ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Memulai Perang


__ADS_3

"Duh yang sewot! Iya...dengar apa kata nyonya! Mandiin ya?" olok Alvan dapat delikan tajam dari Citra. Pengusaha yang biasa terkenal kharismatik ternyata akalnya tak ubah dengan Afifa. Kolokan minta ampun. Apa mungkin tertular kolokan Afifa karena sering bersama?


"Boleh...mandi pakai air mendidih! Siap-siap dimasak buat makan malam ternak."


Alvan nyengir meringis terprovokasi ancaman Citra. Mau jadi apa mandi pakai air mendidih. Emang ayam diceburkan dalam air panas? Lalu dimultilasi buat dimasak. Alvan masih sayang pada nyawa mengingat masih ada tiga bocah cantik menunggunya.


"Sadis amat nih bini! Ini namanya pembunuhan berencana. Emang nggak kasihan pada laki sendiri?"


"Kasihan? Bini sana sini dikasihani? Hidup bapak sudah cukup sempurna, sudah cukup menikmati nikmat dunia. Sekali-kali rasakan panasnya api dosa kayaknya tak masalah. Yok kumandiin!" Citra bangkit dari bangku pura-pura ingin bantu Alvan mandi. Padahal nyali Citra belum sampai ke tahap intim dengan Alvan. Jurang pemisah antara mereka belum terbangun jembatan.


"Nggak usah deh! Cukup tunjuk tempatnya saja! Aku sudah gede bisa mandi sendiri."


Citra manggut kecil sok maklum. Dalam hati Citra tertawa ngakak senang bisa permainkan Alvan. Kapan lagi balas dendam pada laki itu kalau bukan dari sekarang.


Citra berjalan keluar tenda diikuti Alvan dari belakang. Tubuh mungil Citra melenggang santai menapaki jalan tanpa aspal. Alvan menikmati setiap ayunan langkah Citra. Wanita berjalan tanpa menambah gaya seperti wanita fotomodel. Kalau diijinkan ingin banget Alvan menggendong wanita itu ke tempat nyaman untuk melepaskan kerinduan menyesak dalam dada. Sayang Citra memasang palang tanda kali menolak setiap gesekan intim Alvan.


Belum sampai ke kantor desa dari langit terdengar deruan kencang helikopter. Secara otomatis Alvan dan Citra angkat kepala mendongak ke benda besi punya baling-baling berputar.


Alvan bukan tak tahu siapa yang datang. Saingan terberat dalam merebut cinta Citra. Heru bukan lawan kelas ringan. Reputasi Heru cukup terkenal sebagai playboy cap Lamborghini. Banyak wanita siap jadi pendamping laki itu. Dari kalangan artis hingga puteri dari pebisnis sukses.


Heru tidak kekurangan wanita mengapa justru mengejar seorang dokter mungil tanpa reputasi wah di kalangan Borjuis. Citra hanya seorang dokter kecil. Apa istimewanya Citra sampai menarik perhatian seorang Heru. Alvan bertanya pada diri sendiri daya pesona apa ada dalam diri Citra.


Citra dan Alvan batal menuju ke kantor desa. Keduanya berjalan ke arah lapangan di mana heli Heru sedang mencari posisi untuk mendarat. Pak Hasan alias pak kades berlari ke arah heli untuk sambut tamu agung yang kedua hari ini. Barusan Alvan bawa bahan bantuan dan sekarang datang lagi bantuan dari Heru. Kali ini Heru ntah bawa apa. Pak Hasan tidak masalahkan bantuan apapun karena setiap uluran tangan dermawan adalah kehidupan bagi pengungsi.


"Kau kenal Heru?" tanya Alvan berdiri di samping Citra. Suara Alvan serak tidak bulat seperti biasa. Tersirat ada rasa tak senang dalam intonasi nada.


"Kenal. Dia pasienku di rumah sakit. Kemarin dia datang bawa bantuan. Kenapa? Ada yang salah? Dia datang menawarkan bantuan untuk masyarakat."


