ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Citra Tersinggung


__ADS_3

Citra berusaha bersabar hadapi orang tua. Bu Dewi kok berubah jadi sebel padahal dia itu orangnya paling keibuan. Selalu meminta Citra sabar hadapi Alvan.


"Mama hanya ingin cucu mama hidup normal seperti anak lain. Tidak seperti Azzam tampak licik dan kejam."


Citra melirik Alvan mulai gerah Bu Dewi kritik Azzam tidak pada tempatnya. Azzam termasuk anak manis walau mulutnya tajam. Azzam takkan mengusik orang bila tidak duluan diusik.


"Ma...kenapa omong gitu tentang Azzam? Azzam anak pintar...sudahlah! Jangan usik sekolah anak-anak! Biarkan mereka jalani hari nyaman mereka. Mereka hanyalah anak kecil." Alvan ikutan gerah.


Alvan hanya takut Citra tersinggung oleh kata-kata mamanya yang memojokkan Citra. Alvan tak habis pikir mengapa tiba-tiba Bu Dewi senang memojokkan Citra. Andai Citra tersinggung membawa pergi anak-anak maka Alvan tidak akan memaafkan mamanya.


"Citra permisi dulu. Masih ada laporan harus diurus. Papa istirahat ya! Assalamualaikum!" Citra melangkah pergi membawa sejuta kesedihan. Mengapa banyak sekali rintangan antara mereka. Selesai satu muncul lagi satu.


Kebahagiaan yang baru dia reguk bersama Alvan ternyata hanyalah kebahagiaan semu. Kelihatannya mereka memang tidak sepaham membangun keluarga sakinah.


Alvan tersadar Citra pergi dengan wajah muram. Cobaan apa lagi akan hadir di antara mereka. Alvan belum siap kehilangan Citra untuk kedua kali. Alvan bisa gila bila Citra kembali abaikan dia.


"Citra...Citra sayang..." Alvan mengejar isterinya yang melangkah tergesa-gesa tinggalkan ruang VVIP.


Alvan menarik tubuh mungil Citra ke pelukannya. Citra sudah terlalu lelah dijadikan kambing hitam oleh dua keluarga besar kaya raya. Bukan itu tujuan Citra membesarkan ketiga anaknya. Citra hanya ingin hidup tenang tanpa hujatan.


"Andai kita tak bertemu lagi lebih baik pak! Tak ada yang tersakiti." desah Citra berusaha tabah tak ingin tumpahkan air mata lagi.


"Maafkan Mama! Aku juga tak tahu mengapa Mama berubah. Padahal dulu dia bela kamu mati-matian. Aku akan cari tahu. Siapa yang hasut mama untuk benci padamu!"


"Tidak usah pak! Tak baik curiga pada orang tua kita. Aku harus pergi." Citra bergeliat keluar dari rengkuhan Alvan.


Semua orang boleh mengatakan buruk tentang dia tapi jangan sekali-kali mengatakan buruk tentang anak-anaknya. Hati Citra teriris terluka tanpa darah bila ada orang mengatakan sesuatu yang buruk tentang anaknya. Anak-anaknya sudah cukup menderita dibesarkan tanpa pengawasan seorang ayah dan kini harus menerima hinaan dari orang yang mempunyai hubungan darah. Citra tidak dapat menerima kenyataan yang sangat melukai hatinya.


"Citra...kau marah?"


Citra merasa itu pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Menjawab hanya makin melukai hati orang yang bersangkutan. Citra tak ingin membentang jurang antara Alvan dengan mamanya. Itu perbuatan dosa memisahkan seorang anak dan ibu.


"Aku masih banyak kerja. Kita ngobrol nanti lagi."


"Baiklah! Aku jumpai kamu di rumah. Aku urus Karin dulu. Kuharap kau memaafkan sikap mama. Beliau tak sadar apa yang telah dia lakukan pada kamu dan anak-anak. Kalau dia sudah mengenalmu dia akan menyesal."


Citra hanya membalas perkataan Alvan dengan senyum tipis. Bagi Alvan senyuman Citra adalah jawaban terbaik walaupun tanpa kalimat.


