
Bonar tertawa geli membayangkan sosok gemulai transformasi ke sosok cowok gagah. Gerakan nyiur melambai apa sudah terhapus dari otak kecil Andi. Dulu kalau dipanggil Andi wajahnya berubah sehitam arang. Sekarang malah ngamuk dipanggil Ance. Bonar tak sabar ingin segera jumpa makhluk hidup itu.
"Lhu yakin dia bisa hidup bila dipanggil Andi? Takutnya nafas tersengal-sengal mau metong bila kita kembalikan dia ke muka asli."
"Itu amanah pak Alvan! Andai si Andi masih berperan sebagai Ance dia akan digantung di atap gedung kantor. Katanya biar keriput. Awet dijadikan mummy."
Bonar bergidik diancam sangat mengerikan. Itu untuk kebaikan Andi agar kembali pada harkat sebagai lelaki. Tanpa masukan positif anak itu akan terjebak dalam ilusi untuk selamanya. Harus ada tangan kejam merubah Andi. Pas Alvan hadir tepat waktu.
"Bagus juga..."
Keduanya kembali terdiam tak tahu harus bahas apa lagi. Paling tunggu perintah Alvan harus bergerak ke arah mana. Tiupan angin sepoi-sepoi basah mengayun keduanya merem-merem sedap. Mata serasa berat pingin tidur melupakan semuanya.
"Tok..." terdengar suara power Alvan menyentak kedua lajang yang nyaris melayang dalam Mbah lelap.
Tokcer dan Bonar langsung siap siaga tak berani mengucek mata. Padahal tangan sudah gatal ingin membersihkan sisa tai di sudut mata. Suara Alvan lebih berkuasa dari rasa gatel.
"Ya pak..."
"Kamu pergi ke alamat ini. Bilang minta orderan pak Alvan. Kalian mau makan apa bilang saja biar sekalian dibawa pulang." Alvan menyerahkan secarik kertas tertulis nama restoran besar di kota ini.
"Siap pak!" Tokcer menerima langsung pergi ke arah mobil di parkir. Sementara Bonar mematung bak arca salah pahat. Arca tidak menarik.
Alvan menyipitkan mata lihat Bonar tidak bergeming walau Tokcer sudah duluan melangkah. Apa yang ditunggu orang lugu itu. Tampang preman tapi akal orang udik.
"Kau ngapain sini? Ikut Sono!"
"Siap pak!" seru Bonar dengan hati riang. Ternyata pak Alvan tidak lupa masih ada calon pegawai lagi menanti perintah.
Si Batak mengejar Tokcer yang sudah masuk mobil. Saking takut ditinggal seruan ala Tarzan kota bergaung keras.
"Woi Tokek...tunggu aku!" teriak Bonar tidak ingin kehilangan kesempatan naik mobil mewah.
Tokcer si usil sengaja jalankan mobil perlahan seakan ingin tinggalkan Bonar. Si Batak tulen itu mengerahkan tenaga mengeluarkan seluruh Auman dahsyat agar Tokcer hentikan mobil.
"Seetttoooppp...Tokek jelek!" seru Bonar sambil mengejar mobil sedang melaju.
Tetangga berhamburan keluar kaget dengarkan seruan mematikan Bonar. Mereka mengira telah terjadi sesuatu peristiwa mengerikan di lingkungan karena suara Bonar sanggup menggetar jemuran.
Di dalam mobil Tokcer tertawa cekikan merasa lucu permainkan Bonar. Tokcer hentikan mobil secara mendadak sehingga si Batak menabrak pantat mobil.
"Dasar anak gila..." sungut tetangga yang tak heran kalau Tokcer dan Bonar berada di situ. Keduanya terkenal biang ribut walau tidak mengusik keselamatan tetangga. Mereka hanya bising sendiri.
"Dasar kau tokek buntung! Kau mau bunuh aku ya!" Bonar secepat kilat buka pintu mobil sebelum Tokcer bikin ulah lagi.
