ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Azzam Si Bijak


__ADS_3

Daniel tertawa terbahak dengar nada sewot Alvan. Daniel sengaja pancing tawa Alvan agar jangan tegang. Siapa yang tidak syok mama sendiri harus dioperasi.


"Duh papi si kembar! Pantang disenggol. Oya...gue bawa Natasha ke rumah sakit! Katanya mau kenalan dengan kalian."


"Dengan senang hati. Kamu juga harus kenalan dengan Afisa. Anak gadisku yang jelita."


"Kalau terlalu jelita aku mau tunggu dia dewasa kok."


"Dasar bangkotan tak tahu malu. Afisa dewasa lhu udah bangkotan. Bau tanah."


"Duh calon mertua judes! Gue akan sabar Afisa dewasa. Tidak dapat mamanya anak juga ok!"


"Pede amat lhu! Gue racuni lhu kalau berani colek anak gadis gue. Bayangannya aja tak boleh lhu sentuh! Najis..."


"Mati gue...Nelangsa amat hidup gue! Induk ngak boleh anak juga tak boleh. Mau lhu apa sih?"


"Mau gue lhu jadi om yang anteng saja! Masih lama lhu sampai sini? Gue butuh kawan nih! Bulu kuduk gue merinding terusan kayak ada sesuatu tak beres."


"Huuusss...Cemen amat! Sepuluh menit lagi gue di situ! Lhu kan Alvan Lingga! Cowok paling kuat yang pernah gue kenal. Semangat bro!"


"Thanks bro! Cepat ke sini!"


"Beres...tutup dulu!"


Alvan tidak menjawab hanya mengangguk tidak terlihat oleh Daniel. Biasa Alvan sangat tegar, mengapa malam ini dia lemas tak berdaya. Apa mental baja Alvan tergerus saking banyak konflik dalam hidupnya. Kalau ganti orang lain mungkin sudah luluh lantak tak berbentuk.


Alvan kaget melihat satu kompi manusia datang menuju ke tempat dia menunggui Bu Dewi. Tak usah ditebak sudah jelas yang bawa satu pasukan orang itu berasal dari keluarga Perkasa. Bu Sobirin jadi kepala guide membawa rombongan datang ke rumah sakit.


Ketiga anak Alvan berada di antara rombongan berjumlah puluhan orang. Azzam tampak sedikit kuatir sedang Afisa dan Afifa tidak terpengaruh oleh suasana mencekam. Bu Dewi akan di bawa ke meja operasi untuk bertarung melawan maut.


Alvan segera menyambut tamu keluarga Perkasa. Mereka telah susah payah datang ikut berduka atas musibah yang menimpa Bu Dewi. Alvan wajib hargai Budi baik orang.


Afifa berlari kecil meloncat ke pelukan Alvan. Gadis kecil ini menciumi pipi Alvan berkali-kali suarakan rasa kangen. Padahal mereka baru pisah beberapa jam lalu.


"Papi...kata Koko Oma kita yang judes sakit! Sakit apa?"


"Ooo...Oma kena serangan di bagian kepala! Tuh mami kalian akan sembuhkan Oma." Alvan gunakan bahasa paling sederhana untuk menerangkan kondisi Bu Dewi. Afifa tidak selicin Azzam dan Afifa. Gadis ini tidak mampu menerima kalimat rumit.


"Oh gitu...mami pasti bisa. Oma judes akan sehat."


"Amin...sekarang papi mau bicara sama Azzam dan Afisa. Afifa turun dulu ya!" Alvan menurunkan Afifa sejajar dengan kedua anaknya yang lain.


"Terimakasih anda semua bersedia luangkan waktu jenguk mama aku! Mama akan segera dioperasi oleh Citra. Mohon doa dari semuanya." Alvan membungkuk sopan memberi apresiasi atas kemurahan hati keluarga Citra.


Mereka hentikan pesta langsung menuju ke rumah sakit ikut berduka atas musibah mendadak ini. Keluarga Perkasa ingin tunjukkan bahwa mereka adalah keluarga yang punya toleransi tinggi dalam hal bersaudara.


