
Dari mana Alvan pungut satpam model pak Raden yang mulai langka. Jaman kumis melintang bak jawara jaman purba tidak musim lagi. Sekarang orang lebih senang melihat tampang klimis bersih.
"Halo pak satpam ganteng..." sapa tokcer cengengesan.
Pak Satpam langsung siap memberi hormat pada Tokcer dengan meletakkan kepala di atas jidat.
"Siap Tuan..." jawab satpam sambil melirik jam tangan.
"Tuan apa? Aku ini supir baru pak Alvan...panggil aku Tokcer!"
"Wuih..kirain saudara jauh yang dekat!"
Pusing kepala Tokcer dengar jawaban satpam itu. Apa maksud saudara jauh dekat. Saudara model apa itu?
"Emang ada saudara jauh yang dekat?"
"Ya ada ..ngaku saudara biar bisa dekati pak Alvan. Banyak yang gitu! Sampai pusing aku ladeni orang kayak gitu!"
"Oh gitu ya! Gini lho pak Raden...bapak dipanggil pak Alvan untuk pindahkan barang!"
"Apa? Kok nggak bilang dari tadi? Wah ..sudah buang waktu hampir sepuluh menit!"
"Emang kenapa?" Tokcer makin bingung pada satpam aneh ini.
"Lihat...dari kamu datang sudah lewat waktu sepuluh menit artinya kita mengabaikan perintah bos sepuluh menit!" pak Raden kw dua menyodorkan jam tangan ke wajah Tokcer.
Kini Tokcer paham kalau orang di depannya adalah orang pencinta kedisiplinan. Setiap detik waktu adalah harga mati. Satu lagi pelajaran di petik Tokcer bila ingin betah kerja di tempat Alvan.
"Ayok kita laksanakan perintah!" ajak satpam tak ingin ketinggalan waktu.
Satpam itu segera berlari kecil menuju ke rumah Alvan. Tokcer ikut dari belakang mengagumi kesetiaan satpam tersebut. Dia rumah harus belajar banyak dari satpam.
Alvan dan para pegawainya sibuk membersihkan tempat untuk kucing Azzam. Alvan ingin memberi yang terbaik pada Azzam. Inilah saatnya mencuri perhatian putra satu-satunya di keluarga.
Sementara di ruang tamu Bik Ani menemani Afifa dan Azzam mengelilingi rumah yang super mewah itu. Afifa tak henti-henti mengagumi dekorasi rumah yang sangat indah. Jauh berbeda dengan rumah yang dia tempati dengan maminya.
Bik Ani dengan senang hati menemani kedua bocah yang disinyalir mempunyai hubungan dengan Alvan. Bik Ani belum terlalu pikun untuk melihat fakta kalau Azzam dan Alvan memiliki kemiripan nyaris 80%.
"Ko.. rumah papi sangat indah ya! Apa kita boleh main-main ke sini lagi?" tanya Afifa dengan lugunya.
"Tentu saja nona cilik! Rumah ini ada rumah nona dan aden kecil. Setiap saat kalian boleh datang ke sini." sahut Bik Ani untuk menyenangkan kedua bocah itu.
Afifa terlihat gembira mendengar jawaban dari Bik Ani. Harapan bisa berkeliaran di rumah yang sangat indah ini makin membuncah di dalam hati anak kecil ini.
"Mei turunkan kucingnya kalau sudah capek! Biar Koko yang gendong!" Azzam kasihan melihat Afifa kewalahan menggendong kucingnya. Kucing itu mulai tak nyaman berada di rengkuhan Afifa. Afifa menggendong dengan cara memeluk tubuh kecil si kucing dengan kencang. Pantas kucing itu mulai berontak.
"Tapi nanti rumah papi kotor!" protes Afifa takut kucingnya mengotori rumah.
"Turunkan saja nona cilik! Kalau kotor biar nenek bersihkan! Tuh lihat kucingnya mulai gelisah!" Bik Ani utarakan kalau dia tidak keberatan kucingnya keliatan dalam ruangan.