"Olah raga dikit kenapa? Perut lhu udah buncit! Cacingan..."
"Omongin saudara sendiri! Ajak tuh saudaramu nginap di perut lhu! Jangan numpang makan sama gue!"
Bonar duduk di jok mahal seraya mengatur nafas tersengal-sengal karena maraton di siang bolong. Udara lumayan panas membuat Bonar berkeringat. Bau tak sedap keringat produksi Bonar menguap dalam mobil.
__ADS_1
Tokcer menutup hidung terganggu bau tak sedap Bonar. Kapan anak ini mau belajar rapi? Malas mandi dan jarang ganti baju. Apa Alvan mau tampung orang jorok model Bonar?
"Bo...tadi pagi lhu nggak mandi ya?"
"Kok tahu? Berbakat jadi peramal lhu!"
"Edan nih orang! Bukan meramal tapi bau lhu kayak bau comberan! Kalau lhu masih mau kerja jangan jorok. Pak Alvan suka orang bersih."
Bonar termakan omongan Tokcer mencium bau ketek berulang kali apa iya dia bau comberan. Bau keringatnya memang menyengat. Tapi tidak separah gambaran Tokcer. Cuma bau asem.
"Hehehe...bau dikit! Tadi pagi gue tak sempat mandi karena pak Alvan pulang mendadak. Nanti gue mandi."
"Nanti? Sekarang...gue turunkan lhu di rumah lhu! Mandi dulu baru boleh ikut ke restoran."
"Apa nanti nggak kelamaan?"
"Gue kasih lhu sepuluh menit! Cukup siram bau ketek lhu! Ganti baju bersih baru kita ke restoran. Ini restoran internasional! Andi pernah makan di situ. Sekarang kita dapat giliran maka jangan norak! Ayok cepat!"
"Gue mandi di warung Wak Sugeng saja! Balik ke rumah kan muter lagi! Wak Sugeng tak keberatan kok!"
"Terserah! Cepat ya!" Tokcer melajukan mobil ke warung Wak Sugeng. Pak tua pemilik kedai sampah tak pernah marah walau kadang anak-anak kampung suka nakal. Segala jenis barang lengkap di warung Wak Sugeng. Dari obat nyamuk hingga peralatan dapur. Bumbu dapur juga lengkap di situ jadi ibu-ibu kampung tak perlu belanja di tempat lain karena yang dekat cukup komplit.
Tokcer dan Bonar turun dari mobil diiringi tatapan penuh curiga orang sekitar warung. Dua preman kondang tiba-tiba berubah tajir naik mobil mewah. Dari mana keduanya comot mobil orang.
Tokcer dan Bonar melenggang santai ke warung Wak Sugeng berbuat seakan mereka memang orang tajir. Pakaian Tokcer yang rapi bikin semua orang pangling. Tak disangkal Tokcer berubah gagah dengan tunggangan mahal.
"Assalamualaikum Wak...beli sampo dan handuk kecil!" kata Tokcer sopan peradaban diri. Gaya slebor preman kampung dihilangkan sejenak agar dia tak dipandang rendah.
"Bukan undian Wak...ini si Bonar dapat pacar orang Arab! Bonar dihadiahkan mobil oleh pacarnya juragan onta. Berapa wak semua? Oya ada jual baju kaos bersih?"
"Kaos ya? Oh itu tak ada. Untuk siapa?"
"Untuk Bonar biar berpakaian rapi jumpa cewek. Numpang mandi dia ya Wak!" Tokcer mengambil sampo dan handuk diserahkan pada Bonar. Bonar langsung ngacir ke belakang warung Wak Sugeng. Tunggu ijin lama. Main serobot lebih terjamin. Terjamin tak disikat pak Alvan karena mereka curi waktu.
"Oh gitu ya! Wak punya kaos hadiah sabun colek. Boleh?"
