
Akhirnya orang yang ditunggu-tunggu muncul juga. Tokcer dan Bonar menatapi Andi dengan tatapan horor. Kedua mantan preman itu betul-betul tidak sabar melihat gaya Andi yang bak bintang top. Penampilan tak ubah seperti orang memang sudah sangat terkenal. Tangan tokcer sudah terasa gatal ingin menjambak rambut si Andi sampai berantakan. kalau perlu biar botak sekalian.
Azzam menggeleng-geleng kepala heran melihat gaya Andi yang berusaha tampil sekeren mungkin. Sebenarnya Azzam ingin mengeluarkan sesuatu dari mulutnya tapi anak lajang ini berusaha menahan diri agar tidak merusak suasana bahagia hati Afifa.
"Woi...lhu numpang mandi di di sungai Nil ya!" Serang Tokcer dengan hati gusar. Semua yang ada di situ telah menanti Andi dengan hati tidak sabar. Yang dinanti malahan enak-enakan berdandan.
"Kok sungai Nil? Jauh amat!" sahur Andi belum tahu yang ada di situ sedang kesal padanya.
"Tuh bau lhu kayak kuda nil sedang birahi!" timpal Tokcer dengan kesal.
"Enak aja lhu ngomong! Ini parfum ku beli di toko mahal bro! Bukan dari warung Wak Sugeng lagi. Punya moncong di sekolahin dulu jangan asal bunyi!"
"Tanya aja sama semua orang gimana bau lhu?"
Andi melengos dengan gaya peragawati kondang. sudut mata Andi melirik tokcer dengan gemasnya. Orang berdandan satu sore biar tampak kece malah dikatain bau kuda Nil.
Kalau diteruskan perdebatan ini sampai subuh pun tidak akan selesai. Citra terpaksa melerai perdebatan ini agar mereka bisa segera berangkat. Kedua anaknya pun sudah tidak sabar untuk segera jalan-jalan bersama orang-orang tercinta.
"Kalian berdua debat terus! Debat di tengah jalan saja biar tambah rame." ujar Citra habis kesabaran.
"Tuh Tokcer sinting ngatain aku bau kuda Nil!" Andi menghentak kaki ke lantai lupa kalau Alvan telah beri ultimatum Andi harus menampilkan diri sebagai lelaki sejati.
"Emang bawa kuda nil kenapa? Nggak ada masalah toh?"
"Nah lho! Kak Citra kok ikutan Tokcer?" sungut Andi manyun.
"Mi...kita pergi dengan taksi saja! Bawa aja dua orang ini ke kantor desa biar disidang siapa yang bau kuda Nil?" Azzam berjalan santai keluar pagar rumah. Azzam tampak jauh lebih dewasa dari dua lajang tua itu.
"Koko benar... kandangin aja dua ekor kuda ini! Kak Bonar bisa kok bawa mobil!" Bonar berseru riang bisa unjuk keterampilan di hadapan Citra.
"Punya SIM nggak? Ntar pergi pakai mobil pulang pakai kaki!"
Bonar menggaruk kepalanya perlahan takut merusak tataan rambut model belah tengah. Modelnya sungguh tak sedap di mata mirip profesor kehilangan alat riset.
Dugaan Azzam benar. Bonar tidak memiliki SIM. Selama ini Bonar hanya menjadi kernet sopir angkot. Bonar hanya boleh memindahkan mobil di dalam terminal tapi tak boleh membawa mobil di jalan raya. Ini karena Bonar tidak memiliki SIM.
Tokcer dan Andi menangkap ada signal bahaya mengancam posisi mereka. Kalau diteruskan bisa-bisa mereka dipecat dari pekerjaan. Mereka bukan tak tahu betapa tajamnya mulut Azzam.
"Yok... kita berangkat sekarang!" ajak Tokcer sebelum Azzam buka mulut. Kalimat yang keluar dari mulut Azzam selalu sakit di kuping. Kadang perih sampai ke ulu hati.
Citra memimpin kedua anaknya masuk ke dalam mobil. Pak Tokcer berada di posisi sopir sedangkan di sampingnya ada bos baru yang bernama Andi. Malam ini Andi merasa menjadi orang terkaya di dunia ini. Punya sopir dan keluarga yang cantik-cantik kecuali bodyguard yang mukanya sekeras topeng.
Sebelum pergi belanja Citra mengajak keluarganya makan malam di cafe sederhana. Citra bukan Alvan yang memiliki segalanya mampu membayarin makan di restoran mahal. Citra hanya seorang dokter yang hidupnya pas-pasan.
__ADS_1
Bagi Citra cafenya sederhana namun bagi Tokcer dan Bonar itu sudah merupakan kehidupan kalangan atas. Tak pernah terlintas di otak untuk menikmati makanan yang harganya tentu di atas duit warna merah.
Andi yang sudah beberapa kali diajak makan tempat mahal tidak terkejut lagi. Mantan banci insaf santai saja sewaktu memasuki cafe yang ramai pengunjung. Pola hidup Andi betul-betul berubah sejak bekerja di kantor Alvan. Laki itu sudah bisa posisikan diri sebagai pegawai kantoran. Tidak norak kayak dulu.
