ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Siapa Yang Sakit


__ADS_3

Siapa harus bertanggung jawab semua tragedi ini? Karin, Alvan atau Pak Jono. Bermula dari satu kata yakni nafsu. Karin bernafsu menjadi penguasa keluarga Lingga maka sebar ranjau mematikan. Pak Jono terjebak tak bisa angkat kaki dari ranjau dipasang Karin. Andai Pak Jono nekat angkat kaki niscaya ranjau akan meledak. Hancur semuanya. Itu yang diinginkan Karin. Ranjau sudah terpasang, Pak Jono juga terjebak. Tak ada happy ending. Skenario Karin tak sesuai harapan.


"Apa maumu?" tanya Karin merasa tak ada guna bersikeras sebelum dia bisa keluar cari rumah sakit lain test HIV.


"Aku? Aku jelas tak ingin hidup bersama wanita pengidap HIV. Kau yang harus bertanya pada diri sendiri apa rencanamu ke depan?"


"Aku? Tetap nyonya muda Lingga. Itu saja...hidup aku belum tamat!" jawab Karin pongah tahu Alvan tak berkutik selama dia punya bukti rekaman hubungan intim dengan Pak Jono.


"Bagaimana nyaman kamu! Cari Zaki dan tanya apa benar dia menyebar HIV! Jaga diri jangan menulari orang lain! Termasuk Iyem yang merawatmu. Permisi." Alvan balik badan pergi tak mau panjang mulut dengan Karin.


Berdebat dengan orang hilang akal sehat sama saja berdebat dengan orang gila. Orang gila mana ada tata Krama serta berpikir rasional. Namanya saja orang gila. Alvan menanggap Karin sudah gila.


Alvan melarikan mobil ke rumah Citra. Bersama Citra dan anak-anak otak Alvan tidak bergumpal bak benang kusut. Canda tawa Azzam dan Afifa bagai seterika gosok pikiran Alvan jadi lempang. Rumah Citra jadi terminal akhir Alvan cari ketenangan. Semoga saja Alvan dapat sambutan hangat.


Sebelum ke rumah Citra, Alvan berpikir keras buah tangan apa untuk hadiah buat dua kurcaci lucunya. Azzam dan Afifa tetap anak kecil butuh sogokan. Dikasih sesuatu menarik hati mungkin Alvan dapat menghibur dua anak itu.


Otak Alvan bergerilya mencari apa yang disukai Azzam. Azzam lebih sulit dibujuk dari pada Afifa. Gaya dewasa Azzam menyulitkan Alvan baca isi otak anak lajang itu. Dari segi asah otak Azzam jauh maju dibanding Afifa. Tak mungkin Azzam dibeliin mainan robot-robot ataupun mobilan. Mainan model gituan bukan level anak sepintar Azzam.


Alvan pusing juga memikirkan hadiah untuk Azzam. Buat Afifa cukup boneka Barbie model kekinian. Tak ada anak cewek tak suka pada mainan mendunia itu. Dilihat dari ketegasan Citra pada anak-anak, rasanya tak mungkin beli untuk Afifa.


Alvan berhenti di toko mainan khusus untuk anak cewek. Alvan beli beberapa boneka plus rumah-rumahan boneka. Alvan kurang ngerti maka biarkan pelayan toko yang urus segala yang berhubungan dengan mainan anak cewek. Alvan tak sayang keluarkan dana sampai berjuta hanya untuk menyenangkan anak gadisnya. Kalau bukan dimulai dari sekarang kapan lagi Alvan memanjakan anak gadisnya.


Setelah merasa cukup Alvan melajukan kenderaan mencari sesuatu untuk Azzam. Putar-putar Alvan melihat toko komputer jual segala jenis peralatan komputer. Alvan ragu untuk jatuhkan pilihan pada barang canggih itu lagi. Alvan sudah kasih Azzam ponsel pintar seharga puluhan juta. Sekarang apa harus beli sesuatu yang berhubungan dengan barang berjenis mengasah otak.


