ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Karin Penyebar Penyakit


__ADS_3

Alvan teringat tiga bocah yang mengalir darah Lingga. Bagaimana masa depan bocah-bocah itu bila kelak Alvan tak bisa dampingi mereka hingga tumbuh dewasa. Orang yang mengidap penyakit Aids selalu berakhir kematian dini. Alvan belum rela tinggalkan anak-anak yang masih bayi di mata Alvan. Mereka sedang mengalami proses pertumbuhan. Butuh dukungan kedua orang tuanya.


Alvan membayangkan Citra kawin lagi dengan laki lain. Anaknya bakal punya bapak tiri. Apa bapak tiri akan menyayangi anak-anaknya? Banyak kasus bapak tiri menyiksa anak-anak hingga tewas.


Satu malam Alvan gunakan bermonolog mengenai kemungkinan dia terjangkit virus dari Karin. Wanita yang perjuangkan selama ini. Balasan Karin melukai satu keluarga Lingga. Air susu dibalas air tuba.


Matahari bersinar redup tanda akan hujan. Mendung tebal bergelayut di langit bersiap curahkan jutaan jarum air hujam ke bumi. Alam saja ikut merasakan duka di hati Alvan. Turut berdukacita atas apa yang menimpa Alvan satu keluarga.


Alvan bangun dengan malas. Rasanya Alvan malas berjuang lagi mencapai kehidupan lebih baik. Keluarganya akan segera punah. Buat apa capek-capek mengais rezeki toh terakhir jalannya telah buntu.


Ogahan Alvan mandi cuci segala kesialan. Semoga hari ini Alvan bisa jumpa Citra dan anak-anak nakalnya. Alvan rindu pada Afifa yang manja, Azzam yang judes dan Citra yang imut. Alvan merindukan mereka padahal baru pisah satu hari.


Mengingat anak-anak Alvan segera berbenah ingin jumpa anak-anak sekaligus diskusi soal penyakit Karin dengan Citra. Citra adalah dokter pasti ngerti cara menangani penyakit mematikan itu.


Bik Ani kaget melihat Alvan muncul tiba-tiba. Bik Ani mengira Alvan di rumah sakit bersama Karin. Pembantu tua ini tidak tahu bencana sedang menimpa keluarga ini. Beliau hanya tahu Karin sakit demam.


"Pak Alvan???" Bik Ani terkesima melihat Alvan muncul bak hantu di siang bolong. Sosok tinggi besar itu sudah berada di depan Bik Ani. Soal penampilan tak usah diragukan. Tetap keren walau ada noda kesedihan di wajah.


"Bik...aku pulang sudah malam. Anak Karin sudah tak ada. Meninggal dalam perut." Alvan jelaskan agar bibik tak gagal paham.


"Sudah kubilang sama nona Karin agar jaga kandungan. Tiap malam pergi, pulang mabuk. Kasihan dedek bayinya!" keluh Bik Ani sedih.


"Itu takdirnya. Artinya anak itu bukan rezeki kita. Aku pergi lihat Karin dulu. Bibik jaga rumah ya!"


"Iya pak! Bilang sama nona Karin tak perlu bersedih. Nanti diganti yang sehat sama Allah."


Alvan mengangguk pasrah. Tak ada lain laki lagi buat Karin. Jalan Karin punya anak tertutup sudah. Dia memiliki riwayat HIV, siapa berani berhubungan dengan wanita itu. Alvan sendiri punya kekurangan dalam hal reproduksi. Kapan akan terjadi keajaiban dalam keluarga ini? Karin sendiri hancurkan bahtera rumah tangga mereka. Siapapun tak bisa disalahkan dalam persoalan ini. Yang salah nafsu angkara penguasa orang beriman tipis.


Alvan gunakan mobil lain karena mobil yang biasa dia gunakan masih dibawa Untung. Alvan tak ingin merepotkan Untung karena hari ini hari Minggu. Si gendut itu berhak dapat hari libur untuk memulihkan tenaga buat siap tempur Senin nanti. Satu gunung tugas telah menanti Untung bila hari kerja. Bersenanglah selagi ada kesempatan berlibur.


