ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Bantuan Karin


__ADS_3

Heru ingin sekali lakban mulut tantenya agar diam. Andai Alvan menuntut tantenya habislah cerita! Status Selvia belum jelas kini ibu Selvia cari mati fitnah isteri sah Alvan. Heru tak mungkin bantu Selvia karena tenggelam makin dalam. Padahal Heru berencana minta bantuan Citra bicara dengan Alvan agar beri keringanan pada Selvia. Kini Citra terseret pusaran konflik kantor.


"Dengar semuanya! Pihak kepolisian segera datang! Kalian bisa dipenjara bersama ibu ini. Orang yang kalian demo itu bukan perempuan nakal tapi memang isteri sah pemilik rumah sakit. Hukuman untuk kalian bisa lipat ganda. Demo tanpa surat ijin, fitnah orang tanpa bukti. Ibu susah stress, apa kalian juga mau stress di penjara?" teriak Heru mulai hilang kesabaran.


Pendemo terdiam takut kena sanksi hukum seperti yang disebut Heru.


"Tapi kata ibu ini dokter sini rebut calon suami anaknya."


"Kalian hanya dengar tapi faktanya dokter itu memang isteri sah pemilik rumah sakit ini! Calon suami apa? Ibu ini stress ingin jodohkan anaknya pada pemilik rumah sakit ini sementara dia telah punya isteri. Yang jahat itu siapa? Kalian hanya pendemo dibayar. Cepat bubar kalau tak mau ditangkap polisi!"


"Bapak ini siapa? Kok bela orang jahat?" salah satu pendemo masih penasaran dengan kisah cinta segitiga.


"Aku ini keponakan ibu stress ini! Aku sadar hukum maka minta kalian tinggalkan tempat ini sebelum ditangkap."


"Wow...kabur deh!"


Satu persatu pendemo lari terbirit-birit setelah dengar penjelasan Heru. Artinya Heru lebih mengenal ibu Selvia dari mereka. Mereka telah terima bayaran, anggap telah sukses berdemo walau tak peduli apa hasil demo.


"Hei...jangan pergi! Kita belum menang!" seru ibu Selvia berusaha menahan para pendemo pergi satu persatu.


Heru menggeleng kepala tidak paham apa isi otak tantenya. Berani sekali perempuan tua ini menggalang masa demo di rumah sakit. Ibu Selvia tidak mengetahui risiko kalau Alvan dan Citra menuntut balik. Penjara yang dingin sedang menantinya.


"Tante...kau jangan gila! Kau tidak akan menang melawan kebenaran. Citra itu perempuan baik-baik bukan perempuan nakal yang seperti tante bilang" Heru masih berusaha menyadarkan tantenya dari rasa bersalah. Heru tidak dapat membayangkan tubuh yang ringkih itu harus bersatu dengan anaknya dipenjara. Belum selesai satu muncul satu masalah baru.


Di depan rumah sakit tinggal beberapa pendemo yang Heru kenal sebagai keluarga inti dari sebelah tantenya. Heru tentu saja mengenal baik mereka karena masih termasuk kerabat dia.


"Ya ampun Heru... kau tega sekali pada adikmu Selvia! Selvia sekarang masih di penjara sementara kamu membela orang lain. Di mana hati nuranimu?"


"Tante... Selvia memang adik aku tetapi dia bersalah. Dan tante menambah kesalahannya lagi dengan memfitnah Citra. Citra itu memang istri Alvan yang sah dan anaknya bang Hamka. Lalu di mana kesalahan Citra kepada tante?"


Ibu Selvia menangis sesenggukan mengingat Selvia masih berada di tahanan. Satunya jalan membuat Selvia bebas adalah bikin malu Alvan sehingga mau tak mau dia harus nikahi Selvia.


"Alvan harus menikahi Selvia. tante tidak percaya kalau Citra itu adalah istrinya. Alvan yang tante tahu istrinya Alvan itu hanya Karin wanita murahan yang tidak bisa dihargai."