Sedikit ragu Alvan masuk ke toko memantau apa yang cocok untuk Azzam. Seluruh isi toko terpajang PC serta laptop aneka model. Azzam perlu barang gituan? Alvan belum kenal sekali sifat Azzam. Alvan cuma tahu anaknya jenius. Tidak seperti anak kecil umumnya.


"Selamat datang pak! Ada yang bisa kami bantu?" seorang pelayan menyapa Alvan ramah. Senyum manis bertengger di wajah pramuria cantik itu.


"Aku mau beli sesuatu untuk anak laki aku! Apa yang cocok untuk anakku? Dia berotak encer."


"Kelas berapa pak?"


"Kelas tiga SD.."


"Kelas tiga SD...di sini peralatan komputer dan laptop. Apa sesuai untuk anak bapak?" pramuria itu ragu rekomendasi barang di toko untuk anak kecil.


"Anakku tak suka mainan anak umumnya. Mungkin laptop canggih atau ada game virtual merangsang adrenalin?"


"Oh gitu pak! Kalau gitu bapak beli saja laptop mini canggih kami. Produk baru dengan prosesor mumpuni. Ram dan Rom juga besar. Mau main game online ataupun isi dengan data lain cukup lega. Layarnya cuma 11 inchi. Cocok dibawa-bawa untuk les."


Alvan tertarik pada barang direkom pramuria toko. Azzam mungkin cocok memiliki barang gitu. Wawasan Azzam bisa bertambah bila merambah lebih jauh alat canggih.

__ADS_1


Pramuria toko segera keluarkan barang yang dipromosikan tadi. Sebuah laptop mini warna merah cabe. Dari segi warna Alvan kurang suka. Anak cowok mana cocok memiliki warna cerah kayak warna ibu-ibu.


"Ada warna lain?"


"Ada...hitam. Warna merah lebih mahal sedikit karena warna langka. Rata-rata orang ambil warna merah."


"Maaf nona...anakku laki! Ambil warna hitam dan coba aktifkan?" ujar Alvan tak berbadan basi.


"Iya pak!" Pramuria toko tak berani bernyanyi lagi karena suara Alvan tidak ramah. Dengan gerakan cepat gadis muda itu mengeluarkan laptop mini warna hitam.


Laptop itu dihidupkan sesuai standard membeli barang elektronik. Di coba dulu baru dibungkus. Jangan seperti membeli kucing dalam karung. Membeli tanpa ditest andai dibawa pulang tak bisa menyala secara baik akan menimbulkan rasa kecewa dan rasa curiga antara penjual dan pembeli. Paling tepat adalah nyalakan di depan pembeli pastikan semua beres.


Alvan puas lihat tampilan laptop mini yang cukup mumpuni. Isi dalam cukup memadai untuk diajak berselancar di dunia Maya. Tahap selanjutnya adalah mengenai dana. Alvan belum tanya berapa harga barang tersebut. Alvan tak masalahkan soal harga. Untuk putra kandung betapa mahal tetap harus dibeli. Uang yang dihambur Karin jauh lebih banyak dari harga satu laptop ini.


"Berapa harganya nona?" Alvan tanya soal harga setelah puas lihat kepiawaian barang canggih itu.


"Untuk hargai ketulusan bapak terhadap anak maka aku beri diskon habis. Ini merek bagus pak!"


"Aku tahu. Kalau tak bagus aku juga tak mau beli. Waktuku berharga. Langsung saja!"


"Oh maaf!" pelayan toko itu malu asyik bual menarik simpati pelanggan. Alvan bukan pelanggan ramah suka basa basi untuk hal tak penting."Ini harganya dua puluh juta. Biasa kami jual lebih dari ini. Kami kasih bonus mouse wireless dan anti gores layar."


"Kurangnya?"


"Sudahlah! Bungkus yang rapi. Pasang anti goresnya. Aku bayar pakai kartu debit."


Pramuria tersebut kontan sumringah karena Alvan tak menawar lagi. Rezeki pagi hari. Jarang ada pembeli tidak nyinyiran kalau sudah berada di posisi tawar menawar. Masing-masing keluarkan jurus andalan meminta harga sesuai keinginan. Penjual bertahan di harga setinggi mungkin sedang pembeli bertahan di harga paling rendah. Ini hukum jual beli.