Citra pergi diiringi tatapan Alvan yang tengah galau. semoga saja Citra berbesar hati menerima semua kekurangan Bu Dewi. Cobaan apa lagi hadir di hidupnya. Baru saja mereguk manisnya madu, racun sianida tercium di ujung hidung.


Citra segera membereskan peralatan prakteknya lalu jumpai Hans selaku kepala rumah sakit. Ntah apa yang dilaporkan Citra pada Hans lalu dengan tergesa-gesa Citra tinggalkan rumah sakit.


Alvan berhasil membawa Karin pulang ke rumah mereka. Kali ini Karin tidak banyak protes karena telah menyadari kebodohan sendiri. Membuang kesempatan emas jadi nyonya besar memilih hidup dalam kubangan dosa.


Karin merasakan hawa dingin mencekam dalam rumah walau rumah tetap cemerlang dalam balutan warna gold. Semangat dalam rumah memudar seiring terjadinya skandal yang dia buat sendiri.


Bik Ani dan Iyem senang Karin telah di rumah lagi. Mereka tak tahu segalanya telah berubah. Karin bukanlah tokoh utama dalam hidup Alvan lagi. Telah muncul wanita lain yang lebih berhak jadi majikan mereka.


Karin dan Alvan duduk di ruang tamu dengan jarak cukup jauh. Alvan sengaja jauhi Karin sebagai bentuk protes atas pengkhianatan Karin. Di tambah bibit penyakit dalam tubuh Karin membuat Alvan menjaga jarak.

__ADS_1


Karin bukannya tidak menyadari perubahan Alvan tapi apa daya. Nasi telah menjadi bubur. Semua memang murni salah dia.


"Mulai hari ini kau tinggal di sini! Aku akan datang setiap Minggu melihat kondisimu. Kalau perlu sesuatu tinggal hubungi Untung!" kata Alvan dingin penuh kecanggungan.


"Kau akan tinggal bersama Citra?"


Alvan mengangguk tak mau menutupi hubungan baik dengan Citra. Cepat atau lambat Karin akan mengetahui dia telah kembali pada Citra.


Karim mengangguk memahami Alvan telah berbaikan dengan Citra. Memang seharusnya dari dulu mereka berbaikkan karena ada anak diantara mereka. Berkat kelicikan Karin mereka tidak pernah bertemu. Kata orang kalau jodoh takkan kemana lari. Begitulah Citra dan Alvan. Keduanya memang berjodoh berpisah sekian tahun tetap berjumpa lagi.


"Aku maklum... Citra memang pantas mendapatkan yang terbaik. Dia adalah seorang wanita yang sangat mulia. Aku hanya bisa berdoa semoga kalian hidup rukun selamanya."


"Aku tidak akan meninggalkanmu tetapi mohon kamu memaklumi keadaan. Aku hanya bertanggung jawab sebagai seorang suami tetapi tidak akan kontak fisik denganmu lagi. Jodoh kita cukup sekian."


"Aku ngerti kok! Asal masih ada aku di hatimu sudah cukup. Aku mau minta maaf atas semua kesalahan yang telah aku lakukan. Termasuk merancang rencana memisahkan kamu dan Citra. Kata orang tua siapa menabur dia akan menuai. Sekarang aku paham makna kalimat itu. Aku sudah sangat lelah dan akan berhenti. Aku tak tahu sampai kapan aku bisa bertahan dengan penyakit di tubuhku."


Rasa iba tak kelak muncul di dalam hati Alfan. sejahat apapun Karin dia melakukannya untuk melindungi kedudukannya. Karin sadar bahwa wanita yang ada di dalam hati Alvan bukan dia melainkan Citra. Maka itu dia merencanakan segala cara untuk menggagalkan cinta Alvan.


"Jaga kesehatan! Kata Citra kalau kamu pandai menjaga kesehatan semuanya akan baik-baik saja. Dan kumohon kamu janganlah melanjutkan segala kejahatan yang membahayakan orang lain. Bertobatlah sebelum ajal menjemput kita!"


