ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Saling Adu


__ADS_3

Daniel mengangguk setuju kata-kata Citra. Asal comot justru datangkan petaka besar. Tidak semua sebaik yang kita lihat. Kadang dari luar tampak alim memancarkan aura kebajikan. Nggak tahu di dalam tersimpan borok bernanah busuk.


"Aku pergi mandi dulu ya! Kuingatkan kamu kalau Heru bukan pilihan terbaik. Masih banyak yang lebih dari orang kaya itu." Daniel beri wejangan sebelum meninggalkan Citra melanjutkan sembunyikan diri dari perang ala dua orang kaya.


"Aku tahu batasan harus kujalani. Pergilah sebelum dingin!"


Daniel tak banyak mulut lagi. Sejujurnya Daniel tak suka Citra dekat dengan Heru. Reputasi Heru di kalangan wanita ratingnya cukup tinggi. Duren kaya pujaan para wanita pencari cinta dolar. Semoga Citra tidak silau oleh nama besar Heru. Masih ada Alvan yang reputasinya jauh lebih bagus. Termasuk dirinya yang tak mempan dirayu sembarang cewek.


Citra kembali berenung memikirkan kedua laki kaya itu. Apa yang dicari kedua laki itu. Soal wanita di luar sana puluhan wanita siap menjadi pendamping hidup mereka. Apa artinya seorang wanita muda beranak tiga.


"Citra sayang ..kok di sini?"


Citra dikagetkan suara familiar mengandung power menaklukkan wanita. Citra mendongak meringis mendapatkan Heru telah berdiri di depannya. Mata Citra liar mencari sosok Alvan yang pasti akan berpikiran buruk terhadapnya.


"Pingin tenang saja! Mas tidak segera mandi? Hari mau senja. Udara bakal sangat dingin."


Heru tertawa santai tidak open pada tawaran Citra. Heru hanya ingin ngobrol berdua dengan Citra tanpa gangguan orang lain. Kehadiran Alvan sangat ganggu langkah Heru untuk pedekate dengan Citra. Heru tidak tahu persis hubungan kedua orang itu. Titik tujuan Heru hanya satu yaitu membawa Citra ke penghulu.


"Aku akan di sini temani kamu sampai tugasmu selesai. Sekalian bantu warga desa memulihkan kondisi berantakan. Kudengar hari ini jalan desa sudah tembus. Longsoran sudah bisa teratasi." Heru berkata sambil tempatkan bokong mahalnya ke lantai beralas plastik. Di depan Citra tak perlu sok perlente. Citra tak perlu lelaki banyak gaya.


"Wow... Alhamdulillah sudah bisa dilalui! Artinya penduduk sudah bisa keluar jumpa keluarga di kampung sebelah." seru Citra gembira dapat kabar berita menyegarkan otak.


Artinya kampung ini tidak terisolir lagi. Kenderaan sudah bisa masuk ke desa. Bantuan dari Pemda bisa menembus ke pelosok desa.


Heru tersenyum lihat reaksi gembira Citra. Setiap senyum dan tawa Citra merupakan pemandangan indah buat Heru. Setiap kata keluar dari mulut Citra bagai elegi merdu meresap ke relung hati.


"Kau bahagia?" tanya Heru ikut merasakan euforia Citra penduduk tertolong karena akses jalan terbuka.


"Tentu saja...pasien sudah bisa dirujuk ke rumah sakit lebih lengkap. Semoga semua cepat teratasi."


"Amin..." Heru mengaminkan harapan Citra. Suasana rilex begini diharap Heru tanpa ada orang ikut berceloteh di antara mereka. Alvan dkk dianggap pengacau oleh Heru. Heru sangat terganggu oleh Alvan.


Lagi Heru dilanda kebahagiaan tiba-tiba sosok tinggi besar datang ntah dari mana. bagai jelangkung datang tak diundang pergi tak diantar. Alvan bagai momok bagi Heru telah muncul di hadapan Citra dan Heru.


