
Suasana hati Alvan makin menjadi. Bertambah buruk berlipat ganda. Sembilan tahun telah mengubah Citra jadi kuat dan dewasa. Pesona Citra beda dengan pesona Karin maupun Selvia. Citra sahaja tak banyak lukis hidup dengan segala keglamoran. Wanita itu hidup hanya untuk beri masa depan cerah buat anak-anak.
"Kita rapat!" Alvan abaikan dulu masalah pribadi. Bila diingat terus pekerjaan akan terbelangkai. Alvan harus kuat hadap gelombang ombak yang mulai menghantam hidupnya. Punya isteri murahan, tak tahu diri habiskan uang tanpa pakai kalkulator. Dipikir uang Alvan hasil rampokan atau jatuh dari langit.
Untuk sementara ini Alvan tak punya waktu pusatkan pikiran pada lembaran hitam keluarga. Tugas lebih penting di depan mata. Alvan masuk ruang rapat diikuti Wenda sang sekretaris dan Untung asisten setia.
Di tempat lain jauh dari kantor Alvan seorang dokter sedang menjaga anaknya yang sakit. Hari ini Citra bisa lega karena Nadine tetangga sekaligus perawat ditugaskan khusus merawat Afifa.
Afifa sudah kenal baik Nadine jadi tak rewel sewaktu diurus perawat itu. Afifa tak banyak bikin ulah karena waktu tersita oleh rasa ngantuk. Gadis kecil itu sebentar-sebentar tidur efek dari obat.
Nadine dan Citra duduk santai di ruangan sambil nikmati Snack bawaan Nadine dari rumah berupa ubi jalar goreng tepung. Makanan rakyat kecil namun tak hilang ditelan waktu. Penganan kampung tetap juara hati. Murah sedap di lidah.
Suara kriuk-kriuk bersahutan keluar dari mulut Citra dan Nadine. Keduanya santai menunggu Afifa bangun. Sejak ditinggal Alvan gadis kecil itu tidur. Tak ada yang perlu dikuatirkan karena kondisi Afifa stabil.
"Citra...kenapa kau rahasiakan bapak bocil-bocil ini?" tanya Nadine menatap Citra lekat-lekat.
"Aku tak mau terlibat dalam hidup orang kaya lagi. Dari awal menikah dengan Alvan hidupku sudah hancur. Alvan menikahiku karena paksaan kakek Wira. Alvan sudah punya kekasih yaitu bininya sekarang. Kami hidup bertiga di Jogja. Aku hidup di bawah tekanan tak dianggap oleh Alvan. Dia hanya peduli pada Karin. Aku tak ubah pembantu." cerita Citra tanpa emosi. Citra anggap itu sudah selesai. Hanya tinggal kenangan buruk tak perlu dimasukkan dalam hati.
"Alvan kurang ajar?"
"Tidak, dia cuma cuek. Karin yang selalu menekan aku. Setahun aku hidup bagai layangan putus. Terombang ambing di langit luas. Sampai satu hari Alvan ntah kemasukkan setan mana perkosa aku."
"Perkosa? Bukankah kau isterinya?" Nadine tertawa dengar istilah sadis Citra gambarkan Alvan bercinta dengannya.
"Selama setahun Alvan tak pernah sentuh aku. Hari sial itu merusak semua masa depanku. Tapi belakangan aku bersyukur Alvan telah berjasa membantu aku memiliki harta tak ternilai."
"Kau memaafkannya?"
"Dari dulu aku sudah maafkan! Cuma aku tak ingin merusak kebahagiaan dia bersama Karin. Sejujurnya bilang akulah pelakor di antara mereka. Mereka pacaran cukup lama, kakek memaksa Alvan harus nikahi aku. Maka itu aku tak pernah mengeluh walau jadi anak tiri."
"Lalu kenapa kalian pisah?"
"Pagi itu kakek datang melihat Alvan dan Karin di tempat tidur. Kakek marah suruh Alvan talak aku. Sejak itu aku pergi dari hidup Alvan. Aku tak tahu aku sedang hamil anak Alvan. Kakek yang merawatku selama dua tahun sampai beliau meninggal. Kakek temani aku operasi tiga anak ini. Kakek juga melarang aku cerai dari Alvan secara hukum demi anak-anak. Mereka harus menyandang marga Lingga. Mereka semua punya akte anak Alvan dan aku. Kakek yang urus semuanya."
Nadine manggut kagum pada jalan hidup Citra. Citra sangat tegar walau punya suami koplak. Buta karena cinta. Jarang ada wanita sanggup besarkan tiga anak tanpa bantuan orang lain. Citra sudah buktikan dia mampu.
"Wah...kayak kisah dalam sinetron! Apa rencanamu setelah ini? Ijinkan Alvan kembali pada hidupmu atau putus hubungan."