Citra memesan beberapa macam makanan untuk dimakan bersama. Citra tidak minta persetujuan anak-anak karena tahu ditanyapun jawaban terserah Citra.
Untuk sejenak Afifa melupakan Alvan. Gadis kecil jarang diajak jalan oleh maminya. Citra habiskan waktu di rumah sakit dan melakukan pekerjaan seorang ibu. Di rumah tak ada pembantu maka semua harus dikerjakan sendiri. Masih untung kadang di bantu Andi.
Ketiga konconya itu terlihat senang bisa duduk semeja dengan Citra. Citra adalah wanita baik yang penuh perhatian. Bisa kenal Citra merupakan karunia. Berkat Citra mereka dapat pekerjaan tetap.
"Bonar...sebelum berangkat tadi pak Alvan ada titip uang untuk beli pakaianmu! Kakak harap kau bekerja dengan baik. Jangan mengecewakan pak Alvan! Kau juga Andi dan Totok! Tidak mudah masuk jadi karyawan perusahaan besar. Apa lagi pendidikan kalian pas-pasan. Ingat itu!" Citra membeli nasehat di sela-sela menanti hidangan terhidang di meja.
"Iya kak! Apa iya aku boleh kerja kayak Andi?" tanya Bonar dengan lugunya. Citra mengangguk yakinkan Bonar bahwa dia diterima kerja di tempat Alvan.
"Tentu saja Bonar! Pak Alvan saja sudah meninggalkan uang agar kamu tampil layak. Maka itu jangan mengecewakan! Tinggalkan semua sifat burukmu. Kalau kamu disuruh jaga gudang apa kamu mau?"
"Apa saja kak! Asal halal tidak melanggar hukum." sahut Bonar spontan.
"Bagus tapi tanggung jawabnya sangat besar kamu harus yakin tidak macam-macam. Jangan terpengaruh ajakan yang tidak menguntungkan posisi kamu nanti!"
"Maksud kakak apa?" tanya benar belum memahami makna dari kata-kata Citra.
"Maksud Kak Citra gini Bonar. Di gudang kan tersimpan barang-barang perusahaan jadi kalau ada yang ajak kerja sama keluarkan barang di gudang tanpa sepengetahuan perusahaan kamu jangan mau! Itu sama saja dengan menjadi maling!" Andi menerangkan dapat menangkap maksud Citra.
"Oh gitu kak! Ya nggaklah! Bodoh banget aku nyolong di gudang pak Alvan. Itu kan sama saja nyolong punyaan Azzam. Aku bersumpah takkan berpikiran buruk."
"Bagus...dan lagi kamu harus tinggal di gudang. Kau sanggup dua puluh empat jam di gudang? Gajimu lumayan tapi dengan catatan jujur!"
"Sanggup kak! Bonar terima." jawab Bonar tidak ada keraguan. dengar kata gaji lumayan hati Bonar langsung terhibur. Bayangan hidup dalam kesusahan mulai tersingkir.
"Bo... kalau lhu macam-macam! Gue habisin lhu! Jangan bikin malu kita ya!" ancam Tokcer tak luput dari rasa syukur. Akhirnya temannya ini dapat kerja tetap.
"Mi.. Kak Bonar di gudang terus apa tidak keriput nanti?" gurau Azzam ikut bersyukur. Dalam hati Azzam tersimpan rasa bangga pada kebijakan Alvan pekerjakan orang-orang terlantar. Mereka punya potensi cuma tak punya kesempatan. Alvan telah buka jalan bagi mereka. Semoga nanti menyusul anak muda yang lain.
"Ko... kita kirim es batu untuk Bonar biar tidak membusuk di gudang!" olok Andi menambah gurauan Azzam.
Citra tersenyum melihat keakraban anak-anak itu. semoga seterusnya begini Sampai orang-orang tumbuh menjadi manusia yang betul-betul berguna.
Tak lama kemudian satu persatu hidangan dihidangkan di meja. Air liur Bonar nyaris menetes melihat hidangan yang begitu wah di matanya. hari ini perutnya betul-betul dimanjakan oleh hidangan-hidangan kelas atas. kalau selama ini makan nasi dengan tempe dan tahu saja terasa sudah sangat hebat. Sekarang ada ikan ada daging terhidang di meja menggoda selera makan Bonar.
"Yok dimakan!" ajak Citra.
Tanpa disuruh dua kali. Tangan kasar ketiga sahabat itu kontan comot sana sini memenuhi selera masing-masing. Suasana terasa riuh penuh tawa. Citra bersyukur bisa berkumpul kembali dengan keluarga setelah bertugas jauh. Moments malam ini terasa indah walau tanpa Alvan.
__ADS_1
Citra tersipu sendiri ingat Alvan. Mungkinkah papi anak-anak telah meracuni pikirannya. Mengapa sejak pulang dari daerah otak Citra asyik terlintas bayangan Alvan. Tanpa sadar pipi Citra merona merah ingat kebodohan asyik ingat mantan lakinya. Inikah gejala CLBK?