"Boleh juga Wak! Dari pada pacarnya cium bau Bonar mirip sama bau Onta. Bisa berantakan!".
Wak Sugeng tertawa geli dengar guyonan Tokcer. Tokcer dan Bonar memang preman namun mereka belum pernah merugikan warga kampung. Tak ada alasan Wak Sugeng tak suka mereka.
Wak Sugeng membawa satu kantong putih berisi baju kaos hadiah dari sabun. Warnanya putih bersih dengan logo lambang sabun sponsor kaos. Ini lebih lumayan daripada baju Bonar yang bau karatan.
"Boleh Wak! Berapa harus Kubayar!"
"Bayar harga sampo dan handuk saja. Bajunya gratis kok! Wak doain Bonar jadian dengan juragan onta. Besok kalau kita naik haji bisa singgah di rumah Bonar." Wak Sugeng dengan polosnya doain Bonar. Salah Wak Sugeng percaya pada guyonan Tokcer. Tokcer dan Bonar kapan ada seriusnya. Sepuluh kata terucap cuma satu yang serius. Lainnya guyonan hoax.
Bonar muncul dengan muka segar plus rambut basah. Sekarang si Batak tampak jauh lebih manusiawi ketimbang tadi. Bau karat hilang berganti bau sampo seharga seribu perak. Tokcer menyerahkan kaos hadiah Wak Sugeng untuk dipakai sobatnya itu.
"Apa ini?" Bonar belum ngerti makna baju kaos dari Tokcer.
__ADS_1
"Pakai ini! Badan sudah bersih tapi baju masih bau kutu busuk. Ayok cepat kalau tak mau kena PHK."
"Oh..." Bonar segera meloloskan bajunya diganti dengan kaos hadiah."Wak..titip baju aku di sini ya! Ntar malam aku jemput."
Bonar memasukkan baju kotornya ke kantong plastik lantas menitip ke Wak Sugeng. Kalau bukan demi juragan Onta Wak Sugeng tak Sudi terima baju bau las karbit itu. Dengan geli Wak Sugeng menerima baju Bonar dan meletakkan di sudut toko.
Tokcer dan Bonar tak punya banyak waktu lanjutkan candaan. Tugas mereka lebih penting dari berhuru hara. Salah sedikit bisa buyar kerja mereka. Keduanya segera melaksanakan amanah Alvan.
Di rumah Citra telah berkumpul keluarga kecil Alvan. Tinggal satu anak berada jauh di seberang sana. Ntah kapan Afisa bisa pulang ke tanah air. Alvan sangat ingin jumpa anak nomor duanya. Apa mereka bisa seakrab dengan Afifa?
Azzam dan Afifa membantu Citra membongkar tas. Sedangkan Alvan numpang tidur di kamar Azzam. Semalaman Alvan tak bisa tidur di lantai keras. Sudah keras dingin pula. Tulang-tulang serasa mau copot kena uap dingin lantai mesjid.
Kini Alvan dapat kesempatan memanjakan diri tidur di kasur empuk Azzam. Beristirahat sebentar sebelum makan siang jadi pilihan baik.
Afifa bergelayut manja di pundak Citra belum selesai lepas kangen. Azzam lebih tenang perhatikan sang adik dan maminya melipat pakaian bersih. Azzam bangga punya ibu bertalenta dan berbudi luhur. Maminya punya backing kuat namun rela bertugas di tempat jauh. Dalam hati Azzam beri bintang lima pada Citra sang mami pujaan.
"Mi...kapan kita jumpa Cece? Amei rindu banget! Berapa malam ini kami tidak video call." rengek Afifa manja seperti biasa.
"Kenapa?"
"Cece sedang bertanding. Papa tak kasih dia video call."
Citra menghentikan gerakan melipat pakaian. Dasar apa papa angkat Afisa melarang anak-anak berkomunikasi. Apa yang di Beijing tak tahu hal ini justru akan pengaruhi konsentrasi Afisa dalam pertandingan. Anak itu pasti merindukan saudara kembarnya.
