ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Kilas Balik


__ADS_3

Amang sudah tak bisa berbuat apa-apa untuk naikkan harga Bu Dewi di depan ketiga anak Citra. Mereka sopan tapi meninggalkan tanda tanya besar dalam benak lawan bicara. Amang lihat kunci utama berada di tangan Azzam. Ntah makanan apa diberikan Citra sampai otak ketiga anak ini lancar bak jalan tol bebas hambatan.


"Kakek...kami tinggal dulu ya! Ada yang mau kami obrolkan. Maklumlah lama-lama jumpa sekali." Azzam minta pamitan sama Amang.


Amang terpaksa iyakan cuma dalam hati Amang bertanya. Seumuran gini anak-anak mau ngobrol apa? Masalah keluarga, politik atau obrolan mengenai permainan game terbaru. Kepala Amang pusing mengingat kehebatan ketiga anak-anak ini.


Azzam menggandeng kedua adiknya di tangan kiri dan kanan. Amang sangat takjub melihat keakraban ketika anak itu. Tak ada tanda-tanda ketiga anak itu saling berebutan ataupun saling menjatuhkan. Mereka sangat akur dan saling menyayangi. Rezeki Alvan mendapat anak-anak model beginian.


Azzam membawa kedua adiknya naik ke lantai atas untuk membicarakan sesuatu yang ajam anggap harus didiskusikan bersama.


Di sudut lain seorang pemuda tanggung sedang bermuram durja. Makhluk berambut pirang yang selalu menjadi musuh bebuyutan kembali hadir di depan hidungnya. Kalau bukan keluarganya sedang melakukan syukuran ingin sekali Gibran melabrak Thomas untuk menjauhi Afisa. Gibran menganggap Thomas sudah melangkah terlalu jauh menguasai hidup Afisa. Kemanapun Afisa pergi si bule tetap mengikut.


Untuk sementara Gibran hanya bisa mengurut dada meredakan emosi yang naik ke ubun-ubun kepala. Dia harus mencari waktu untuk ngobrol dengan Thomas mengenai masalah ini. Gibran akan mencari waktu yang baik untuk bicara dengan Si bule itu.


Di tingkat dua rumah Citra, Azzam ajak kedua adiknya diskusi tentang rencana Alvan bawa mereka pindah ke rumah lain. Azzam mengharapkan pendapat Afisa. Kalau terhadap Afifa harapan dapat solusi bagus sangat tipis. Apalagi anak itu dekat banget sama Bu Sobirin. Untuk memisahkan mereka tak segampang balik telapak tangan.


Afisa dan Afifa duduk manis menanti apa kata komandan mereka. Afifa naik ke ranjang Azzam sedang Afisa duduk di sofa malas Azzam. Sang pemimpin duduk di kursi meja belajar menatap kedua adiknya bergantian. Ditatap begini mau tak mau Afifa dan Afisa sedikit merasa takut. Apa mereka berbuat salah memicu rasa kesal di hati abang mereka itu.


"Isshhh...Koko ini bikin film horor ya? Kok tegang gitu?" protes Afifa mulai tak nyaman didudukkan seperti terdakwa.


Azzam menarik nafas dalam-dalam baru mengeluarkan isi hati.


"Sekarang kita ini punya tanggung jawab lebih besar. Kita bukan hanya harus jaga papi dan mami tapi ada adik kecil kita. Apapun kita lakukan haruslah ke depankan kebahagiaan keluarga."


"To the point ko! Plin plan bukan gaya Koko! Ada apa? Siapa mau sakiti keluarga kita lagi?" tukas Afisa tegas sesuai karakternya yang panas.


"Tak ada yang mau sakiti kita tapi memisahkan kita dari adik-adik kita. Opa Heru ingin adopsi dua adik kita. Papi bingung harus bagaimana?"


Afisa terhenyak sampai terbangun dari sofa malas Azzam. Wajah Afisa berubah warna kurang suka ada berita ini. Dasar apa adik mereka harus diadopsi. Orang tua mereka masih mampu besarkan anak-anak tanpa kekurangan malah berlebihan.