Wajah Alvan berkerut mirip jeruk purut sudah kisut. Lama tersimpan di kotak sampai kisut ganda. Heru merutuk dalam hati tukang kacau muncul lagi. Mengapa Alvan tidak beri ketenangan pada mereka. Kini wajah Heru menyaingi wajah Alvan berkerut-kerut bak pakaian baru siap diperas. Pokoknya sama kacaunya.


"Sedang apa kalian?" tegur Alvan dengan nada tak bersahabat. Siapa lagi mau bersahabat dengan rival merebut boneka cantik. Alvan takkan kendor menjaga Citra agar tidak kena sihir tampang dewa Yunani.


"Sedang menikmati udara senja dengan wanita tercantik di mataku!" ujar Heru kalem. Heru sengaja bikin Alvan kheki.


"Oh gitu! Wanita ini tak hanya cantik di mata aku tapi juga di mata anak-anak aku! Citra.. tolong ambilkan aku air minum!" Alvan mulai unjuk gigi tunjuk dia berkuasa atas Citra. Alvan sengaja berbuat demikian untuk beri peringatan pada Heru kalau dia lebih berhak atas Citra.


Heru kontan bangkit tak suka Alvan main perintah pada wanita yang dia kagumi. Heru tidak setinggi Alvan namun postur tubuh Heru tak kalah gagah. Kedua singa itu saling berhadapan dengan pancaran sinar mata hendak saling menikam. Heru tidak gentar hadapi Alvan yang menurutnya terlalu angkuh.


"Pak Alvan yang terhormat apa tangannya invalid tak bisa digunakan?" kata Heru dingin membusungkan dada menantang Alvan.


"Aku hanya ingin Citra yang ambilkan minuman aku. Biasa dia juga yang lakukan. Tambah hari ini kurasa tak jadi masalah. Ya kan Citra?" Alvan sengaja berbuat gitu seolah Citra memang patuh padanya.

__ADS_1


Citra sudah bisa baca ke mana arah Alvan akan bawa gaya slebor ini. Tentu saja ingin mengalahkan Heru tunjukkan dia lebih berkuasa. Citra menghela nafas tak ingin memperkeruh suasana. Alvan bisa berbuat lebih konyol memalukan Citra di hadapan Heru. Lebih baik bersabar sampai laki itu meredakan emosi.


"Ya sudah! Toh hanya segelas air! Mas Heru juga mau?" Citra menawarkan pada Heru agar jangan dikira berpihak pada Alvan.


"Tentu saja nona cantik! Air pasti lebih segar bila kau yang bawa!" Heru tersenyum penuh kemenangan bak raja baru pulang dari Medan perang bawa Panji kemenangan.


Alvan mendengus buang muka mengomel dalam hati. Dasar Citra tidak peka mengecilkan nilainya di mata Heru. Heru pasti makin ngelunjak dapat perhatian Citra. Kalau Alvan hidup di jaman Harry Potter sudah jelas Heru akan disihir jadi kodok buduk. Kodok paling buruk rupa sedunia.


Citra membeli damai dengan meringankan langkah menuju ke dapur umum yang tak jauh dari tempat dia istirahat. Citra mengambil dua botol air mineral untuk mendinginkan otak dua lelaki kekanakan itu.


Gimanalah kalau tersiar berita dua pengusaha tajir sedang duel mulut di pengungsian. Wartawan media cetak mana akan jadi penyiar berita konyol paling perdana? Citra tak bisa bayangkan reaksi pangsa pasar bisnis.


Citra hanya bisa menghela nafas lihat kedua rival itu masih berdiri saling memunggungi. Citra ingat Afisa dan Azzam kalau sudah berantem. Kira-kira begitulah kondisi mereka.


Citra harus memeriksa KTP kedua orang itu apa iya sudah cukup umur? Jangan-jangan masih di bawah umur belum Akil baliq.


Citra mendehem halus usir kekakuan dua orang top di dunia bisnis itu. Serentak keduanya menoleh. Heru pasang muka manis sedang Alvan masih bertahan dengan muka jeruknya.