"Tidak salah tapi mengapa di sini? Masih banyak tempat lain bisa dia kunjungi. Mengapa justru datang di tempat salah?"


"Di mana salahnya? Dia datang tidak merampok kok! Lalu pak Alvan yang terhormat mengapa datang ke sini padahal masih banyak lokasi lain belum tersentuh bantuan?"


"Aku datang karena ada mami anak-anak aku di sini. Aku datang melihat isteriku. Apa itu salah?" Alvan menggeram Citra membela Heru. Citra demikian senang Heru datang apa mungkin Citra suka pada playboy kelas kakap itu?


"Mantan...ingat! Mantan..." Citra melengos buang muka tak suka diklaim isteri Alvan. Mereka belum rujuk dari mana status isteri.


"Dalam hukum kau jelas isteri Alvan Putra Lingga. Haruskah aku perlihatkan buku nikah kita pada Heru biar dia stop ganggu kamu?"


Citra berkacak pinggang kesal Alvan terusan jelekkan Heru padahal laki itu tahu diri dan sopan. Kadang suka kelewatan dikit dalam hal memanggilnya. Namun Citra tahu itu hanya candaan Heru. Dalam bertingkah Heru sangat Galant tidak mesum. Dasar apa Citra harus hakimi Heru sebagai playboy.


"Jaga mulut! Mas Heru bukan orang gitu!"

__ADS_1


"Mas Heru...betapa mesranya! Aku memintamu panggil mas sampai mulut berbusa kau abaikan. Sama orang asing kau bisa panggil demikian mesra. Apa hubungan kalian? Pacaran atau akan segera menikah?" Alvan makin berang Citra menyebut Heru dengan panggilan akrab. Ingin rasanya Alvan beri bogem mentah ke wajah dewa Yunani itu.


Apa kata dunia bila dua pesohor bisnis berantem di lokasi bencana merebut seorang dokter muda nan mungil. Pasti jadi topik terhangat seantero tanah air.


"Bukan urusanmu! Yang penting jangan usil kasih tahu mas Heru aku ini isterimu! Merusak reputasi aku!" Citra melangkah pergi tinggalkan Alvan yang masih terbakar api cemburu.


Alvan mengepal tinju ntah hendak dilayangkan ke mana. Siapa bersedia jadi sasaran tinju lelaki sedang dibalut api amarah itu. Yang pasti bonyok kena bogem orang sedang cemburu.


Untunglah Citra tidak kegatelan ikut menyambut Heru di lapangan terbuka. Wanita itu melangkah ke arah mesjid tempat dia beristirahat. Citra bukan tak ngerti kalau dia memihak salah satu di antara dua laki itu akan muncul konflik internal antara dua pria dewasa itu.


Alvan dapat angin segar segera mengejar Citra sampai ke mesjid. Di dalam mesjid tidak begitu ramai karena tak ada lagi pasien parah. Cuma ada satu dua relawan sedang istirahat setelah seharian kuras tenaga untuk membantu pengungsi.


Citra mengambil perlengkapan mandi tanpa open pada Alvan. Citra masih jengkel pada Alvan terlalu cepat vonis niat kehadiran Heru. Citra tidak menaruh curiga apapun karena Heru datang memang bawa bantuan. Lelaki tidak norak merayunya kayak buaya darat. Walau Citra akui ada joke-joke ringan menggoda. Bagi Citra itu hanya hiburan menyegarkan suasana kaku.


Alvan terlalu banyak curiga. Mungkin akibat efek kesalahan Karin membuat lelaki itu jadi parno.


Alvan tak mau buang waktu ikut siapkan peralatan mandi. Alvan hanya punya handuk dan pakaian. Si gendut Untung lupa bekali Alvan dengan sabun dan sikat gigi. Baru kali ini Untung teledor persiapkan perjalanan Alvan kali ini. Alamak kena semprot air cabe tuh cowok gempal.


Alvan mengejar Citra yang sudah duluan pergi ke arah lain. Alvan harus pintar mengambil hati Citra agar jangan dikalahkan playboy kondang macam Heru. Soal merayu cewek Alvan angkat tangan. Alvan bukan buaya buntung macam Heru. Alvan posisikan diri sebagai seekor burung yang setia pada pasangan hingga akhir hayat.