Alvan jalankan mobil menuju rumah sakit. Alvan tetap harus bertanggung jawab pada Karin walau wanita itu telah melukai hatinya. Alvan tak mau dianggap bajingan menganut sistim habis manis sepah dibuang. Karin telah menemani dia selama sepuluh tahun, jatuh bangun Alvan bersama wanita itu. Paling tidak masih ada sisa kenangan baik di benak Alvan.


Alvan tiba di rumah sakit mencari info di mana Karin dirawat. Mengapa akhir-akhir ini Alvan rajin hilir mudik rumah sakit. Kalau orang tak tahu pikir Alvan sedang datang ngecek perkembangan rumah sakit keluarganya. Tak biasa bos besar datang sendiri ke rumah sakit.


Sudah berapa hari ini seliweran di rumah sakit menimbulkan pertanyaan besar. Orang mana tahu rambut kepala Alvan rontok satu persatu alamat botak klimis. Berapa hari lalu buah hati sakit, hari ini datang menjenguk penyakit hati.


Alvan tak buang waktu langsung ke kamar rawat Karin. Bukan kamar super VIP seperti yang ditempati Afifa. Tapi kamar rawat Karin cukup memadai. Namanya saja kamar VIP walau tanpa embel super.


Alvan masuk tanpa ketok pintu. Penghuni kamar terdiri dua orang, satu pasien satunya lagi Iyem main hp membuang rasa jenuh. Karin asyik tidur tidak ganggu Iyem. Iyem santainya nonton film di YouTube. Iyem tak beda dengan anak gadis umumnya suka film Korea yang membuat penonton emosi karena kisah cinta menarik.

__ADS_1


Iyem meloncat bangun melihat bosnya datang. Gadis ini segera merapikan diri mau menonjolkan body language pada Alvan. Dengan kata lain Iyem sedang mencari perhatian bos.


Mata Alvan tertuju pada Karin yang menutup mata. Ntah sedang menyesali diri atau tertidur akibat obat.


"Apa dia sudah bangun?"


"Ada bangun sebentar tapi tidur lagi. Nona Karin tanya bapak."


"Oh...kau sudah sarapan?"


"Belum pak! Iyem tak berani pergi karena nona Karin tak ada yang jaga." sahut Iyem dengan gaya genit.


"Kau pergi beli di kantin. Terserah mau makan apa! Ini uangnya! Siang nanti makan di kantin ya! Aku ada urusan. Ambil uangnya." Alvan mengeluarkan dompet memberi beberapa lembar duit warna merah pada Iyem. Alvan sengaja ngasih lebih berjaga-jaga kalau Iyem lapar hendak beli makanan selain makanan utama.


Mata Iyem berbinar lihat uang berwarna cerah menggoda iman. Untuk sekedar makan sangat berlebihan. Bisa dipakai beli makanan satu bulan. Dasar rezeki nomplok. Duduk manis jaga orang sakit dapat uang lumayan banyak. Kalau begini Iyem berdoa semoga Karin sering-sering sakit biar dia dapat uang sampingan buat beli pulsa.


"Terima kasih."


"Kalau Karin bangun katakan aku ada datang."


"Bapak tak mau tungguin nona Karin?"


"Aku ada urusan." Alvan melirik Karin sekilas sebelum pergi. Kasihan juga lihat keadaan Karin. Wajah cantik putih mulus lenyap dari edaran mata Alvan. Di tempat tidur terbaring satu sosok berwajah pucat, sedikit menua tanpa make up. Ternyata beginilah wajah asli Karin.


Alvan menahan ayunan kaki. Suara Karin lemah tak bertenaga. Alvan tak mungkin pergi begitu saja di saat Karin butuh support. Sisi kemanusiaan Alvan timbul di sela rasa sakit hati.


"Kau sudah sadar?" tanya Alvan datar tanpa nada mesra.


"Kau puas anakku telah tiada? tanya Karin lirih seolah Hakimi Alvan sedang sukacita Karin kehilangan anak.