"Gila...lalu apa papi dan mami ijinkan?"


"Ya tidak dong! Papi mau ajak kita pindah dari sini. Kalau bertahan di sini lama kelamaan adik-adik bisa pindah tangan. Topiknya gimana minta ijin pada Oma Uyut kita harus pindah? Kita tak boleh lukai hati Oma Uyut yang baik."


"Itu Erce setuju...adik kita tak boleh kurang satupun! Tapi jangan sekarang. Tunggu satu dua bulan lagi setelah adik agak besar. Sekarang adik masih kecil, kasihan mami tak ada yang bantu. Erce yang akan bilang pada Oma Uyut kita mesti pindah."


Azzam dan Afisa mengarahkan mata pada Afifa. Tumben hari ini otak adik kecil mereka sedikit cas. Biasa paling tak mau tahu semua kesulitan orang tua. Berbuat semau dia saja.


"Emang kamu mau omong apa supaya Uyut tidak sedih?"


"Begini...Erce akan mengeluh kalau rumah ini makin kecil dengan kehadiran adik-adik. Tak ada ruang buat adik-adik bergerak bebas."


"Kurang greget...lokasi demikian lapang. Ini alasan kurang akurat!" potong Afisa tidak setuju usulan Afifa.

__ADS_1


"Lalu apa? Bilang takut kehilangan adik? Ini gaya orang bar-bar." Afifa berpelukan tangan sendiri pasang muka masam.


"Bukan itu Erce sayang. Lebih baik kita jujur kalau papi ingin beri rumah lebih lapang untuk anak sendiri. Papi seorang lelaki tak mungkin numpang pada mami. Papi punya harga sendiri. Dia juga ingin anak isteri rasakan rumah hasil keringat sendiri. Itu saja! Ini menyangkut harga diri." ujar Afisa bijak.


Azzam termakan omongan Afisa. Bagusnya memang jujur kalau Alvan sudah malu numpang hidup pada keluarga Perkasa. Dia mampu beli rumah lebih besar untuk anak isteri mengapa numpang di kerajaan Perkasa.


"Cece benar...jangan biarkan papi yang omong! Kita sebagai anak yang mesti bela harga diri papi. Kita atur waktu baik bicara sama Oma Uyut. Kamu berapa lama di sini?" tanya Azzam pada Afisa.


"Lima hari. Rencana dulu seminggu tapi berhubung ada badai salju penerbangan tertunda."


Azzam teringat pada Thomas yang kini seperti bayangan Afisa. Di mana ada Afisa di situ ada Thomas. Sejujurnya Azzam kurang suka Thomas ganggu kehidupan Afisa. Konsentrasi belajar Afisa bisa buyar bila asyik main dengan si bule.


"Kenapa si bule seperti arwah gentayangan di sekitar kamu?"


Afifa tergelak dengar panggilan Azzam pada Thomas. Orang seganteng itu dibilang arwah gentayangan. Perumpamaan sangat keji.


"Kok Koko ngomong gitu? Dia itu tulus berteman. Setiap saat dukung Cece agar semangat walau jauh dari keluarga." sahut Afisa kurang senang teman akrabnya dianggap arwah.


"Ce..di dunia ini tak ada yang gratis! Dia suka padamu? Kalian pacaran?" todong Azzam tajam buat Afisa terdiam. Dari mana istilah pacaran. Kenal bentuk cinta juga tidak. Apa warna dan baunya juga tak tahu. Afisa hanya nyaman berteman dengan Thomas yang selalu hibur dia di kala kesepian.


"Ngawur...emang Koko tahu gimana orang pacaran? Kenapa Koko tak bilang pacaran sama kak Andi karena kalian dekat. Bahkan sering tidur bareng. Kami murni berteman. Ngobrol di hp kadang jumpa selepas sekolah. Itu saja. Waktu Cece lebih banyak di sekolah dan tempat pelatihan. Lain mau ke mana?" Afisa bela diri tak senang dituduh yang bukan bukan.