"Aduh nak Alvan...mamamu itu besan kami. Kita satu keluarga. Dari mana datang rasa sungkan. Kita doa sama-sama saja! Ayok kita tunggu di luar! Tak baik sesak di sini." sahut Bu Sobirin panitia dari sebelah Perkasa jadi juru bicara.


"Terimakasih..." Alvan merangkap tangan ke dada terharu pada rasa kekeluargaan yang ditunjukkan Perkasa. Keluarga mereka beradab tidak seperti keluarganya yang semrawut.

__ADS_1


Rombongan itu keluar dari bagian ICU. Di rumah sakit memang tak boleh bergerombolan karena akan menimbulkan kegaduhan. Kalau mereka tak segera pergi pihak sekuriti pasti akan bertindak menyuruh mereka keluar dari tempat gawat darurat ini.


Di situ tinggal Alvan dan ketiga anaknya. Azzam selaku Abang tertua mendekati Alvan lalu memeluk lelaki itu sebagai ungkap tanda turut bersedih. Beda dengan Afisa yang dingin membeku bak bongkahan es di kutub Utara. Mata Afisa masih dingin belum bisa menerima mulut comberan Omanya. Afisa merasa Bu Dewi tak punya kontribusi pada dirinya tapi sok menguasai. Sikap ini tak disukai gadis kecil ini.


"Azzam...Afisa...Oma akan segera dioperasi. Mami dan timnya akan lakukan operasi sebentar lagi. Oma sedang berjuang agar bisa sembuh. Papi ingin tahu pendapat kalian. Apa Oma dioperasi atau kita tunda? Papi serahkan keputusan pada kalian."


"Kenapa harus kami? Oma itu orang kuat! Dia akan mampu bertahan. Gawang kami saja nyaris kebobolan oleh ketajaman mulut Oma. Terserah papi! Kami tak mau jadi kambing hitam bila operasi gagal." kata Afisa mengacu pada realitas. Andai operasi gagal mereka akan disalahkan ijinkan Oma mereka dioperasi. Syukur kalau sukses.


"Beliau Oma kalian. Kalian adalah penerus Lingga. Semua keputusan papi serahkan pada kalian. Tidak ada penyesalan papi selama itu baik menurut kalian."


"Oma sudah tak akui kami. Untuk apa ngotot? Tidak menjadi Lingga toh kami tidak lapar." kata Afisa menohok.


"Ce...jangan omong gitu! Oma itu orang tua. Kita anggap berdoa mencari pahala. Orang lain saja kita doain semoga selamat apalagi Oma adalah mamanya Papi kita. Kita doa bersama-sama anggap kita sedang berbuat baik mendoakan kesehatan seseorang." ujar Azzam tidak ingin memperburuk suasana hati Alvan.


Menatap Azzam dengan pandangan terima kasih. Azzam pantas menjadi seorang Abang tua di antara tiga anak.


Afisa mendengus kasar tak senang Azzam berbalik dukung Bu Dewi. Afisa tidak ngerti kalau Azzam memikirkan Alvan. Azzam tiga tega memberi tekanan pada papinya lagi.


"Huh... ingin mendapat yang terbaik tetapi memberi yang terburuk pada orang lain. Apakah itu sikap seorang manusia yang mempunyai akhlak?" sungut Afisa masih belum puas Azzam ikut mendoakan kesehatan Bu Dewi. Afisa menganggap Bu Dewi itu musuh utama yang harus dijauhi.


"Bukan soal akhlak tapi kemanusiaan. Koko percaya mami pasti mampu. Kita percayakan Oma pada mami. Insyaallah...Oma akan tertolong!" kata Azzam makin mirip kakek bijak. Umur masih jagung tapi cara pikir melebihi pria dewasa.


Alvan ingin sekali memeluk Azzam untuk minta terima kasih atas dukungan anak laki satu-satunya. Azzam beda dengan anak kecil umum yang hanya tahu main.


"Terima kasih sayang! Kalian akan jadi oksigen papi untuk bernafas. Kita tunggu kabar dari mami apa mami sudah bisa laksanakan operasi oma?"