Apalagi kalau jumpa pembeli wanita. Perang urat leher akan bermula dari harga pertama. Harga turun naik saling klaim sesuai budget diharapkan. Satu dua jam berkutat dalam satu barang bukan hal aneh. Terlalu lumrah bila pelanggan wanita yang belanja. Kurang seribu perak saja terasa sangat nikmat.


Alvan menerima laptop mini untuk Azzam dari tangan pramuria toko. Benda itu terbungkus rapi dengan kertas warna warni kesukaan anak-anak. Dari bungkusan bisa menarik minta anak untuk segera terima hadiah. Tentu saja dibarengi rasa tak sabar membuka hadiah lihat isi dalam.


Alvan bergegas masuk ke dalam mobil setelah mendapatkan apa uang diinginkan. Semoga saja kedua anaknya menghargai jerih payah Alvan mencari hadiah di hari Minggu ini.


Mobil melaju menuju ke tujuan. Hati Alvan berbunga-bunga bisa jumpa kedua anaknya. Alvan kesenangan akan jumpa kedua anaknya atau jumpa induk anak-anak? Alvan sendiri belum paham apa yang dia harapkan? Kecewa pada Karin lalu lari pada Citra sebagai ban serap? Betapa jahat Alvan bila terpikir rencana tidak manis itu.


Hari Minggu tidak cerah. Mendung seperti hati Alvan. Lain dengan penghuni rumah sederhana di kawasan komplek perumahan kelas bawah. Dalam rumah terdengar gelak tawa bahagia seolah dunia ini berseri selaras isi hati penghuni rumah.


Alvan parkir mobil di luar pagar rumah Citra. Dari luar pagar Alvan sudah dengar tawa ceria berasal dari rumah sederhana Citra. Tawa lepas tanpa rekayasa. Alvan mengenal itu tawa Afifa dan Azzam. Apa gerangan membuat kedua bocah itu begitu bahagia. Mereka tetap bahagia walau tanpa Alvan. Di sini Alvan merasa tak berguna sebagai papi kedua anak itu. Mereka tak butuh papi untuk bahagia.


Alvan buka pintu pagar yang tidak terkunci. Bunyi pintu pagar menghentikan gelak dalam rumah. Tidak ada reaksi dari dalam rumah. Rumah itu mendadak menjadi hening tanpa tawa ceria yang baru saja berkumandang.

__ADS_1


Alvan masuk tanpa ragu sambil tenteng hadiah untuk kedua bocah itu. Alvan berhenti di depan pintu menguping kalau ada suara dari dalam. Tak ada suara, sunyi sepi. Tawa derai tadi lenyap gara-gara bunyi pintu pagar.


Alvan letakkan hadiah di atas meja di mana dulu dia dan Daniel pernah duduk minum kopi suguhan Andi. Ini kali ketiga Alvan menginjak rumah ini. Pertama dengan Daniel, kedua waktu Afifa demam dan ini ketiga. Semoga pintu rumah terbuka untuk Alvan.


Alvan mengetok pintu perlahan. Alvan yakin orang di dalam akan dengar walau ketokan perlahan. Rumah itu kecil jadi tak mungkin tak dengar suara dari luar. Berapa jauh penghuni akan sembunyi bila luas rumah tujuh kali sepuluh.


Alvan mengulang ketokan, kali ini lebih kencang supaya yang di dalam beri reaksi. Masih sunyi.


"Pak..." terdengar seruan dari samping rumah. Alvan putar kepala kenal suara feminim Andi. Benar saja Andi nongol dari rumah sebelah berlari kecil masuk rumah Citra melalui pintu pagar.


"Andi... anak-anak mana?"


"Ada di dalam. Mereka tak diijinkan buka pintu selama mbak Citra tak ada. Aku ada kunci rumah." Andi merogoh kantong mengeluarkan kunci membuka pintu dari luar.