"Iya aku ngerti. Citra telah mengatakan semuanya kepada aku. Aku sangat rela kamu kembali kepada Citra asal bukan dengan Selvia. Selvia itu wanita yang sangat licik. Dia gunakan segala cara untuk tetap berada di sampingmu. Aku sangat tidak berdaya karena hidup dibawa ancaman dia maka membiarkan dia berada di sisimu. Ternyata Tuhan itu sangat adil menunjukkan mana benar dan mana yang salah."


"Aku tahu. Sekarang ngomong apapun tidak ada guna lagi. Jagalah kesehatanmu dan jangan lupa konsumsi obat agar daya tahan tubuhmu tetap terjaga! Oya... di sini ada dua ekor kucing piaraan anakku Azzam!"


"Namanya Azzam ya! Mirip siapa?" Karin tersenyum kecil mengingat Citra bilang anaknya akan memanggil dia bunda.


"Mirip aku...tinggi besar. Ada adiknya Afisa dan Afifa? Mereka kembar tiga."


"Terima kasih mau akui mereka. Kau pasti akan suka pada mereka. Mereka anak baik. Aku akan jumpakan mereka kepadamu! Kau pasti akan suka." cerita Alvan dengan mata berbinar. Alvan tak tahu Karin sedih mengapa bibit Alvan tidak nyangkut di perutnya. Justru berkembang di perut wanita yang digauli satu malam. Inilah permainan nasib.


"Aku tak sabar jumpai mereka!"


"Baiklah! Aku harus kembali ke kantor. Teleponi aku bila terjadi sesuatu!"


"Iya Van...salam untuk anak-anak! Katakan bunda akan rawat kucing mereka."


"Terima kasih! Aku pergi!"


Karin mengantar Alvan sampai ke pintu mobil. Segala kemegahan Karin telah berakhir. Dikasih satu ton emas juga tak ada guna lagi. Hidupnya tinggal menghitung hari.


Alvan balik ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan. Alvan benar-benar kelabakan mengejar beberapa pekerjaan yang tertinggal gara-gara kemelut di keluarga. Citra dan anak-anak paling banyak menyita perhatian Alvan. Alvan harus mengejar ketinggalan agar perusahaan yang telah lama berdiri tidak runtuh di tangannya. Keluarga dan kerja sama penting.


Untunglah Daniel berbaik hati mengembalikan Andi pada perusahaan. Alvan batal makan siang dengan Daniel berhubung harus urus Karin. Hitung-hitung Alvan cukup dikasihani harus menanggung semua beban sendirian. Belum selesai satu muncul cerita baru. Ntah kapan reda badai dalam hidup Alvan.


Ponsel Alvan berbunyi. Dengan ogahan Alvan mengangkat benda tipis di atas meja. Layar hitam menunjukkan nama Tokcer. Ada apa supir urakan itu telepon. Anak itu belum pernah hubungi Alvan secara pribadi. Biasa hanya lalui Andi.


Hati Alvan menjadi tidak enak takut terjadi sesuatu pada anak-anak.


"Halo..."

__ADS_1


"Assalamualaikum pak Alvan! Aku jemput Koko dan Amei bilangnya sudah dijemput kak Citra! Aku susul ke rumah tapi rumahnya terkunci. Kata emak nampak kak Citra pergi bawa dua koper gede."


"Ya Tuhan... anak-anak ikut?"


"Iya...bersama anak-anak naik taksi ntah ke mana!"


"Kau di mana?"


"Di depan rumah kak Citra. Mereka sudah berangkat satu jam lebih."


"Tunggu aku di situ!" kata Alvan langsung menyambar kunci mobil di atas meja. Hati Alvan rasanya mau jatuh dengar Citra menghilang secara mendadak. Ini pasti imbas mamanya mengatai Azzam anak licik.


Anak-anak adalah segalanya buat Citra. Sekata anaknya dihina seperti tombak menikam jantungnya. Citra tidak ijinkan siapapun caci anaknya. Apa lagi yang ucapkan adalah orang terdekat Azzam. Artinya Azzam tak ada harga di mata orang tua Alvan. Untuk apa bertahan di keluarga yang tak inginkan mereka.


Dalam perjalanan ke rumah Citra, Alvan meminta meneleponi Heru kasih kabar kalau Citra hilang mendadak. Kekuatan keluarga Perkasa tidak kalah dengan Lingga. Mereka pasti akan berusaha mencari Citra yang merupakan cucu dari Perkasa.