Untunglah tak ada yang melihat rona merah di pipi Citra. Semua pada asyik makan tak sempat melirik sana sini. Mata mereka fokus ke hidangan di meja. Rasanya ingin habiskan semua makanan biar tidak mubazir.
Sehabis makan perjalanan di lanjutkan ke mal. Di sini Citra mengajak Bonar berbelanja pakaian. Citra ajak mereka ke toko pakaian khusus pria. Pajangan pakaian sana memang high class. Rata-rata harga di atas ratusan ribu.
Andi dan Tokcer saling beri kode agar Bonar tidak belanja di situ. Belanja di situ paling dapat satu dua potong. Mending belanja di tempat mereka belanja. Tidak bermerek namun pakaiannya lumayan bagus.
Tokcer dekati Bonar yang masih terkagum-kagum pada pakaian di toko itu. Gimana rasanya bila pakaian itu menempel di tubuhnya. Akankah dia terbang ke awan-awan di langit. Melayang terbuai dalam kebahagiaan.
"Ssssttt...Ingat uang yang diberi pak Alvan bukan satu milyar! Kalau dapatnya sebanyak kami maka di sini kamu cuma dapat dua potong. Kita beli di toko langganan kami saja. Uang masih tersisa baju dapat lumayan banyak." bisik Tokcer takut di dengar pramuria toko.
"Oh gitu ya! Tapi kemejanya bagus banget!" ujar Bonar kepincut kemeja warna biru langit. Potongannya kemeja umum tapi bahannya tentu berbeda dengan yang dijual di toko biasa.
"Ya sudah lhu beli saja! Lihat labelnya tercantum berapa!"
Andi gatal tangan membalik tag harga yang tergantung di kemeja incaran Bonar. Andi melelet lidah hendak jatuhkan ke lantai saking kagetnya. Ada angka satu disusul enam buah angka sembilan. Satu rupiah lagi menyentuh nominal dia juta.
"Edan...di toko langganan kita bisa dapat sepuluh potong!" ujar Andi sedikit kencang. Serentak semua mata mengarah pada Andi. Kalimat Andi memicu reaksi beberapa pencinta barang bermerek.
"Di loakan dapat satu karung bro!" seru seseorang membuat wajah Andi berubah pucat. Andi sedang pertontonkan keluguan orang kampung. Omong apa adanya.
Citra ikutan malu beri kode agar mereka tinggalkan toko yang berisi pakaian-pakaian mahal. Seruan Andi membuat orang-orang situ menyadari bahwa kelompok Citra datang dari kelas menengah bawah. Citra segera sadar bahwa dia telah salah membawa Bonar ke tempat yang tidak sesuai.
Satu persatu mereka ngeloyor pergi dari toko yang sangat wah. Tatapan meremehkan mengiringi langkah-langkah kelompok Citra. Andi sangat menyesal telah konyol membuat malu semua kawan-kawannya. Bagi tokcer dan Bonar itu tidak jadi masalah. Mereka memang datang dari kelas bawah, pandangan demikian sudah sering mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Ditambah hari ini tidak jadi masalah.
"Maafkan aku kak!" ujar Andi setelah mereka berada di luar toko. Andi merasa menyesal telah mempermalukan Citra.
Citra tersenyum tidak memasalahkan masalah kecil ini. Citra yang salah telah mengiringi ketiga konco itu ke tempat yang tidak sesuai dengan kantong mereka.
"Sudahlah! Tidak apa! Koko dan Amei mau beli apa?"
"Apa Amei boleh meminta es krim?" Afifa menunjuk stand jual aneka rasa es krim. Stand itu dipenuhi anak-anak dan orang tua. Mereka tentu saja membeli untuk menyenangkan anak.
"Yok kita beli! Koko mau?" Citra menggandeng Azzam dan Afifa ke arah stand. Di belakang tiga jagoan neon mengikuti. Mereka tampak lesu telah merusak kegembiraan Citra dan anak-anak. Untunglah Citra tidak menyalahi sifat norak mereka.
"Koko minta rasa coklat. Amei mau rasa apa?" Azzam tenang sekali menanyakan selera adiknya pada makanan cemilan dingin itu.
"Melon ko! Kakak-kakak ganteng mau tidak? Ntar mewek tak diberi jajanan!" gurau Afifa tidak open pada insiden kecil di toko pakaian.
"Boleh juga. Kak Bonar coklat kayak Koko." sahut Bonar malu-malu.
"Sama.." nimbrung Andi dan Tokcer serentak. Es krim di mal dan es krim gerobak sorong ada perbedaan tidak? Kini tibalah saatnya memberi nilai mana yang lebih mantap.
__ADS_1
"Koko pergi beli ya! Mami tunggu di sini!" Citra memberi selembar uang warna merah pada Azzam. Andi sigap maju mendampingi Azzam. Alvan telah wanti-wanti pada Andi untuk jaga anak-anak. Itu adalah salah satu tanggung jawab Andi terhadap tugas. Amanah Alvan sama saja tugas.