Alvan lega anak-anak sangat mengerti apa yang jadi kekuatiran sang mami. Tanpa ijin mami keduanya tak berani berbuat sesuka hati. Citra telah tanamkan rasa waspada pada kedua bocil itu. Itu hal baik, Alvan tak bilang itu hal negatif. Namun ada sisi buruknya bila ada bencana di luar dugaan seperti kebakaran atau gempa bumi. Kedua anak itu bisa mati konyol bila terlalu patuh.


"Pak...ayok masuk!" Andi berhasil buka pintu memberi jalan pada Alvan masuk ke dalam.


Alvan masuk mengitari mata ke seluruh ruang tamu yang sangat sederhana. Tak ada barang mewah selain tv flat ukuran sedang berada di bufet kayu. Kursi kayu di alasi busa tipis warna biru muda. Selain itu hanya ada foto Afifa dan Azzam berserta Citra berpose di Tiongkok. Ada juga foto Citra bersama orang tuanya.


Kalau ada maling mungkin yang bisa digondol hanya tv. Selebihnya tak ada barang mewah cocok jadi target operasi para perampok. Rugi besar kalau mau jadi maling di rumah Citra. Penghasilan minim resiko penjara segede langit.


"Papi????" seru Afifa ntah muncul dari mana. Tahu-tahu Sudah berlarian minta di peluk Alvan. Alvan turunkan tubuh sejajar dengan tinggi Afifa agar bisa rasakan pelukan hangat Afifa menyatu di dada.


"Kangen pada papi? Alvan mengusap wajah imut Afifa. Mata bening Afifa berkaca-kaca menahan jatuhnya cairan bening.


"Amei rindu papi. Kenapa papi tak jemput Amei waktu pulang dari rumah sakit?"


"Papi tak tahu Amei pulang. Papi sibuk di kantor maka tak sayang jenguk Afifa di rumah. Ini papi sudah datang. Amei tidak marah kan?" Alvan ikutan panggil Afifa dengan sebutan Amei untuk menyenangkan hati yang terluka itu.


"Mami bilang papi sibuk urus rubah. Tak ada waktu datang ke sini!"


Alvan mengomel dalam hati jengkel cara Citra menerangkan mengapa Alvan tak datang. Cara yang tidak bijaksana. Afifa bisa berpikir negatif pada Alvan yang lebih mementingkan seekor rubah dari pada anak kandung.


"Bukan gitu sayang! Rubahnya akan papi kembalikan ke hutan. Sekarang kita lihat hadiah dari papi. Mana Azzam?" Alvan mencari sosok lain bagian dari tubuhnya.


"Koko di kamar. Tadi kami main ular tangga. Amei menang terusan."


"Panggil Azzam biar papi ngasih hadiahnya. Ada untuk Azzam dan Afifa. Oya Andi! Tolong ambil kotak-kotak di atas meja di luar!" ujar Alvan pada Andi yang mematung dari tadi.


"Siap pak!" Andi dengan lincah keluar mengambil kotak hadiah yang tertinggal di meja luar.

__ADS_1


Afifa melaksanakan tugas lain memanggil Azzam. Azzam masuk kamar setelah tahu Alvan yang datang. Lajang itu kecewa Alvan tidak datang tunaikan janji pada Afifa. Alvan sudah janji akan ada untuk mereka, baru dekat Alvan sudah ingkar janji. Rasa simpatik Azzam makin menipis. Alvan belum pantas jadi orang tua mereka. Masih ada orang menang telak bersaing merebut perhatian Alvan. Mereka bukan apa-apa bagi Alvan. Hanya angin lalu, bisa dirasakan namun tak bisa dilihat.


Andi meletakkan hadiah dari Alvan di atas meja ruang tamu. Berkotak-kotak mainan dan satu laptop mahal. Andi bukan bodoh tak tahu harga boneka Barbie untuk Afifa. Satu buah bisa dihargai ratusan ribu. Belum lagi pernak-pernik mainan boneka Barbie seperti tas, baju, sepatu dan Kotak yang disinyalir rumah boneka.


__ADS_2