Citra berhenti di depan kantor desa. Wanita ini tertegun melihat banyaknya timbunan bahan makanan dan susu bayi. Tak usah ditanya Citra sudah tahu siapa donatur berhati mulia kali ini. Bawaan yang dibawa jauh lebih banyak dari bawaan Heru. Alvan tidak tanggung-tanggung ulurkan tangan buat para pengungsi.


Hati Citra merebak dipenuhi rasa bangga pada papi Azzam. Semula Citra kira Alvan datang hanya bawa badan untuk intip dia. Nyatanya niat Alvan sama dengan Heru. Berbagi pada yang butuh.


Citra balik badan tak sadar sosok tinggi besar persis di belakangnya. Wajah Citra menghantam dada Alvan begitu balik di putar ke belakang. Citra tak sangka akan sedekat ini dengan Alvan dalam posisi tanpa jarak.


Secepat kilat Alvan meraih pinggang Citra agar wanitanya tidak menjauh. Jarang-jarang Alvan dapat kesempatan berada posisi tanpa batasan. Betapa nyaman menempelkan tubuh Citra ke dada. Moments ini sudah Alvan tunggu bertahun-tahun lalu. Memeluk gadis yang pernah jadi bagian hidupnya.


Alvan mengecup ubun-ubun kepala Citra merasa bau keringat kepala wanitanya. Bau asam namun meresap ke dalam hati. Citra sendiri membeku syok Alvan berani lakukan kemesraan di tempat umum. Citra tak pungkiri nyaman berada dalam dekapan lelaki pertama yang merengut mahkotanya. Sayang semua itu tak ending semestinya.


Suara deheman memaksa Alvan melepaskan Citra dari dekapan. Citra menunduk malu ketangkap mesraan dengan donatur di tempat pengungsian. Wajah Citra berubah bak kepiting rebus baru diangkat dari kuali. Merah padam. Sedang Alvan lebih tenang tidak berubah. Citra adalah wanitanya, wajar kalau dia beri kehangatan.


Citra masuk ke kamar mandi tanpa berkata apapun. Sedangkan Alvan merasa butuh beri penjelasan pada kades agar reputasi Citra tidak tercoreng.


"Maaf pak Alvan! Aku datang lihat tempat untuk simpan bawaan pak Heru." Pak Hasan tak enak juga pergoki pasangan sedang mesraan. Pak Hasan tak tahu apa hubungan Alvan dan Citra. Pak Hasan pasti berpikir Citra dokter nakal goda donatur.


"Aku ngerti. Semua tidak seperti yang bapak sangka. Aku ini adalah pemilik rumah sakit tempat dokter Citra bekerja dan aku juga suami dokter Citra. Cuma kumohon bapak rahasiakan status kami karena dokter Citra tidak suka tugas dikaitkan dengan keluarga. Aku punya bukti kalau aku suami Citra."


Alvan buka ponsel perlihatkan foto buku nikah mereka yang selama ini jadi senjata andalan Alvan untuk dekati Citra dan anak-anak. Alvan juga kasih lihat foto anak-anak mereka agar pak kades makin yakin dia bukan pembual.


Pak Hasan manggut kecil memaklumi keadaan. Artinya Citra halal bagi Alvan. Pak Hasan tak bisa larang pasangan suami isteri saling melepaskan rasa kangen setelah berhari tak jumpa. Pak Hasan justru makin kagum pada Citra yang tidak gunakan nama besar sang suami mencari tempat nyaman. Dokter itu rela bertugas di daerah terpencil walau punya suami kaya raya. Citra bisa saja perintah dokter lain gantikan dia tercampak di daerah kecil. Namun Citra tidak lakukan hal itu. Dia sendiri terjun ke lokasi tinggalkan anak dan suami.

__ADS_1


"Terima kasih pak Alvan ijinkan dokter Citra bertugas di sini. Dia dokter yang baik. Kami semua hormat padanya."