"Iyem...pergilah beli sarapan! Sekalian beli roti atau penganan untuk Karin." Alvan mengusir Iyem secara halus. Alvan tak ingin Iyem ikut dengar masalah rumah tangga mereka. Kasus Karin bukan kasus umum hanya sekedar selingkuh. Banyak rentetan peristiwa campur aduk dalam kasus Karin.


Iyem tahu diri segera keluar. Iyem tahu pasangan itu hendak bicara dari hati ke hati. Sebagai orang luar Iyem tak berhak ikut campur.


"Aku tak berdoa yang buruk untukmu. Tangan Tuhan yang bekerja." sahut Alvan setelah Iyem pergi.


"Kalau kau perhatikan sedikit padaku hal ini takkan terjadi. Sekarang kau dapat apa,?" kata Karin ketus anggap Alvan ikut bertanggung jawab atas meninggal bayinya. Karin belum sadar dia sendiri lupa daratan anggap cinta Alvan utuh buatnya.


"Karin...apa kau tak sadar apa yang telah perbuat? Mungkin kamu hidup terlalu nyaman sampai lupa diri. Aku tidak sebejat kamu. Aku tak pernah main gila dengan perempuan manapun. Perhatian apa kau cari? Aku tidak pulang telat, tidak ke klub malam. Kamu yang selalu keluar malam tidak peduli suami. Apa kau masih punya rasa malu?" kata Alvan sambil menahan amarah. Alvan masih coba menahan diri tidak meledak di rumah sakit. Alvan harus jaga wibawa sebagai seorang suami.

__ADS_1


Karin tergugu tak punya dalil membantah kata Alvan. Alvan memang tidak pernah terjun ke kehidupan malam. Sebagian waktu tercurah pada pekerjaan. Belum pernah terdengar Alvan terlibat skandal dengan wanita manapun. Karin tak punya alasan menyalahkan Alvan atas semua kejadian buruk menimpa dirinya.


"Kau asyik kerja. Parahnya kau tak bisa kasih aku anak maka aku terpaksa jebak papa. Dari pada aku hamil anak orang lain kan lebih bagus anak dari garis keturunan Lingga."


Alvan tak percaya pendengaran kupingnya. Karin secara lugas buka borok sendiri tanpa malu. Ke mana perginya Karin yang manis? Alvan tak menemukan sosok Karin yang dulu dia cintai. Di atas kasur hanya terbaring satu sosok berhati setan.


Alvan ingin sekali mencekik leher Karin agar tak keluarkan suara menyakiti orang. Karin tidak sadar memancing rasa marah Alvan. Setelah lewati berbagai kisah tragis masih sanggup semburkan kalimat provokasi seakan Alvan yang salah.


"Aku menyesal menikahi kamu! Kau hanya bawa noktah hitam di keluarga kami. Asal kau tahu aku akan ceraikan kamu. Kau tak berhak menjadi nyonya Alvan. Kau tak lebih sampah."


Karin tertawa ngejek pada keberanian Alvan mengancam akan menceraikan dia. Gaya Karin memandang remeh pada Alvan. Karin punya sesuatu akan membuat Alvan bertekuk lutut padanya. Kartu truf bisa menghancurkan keluarga Lingga dalam satu menit. Karin tak punya cara lain pertahankan posisi nyonya Alvan selain pakai cara kotor.


"Aku sudah hancur, hancur sedikit lagi tak masalah tapi ingat mamamu dan nama besar Lingga. Rekaman jejak perselingkuhan papa ada di tanganku. Kau mau coba?" Karin tertawa ngejek merasa di atas angin. Alvan takkan berani ambil resiko pertaruhkan nama besar Lingga dengan berbuat bodoh. Menceraikan Karin tidak segampang minum air. Kalaupun minum air pastilah air berisi racun.


"Betapa licik kamu. Kau pikir kau sudah berhasil kontrol keluargaku? Kau salah Karin. Hasil test kamu sudah keluar. Kau positif HIV...Kau tertular dari Zaki. Anakmu meninggal karena salahmu sendiri terlalu liar juga karena virus HIV."