"Semoga begitu adanya. Koko tak harap kamu gagal dalam segala hal akibat salah pergaulan. Koko adalah kakak kalian tentu berharap yang terbaik untuk kalian."


"Erce setuju. Erce akan makin rajin belajar agar dapat ranking satu." Afifa angkat tangan tinggi-tinggi utarakan keinginan jadi ikon kebanggan Citra.


"Baguslah kalau kalian sadar! Kalau kalian mau turun ke bawah silahkan saja. Koko mau dalam kamar."


"Koko tidak kecewa karena Cece bukan?" tanya Afisa pelan..


Azzam menggeleng beri ketenangan pada Afisa. Azzam harus mengayomi adik bukan berusaha menjatuhkan.


"Koko bangga pada kalian. Dan kau Amei! Jangan katakan apapun dulu sebelum Koko dan Cece bicara sama Oma Uyut. Jangan bocorkan rencana kita?"


"Isshhh kayak Erce mulut ember saja! Dan jangan panggil Erce dengan sebutan Amei. Sudah ada penerus Erce." ujar Afifa kurang senang statusnya diturunkan ke posisi adik.


"Sori...suka lupa soalnya kamu imut sekali! Kau tetap adik Koko yang cantik. Pergilah gabung agar mami tak cari kalian. Bilang Koko istirahat di atas."


"Iya bos!" Afifa melompat turun dari kasur Azzam meninggalkan sprei kusut. Afisa lebih kalem berjalan anggun keluar dari kamar Azzam sedang Afifa ngekor dari belakang.


Azzam menatap kepergian kedua adiknya seraya menarik nafas lega. Sedikit banyak sudah ada solusi pindah dari rumah Oma Uyut walau tahu ini akan menyakiti hati Oma Uyut. Cepat atau lambat mereka akan pindah. Hanya tunggu waktu saja.


Di lantai bawah Amang masih tak percaya di dunia ini ada anak kecil punya pola pikir kayak orang tua. Kalau bukan ngobrol langsung dengan Azzam dia tak percaya Azzam memang punya kharisma itu. Kharisma yang tak dapat dilukis dengan kalimat. Hanya perasaan yang bisa gambarkan gemuruh tanda K O di hati Amang. Semula Amang pikir cukup bujuk Azzam dan iming hadiah mungkin anak itu akan luluh. Nyatanya terbalik. Bukan Azzam yang luluh malah dia yang luluh tak bisa lawan mulut Azzam.

__ADS_1


Amang melambai pada Alvan agar mendekat. Dia harus lapor hasil pembicaraan dengan Azzam tentang perasaan anak itu pada Oma mereka. Anak itu pintar berkelit tak tunjukkan isi hati sesungguhnya. Bikin orang makin penasaran.


Alvan segera ringankan kaki melangkah ke arah Amang yang masih setia duduk di tempat dia dan Azzam ngobrol tadi.


Alvan tempatkan pantat di samping Amang tanpa pikir apapun. Alvan sedang berbahagia menikmati peran sebagai papi dari tujuh anak. Semua anaknya sudah berkumpul. Ini moments paling dinanti Alvan seumur hidup.


Amang ikut bahagia lihat keponakannya bahagia. Tapi di balik kebahagiaan Alvan terselip duka bagi Bu Dewi. Dia tidak dipandang sebelah mata oleh cucunya. Ini semua karena keegoisan Bu Dewi di masa lampau. Terlalu angkuh dengan status sebagai orang kaya mau tekan Citra.


"Kau hebat nak!" puji Amang tulus.


"Hebat apa? Cuma Tuhan berbaik hati beri aku karunia tak terhingga. Oya aku belum ucapkan terima kasih atas kehadiran Amang. Maaf sudah buat Amang harus pergi jauh."


