ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Sayang Anak


__ADS_3

"Mana ponselmu?" tanya Alvan intimidasi lewat tatapan mata.


Citra tak ingin beri gambaran buruk pada Afifa lihat kedua orang tuanya bertengkar di depan mata. Afifa baru saja mulai sehat, besar kemungkinan balik sakit akibat tekanan mental. Citra muluskan niat Alvan ambil nomor ponselnya. Paling nanti Citra blokir biar laki ini tak bisa hubungi dia.


Alvan merebut ponsel dari tangan Citra secepat kilat seolah takut Citra beri ah pikiran. Citra biarkan Alvan berbuat semaunya selama Afifa di depan mata. Nanti di belakang baru Citra akan bela diri dari monster raksasa itu. Tunggu saja permainan. Ini semua baru awal dari derita Alvan. Citra punya backing kuat yakni Azzam sang putra perkasa.


Alvan menekan beberapa angka di ponsel Citra. Setelah yakin semua berjalan sesuai rencana Alvan kembalikan ponsel Citra tanpa cacat.


"Awas kalau kau blokir nomorku! Kau akan rasakan akibatnya." ujar Alvan membuat mata Citra membesar dua kali. Dari mana ilmu telepati laki ini. Mengapa dia duluan tahu niat Citra ingin tutup akses telepon Alvan. Setan atau demit nih laki.


Alvan tersenyum puas merasa tebakannya tepat sasaran. Niat busuk Citra cepat teraba oleh insting Alvan. Alvan duluan bikin gebrakan kunci niat jahat Citra. Ntah ancaman apa yang akan dilakukan laki ini. Culik anak-anak atau buat Citra tak bisa cari nafkah besarkan anak.


"Suudzon banget! Pergi kantor sana! Kalau bisa tahun depan baru balik." omel Citra jengah niatnya terbaca Alvan.


"Tahun depan? Lama amat!" seru Afifa tak terima Alvan balik tahun depan. Hati Afifa sedang bersemi punya papi ganteng. Tahun depan baru jumpa lagi bukankah sangat lama. Kalau sekolah sudah naik kelas tiga. Afifa mana sanggup segitu lama jumpa papi gantengnya.


"Mamimu bercanda sayang! Papi mana tega ninggalin kamu. Satu menit saja rindunya bukan main. Papi pergi kantor kerja dulu. Cari duit buat Afifa jalan-jalan naik kereta api. Ok?"


Jelas sekali Afifa keberatan ditinggal Alvan. Tapi Afifa bukan anak bodoh tak ngerti arti kerja. Citra sudah melatih anaknya untuk tahu arti hidup susah. Kerja keras baru bisa hasilkan uang untuk lanjutkan hidup. Bukan bersenang dulu akhirnya hidup nelangsa.


"Papi janji akan balik?" mata Afifa berembun akan ditinggal orang yang dia sebut papi. Alvan tak tega pergi namun tugas di kantor pasti sudah segunung karena sudah dua hari Alvan tak fokus kerja.


Begini terusan kantor pasti berantakan tanpa seorang pemimpin. Masih bagus ada Untung masih sanggup handel Beberapa pekerjaan. Tapi tak semua bisa diselesaikan laki bertubuh gempal itu. Tetap harus ada bos jadi leader ambil keputusan.


"Papi janji...Afifa mau papi bawain apa?"


"Afifa mau..." mata bening itu melirik Citra yang pura-pura tak dengar apa permintaan putrinya. Padahal wanita itu menyimak apa permintaan Afifa.


"Sayang papi mau apa?"


"Papi sini deh! Amei bisikin!"


Alvan menduga ada misi rahasia untuknya. Permintaan Afifa diduga bertentangan dengan ajaran Citra maka gadis kecil tersebut takut maminya ikut dengar. Bibir mungil Afifa berbisik persis di kuping Alvan sebab laki itu dekatkan kuping ke bibir putrinya. Alvan manggut setuju untuk penuhi permintaan Afifa.