Selama Karin tak ada di rumah semuanya tak jadi masalah. Bik Ani cuma takut Karin tak bisa terima kenyataan Alvan bawa pulang anak-anak yang mirip dengannya. Gimana reaksi wanita itu?
Azzam dan Afifa menurunkan kedua kucing ke lantai. Kedua kucing itu langsung berlari mencari tempat nyaman untuk menjilat bulu mereka. Salah satunya bersembunyi di balik sofa mewah warna gold, satunya masih mencoba cium sana sini ntah mencari apa.
Afifa menepuk tangan dari sisa bulu kucing. Ada lengket di pakaiannya membuat Afifa risih. Karena inilah Afifa tak suka piara binatang! Kotorannya suka nempel. Beda dengan Azzam yang sibuk memantau kegiatan kucingnya. Ke mana kucingnya lari Azzam ikuti takut hilang.
Bik Ani perhatikan gerakan lincah dua anak itu. Betapa semaraknya rumah bila ada suara anak kecil. Seharusnya dari dulu kedua anak ini harus muncul. Rumah akan terasa lebih hidup. Celoteh anak berhati suci akan jadi nyanyian merdu di setiap kuping orang tua.
"Nona dan aden mau minum apa? Nenek punya susu coklat dan roti kering. Nenek bawa untuk kalian?"
__ADS_1
"Apa papi tidak marah kami minta makanan?"
"Kenapa harus marah? Kalian tunggu sini saja biar nenek buatkan minuman!" Bik Ani sama sekali tidak ingatkan anak-anak itu untuk hati-hati tidak merusak barang. Bik Ani takut kedua anak itu bakal kapok datang bila terlalu banyak peraturan.
"Koko...rumah papi sangat gede! Mengapa kita tinggal di rumah kecil?" tanya Afifa lugu mengitari mata ke sekeliling ruang. Jauh ke belakang masih ada ruang-ruang jauh lebih luas. Namun keduanya terdidik tidak melakukan hal tak sopan di tempat orang. Maka itu keduanya tetap main di ruang depan.
"Ini rumah papi, rumah kita ya bersama mami!" Azzam hanya berkata sekilas karena sadar tak mungkin katakan pada Afifa bahwa papinya ada wanita lain. Afifa belum paham seluk beluk dalam keluarga. Azzam juga belum ngerti namun lebih dewasa sedikit dari Afifa..
Afifa tidak menjawab kata Azzam. Si mungil mencoba naik ke sofa warna gold yang pastinya empuk. Dari tampilan saja sudah menunjukkan betapa nyaman duduk di situ.
Bik Ani membawa nampan berisi minuman dan cemilan untuk kedua anak Alvan. Bik Ani memuji kesopanan kedua anak itu. Ini tak terlepas dari didikan hebat dari induk mereka. Bik Ani penasaran siapa ibu dari kedua anak ini. Alvan juga main rahasia tidak jelaskan asal usul kedua anak ini.
"Ayo sayang...sini duduk! Ini susu coklat nikmat!" Bik Ani meletakkan nampan di meja kaca tak jauh dari Afifa. Harum susu coklat menarik Azzam bergabung ke sofa. Untuk sejenak Azzam abaikan kedua kucingnya.
"Wah...kesukaan Koko?" seru Afifa senang harum bau coklat.
Asal yang berhubungan dengan coklat akan menarik perhatian Azzam.
"Nah... ayok diminum!"
"Terima kasih nek! Kami minum ya!" Azzam basa basi sebelum melahap hidangan sederhana Bik Ani.
Azzam cicipi minuman warna keruh itu dengan nikmat. Cairan coklat itu mengalir dari mulut ke kerongkongan menuju ke lambung. Rasanya sedap sekali. Afifa lain pula, gadis kecil ini mencomot kue kering mencoba rasakan enaknya.
"Enak..." kata Afifa jujur.
Bik Ani menatapi kedua anak itu dengan hati gembira. Keduanya makan dengan lahap menyukai hidangan Bik Ani. Tampaknya kedua anak itu jarang diberi makanan lezat. Hanya susu dan kue kering bisa menyenangkan mereka. Tapi kalau dibilang anak tidak terurus tidak mungkin. Kedua anak itu sehat dan bersih. Tak ada tanda-tanda mengalami tekanan hidup.
