Tugasnya memang melayani Alvan. Makin dekat makin bagus. Paling tidak bisa cuci mata lihat tampang ganteng Alvan. Kalau Untung tak ada menariknya. Wajah bulat kayak bola voli. Kusam lagi.
"Andi pamit berberes ya pak! Biar bisa cepat pindah."
"Mejanya tak usah dibawa. Cukup semua barang penting dan file penting. Jangan ada yang tinggal di sana!"
"Iya pak! Siap laksanakan!" Andi ingin melompat tinggi serukan dia makin melambung ke atas. Tidak naik pangkat tapi naik level. Bisa satu lantai dengan bos.
Alvan menggeleng tak paham apa yang membuat Andi demikian bahagia berada satu lantai dengan bos. Padahal dia akan lebih sengsara disuruh sana sini. Untung pasti takkan segan ikutan beri perintah. Si gendut itu tentu cari kesempatan menjadi senior plonco junior.
Alvan pusing mikirin Andi si tulang lunak. Kadang sok macho, kadang nyiur melambai. Apapun Andi tetaplah orang yang bisa dipercaya oleh Alvan. Andi menyayangi kedua anaknya sudah merupakan berkah bagi Alvan. Andi berhutang budi pada Andi telah merawat Azzam dan Afifa dalam kurun waktu tertentu.
Di sela Alvan sibuk bekerja ada panggilan masuk lagi. Ini membuyarkan konsentrasi Alvan terhadap pekerjaan. Siapa lagi menelepon di saat jam kantor. Alvan mengambil ponsel di atas meja.
Nama Karin muncul di layar. Hati Alvan mencelos lihat pagi-pagi Karin telah menelepon. Ada apa pula dengan wanita ini? Mau melapor apa lagi.
"Halo..ada apa?" tanya Alvan datar tanpa emosi. Tidak ada rasa apapun terhadap Karin. Terasa kosong hambar.
"Assalamualaikum Van..."
"Waalaikumsalam..."
"Gimana mama?"
"Belum sadar...kau sehat?"
"Rencana hari ini mau balik rumah sakit. Obatku sudah habis. Sekalian mau jenguk mama dan papa."
"Mama masih di ruang ICU. Tak bisa sembarangan terima tamu. Kau cari Citra saja! Nanti dia atur semuanya untukmu."
"Iya Van ..aku merasa makin hati makin lemah! Apa daya tahan tubuhku menurun?"
__ADS_1
Hati Alvan tercekat mendengar nada suara Karin yang memang terdengar tak sehat. Dia memang benci pengkhianatan Karin namun dia tak boleh abaikan wanita itu. Alvan harus tunjukkan tanggung jawab sebagai suami.