ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Deal Pindah


__ADS_3

Bu Sobirin yang beri dia kehormatan seorang putri dari keluarga berada. Wanita itu tidak bergeming walau banyak isu tak sedap tentang Citra. Di mata Bu Sobirin Citra tetap cucunya. Namun Citra juga tak bisa abaikan keinginan suami dan anak. Lebih baik nyimak dulu keinginan ketiga anaknya.


"Apa benar papi sudah siapkan rumah untuk kita?" tanya Afifa ikut campur. Biasanya dia paling ogah campur urusan orang tua. Kini anak itu ikut nimbrung ingat cerita Azzam tentang niat Heru. Afifa tentu takut kehilangan adiknya. Dia baru naik pangkat jadi kakak tiba-tiba dimutasi jadi adik lagi. Afifa mana rela turun pangkat.


"Sudah dari dulu! Papi menunggu waktu tepat untuk boyong kalian tinggal di rumah baru. Sekarang tinggal tunggu keputusan mami." Alvan melirik Citra memberi keputusan.


Semua mata memandang Citra menanti wanita itu mengatakan sesuatu. Kini Citra jadi penentu mereka menetap di mana.


Citra jadi dilema harus berdiri di mana. Citra mencintai semuanya serta tak ingin kehilangan salah satu di antara keluarganya.


"Koko dan Cece tak kasihan pada Oma Uyut?" lirih Citra ungkap isi hati agak berat tinggalkan Omanya.


"Kami sayang dan cinta pada Oma dan opa Uyut juga opa dan Oma. Begitu juga pada om Gi tapi ada satu yang mami lupakan yakni papi. Koko bukan berpihak pada siapapun cuma koko ingin kembalikan harkat papi. Coba mami bayangkan! Papi sudah lama beli rumah tapi tak berani minta mami pindah. Mami harusnya bertanya mengapa?" Azzam pidato sesuai fakta. Azzam bukan tak hargai kasih sayang Bu Sobirin. Azzam bersyukur punya Oma Uyut sangat baik. Di saat semua pojokan Citra Oma Uyut tampil sebagai pahlawan bagi Citra. Azzam tak pungkiri kebaikan Bu Sobirin.


"Itu karena papi sangat sayang dan cinta pada mami. Papi tak tega bikin mami sedih. Papi merendahkan harga diri numpang di tempat isteri. Itu demi mami. Sekarang mami bisa nggak mengembalikan derajat papi di mata masyarakat?" Afisa turut ambil bagian menyadarkan Citra bahwa Alvan sudah cukup mengalah. Papi mereka bukan tak mampu beli rumah tapi untuk menjaga perasaan Citra.


Citra dibuat termenung oleh ulasan kedua anaknya. Kedua anak itu telah dewasa bisa berpikir mana yang betul dan salah. Alvan memang tak sepantasnya menumpang pada Perkasa karena dia mampu. Kalau orang tak mengerti masalah pasti akan mengira Alvan jatuh pailit menumpang pada orang kaya lain.


"Kalian tak pikir perasaan Uyut?" tanya Citra melemah.


"Pikir...kami berpikir keras cari solusi agar semua tetap senang. Begini mami! Setiap malam Minggu kita pulang ke rumah Uyut dan nginap di sana. Hari biasa kita tinggal di rumah papi. Tali silahturahmi tidak putus dan kita berada di puncak masing-masing. Kalau Oma Uyut mau nginap di tempat kita. Alhamdulillah! Itu sudah Koko pikir panjang kali lebar."


Citra dengar dengan kuping sendiri bagaimana Azzam kuliahi orang. Pantas semua orang bilang anaknya kelewat bijak. Kini Citra sudah rasakan jiwa orang tua terjebak dalam diri anaknya.


"Kalian berani omong sama Uyut? Mami tidak tega." Citra buang badan tak mau jadi orang jahat di mata Oma Uyut.