"Ibu kalian mana?" pancing Bik Ani coba korek keterangan dari mulut kedua anak.
"Mami masih di rumah sakit obati opa." sahut Afifa sibuk mengunyah cemilan.
"Oh mami kalian dokter ya!"
Bik Ani makin dibuat bingung oleh pernyataan Afifa. Siapa opa yang dimaksud? Apakah itu pak Jono atau ada opa lain lagi? Bik Ani harus minta penjelasan dari Alvan. Cerita Afifa hanya sepotong-sepotong bikin otak Bik Ani berputar cari jawaban sendiri.
Tak lama kemudian Alvan dan kelompoknya muncul di ruang tamu. Kelihatannya mereka telah berhasil membersihkan ruang yang bakal ditempati kucing Azzam. Alvan senang menyaksikan kedua anaknya senang berada di rumahnya. Harapan itulah yang sedang dibangun oleh Alvan.
"Sayang papi...senang di sini?" sapa Alvan mendekati kedua buah hatinya.
"Senang Pi...cuma sayang ini bukan rumah Amei!"
"Ini rumah kalian! Papi akan buat kamar yang indah buat kalian. Masing-masing satu kamar luas. Afifa mau cat warna apa? Azzam mau warna apa?"
"Amei mau warna pink...semua pink!" seru Afifa dengan polosnya.
Azzam diam tak jawab. Anak ini tahu hal ini tak mungkin terjadi karena masih ada tuan rumah lain yang belum tentu terima mereka.
"Zam...kamu senang warna apa? Papi akan cat sesuai keinginanmu!" tanya Alvan sekali lagi. Azzam menggeleng sambil senyum pahit.
"Kami tahu diri Pi! Bukan cuma ada mami." lirih Azzam mencelos hati Alvan. Alvan bukan tak mengerti ke mana arah kalimat Azzam.
"Zam...percayalah pada papi! Cuma ada kalian... papi, mami dan kalian berdua!"
"Papi..." bentak Afifa dengan kerasnya membuat semuanya kaget. Alvan bengong lihat amarah kental di wajah Afifa.
"Ya sayang...maafkan papi kalau salah omong!"
"Papi selalu lupa pada Cece Afisa. Dia anak papi juga lho!"
__ADS_1
"Oh maaf papi lupa lagi! Iya kalian bertiga. Kita akan tinggal bersama di sini. Tak ada orang lain. Oh ya..tentu saja dengan Nek Ani!"
Kalau Afifa percaya pada omongan Alvan beda dengan Azzam. Azzam mulai bisa menerima Alvan bukan berarti Azzam langsung percaya pada Alvan. Alvan telah terlantarkan mereka bertahun, untuk membangun benteng percaya bukan hal gampang.
Alvan menghela nafas sadar untuk meracuni pikiran Azzam dengan janji manis tidak gampang. Azzam terlalu kritis sikapi satu masalah. Alvan masih harus bersabar menanti Azzam rasakan ketulusan pada mereka.
"Oya...ayok kita lihat tempat kucingmu!" ajak Alvan alihkan topik biar tidak canggung.
Azzam langsung bangkit diikuti Afifa menuju ke tempat yang dibersihkan Alvan. Mereka lewati beberapa ruang baru tiba di tempat baru kucing Azzam. Belum sempurna namun sudah jauh lebih baik dari tadi. Abu sudah hilang dan buku-buku tua telah pindah keluar. Tinggal ada beberapa kotak berisi buku tua belum bisa dipindahkan.
"Papi akan cari tukang buat kandang lebih indah. Ini untuk sementara saja!"
"Apa dia tak marah?" tanya Azzam datar.
"Siapa marah nak? Ini rumah kalian...kalian boleh tinggal di sini sesuka hati! Papi jamin tak ada orang lain."
"Dia ke mana?"