"Nanti mami tanya sama mama ya! Amei tak boleh sedih. Mami janji akan bawa kalian jumpa Cece setelah uang kita cukup. Sekarang belajar yang rajin ya biar kita cepat kumpul bersama." Citra mengelus tangan mungil Afifa yang bergelayut di pundaknya.
"Papi ikut kita?" tanya Afifa lugu belum paham situasi.
"Tidak...papi sibuk tak bisa temani kita! Siapa mengurus kantor papi bila dia ikut. Amei harus biasakan diri tanpa papi. Kita berkumpul sama Cece kayak dulu lagi." Azzam menyahut mematikan hasrat Afifa mengajak Alvan masuk dalam daftar keluarga.
Citra tertegun lihat betapa tegas Azzam menolak Alvan. Citra tak menyangka Azzam menyimpan dendam pada bapak sendiri. Citra tak mengharap anaknya menyimpan perasaan tak enak pada bapak sendiri. Kalaupun Azzam tak terima Alvan tapi dia tak boleh membenci papi kandungnya.
Citra wajib membantu Azzam keluar dari rasa dendam berkepanjangan. Kalaupun mereka tidak bisa bersatu namun Azzam harus terima fakta Alvan bapaknya. Sebagai anak wajib hormati orang tua.
"Ko... jangan omong gitu ya! Amei belum paham. Koko dan Amei bersihkan meja! Sebentar lagi kita makan. Kak Tokcer sedang jemput makanan di restoran." Citra mengalihkan topik agar Azzam tak meracuni Afifa dengan kebencian dari hatinya. Afifa gadis kecil lugu tak ngerti konflik orang tua mereka di masa lalu. Afifa hanya bahagia punya orang tua lengkap. Memang itu impian Afifa dari kecil.
Azzam menunduk paham Citra kesal Azzam intervensi perasaan Afifa. Padahal niat Azzam hanya ingin melindungi maminya dari kenangan buruk di masa lalu. Kalau Alvan pria baik-baik tentu takkan buang isteri demi wanita lain. Itu saja kunci rasa tak suka Azzam.
Citra menatapi punggung kedua anaknya dengan hati gundah. Citra makin dilema hadapi situasi begini. Alvan mendesak maju sedang Citra dilanda keraguan. Merajut benang yang terputus atau menerima benang merah lain.
Citra tak jadi soal hidup bersama siapapun. Yang penting bisa menerima segala kekurangannya serta menerima ketiga anaknya. Sering terjadi miskomunikasi antara pasangan suami isteri gara-gara anak. Menikahi pasangan tapi tak menerima anak dari pasangan. Perang dingin tak dapat dihindari.
Itu yang buat Citra berpikir sepuluh kali untuk membangun rumah tangga baru. Kalau Citra mau sudah dari dulu Citra menikah di Beijing. Baik dari penduduk lokal maupun pejabat dari KBRI di Tiongkok.
Masalah anak jadi kendala buat Citra. Kebahagiaan anak-anak segalanya bagi Citra. Kebahagiaan anak adalah kebahagiaan utama Citra.
Pikiran Citra jadi simpang siur tak terkendali. Citra tidak munafik mulai nyaman kehadiran Alvan di antara anak-anak. Soal kasih sayang Alvan tidak perlu diragukan. Alvan seratus persen sayang pada darah dagingnya. Ini kesempatan Alvan punya keturunan, sekali terlewatkan selamanya keluarga Alvan tak ada pewaris.
"Mami...kok melamun?"
__ADS_1
Citra mendongak. Sosok tinggi besar berdiri di pintu kamarnya yang memang terbuka. Alvan berdiri santai menyandar pada kusen pintu perhatikan wanitanya melamun dari tadi. Citra melamun sampai tak tahu ada sosok besar memotret dirinya pakai mata. Hasilnya tersimpan di album hati. Hanya mata hati Alvan bisa lihat hasil potretan.