"Omong kok tak berani. Kita kan tidak fitnah atau jelekkan orang lain. Lebih baik jujur baik untuk semua orang ketimbang ada yang bersedih menahan perasaan. Biar Cece yang omong sama Uyut!" Afisa menepuk dada ambil alih tugas jadi juru bicara keluarga.


"Cece mau omong apa? Jangan bikin Uyut sedih lho!"


"Jamin tidak. Cuma tidak juga langsung pindah. Tunggu adik tiga bulan gitu!"


"Kenapa tidak tunggu adik setahun?" tukas Citra masih berharap ada keajaiban beri dia waktu lebih lama bersama Omanya.


"Kelamaan nona Citra...waktu itu sudah tumbuh adik baru lagi." gurau Azzam mulai rasakan ketegangan Citra.


Alvan tertawa geli lihat cara ketiga anaknya hakimi Citra. Ada rasa tak tega lihat Citra dipojokkan ketiga anaknya. Tapi kalau Alvan mengalah lagi tak tahu sampai kapan dia baru bisa pindah. Mumpung ada dukungan dari rakyat Lingga maka waktunya kudeta pada ratu Citra.


"Huusss...omong apa itu? Mami harap kalian sopan pada Oma Uyut dan tak sakiti hati Oma Uyut." Citra menyerahkan semuanya pada ketiga anaknya. Satu lawan empat jauh dari kemungkinan menang. Mendingan ngalah lihat perkembangan.


"Beres nona Citra! Biar Koko dan Cece bicara pada Oma Uyut setelah balik dari liburan. Kami jamin semua akan aman. Berhubung makanan sudah datang kita isi perut dulu. Kasihan Thomas jadi pemirsa yang baik. Nggak ngerti pula." Azzam berkata sambil memberi seulas senyum pada si bule yang dari tadi hanya jadi pemirsa manis. Menonton tanpa komentar.


Thomas membalas senyum Azzam tanpa tahu arti obrolan keluarga ini. Afisa tahu situasi segera menepuk punggung tandan bule itu beri semangat agar tak menyerah mengenal keluarganya.


"Mereka minta maaf ngobrol melupakan kamu!" kata Afisa karang cerita sendiri agar si bule tak kecil hati.

__ADS_1


"Tak apa...semoga obrolan kalian berakhir baik!" jawab Thomas sebagai orang terpelajar. Cara bicara orang terpelajar sungguh beda dengan orang main di kaki lima. Sudah cukup lama diabaikan masih berharap yang terbaik untuk orang lain.


"Hanya obrolan keluarga. Tak ada yang serius." ujar Azzam dalam bahasa Inggris fasih.


Alvan kagum pada cara Citra didik anak. Ketiga anaknya fasih dalam dua bahasa yang saat ini jadi trend mode di dunia. Untuk mengais rezeki di internasional penting sekali mengenal beberapa bahasa. Ketiga anaknya sudah punya modal tiga bahasa. Tinggal pilih bahasa lain untuk menambah wawasan.


Pelayan hidangkan makanan orderan Azzam dan Afisa. Masih berkutat sekitar sea food kesukaan anak-anak. Alvan dan Citra hanya bisa ikuti selera anak-anak mereka. Tujuan mereka adalah menyenangkan anak-anak jadi biarlah mereka yang pilih makanan kesukaan mereka.


Citra nelangsa sedangkan Alvan bahagia telah mendapat dukungan anak-anak melanjutkan peran sebagai papi teraniaya. Anaknya akan bebaskan Alvan dari rasa tak nyaman numpang hidup pada Heru.


Malam ini malam terindah bagi Alvan. Dia memiliki segalanya. Inilah arti hidup bahagia sesungguhnya. Bukan setumpuk harta melainkan kasih sayang dari anak isteri. Alvan sudah punya semua itu. Tinggal meningkatkan rasa sayang itu.