"Ya Allah Tante... Alvan dan Citra telah mempunyai tiga orang anak. Bukti apa lagi yang harus kami kemukakan pada tante untuk menyatakan Citra memang istrinya Alvan. Karin itu hanyalah istri tidak sah dari Alvan. Nah itu Alvan datang!"


Alvan turun dari mobil didampingi oleh Untung. Di belakang telah hadir mobil dari pihak kepolisian. Alvan bukan sembarangan orang bisa diganggu. Heru merasa lututnya lemas melihat Alvan datang dengan muka tidak bersahabat.


Tamatlah riwayat Ibu Selvia. Tidak gatal cari gatal, beginilah akibatnya!


"Van...aku wakili keluargaku minta maaf telah ciptakan kekacauan ini!" Heru duluan maju sebelum Alvan menyerang ibu Selvia.


Dari dalam Citra melihat kehadiran Alvan segera keluar di bawah lindungan satpam rumah sakit. Nyali Citra kembali terbit atas dukungan Nadine dan Fitri. Ketiga wanita ini keluar dari pintu rumah sakit langsung berhadapan dengan ibu Selvia.

__ADS_1


Tatapan ibu Selvia bak singa ingin merobek tubuh mangsa. Ibu Selvia membenci semua orang yang menghalangi jalan Selvia jatuh ke pelukan Alvan. Di mata ibu Selvia hanya Alvan cocok jadi suami Selvia. Tidak ada calon lain.


"Assalamualaikum..." Citra masih berusaha sopan agar tidak disoroti sebagai wanita bar-bar tidak kenal adat.


"Ngak usah sok alim! Sekarang katakan berapa mau dibayar untuk tinggalkan Alvan untuk anakku!" serang Bu Selvia membuat Citra mundur selangkah. Ibu Selvia sama sekali tidak hargai Alvan dan pihak kepolisian yang datang untuk tengahi masalah.


Alvan bergerak melindungi Citra dari ancaman ibu Selvia. Alvan tak ijinkan siapapun menyakiti isterinya lagi termasuk Bu Dewi. Alvan takkan mundur membela Citra.


"Bu...sadar Bu! Aku ini suami dari dokter Citra. Kami sudah menikah sepuluh tahun lalu. Anak-anak kami sudah besar. Dari mana tuduhan ibu dia perusak rumah tangga orang lain. Yang ada ibu yang merusak kebahagiaan kami!"


"Lantas Selvia bagaimana? Dia sudah dampingi kamu bertahun-tahun." Ibu Selvia kembali mewek.


"Memangnya ada hubungan apa antara aku dan Selvia? Murni hubungan kerja. Seujung rambut belum kusentuh anak ibu karena aku bukan lelaki bejat."


"Bukan lelaki bejat? Lalu siapa Karin? Simpanan kamu? Kamu memang tak tahu malu Alvan. Selvia telah susah payah bantu kamu bangun perusahaan tapi kamu lupa jasanya."


Alvan tidak melupakan jasa Selvia bekerjasama di perusahaan. Tapi itu murni untuk perusahaan, tidak ada hubungan intim.


"Bu...itu menyangkut kerja. Tidak ada sangkut paut dengan asmara. Selvia telah mencuri uang perusahaan untuk tutupi aib tak pernah kubongkar. Sekarang ibu mau cari kesalahan aku?" Alvan naik darah disudutkan Bu Selvia pakai hitungan jasa Selvia. Selvia digaji sesuai kedudukan. Kerja di tempat Alvan bukan gratis.


Citra mencekal Alvan agar tenang. Membuka aib orang di depan umum bukanlah seorang gentleman. Citra tak mau Alvan dihujat orang hanya karena berdebat dengan perempuan tua. Orang takkan menilai siapa salah. Netizen akan lebih fokus kesalahan Alvan berseteru dengan wanita tua.


"Mas...ayok bicara di dalam! Ada om Heru kok!" Citra sengaja pelankan suara agar emosi Alvan tidak meletup. Orang sedang emosi tak boleh diberi minyak. Akan semakin berkobar.