Tak disangka Azzam belum bisa lupakan si dia. Yang dimaksud Azzam tentu saja Karin. Cuma Azzam bijak tidak sekak Alvan secara langsung. Azzam masih pertimbangkan perasaan Afifa. Afifa bisa histeris bila tahu papinya ada mami lain selain Citra.
"Dia takkan tinggal sini nak! Mamimu tahu penyebabnya. Itu urusan papi! Azzam jangan pikir yang aneh-aneh ya! Sekarang cari kucingmu agar pulang ke rumah barunya!"
"Iya Pi..."
Azzam balik ke ruang tamu mencari kedua kittennya. Satu ada dekat vas keramik dan satunya lagi ntah sembunyi ke mana. Azzam menangkap satu lalu serahkan pada Alvan, lajang kecil ini berjongkok mencari satunya lagi. Afifa ikutan bantu cari sambil berseru memanggil kucing Azzam.
"Manis...manis..." panggil Afifa bergema di seluruh ruang.
Lama dicari akhirnya kucing ditemukan sedang sembunyi di bawah bufet kaca. Azzam menundukkan badan mengambil kucingnya dengan hati-hati. Lengkap sudah sepasang kucing Azzam.
"Wah dasar anak nakal! Suka ngumpet!" Afifa mencolek kepala si meong dengan lembutnya.
"Apa tidak dikasih nama non?" tanya Bik Ani ikut bergabung.
"Oh iya...kasih nama apa?" tanya Alvan melupakan panggilan untuk kedua piaraan Azzam.
"Yang cewek namanya Kitty pi! Yang cowok biar Koko kasih nama! Apa kasih nama sama dengan kucing Koko yang dulu?" Si kenes langsung sumbang nama sesuai isi hatinya.
"Kasih nama Wang Wang lagi? Koko kasih nama Brondy saja! Warnanya kan kecoklatan."
"It's a good name. I love it!"( Itu nama bagus. Aku suka)" kata Afifa dengan bahasa Inggris fasih.
"Ok...jadi mereka Kitty dan Brondy! Yok kita pulang kandang!" Azzam mengelus kepala Brondy yang berbulu halus.
Beriringan mereka ke tempat baru si kucing. Untuk Azzam dan Afifa bahagia, Alvan siap lakukan apapun. Buang sedikit uang untuk menyenangkan kedua anaknya bukanlah pemborosan. Alvan telah banyak berhutang pada kedua bocah. Karin hambur uang berpuluh-puluh milyar hanya untuk kepuasan batin. Sedang kedua anaknya hidup sederhana walau tidak kekurangan.
Saatnya Alvan bayar hutang pada kedua buah hatinya. Setiap ulas senyum di wajah kedua anaknya adalah kunci ketenangan Alvan.
Alvan tinggalkan Azzam dan Afifa bermain dengan kucing. Lelaki ini mengeluarkan hp untuk hubungi Citra kasih tahu di mana mereka. Alvan takut Citra kuatir tidak menemukan anak-anak di rumah. Alvan belum mau bikin masalah dengan Citra di saat hubungan mereka telah membaik. Azzam juga mulai jinak. Alvan tinggal menata bagaimana membawa Citra kembali ke pelukan membangun keluarga yang sempat cerai berai.
"Halo... assalamualaikum..." sapa Alvan lembut mendayu.
"Waalaikumsalam... sudah di rumah pak?"
"Gini Citra...tadi Azzam minta beli kucing! Katanya rindu pada kucingnya di Beijing. Maka kubeli dua ekor anak kucing!"
"Lantas??? bapak yang akan buang pubnya? Bapak yang akan mandikan?" serang Citra tak beri kesempatan pada Alvan jawab.
"Iya sayang ..aku akan tanggung jawab. Kucingnya di rumah aku kok! Anak-anak juga di sini. Sebentar lagi akan kuantar pulang. Kau masih di rumah sakit?"
__ADS_1
"Iya...Sebentar lagi mau pulang. Papa sudah kuurus beres. Bapak jangan macam-macam ya! Mereka anak-anak aku!"
"Yang bilang mereka anak Andi siapa? Aku juga bapak mereka. Nggak mungkin aku menyakiti mereka. Aku hanya ingin menyenangkan mereka."