Permintaan Afifa hanyalah sekuku bila dibanding pengeluaran Karin. Mungkin ratusan kali lipat. Pengeluaran Karin sebulan bisa capai ratusan juta bahkan pernah milyaran. Alvan tak keberatan asal pengeluarannya jelas. Tapi akhir ini Karin mulai main api. Mungkin Karin sudah siap terbakar. Berani main api di belakang bos Lingga Group.


"Ok...papi janji bawa permintaan Afifa! Cium papi dulu!" Alvan menyodorkan pipi minta dicium Afifa. Dengan senang hati gadis mungil itu laksanakan permintaan Alvan. Alvan tersenyum puas, "Ok...papi pergi dulu! Jaga mami ya! Anak papi kan sudah gede!"


Alvan mengacak rambut Afifa dengan penuh kasih sayang. Afifa tumpuan harapan Alvan untuk menyatukan dia dengan keluarga yang terpencar. Alvan akui semua ini gara ego Alvan sendiri. Terlalu obsesi pada Karin.


"Daa papi. Cepat balik ya!"


Alvan bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Alvan teleponi Untung untuk jemput dia di rumah sakit. Sebelumnya Alvan harus pulang dulu ganti pakaian. Tak mungkin seorang bos memakai pakaian kusut ke kantor yang mentereng.


Sebenarnya Alvan malas pulang jumpa pengkhianat. Cuma Alvan tak bisa mengelak terusan dari Karin. Cepat atau lambat dia harus perjelas kondisi Karin. Terpenting korek keterangan siapa bapak dari kandungan Karin. Itu point penting untuk ambil langkah selanjutnya.

__ADS_1


Alvan pamitan pada Citra harap wanita ini tak menolak kehadirannya siang nanti. Alvan janji akan segera balik bila pekerjaan kantor beres. Citra hanya angguk tipis sebagai jawaban. Dalam hati Citra berharap Alvan sirna dari bumi tak ganggu hidupnya lagi.


Citra malas dirong-rong Karin. Wanita histeris itu tak mungkin berpangku tangan bila tahu Citra hadir kembali dalam hidup Alvan. Segala upaya akan ditempuh untuk singkirkan Citra seperti dulu. Citra sudah kenyang makan trik busuk Karin. Dari dulu sampai sekarang tak ada berubah. Masih pakai lagu lama tekan orang.


Alvan pulang ke rumah disambut Bik Ani pembantu tua. Bik Ani senang Alvan pulang setelah tak ada kabar seharian. Sebenarnya Bik Ani ingin melaporkan beberapa hal namun ditahan sebab lihat Alvan tergesa-gesa masuk kamar cari orang yang telah tujuh tahun jadi nyonya rumah.


Dalam kamar tak ada bayangan Karin. Hanya ada bau parfum Karin masih tersisa dalam kamar. Tempat tidur masih rapi tanda wanita itu tak pulang semalaman. Makin liar tuh wanita omel Alvan dalam batin.


Tak banyak waktu bagi Alvan untuk memikirkan Karin. Hari ini Alvan harus jumpa beberapa investor bersama Selvia salah satu rekan bisnis yang menjabat wakilnya. Selvia gadis high class berotak encer. Sudah dua tahun Selvia bergabung dengan perusahaan Lingga Group karena memegang sedikit saham perusahaan. Selvia gadis cerdas lulusan luar negeri selalu dampingi Alvan dalam bisnis. Sejauh itu Alvan hormati Selvia sebagai rekan bisnis tanpa ada embel-embel kisah asmara.


"Den..." panggil Bik Ani sebelum Alvan pergi lagi. Wajah pembantu tua itu muram tak bahagia. Di wajah mulai keriput itu seakan menyimpan duka mendalam.


Alvan tertegun dipanggil Bik Ani. Ditambah raut wajah bibik tua tak bersinar menambah curiga Alvan telah terjadi sesuatu di rumah ini. Bik Ani sudah seperti keluarga sendiri bagi Alvan. Bibik yang merawat Alvan dari remaja hingga jadi bos besar. Jatuh bangun Alvan semua tak terlewatkan dari mata tua Bik Ani.


"Ya Bik...ada apa?" tanya Alvan sabar.