Kali ini Afisa tidak membalas kata-kata Alvan. Afisa tahu gelagat kalau Azzam tak ingin perpanjang masalah yang akan membuat papi mereka makin drop.


"Mas kenalkan ini dokter bedah Pak Zamroni dan ini dokter syaraf khusus bagian kepala Pak Eka. Kami akan kerja sama lakukan operasi." Citra perkenalan dua dokter pakar di bidangnya.


Alvan mengganggu sopan kepada kedua dokter yang akan membantu Citra operasi mamanya. Kini nyawa Bu Dewi tergantung pada kepiawaian tim dokter yang menangani operasi besar ini.


"Kumohon bantuan bapak-bapak menyelamatkan ibuku."


Pak Zamroni menepuk bahu Alvan sambil tertawa. Sikapnya sungguh membuat hati adem.


"Kita akan usaha anak muda. Mamamu kena di bagian cerebellum. Kalau berada di cerebrum lebih susah sedikit. Tapi semuanya ada resiko karena yang kita bedah adalah batang otak. Pusat dari segala aktifitas tubuh." Pak Zamroni jelaskan resiko yang sedang mereka hadapi.


"Cerebellum...cerebrum. Apa itu?" tanya Alvan belum ngerti maksud para dokter.


"Cerebellum itu otak kecil kita dan cerebrum itu otak besar kita. Mereka terhubung dengan batang otak. Batang otak itu yang mengendalikan gerakan tubuh manusia." Afisa menjelaskan dengan mulus untuk menjawab ketidak tahuan Alvan.


Kedua dokter senior menatap anak kecil di depan mereka dengan kagum. Ada berapa anak sekecil ini ngerti susunan di dalam isi kepala manusia. Calon dokter masa depan. Alvan sendiri tidak dapat sembunyikan rasa salut pada anaknya. Cocok jadi anak Citra dokter cantiknya.


"Siapa namamu nak?" tanya pak Zamroni tertarik pada kepintaran Afisa.


"Saya Afisa anak dokter Citra." sahut Afisa mulus tanpa libatkan nama Lingga.


Pak Zamroni dan Pak Eka tak dapat menahan tawa kagum. Betul-betul penerus bangsa berpotensi. Andaikata semua anak macam Afisa maka negara Indonesia bakal banjir pakar kesehatan.

__ADS_1


"Buah jatuh tak jauh dari batangnya." kata pak Eka masih kagum pada Afisa.


"Maaf anakku lancang! Dia suka baca buku kedokteran aku! Semua dilahapnya." Citra malu Afisa menonjolkan diri secara tak sengaja. Nanti dipikir Citra pamer kepintaran anak.


"Bibit bagus mengapa harus disembunyikan? Yang bersinar tetap akan memancarkan cahaya terang." Pak Zamroni berkata apa adanya karena Afisa memang sangat cemerlang.


"Ok...kita harus segera masuk kamar operasi! Mohon doanya!" kata pak Eka merasa kondisi Bu Dewi tak mengijinkan mereka beramah tamah lagi. Setiap detik adalah nyawa bagi Bu Dewi.


"Iya pak! Terima kasih.." jawab Alvan pasrah. Hidup mati manusia berada di genggaman Yang Maha Kuasa. Kita boleh berharap tapi yang menentukan tetap Yang di Atas.


"Mami...semangat! Mami pasti bisa." Azzam kasih semangat pada Citra. Citra mengangguk makin pede maju selamatkan nyawa mertuanya.


Citra dan kedua dokter senior melangkah pergi untuk bersiap laksanakan operasi ini. Kepergian mereka diiringi tatapan mata Alvan dan ketiga anaknya. Hanya panjatkan doa dalam dada. Itu yang bisa dilakukan Alvan.


Dari ruang ICU Bu Dewi didorong ke ruang operasi di lantai atas. Azzam dan Afisa tertegun melihat sosok yang sebelumnya galak kini terbaring tak berdaya di atas brankar. Bu Dewi tak ubah mayat hidup. Seluruh anggota tubuh tak bergerak. Hanya tampak dada turun naik tanda ada kehidupan.