Tak lupa Alvan hubungi Daniel dan Untung agar bergerak cepat cegat Citra keluar dari kota. Alvan yakin kali ini tak dapat menemukan Citra maka seumur hidup tak mungkin temukan Citra lagi.


Berkali-kali Alvan meneleponi Citra namun ponsel telah non aktif. Separuh jiwa Alvan melayang terbawa Citra dan anak-anak. Kebahagiaan semalam ternyata hanyalah mimpi indah. Alvan tertidur sesaat terbuai mimpi. Terbangun mimpi itu hilang lagi.


Tokcer dan Bonar menunggu Alvan di teras rumah Citra tanpa senyum. Keduanya tak kalah tegang dengan Alvan. Sejauh ini belum pernah mereka melihat Citra berbuat nekat. Wanita itu selalu memaafkan orang tanpa kecuali. Siapa demikian sadis sanggup melukai hati wanita sebaik Citra.


"Sudah ada kabar?" buru Alvan begitu jumpa Tokcer.


Tokcer menggeleng, " Emak Menik saja tak tahu kakak pergi! Dia tampak terburu-buru pergi kata emakku. Bahkan tak sempat balas sapaan emak."


Tokcer dan Bonar kasihan pada Alvan. Usaha makin dekat dengan anak-anak bukannya berhasil malah makin menjauh.


"Coba hubungi Andi! Siapa tahu Citra ada beri pesan padanya!"


"Iya pak!" Tokcer angkat ponsel jadul produk tahun belakang. Bonar hanya ikutan muram tak tahu bagaimana cara hibur Alvan. Kehilangan merupakan hal menyakitkan. Bonar pernah bersedih kehilangan kedua orang tuanya. Bagaimana rasa sedih Bonar mungkin gitulah kesedihan Alvan.


"Halo bro! Urgen nih! Kak Citra ada teleponi elu?"


"Nggak...Azzam yang telepon tadi. Katanya dia titip rumah dan kucingnya di rumah papi. Itu saja! Ada apa bro? Serius amat!"


"Kak Citra pergi bawa adikmu. Tak bisa dihubungi.."


"Yang bener? Nggak mungkin. Azzam dan papinya sudah akur kok! Azzam bilang dia sayang papi dan kasihan pada papinya. Bahkan dia sedang merancang software kelas tinggi untuk protek sistim perusahaan papinya agar jangan dibobol orang."


"Sumpah bro! Kami berada di depan rumah Azzam. Emak tampak kok kak Citra bawa kedua adikmu naik taksi ntah ke mana!"


"What? Biar kuhubungi Azzam. Tunggu kabar dariku!"


Tokcer menutup ponsel dengan kuyu. Tak dapat keterangan apapun dari Andi. Anak itu malah tidak tahu Citra tembak telah membawa pergi anak-anak.


Alvan telah mendengar sendiri percakapan antara Tokcer dengan Andi. Tidak ada keterangan yang bisa dikorek dari Andi. Harapan Alvan kini adalah pada pencatatan untung dan keluarga Heru. Otak Alvan telah blank nggak tahu harus ke mana mencari anak istrinya. Citra tidak memiliki sanak saudara selain keluarga Andi dan sekarang keluarga Perkasa. Apa mungkin Citra nekat membawa lari anak-anak ke luar negeri lagi? Tidak mungkin segampang itu karena Citra belum memiliki visa untuk terbang ke luar negeri. Mengurusnya juga memerlukan waktu beberapa hari.


Tiba-tiba ponsel berbunyi. Tidak usah dilihat tokcer sudah tahu siapa yang menelepon.

__ADS_1


"Halo bro...gimana?"


"Kamu benar Tok! Mereka akan segera kabur ke Jogjakarta. Sekarang mereka masih di stasiun kereta api. Suruh Pak Alvan segera menuju ke sana menjemput mereka pulang Koko akan berusaha menahan maminya agar tidak berangkat. Koko sengaja tidak menghubungi papinya karena tak ingin mengkhianati maminya. Ayo cepat bertindak bro! Kalau mereka sempat kabur ku pancung leher kamu!" ancam Andi tidak sabar.


__ADS_2