"Non Karin tak pulang. Dia kan sedang hamil. Kita sudah menunggu cukup lama untuk mendengarkan tangis bayi di rumah. Kenapa nona berubah?"


"Bik...aku akan urus dia! Karin memang sudah kelewatan. Mabukan selagi hamil. Bibik tak usah kuatir! Semua akan baik-baik. Hari ini aku ada meeting penting. Nanti kita bicarakan lagi. Kalau Karin pulang suruh tinggal di rumah. Kalau pergi bilang tak usah balik sini. Bawa pakaian sekalian." ucap Alvan tak main-main.


Mata Bik Ani berkaca-kaca menahan kesedihan. Karin banyak berubah akhir-akhir ini. Apa karena perubahan hormon ibu hamil atau watak asli Karin telah mencuat perlihatkan sosok Karin sesungguhnya. Bik Ani memang tak suka pada Karin. Tapi itu tak wakili isi hati harus ikut benci pada sosok arogan itu. Bagaimanapun Bik Ani telah tujuh tahun layani Karin penuh suka duka. Di balik sifat arogan Karin ada sisi baiknya yakni tidak pelit. Tak jarang wanita itu bagi uang buat Bik Ani dan Iyem.


Alvan menepuk bahu Bik Ani ingin katakan bahwa semua akan kembali normal. Alvan akan tangani kebinalan Karin.


"Bawa non Karin pulang!" seru Bik Ani sebelum Alvan keluar dari rumah.


Alvan masuk ke mobil yang dikemudikan Untung. Kali ini Avan tak boleh absen ke kantor. Sudah cukup banyak pekerjaan tertunda gara Alvan tidak masuk kerja.


Jalan raya macet sana sini. Ratusan kenderaan konvoi menanti pecahnya macet. Suara bising klakson mobil bersahutan memaksa mobil ingin maju ke depan. Jam kerja bergabung jam anak-anak masuk sekolah. Macet kuadrat.


Alvan mendesah kesal harus duduk tak nyaman dalam mobil yang merayap bagai semut. Mobi bergerak terlalu lamban untuk maju. Andai ada kenderaan bisa melayang di udara mungkin kemacetan takkan terjadi lagi. Langit begitu luas mampu menampung ratusan kenderaan terbang. Semoga ke depan ada orang berotak encer mampu ciptakan kenderaan terbang di udara lepas. Berangan tak dikenakan hukuman. Bebas berangan apapun.


"Tung...nanti kamu beli satu hp model terbaru dan satu tablet sepuluh inchi. Merek ternama ya! Sediakan sebelum pulang kantor." Alvan teringat permintaan Afifa.


Afifa berbisik minta dibelikan ponsel pintar agar bisa sering hubungi Afisa. Selama ini mereka harus pakai ponsel Citra untuk video call dengan Afisa. Minta dibelikan sama Citra mereka tak tega karena tahu kehidupan mereka pas-pasan. Azzam dan Afifa tak punya keberanian ungkit hasrat yang terpendam cukup lama. Mereka berdua anak baik terdidik baik.


"Untuk siapa pak biar disesuaikan kebutuhan."


"Untuk Azzam dan Afifa. Belikan Azzam hp canggih. Otak anak itu sangat licin. Kita kasih yang standard sia-sia. Azzam sangat pintar." kata Alvan bangga pada putranya walau untuk sementara ini mereka seperti Tom and Jerry belum akur.


"Azzam? Aku juga tak percaya umurnya baru delapan. Bicaranya kayak kakek saya. Tua banget!" Untung masih terbayang mulut tajam Azzam berbincang sepanjang jalan pulang. Ance mati kutu diserang Azzam.


"Aku juga tak sangka bisa punya anak seperti Azzam."


"Azzam dan Afifa benar anak bapak? Apa tak perlu kita ceking asal usul kedua anak itu?" Untung masih ragu walau tampang Azzam habis mirip Alvan. Dari postur tubuh dan gaya bicara seratus persen klop dengan Alvan.

__ADS_1


"Tidak usah! Mereka anak-anak aku! Aku tak ragu. Citra ingin bawa kabur mereka itu yang jadi pikiran aku! Mereka punya pos di Beijing. Kalau sempat Citra bawa mereka ke sana tamatlah aku!"