"Ngomong apa kamu? Kau anggap Amang orang luar? Amang malah bersedih kalau kau tak undang Amang hari ini. Besok Amang sudah harus balik ke Kalimantan. Kamu baik-baik saja jaga keluarga kamu. Kamu beruntung punya anak-anak super pintar dan bijak."


"Amang sudah ngobrol dengan mereka?"


Amang mengangguk tak guna ingkar kalau dia telah kalah telak dari Azzam.


"Apa iya anakmu itu berumur delapan tahun?"


"Kenapa mang? Dia kurang ajar ya? Aku minta maaf bila Azzam berlaku kurang sopan. Aku lengah tak awasi dia sampai berbuat tak sopan." Alvan menjadi tak enak hati menduga Azzam telah mengeluarkan kata tak sedap pada Amang.


"Tidak...dia malah sangat sopan cuma kalimat yang keluar dari mulutnya bikin Amang merinding. Apa lagi berpikir apa iya Azzam anak kecil?"


Alvan bernafas lega dengar Azzam bukan berlaku kurang sopan tapi keluarkan jurus menyudutkan orang yang cari masalah dengannya. Alvan tak heran pada sifat Azzam yang satu ini. Jangankan orang lain, doa sendiri kena pinalti dari anaknya yang satu ini.


"Memang Amang ngobrol apa dengan dia?"


"Apa lagi kalau bukan masalah mama kamu. Amang mau anak-anak kamu dan mama kamu berbaikan. Tak ada gap antara mereka. Amang lihat Azzam belum bisa lepaskan rasa marah pada mama kamu. Amang jadi takut kalau kau bebaskan Kayla akan jadi bumerang bagi kita! Kau akan kehilangan kepercayaan Azzam."


"Alvan tahu itu maka tak serta merta setuju permintaan Amang. Aku juga pasrah pada hubungan Mama dan anak-anak. Mereka tidak melawan tapi bahasa tubuh mereka menolak mama."


"Azzam itu keras dengan dalilnya sendiri. Itu bagus tapi tidak cocok untuk anak seumuran dia. Dia hidup dalam ketakutan tak bisa lindungi orang dia cintai. Amang sarankan kau harus hati-hati kalau ingin berbuat sesuatu. Azzam ada mesin penghancur kamu."


Alvan tidak menampik omongan Amang. Azzam merupakan ancaman kalau Alvan salah jalan lagi. Anak itu tak punya simpanan kata maaf dalam partai besar. Dia sudah maafkan Alvan sekali pasti tak ada kata maaf untuk kedua kali.


"Alvan tahu...sekarang dia kuasai seluruh sistim keamanan kantor! Kalau dia mau hancurkan aku cukup satu jari dia sanggup meruntuhkan Lingga. Alvan juga tak tahu mengapa Tuhan beri Alvan anak seperti Azzam. Mungkin ini teguran untuk kesalahan Alvan yang sangat fatal. Azzam hanya ingin lindungi mami dan adik-adiknya. Dia tak ijinkan siapapun menyentuh orang yang dia sayangi termasuk aku!"


Amang bergidik bayangkan punya anak seperti Azzam. Anak itu seperti bom waktu bisa meledak setiap saat. Punya anak seperti Azzam seperti pisau bermata dua. Kiri kanan bisa melukai orang.


"Amang percaya. Anak itu seperti orang kemaruk ilmu. Dia bicara seperti orang telah kelebihan ilmu. Kamu juga harus kontrol perkembangan jiwanya. Jangan biarkan dia matang sebelum waktunya! Itu tak bagus perkembangan jiwa anak itu."


"Iya mang! Alvan pernah berpikir gitu tapi dia jadi gitu karena keadaan. Dia tak ingin siapapun menyakiti hati Citra. Itu karena aku telah salah pada mereka. Aku abaikan mereka selama bertahun. Citra hidup menderita bersama anak-anak sementara aku huru hara dengan Karin." Alvan mengenang kembali kenangan masa lalu yang kelam.

__ADS_1


__ADS_2