Hans juga datang beri kesempatan pada Ibu Selvia dan Alvan untuk klarifikasi kebenaran cerita yang ada. Hans mengundang seluruh orang bersangkutan untuk masuk ke aula rumah sakit untuk clear kan masalah. Tak baik menyimpan bibit penyakit. Cepat atau lambat akan kumat lagi.


Sebelum masuk ke dalam Karin sampai bersama Iyem. Karin datang dengan tergopoh-gopoh walau belum sehat betul. Karin datang untuk membayar hutang pada Citra agar kelak tak ada yang salah sangka pada Citra lagi.


"Kak Karin? Ngapain datang?" Citra kaget langsung menyambut Karin membimbingnya agar berdiri dekat dengannya.


"Cit...masalah ini menyangkut kita berdua. Aku ingin semua orang tahu kalau kau adalah orang paling berhak berada di sisi Alvan. Dengar kalian semua! Isteri Alvan ada dua yaitu aku dan Citra. Aku di sini adalah penggoda merusak rumah tangga Citra dan Alvan. Kini mereka berdua telah bersatu kembali. Aku bersyukur Citra tidak memusuhi aku dan menganggap aku sebagai kakak. Dan ibu ini klaim anaknya calon istri Alvan. Itu semua karangannya. Selvia itu sudah punya suami yang belum bercerai. Dia adalah Jodi seorang pemabuk. Mereka telah menikah secara agama lima tahun lalu. Ibu ini memaksa Alvan menikahi Selvia adalah untuk tutupi kebusukan Selvia. Aku juga bukan orang baik-baik. Aku akui dulu aku sama jahatnya dengan Selvia. Kini aku sadar bahwa orang baik akan memetik hasil manis." Karin pidato tanpa jeda membuat nafas tersengal. Citra menggeleng tak ijin Karin melanjutkan omongan. Kesehatan Karin belum fit seratus persen. Tidak bisa terlalu lelah.


"Kak...tenang! Ayok masuk dulu! Kita bicara baik-baik!" Citra memegang tangan Karin kencang takut wanita itu tumbang.


Wartawan yang menyaksikan drama live ini bisa menilai bagaimana sosok dokter yang masuk berita teraktual hari ini. Mana ada orang lembut pada madu sendiri. Sikap Citra malah ingin melindungi Karin walau diri sendiri sedang jadi sorotan publik.


Sedikit demi sedikit fakta dari demo terbuka. Ternyata ibu Selvia gunakan emak power untuk pengaruhi warga agar ikut demo. Tentu saja dengan curahan fulus lumayan banyak. Kalau tidak mana ada demo secara suka rela. Mending pulang rumah nonton sinetron kesayangan di tv ataupun gosip bersama para tetangga sambil cari kutu di rambut.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan! Aku Alvan Lingga takkan nikahi wanita manapun lagi. Cukup dua wanita di depanku! Kalaupun ada gosip itu semua hoax." Alvan meredakan emosi melihat kehadiran Karin. Karin telah turun gunung jadi pembela Citra. Alvan mendapat suasana baru dalam rumah tangga. Kedua isterinya bersatu membela dia.


"Van...semua telah jelas! Bagaimana kalau kita sudahi masalah ini? Tante aku sudah tua. Mungkin dia stress gara Selvia di penjara. Bapak polisi biar jadi urusanku!" Heru memohon Alvan tidak perpanjang masalah memandang status Heru sebagai om Citra.


Alvan menatap mata Ibu Selvia yang penuh dendam. Sebenarnya Alvan kasihan juga pada Ibu Selvia tapi caranya salah memaksa kehendak pada orang lain.

__ADS_1


"Terserah Citra saja!" Alvan mengalah kembalikan pokok masalah pada Citra.


Citra mengangguk tak ingin berlarut dalam konflik. Penjelasan Alvan dan Karin sudah wakili Citra bersihkan nama baiknya. Memperpanjang masalah hanya menambah beban di hati. Citra akan merasa berdosa memaksa seorang wanita tua mendekam di penjara.