Hati Afisa mencelos iba lihat wanita tua yang disebut Oma terkapar tak punya daya. Rasa kesal berubah jadi kasihan. Kalaupun Bu Dewi bukan Oma mereka Afisa juga akan kasihan. Hanya saja Bu Dewi telah menoreh catatan buruk di dalam hati Afisa.


Bu Dewi didorong melewati Alvan dan ketiga anaknya. Azzam tak kalah iba melihat kondisi Bu Dewi. Sebelumnya Bu Dewi terasa sangat menyebalkan tetapi kini wanita itu mendatangkan rasa iba yang mendalam dalam hati Azzam.


Perlahan paramedis yang mendorong Bu Dewi menghilang di balik lift khusus untuk orang sakit. Tinggallah Alvan dan ketiga anaknya merenung di dalam pikiran masing-masing.


"Papi... Oma kenapa Pi? Mau dibawa ke mana?" tanya Afifa polos.


"Oma sakit nak! Kita berdoa untuk Oma ya!" Alvan mengangkat Afifa ke dalam gendongannya. Azzam dan Afisa tidak cemburu sikit pun pada Afifa. Kalaupun Alfan ingin menggendong mereka pasti akan ditolak terutama Azzam.


"Iya Pi...tapi Amei sudah ngantuk! Kita pulang bobok yok!"


"Afifa tidur saja di pundak papi. Sebentar lagi kita pulang. Kita tunggu kabar Oma!" bujuk Alvan harap Afifa melawan rasa ngantuk. Afifa dan Azzam tak pernah telat tidur. Begini lewat jam sembilan mata mereka akan sayu sendirinya.


"Gimana kalau kami kawani Amei pulang duluan. Oma Uyut kan masih di sini. Biar kami ajak mereka pulang! Berada di sini juga tak banyak membantu." usul Afisa sok bijak.


"Azzam ada usul?" Alvan mengarah pada Azzam. Sepertinya Alvan sangat berpatokan pada Azzam untuk ambil keputusan. Alvan seperti sudah kehilangan kuku tajam nya.


"Kita tunggu bentar! Amei kita tidurkan di tempat opa sebentar! Baik buruk itu Oma kita."


Alvan kembali bersyukur punya anak seperti Azzam. Sok tua walau umur masih termasuk anak ayam baru netas.


"Ok...kita tunggu! Perintah kapten tak boleh dilawan bawahan." Afisa angkat tangan ke atas malas berdebat. Berdebat panjang akan keluar segala dalil bikin orang yang dengar mumet.


Afisa lagi tidak mood berbalas pantun dengan Azzam. Sampai subuh takkan kelar. Mending simpan tenaga sambut esok penuh spirit baru.


"Ayok kita ke ruang opa!" ajak Alvan menggendong Afifa yang mulai berlayar ke pulau bantal. Mata anak ini tak dapat disogok untuk bertahan. Jam segini tetap harus tidur. Alarm alam tak terhindar.


Alvan membawa ketiga anaknya menuju ke ruang pak Jono yang nyaman. Maklumlah ruang VVIP khusus untuk orang tajir. Isi dalam mirip hotel mewah. Dirawat di sana tak ubah nginap di hotel berbintang lima.


Sewaktu mereka masuk Pak Jono sudah tertidur pulas. Alvan bersyukur pak Jono tidak menanyakan isterinya. Pak tua itu masih di bawah pengaruh obat penenang untuk menekan pak Jono tidak gelisah.


Alvan membaringkan Afisa di sofa agar lebih nyaman bergolek. Tidur di atas pundak Alvan tentu tidak nyaman.

__ADS_1


Azzam mencolek Afisa agar keluar dari ruang rawat Pak Jono. Alvan melihat keduanya keluar segera mengejar keduanya agar tidak pergi jauh.


Keluarga mereka sedang kalut. Jangan-jangan keduanya pergi tanpa beritahu bikin masalah makin memanjang.


__ADS_2