"Itu tugasnya sebagai dokter. Aku sebagai suami hanya mendukung. Aku akan menunggunya mandi. Bapak tidak keberatan bukan?"


Pak Hasan tertawa. Bagaimana dia boleh keberatan seorang suami lindungi isteri sendiri. Wajar Alvan menjaga wanitanya karena dia sudah ada di tempat. Lain cerita kalau Alvan bersama wanita lain. Hukum mana melarang suami intim dengan isteri?


"Silahkan! Aku tinggal dulu ya! Tak lama lagi stok bantuan akan masuk. Pak Heru bawa mekanik untuk cari air bersih. Beliau bawa mesin pompa air untuk cari sumber air."


"Oh baguslah! Apa pak Heru sudah pergi?"


"Sepertinya beliau nginap. Hari mulai sore, kerja baru dimulai." Pak Hasan menjawab tanpa curiga kalau Alvan sangat tak suka Heru berada di sekitar Citra. Alvan bukan orang tolol tak tahu ke mana tujuan Heru. Tentu saja incar isterinya. Alvan bersumpah takkan biarkan Heru merayu Citra. Jika perlu Alvan bawa Citra balik ke kita saat ini juga.


Alvan terduduk lemas di kursi plastik warna maron. Kursinya cukup berumur karena warnanya mulai pudar tunjukkan usia sesungguhnya. Di situ memang tak banyak fasilitas memadai karena bangunan pada rata dengan tanah. Benda apa bisa diselamatkan di bawah reruntuhan.


"Pak..." suara bening Citra menyadarkan Alvan dia terlalu lama larut dalam lamunan.


Citra sudah segar memancarkan harum lembut sabun mandi. Alvan kenal Citra tak suka semprot minyak wangi ke badan. Namun Citra tetap harum dengan harum khas tubuh sendiri.


Citra kenakan kaos hitam panjang tangan dengan celana kulot warna sama. Pakaian Citra sopan tak mengundang tatapan nakal para kumbang jantan. Alvan puas Citra pintar jaga diri.


"Mau mandi?" tegur Citra.


"Iya...pinjam sabun ya! Untung lupa masukkan sabun dan sikat gigi. Ada sikat gigi baru?"


"Ada...pergilah mandi sebelum antrian panjang. Sebentar lagi semua akan antri mandi. Cuma di sini kamar mandi memadai. Pengungsi malah mandi di tempat darurat."


"Iya nyonyaku sayang! Kau tunggu sini ya! Aku takut diculik peri cantik."


"Peri sini ogah culik laki plin plan. Ntar dicampakkan setelah dipacari."


"Nyindir ya?"


"Terserah mau nilai apa! Ayok cepat mandi! Aku tunggu di mesjid." Citra malas berdebat di tempat tak pantas. Mereka berdua mirip Tom and Jerry si kucing nakal dan di tikus cerdik. Tom lebih gede tapi selalu kalah oleh Jerry tikus.


Kondisi itu persis kondisi Alvan dan Citra. Saling bertolak belakang.


Citra meninggalkan sabun mandi pada Alvan dengan menaruhnya di meja. Citra sengaja tak beri langsung pada Alvan sebagai bentuk protes Alvan suudzon pada Heru.


Alvan menghela nafas lihat Citra masih ngambek. Tapi Alvan telah menang selangkah dapat akses lebih dekat Citra karena pak Hasan telah tahu siapa dia buat Citra. Pak Hasan tentu takkan melarangnya dekati Citra. Itu memang hak Alvan.


Alvan tersenyum ingat posisinya lebih kuat dari Heru. Heru tak punya dasar unjuk perasaan pada Citra. Boleh lihat tapi pantang memegang.

__ADS_1


Hati Alvan lebih tenang sekarang. Heru harus dibungkam agar tak seperti hantu gentayangan di sekitar Citra.


Citra kembali ke mesjid mendapatkan Heru sudah di situ bersama Daniel. Kapan kedua orang itu bertemu? Kok langsung akrab?


__ADS_2