Heru duluan maju menyambut air dari tangan Citra. Lelaki itu berubah lembut bila ada Citra. Playboy kondang macam Heru paling ngerti apa yang dibenci wanita dan apa yang disukai wanita. Wanita tak suka cowok kasar, terutama kasar di bibir.


Wanita butuh dirayu. Selalu bahagia diibaratkan sesuatu yang indah.


"Terima kasih sayang!" ujar Heru lembut penuh kemesraan.


Alvan ingin sekali layangkan tinju maut merontokkan senyum di wajah ganteng itu. Tapi tatapan horor Citra menciutkan nyali Alvan. Sekali Alvan bertindak kasar maka reputasinya akan runtuh di mata Citra.


Apa Alvan selalu begitu pada anak buah? Setiap anak buah dianggap pembantu yang bisa diintimidasi? Heru makin yakin untuk membeli saham rumah sakit Heru agar bebaskan Citra dari tekanan Alvan. Heru belum tahu apa hubungan pasti Alvan dan Citra. Kalau tahu pasti dapat serangan jantung.


Alvan membawa Citra balik ke mesjid. Citra tak berdaya melawan tenaga Alvan sepuluh kali lebih kuat darinya. Enak saja Alvan menyeret Citra tak ubah bawa anak kecil untuk dihukum.


"Pak Alvan...sudahi tingkah konyol bapak!" Citra menarik tangannya dari cekalan Alvan. Pergelangan tangan Citra agak memerah kena cekalan keras Alvan. Citra menaikkan lengan baju untuk lihat pergelangan tangan yang berbekas merah.


Alvan tercekat tak sangka dia telah terlalu kasar menyakiti Citra. Ada rasa sesal di dada umbar emosi sampai melukai tangan Citra.


Alvan meraih tangan Citra untuk periksa sampai di mana memar di tangan mantan isterinya. Rasa cemburu Alvan terlalu besar hilangkan akal sehat. Alvan tidak terima Citra dekat dengan Heru walau sebatas teman. Citra bisa anggap Heru teman tapi laki itu belum tentu berpikiran sama.


"Maafkan aku! Aku tak tahu bisa merah begini!" Alvan menyesali kebodohan terbakar api cemburu melebihi ambang batas. Yang tersakiti tetap pihak lemah.


"Dasar anak kecil! Sudah puas permalukan diri sendiri? Sekarang kalian balik ke kota! Jangan ganggu tugasku!" ujar Citra mengusap tangannya yang masih terasa pedih.


"Kamu juga salah terlalu mesra dengan orang asing!" Alvan berusaha melindungi diri dari argumentasi kurang akurat.


"Mas Heru bukan orang asing! Dia pasienku! Awas kalau konyol di depan orang banyak! Kujamin kau takkan jumpa Afifa dan Azzam lagi!"


"Kau bawa mereka ke mana? Ke ujung dunia akan kukejar!"


"Ke lubang semut! Cari saja di sana! Lepaskan tanganmu! Nanti orang mengira aku ini dokter mesum goda donatur!"

__ADS_1


"Biar saja! Aku bersedia kau goda! Tak usah digoda aku juga sudah tergoda."


Keduanya tak sadar ada sepasang mata menyaksikan mereka berdebat sambil pegang tangan. Alvan tidak bersedia melepaskan tangan Citra yang memerah akibat cekalan Alvan.


Perlahan sosok pemilik mata memutar badan pergi dari tempat Alvan dan Citra berada. Orang itu pasti bertanya-tanya ada apa antara bos dan dokternya. Apa hubungan keduanya. Menurut hasil penyelidikan Heru kalau Citra itu janda. Siapa mantan suami Citra tertutup rapat tanpa ada yang berani ungkap. Tampaknya Heru harus kerahkan detektif lebih profesional cari tahu siapa Citra dan hubungan apa dengan Alvan. Heru takkan menyerah hanya lihat pemandangan tidak terlalu luar biasa. Masih dalam tahap batas sopan. Tapi ada rasa sesal di dada sedih didahului Alvan. Seharusnya dia harus bernyali macam Alvan. Pepet terus Citranya.