"Maksud bapak Citra tak mau bapak akui itu bocah anak bapak?"


"Lebih kurang gitulah! Kalau dia mau peras aku pakai anak tentu tak tunggu hari ini. Dari dulu sudah dia lakukan. Justru dia ingin kaburkan status anak aku biar cepat bawa mereka pergi. Anakku masih ada satu lagi di Beijing. Adik Azzam kakaknya Afifa. Pusing aku!"


"Ya ampun anak bapak kembar tiga? Bapak yakin itu?"


"Yakin...Afisa sebelas dua belas dengan Azzam. Judes berlidah tajam. Hanya Afifa yang lembut. Aku harus bawa Afisa kembali ke tanah air. Anakku harus kumpul jadi satu."


"Aku kok masih ragu. Soalnya Nona Karin tujuh tahun bersama bapak tapi tak hamil. Bukankah bapak...!!!" Untung tak berani lanjutkan perkataan yang menyangkut harga diri Alvan. Bagaimanapun Alvan bosnya harus dihargai.


"Penyakitku gara kecelakaan empat tahun. Kau jaga rahasia tentang anak-anak dulu. Jangan kasih tahu kedua orang tuaku dan Karin! Aku takut Citra merasa terancam pergi makin jauh."


"Bapak tak takut Citra incar harta bapak?"


"Itu bukan sifat Citra! Dia justru memohon agar aku hilang dari kehidupan mereka. Dia tak mau aku hadir di antara mereka. Aku bapak anak-anak mana mungkin tutup mata lihat mereka tumbuh tanpa kenal bapaknya."


"Semoga begitu adanya." Untung belum percaya seratus persen pada Citra. Bisa saja Citra pura-pura akan pergi lalu tuntut uang untuk kelangsungan hidup anak-anaknya. Gunakan anak peras Alvan.


"Kenapa kau tak percaya Citra? Dari dulu dia tak pernah tuntut harta walau kami pisah. Dia menghilang tanpa kabar."


"Tapi baru jumpa dia minta beli ponsel mahal untuk anak-anak. Itu apa namanya?"


"Citra melarang anaknya main ponsel. Aku yang mau beli untuk mereka. Kalau Citra tahu mungkin bisa kartu merah. Aku tak tahu cara apa bisa mencuri perhatian anak-anak. Citra ketat didik mereka."


Untung merasa bersalah telah berpikiran negatif pada Citra. Seharusnya Untung tahu Citra adalah perempuan baik-baik. Sepuluh tahun lalu Citra tak pernah bertingkah kini juga tak berubah. Citra masih seperti dulu. Tetap low profil.


"Maaf telah buruk sangka pada Citra. Aku akan selidiki kehidupan Citra selama sembilan tahun ini. Bapak tunggu berita dariku."


"Ok...ya Tuhan! Sampai kapan macet akan berakhir?" keluh Alvan hilang kesabaran melihat antrian panjang mobil sepanjang jalan raya. Lebih panjang dari gerbong kereta api.


Ponsel Untung berbunyi. Laki gempal itu tak berani angkat ponsel di jalan raya karena beresiko tinggi apalagi bersama bos yang dijaga keselamatan. Untung diamkan tak berniat angkat.


"Siapa? Dari kantor?"


"Dari nona Karin pak!" Untung meringis sudah bisa tebak apa yang telah terjadi.


Sama halnya dengan Untung. Alvan juga meraba ke mana tujuan Karin telepon Untung. Wanita itu tentu tak berani teleponi Alvan secara langsung. Wanita itu sedang kumpul dosa untuk mohon pengampunan Alvan dalam satu rengekan.


"Angkat. Katakan aku sudah di kantor. Suruh dia ke kantor kalau mau."


"Gimana kalau nona minta kartunya dibuka blokir?"


"Kau ini bodoh atau tolol? Katakan itu bukan wewenang kamu. Suruh urus sendiri. Suruh ke kantor tapi jangan kau bayar biaya sewa hotel. Biar dia kapok."

__ADS_1


__ADS_2