Wajah Karin memucat saking kaget. Tak disangka apa yang dibilang Alvan dulu bukan sekedar gertakan sambal terasi. Karin mengira Alvan cemburu pada Zaki sehingga menuduh laki itu mengidap penyakit Aids. Maka itu Karin tidak open apa yang dikatakan Alvan.


"Kau bohong kan?" tanya Karin mulai gemetar. Siapa tak stress dengar kata HIV? Virus mematikan.


"Sayang sekali aku bicara jujur. Silahkan kau test di tempat yang kau anggap bisa dipercaya! Aku tak larang kau mau test sejuta kali. Itu takkan merubah fakta kau kena virus HIV. Sekarang kau puas?"


Karin menutup kuping tak mau dengar penjelasan Alvan. Karin masih anggap Alvan menakuti dia karena kesal pada kesalahannya. Karin bukan wanita gampang menyerah pada keadaan. Hanya sedikit info menyesatkan hendak pukul mental Karin. Karin tidak bodoh mau percaya gitu saja.


"Aku tak percaya pada karangan kamu." seru Karin keras.


"Sudah kubilang mau percaya atau tidak terserah. Kau bisa test di tempat lain. Kau sendiri hancurkan hidupmu! Kau bangga bukan jadi pengidap HIV? Tidak semua orang bisa menyandang gelar pengidap HIV, tak lama lagi akan sandang gelar ODHA. Kau bangga kan?" ejek Alvan merasa tak ada guna baik hati pada Karin. Sudah jatuh di titik rendah masih sok hebat anggap Alvan budak cintanya.


"Kau bajingan..." rutuk Karin emosi. Karin meraih ponselnya lalu lempar ke arah Alvan. Emosi Karin meluap tak terima divonis pengidap penyakit Aids.


Alvan miringkan badan hindari serangan mendadak dari Karin. Benda pipih itu tak mengenai Alvan terjatuh di lantai timbulkan suara debug. Ntah hancur atau tidak Alvan tak ingin periksa. Setiap barang yang disentuh Karin serasa mengandung virus HIV. Padahal tidak demikian faktanya. Virus HIV takkan menular kalau hanya sekedar menyentuh tubuh penderita maupun menyentuh barang milik penderita. Selama tidak berhubungan intim serta saling menempel luka tak mungkin tertular.


"Aku takkan pulang ke rumah di mana adanya kamu. Aku tak mau jadi korban kamu. Sekarang kau istirahat dan patuhi semua saran dokter. Mulai detik ini kau harus rajin konsumsi obat HIV agar umur kamu tak cepat tamat."


"Dasar laki setan! Kudoain kau yang kena virus HIV. Cepat mati kamu biar seluruh warisan jatuh ke tanganku. Aku akan hidup bersama papamu kalau kau mati. Mamamu akan tersingkirkan." seru Karin makin menggila. Alvan menggeleng tak percaya wanita di depannya adalah Karin yang dia cintai. Karin berubah jadi monster mengerikan. Alvan hampir tak kenal wanita di depan matanya.


"Doa orang busuk takkan dijabar Allah! Herannya kau sudah salah masih ngotot. Harusnya kau tobat. Allah sudah marah pada nafsu bejatmu. Kasih cobaan berlapis-lapis. Bukannya sadar tapi malah lempar kesalahan pada orang lain. Sadar kau Karin! Kini hidupmu nyaris tamat."


"Itu Karanganmu! Kau iri pada Zaki. Dia masih muda dan gagah. Kau cemburu kan?"

__ADS_1


"Kasihan kau Karin! Kisah cintamu telah tamat. Coba kau berenung setelah lalui cobaan ini! Mau bertobat atau tidak tergantung pada panggilan hati kecilmu. Aku tak bisa membantumu lagi bila sangkut penyakit mematikan ini. Aku sendiri tak luput dari incaran HIV termasuk papa. Mungkin kau puas telah berhasil memutuskan keturunan Lingga."


Karin terdiam tak mampu bersuara. Alvan telah berkata jujur mengenai HIV di antara mereka.


__ADS_2