"Lepaskan tanganku biar bisa diolesi salep! Awas kalau besok meradang! Kau harus bayar semuanya."


"Oh maaf!" Alvan tersadar segera bebaskan tangan Citra. Alvan menepuk jidat heran mengapa jadi bucin pada Citra. Padahal dulu di mata Alvan wanita itu tidak ada spesialnya kecuali masih orisinil.


Citra segera mencari obat untuk merawat bekas cekalan Alvan. Sebenarnya bukan perkara besar memerah gitu. Citra hanya menakuti Alvan agar kelak tidak kasar pada wanita. Tidak semua kulit wanita bisa diperlakukan kasar. Ada yang sensitif kena sedikit kontan memerah, namun ada yang kulit badak. Diremas juga tak masalah.


Para dokter sudah mulai kumpul untuk istirahat. Melati dan Gerry ikut bergabung di mesjid untuk rehat kan tubuh setelah seharian berkutat dengan pasien.


Gerry surprise lihat bos besar mereka ada di situ. Tak usah dipikir Gerry ngerti untuk apa bos mereka sampai nyasar ke situ. Tentu saja untuk menjaga dokter kesayangan jangan sampai disambar burung lain.


Gerry menyalami Alvan sebagai basa-basi pegawai dengan bos. Gerry tak sangka Alvan rela tinggalkan tahta demi wanita. Yang pasti wanita itu bukan Melati dari rumah sakit lain. Tujuan Alvan langsung pada Citra.


"Pak Alvan...selamat gabung!" Gerry menyalami Alvan sok akrab.


Alvan membalas salam Gerry setengah hati. Perasaan Alvan memburuk gara-gara telah kasar pada Citra. Hanya karena cemburu dia telah sakiti wanita yang sedang dia kejar. Tak dipungkiri cemburu buta selaku bawa akibat buruk.


"Bekerjalah dengan baik! Jangan permalukan rumah sakit kita!"


"Iya pak! Kita di sini sekuat tenaga bantu para pengungsi. Dokter Citra paling disukai."


Alvan tentu saja tahu mantan bininya idola para pasien. Penyabar dan telaten urus orang sakit. Tidak rugi rekrut dokter kompeten macam Citra.


"Maaf pak! Tinggal dulu! Mau bersih-bersih." Gerry mohon pamit dari hadapan Alvan.


Alvan hanya manggut kecil tanpa jawab. Alvan lebih senang curahkan perhatian pada Citra yang sedang urus memar di tangan. Kalau boleh Alvan tak ingin berbuat kasar. Ntah setan mana membisiki Alvan berbuat kasar pada Citra. Setan cemburu buta namanya.


Alvan tak biarkan Citra obati memar sendirian. Laki ini dekati Citra lihat bagaimana keadaan memar tersebut. Masih sedikit merah namun tidak bawa akibat buruk.


Alvan menelan ludah malu untuk bahas soal tangan Citra. Semua ini salah dia.


"Maaf ya Citra!" sekali lagi kata maaf meluncur dari bibir Alvan.


"Sudah tak apa! Hanya sedikit merah! Oya...minta rekaman anak-anak! Sekarang aku bebas tugas. Aku rindu pada anak-anak."


Alvan lega Citra tidak menyimpan amarah padanya. Wajah itu mulai lembut seperti biasa. Tidak garang macam tadi.


Tanpa diminta dia kali Alvan keluarkan ponsel pinternya. Tidak ada keraguan Alvan sodorkan ponsel pada Citra untuk kasih tahu bahwa tak ada rahasia pribadi di HP itu. Tak ada yang ditutupi Alvan dari Citra.


Kini Citra tidak segan menerima benda pipih berisi rekaman Azzam dan Afifa. Rasa rindu pada anak-anak mengalahkan rasa segan di hati. Dua hari tak jumpa serasa dua tahun terpisah. Bergulung kerinduan menyesak di dada.


Citra tersenyum tatkala galeri ponsel Alvan terbuka. Wajah dua bocah cantik muncul di layar ponsel.

__ADS_1


__ADS_2