Satu malam berlalu lagi. Pagi akan tetap setia hadir menggantikan tugas di raja malam. Harapan semua makhluk ada sinar cerah mentari awali pagi supaya bisa full aktifitas tanpa gangguan curahan hujan.


Azzam, Afifa dan Gibran pergi sekolah seperti biasanya. Sedangkan Afisa dan Thomas hanya putar sekitar kota lihat keramaian. Bicara jalan-jalan manca negara Afisa sudah jelajahi beberapa negara ikut tanding senam. Ada waktu lihat kota dia kunjungi seusai lomba. Itulah kelebihan atlet internasional. Langkah kaki jadi panjang kunjungi berbagai negara.


Citra ditinggal sendiri dalam rumah bersama anak-anak yang masih bayi. Dari hari ke hari para bayi tumbuh besar. Dari segi bentuk tubuh seratus persen ikut Alvan. Tak ada yang mini model Citra. Mungkin cuma Afifa satunya ikut Citra kecil mungil.


Citra jenguk bayinya yang dikawal dua baby sister. Keduanya perawat bayi itu wajib jaga bayinya dua puluh empat jam. Asal bayi tidur mereka boleh ikut tidur karena mereka jaga malam.


Malam hari bayi agak rewel sebentar-bentar merengek maka Citra beri toleransi sangat besar pada kedua perawat itu.


Perawat dan para bayi tertidur pulas di tempat masing-masing. Keempat bayi berada di baby box yang tersusun rapi berdasarkan cowok dan cewek.


Citra menutup pintu kamar baby perlahan takut ganggu tidur penghuni kamar. Biarlah mereka nikmati tidur berkualitas.


Citra juga tak menyalahkan niat Alvan pindah karena ini bukan rumahnya. Ini rumah Citra dari Perkasa. Alvan pasti terganggu oleh nada sumbang dari kiri kanan. Orang mungkin saja bergunjing tentang kekalahan Alvan hidup dari Perkasa.


"Hei...melamun..." seseorang menepuk bahu Citra.


Citra agak kaget walau cuma sesaat. Afung datang dengan wajah super cerah. Tak perlu ditanya pasti kabar baik.


"Senang amat!"


Afung duduk di samping Citra penuh senyum manis terpahat di wajah.


"Aku dan om kamu sudah jumpa dokter Hans. Aku positif hamil." Afung mengguncang tangan Citra suka cita. Ini kabar sangat membahagiakan seisi rumah.


Argumentasi Afung mandul telah terbantahkan. Terbukti adanya Heru junior di perut Afung. Wanita ini harus pamer hal ini pada Meng Si yang ada gilanya itu.


"Selamat ya Tante.." Citra memeluk Afung ikut senang.


"Aku merasa janggal kau panggil Tante. Panggil Afung saja deh! Rasanya lebih akrab."


"Sudah berapa bulan?"

__ADS_1


"Delapan Minggu..sekitar dua bulan cuma anakku tidak kembar. Isinya cuma satu. Padahal aku bermimpi mau saingan dengan kamu melahirkan banyak anak."


"Rezeki orang berbeda-beda lho! Mulai sekarang kurangi aktifitas. Duduk manis sampai janinnya kuat. Kurangi makan pedas dan asam dulu ya! Orang hamil memang suka asam tapi usaha kurangi."


"Iya...Heru malahan bilang aku tak boleh jalan ke sana kemari. Disuruh tiduran terus."


"Om ada saja. Jalan malah sehat. Cuma jaga kondisi. Sekarang kamu pingin apa?" Citra antusias layani ibu hamil muda. Biasanya bumil muda banyak keinginan.


"Tak ada cuma bawaan haus saja."


"Minum air hangat! Jangan minum air dingin! Tak baik untuk janin. Sudah kasih kabar ke Beijing?"


"Belum...rencana malam nanti. Mereka senang nggak ya?"


"Ya senang dong! Macam saja kamu ini. Rencana melahirkan di mana? Pulang Beijing atau lahiran di sini?"