"Kita sudahi! Yang penting semua sudah jelas. Bawalah ibu ini pulang om Heru! Berilah pengarahan agar tahu bahwa tidak semua orang itu jahat!" kata Citra lembut seraya beri senyum pada Karin. Kalimat Citra itu juga berlaku pada Karin. Citra hanya ingin sampaikan bahwa di dunia ini masih ada kasih sayang tulus.


"Terima kasih Citra! Om akan selesaikan masalah ini! Ingat.. kau juga bagi dari Perkasa!" Heru menepuk bahu Citra lantas mengandeng ibu Selvia menuju ke mobil. Para pendemo yang tersisa tak bisa berbuat banyak selain pulang ke kandang masing-masing.


Suasana langsung tenang. Alvan sangat senang lihat kedua isterinya akur. Laki mana tidak bahagia lihat dua wanita yang mengisi hatinya saling berpegangan tangan perlihatkan tontonan indah.


"Ayok kita ke ruang kerja aku! Oya mas dan mbak media! Terima kasih telah datang! Maafkan kami harus masuk ke dalam!" Citra ijin dengan kesopanan luar biasa. Hujatan apa harus didera ke tubuh Citra. Cantik, baik hati dan mulia.


Alvan biarkan Citra dan Karin melangkah pelan masuk ke dalam rumah sakit. Alvan tak mungkin berada di tempat sama dengan dua wanitanya. Alvan pasti akan salah tingkah satu ruang dengan kedua bininya.


Alvan memilih balik ke kantor tanpa minta permisi pada kedua wanita itu. Citra pasti akan paham mengapa dia pergi begitu saja. Alvan belum bisa menerima semua kesalahan Karin berkhianat sampai membawa bibit penyakit ke dalam rumah.


Hanya Citra yang besar hati menerima semua kesalahan Karin. Baik di masa lalu ataupun masa kini. Di dunia mungkin cuma Citra orangnya bisa berbuat baik pada orang yang pernah hancurkan hidupnya.


Citra mengajak Karin masuk ke ruang prakteknya diikuti pandangan salut orang yang ikut menyaksikan drama keluarga Alvan. Citra memaafkan orang fitnah dia serta merangkul madunya tanpa sungkan. Orang lai tidak tahu Karin adalah pengidap HIV. Bila tersiar keluar makin hancur nama baik Karin.


Citra tidak sempat berpikir jauh selain mengamankan Karin dari hujatan luar. Karin adalah perusak tentu saja datangkan pandangan negatif.


Citra memberi Karin segelas air minum agar tenang. Senyum damai tak pernah lekang dari sudut bibir Citra untuk semangati Karin agar tidak usah rendah hati.


"Minumlah kak!"


"Terima kasih! Kamu jangan menyerah untuk pertahankan Alvan ya! Selvia itu hanya orang gila ingin hidup senang."


"Aku tahu...bukan sekali ini dia buat ulah! Aku mulai terbiasa jadi sasaran empuk para fans suami kakak." kata Citra menggoda Karin.


"Iya suami aku! Lakinya kamu kan?"


Citra dan Karin tertawa damai. Nadine dan Fitri saling berpandangan lihat kejadian langka di mana isteri sah dan madu saling cengkeraman. Baru kali ini Nadine menyaksikan fenomena langka di dunia nyata. Semoga ini bukan sandiwara Citra untuk tutupi kegalauan ditemui madu.


"Kakak mau pulang? Biar kucariin taksi atau minta mas Alvan antar kakak!"


"Apa kakak boleh jumpa anak-anak kalian? Kakak tak sabar ingin kenalan sama anak-anak kamu."


"Boleh tapi mereka pulang jam empat nanti. Masih lumayan lama kak! Atau kakak cek up sekalian biar tahu kondisi kakak."


"Tidak usah...sejak membuat pengakuan padamu dan Alvan hatiku lebih lega. Kalaupun pendek umurku rasanya tak ada beban lagi."


Fitri dan Nadine ikut bersedih lihat nyonya bos mereka muram. Karin lebih terkenal dari Citra sebagai isteri Alvan.

__ADS_1


__ADS_2