"Dengar apa kata om kamu saja! Oya...Cece kapan balik ke Beijing?"


"Mungkin dua tiga hari ini. Ada apa? Mau ikut pulang sana?"


"Bukan...mau kirim kerupuk emping. Mama aku suka kerupuk itu. Aku sudah minta ijin pada Heru beli kerupuk kirim ke Beijing." ujar Afung antusias beri oleh-oleh keluarga di sana.


Citra puji sikap bijak Afung tidak melakukan hal tanpa sepengetahuan suami. Nilai kerupuk memang tak seberapa tapi niatnya jujur pada suami adalah sikap terpuji. Dengan begini tak ada salah paham karena saling terbuka.


"Packing bagus saja karena kita tak tahu persis kapan dia berangkat. Sekali lagi selamat ya Afung! Jaga baik-baik adik aku!"


Afung tertawa merasa lucu Citra menyebut anaknya dengan sebutan adik. Perbedaan jarak usia teramat jauh. Beda jarak hampir tiga puluh tahun, tepatnya dua puluh sembilan tahun. Posisi anaknya tetaplah adik bagi Citra dan om atau Tante bagi anak-anak Citra.


"Kakaknya tua amat!"


"Bagaimana pula? Statusnya memang begitu. Hari ini kita makan apa? Ada pingin rujak segar?"


"Apa enak?"


"Enak banget...nanti pesan om Heru cari makanan khusus ibu hamil ini. Semua ibu hamil suka makanan dari aneka buah itu. Asam manis! Kau pasti suka!"


Afung mengangguk walau belum tahu persis makanan yang disebut Citra. Masih banyak yang harus Afung pelajari tentang budaya lokal. Afung harus adaptasi dengan suasana baru yang mungkin akan asing baginya. Itulah resiko menikah dengan orang beda kultur.


Selanjutnya mereka ngobrol tentang ibu hamil dan semua pantangan agar anak terlahir sehat. Citra sudah dua kali melahirkan dan juga seorang dokter. Dari pengalaman serta pengetahuan Citra bisa bimbing Afung untuk menjaga kesehatan sampai waktu melahirkan apalagi Afung punya riwayat trauma rahim. Lebih ekstra hati-hati.


Keesokan harinya Azzam cs pergi liburan ke pegunungan di bawah pengawasan Untung dan Nadine. Alvan tak bisa tinggalkan kantor sedang Citra terikat oleh empat bocah mungil butuh ASI dari ibunya. Otomatis anak-anak diserahkan pada Untung sebagai penanggung jawab.


Mereka berangkat dengan dua mobil minus Gibran. Gibran pilih tak ikut alasan masih sekolah. Sekolah Azzam sampai hari Jumat sedang sekolah Gibran sampai Sabtu. Gibran auto tak bisa ikut. Padahal itu bukan pokok masalah melainkan Gibran malas lihat Afisa dekat dengan Thomas. Thomas dan Afisa seperti amplop dengan perangko. Lengket terus saling membutuhkan. Pemandangan ini bikin Gibran tak bisa menahan amarah maka dia pilih tidak lihat.


Sementara itu Alvan ngebut siapkan rumah untuk anak isteri agar bisa pindah secepat mungkin. Alvan sudah dapat lampu hijau untuk laksanakan niat besar di hati. Berkat bantuan Daniel pekerjaan lebih cepat kelar. Seniman gagal itu berusaha semaksimal mungkin bantu temannya wujudkan harapan merdeka dari lingkungan bikin harganya terbanting sampai dasar jurang. Kekayaan Alvan jauh di atas Perkasa tapi harus tunduk pada keluarga itu demi menyenangkan isteri.

__ADS_1


Kini waktunya cabut dari lingkungan itu. Yang utama Azzam sudah setuju artinya semua jadi lebih gampang. Tinggal tunggu kiprah kedua anaknya bujuk Oma Uyut bebaskan mereka. Tunggu tanggal main saja.


__ADS_2