"Aku masih belum bisa ambil keputusan. Afifa mulai lengket padanya. Afifa cepat pulih karena perasaannya baik. Dilema nih!" Citra berhenti makan ingat nasib mereka ke depan. Konflik dengan Karin tak terhindari bila Alvan bersikeras ingin kumpul dengan darah dagingnya. Karin mana mau terima anak dari rivalnya. Citra bukan tak tahu akal licik Karin. Segala upaya pasti dia lakukan untuk ikat Alvan tak terbang dari tangannya.
"Rumit dah!"
Citra angguk belum punya rencana apapun selain berdoa semoga semua berjalan baik. Tak terpikir sedikitpun ingin menyakiti hati Karin. Citra ngerti bagaimana perasaan bila suami selingkuh. Citra pernah menaruh harapan pada Alvan. Sayang Alvan memilih Karin ketimbang isteri sah.
"Azzam tidak suka pada Alvan. Dia anggap Alvan sebagai musuh."
Nadine tertawa ngakak tak heran lajang kecil itu tak suka pada Alvan. Azzam mengira Alvan sengaja buang mereka untuk wanita lain. Azzam bukan anak kecil umum yang hanya tahu main. Otak lajang itu berputar jauh dari poros seharusnya.
__ADS_1
"Aku tak heran. Azzam anak istimewa. Pintar dan mulutnya jahat."
"Mirip Alvan...mulutnya beracun. Afisa juga gitu. Hanya Afifa hatinya lembut."
"Buah jatuh tak jauh dari pokoknya!"
Keduanya tertawa lucu bayangkan Azzam si lajang judes melawan bapak kandung. Hari-hari Alvan dijamin sengsara bila bersikeras mau kumpul dengan darah daging. Azzam takkan gampang ijinkan Alvan masuk gitu saja. Penjaga gerbang keluarga yang keren. Sikat tukang onar tanpa pilih bulu.
Pintu diketok orang dari luar. Nadine dengan sigap melihat siapa yang datang. Begitu pintu terbuka Seraut wajah kesal menyembul. Nadine tak berani ketawa karena yang datang dokter senior.
Dokter Rahma nyelonong masuk langsung berhadapan dengan Citra tak bersahabat. Citra tidak gentar karena tak merasa bersalah pada seniornya itu.
"Kok mendung dok?" tegur Citra ramah.
"Kamu pakai susuk dukun mana?" semprot dokter Rahma sewot.
"Dukun apa? Ngawur..ada apa?" tanya Citra sabar. Citra tahu dokter Rahma tak berniat serang Citra. Mungkin didorong rasa dongkol baru keluar kalimat tak sedap.
"Tuh pasien sebelah! Tak mau diperiksa. Mau dokter Citra." sungut dokter Rahma sewot.
"Pasien gila itu? Katakan aku lagi cuti urus anakku sakit!"
"Kupingnya lagi tertinggal di rumah. Tak punya kuping."
"Secara resmi dia pasienmu dok! Aku tak berhak ikut campur lagi. Ini menyalahi aturan rumah sakit."
Citra dan Rahma tak tahu ada rencana lebih mengerikan tersusun di otak orang kaya itu. Heru hendak beli rumah sakit ini agar bisa ikat Citra dalam genggaman.
"Ya sudah aku ikut! Kak Nadine awasi Afifa ya! Sebentar saja kok! Di sebelah."
Nadine bulatkan jempol dan telunjuk tanda ok.
Citra bangkit tinggalkan cemilan kampung buatan Bu Menik ibunya Nadine. Dokter Rahma mencopot beberapa potong untuk ganjal mulut yang tadi terasa pahit. Baru kali ini Rahma jumpa pasien menolak dokter. Andai pasien itu anak kecil Rahma bisa maklum. Yang ini sudah tua bangka bertingkah kayak anak kecil. Menyebalkan.
Rahma dan Citra segera masuk ruang rawat pasien super menyebalkan itu. Tanpa banyak adat Citra masuk tanpa salam. Orang brutal tak pantas diberi salam manis.
Netra Citra menangkap sosok menyebalkan itu duduk santai di sofa sambil pegang ponsel pakai sebelah tangan. Tangan satu lagi masih berbalut perban bekas operasi.
"Maaf pak! Kami petugas medis akan periksa kesehatan bapak!" ujar Citra tanpa basa basi. Rahma dan seorang perawat siap dengan peralatan kesehatan untuk periksa Heru Perkasa. Pasien songong abad kekinian.
Laki menyebalkan itu tersenyum tatkala melihat siapa yang datang. Pancingannya berbuah hasil. Dokter yang diincar akhirnya datang memeriksa dirinya. Memang itu harapan Heru untuk kenal Citra lebih dekat.
"Bapak silahkan berbaring!" ujar Citra lebih mirip perintah.
Heru Perkasa patuh tanpa protes. Gayanya persis anak manis patuh sama ibu guru. Pengawal setia laki itu turut bantu Heru bawa bungkusan infus pindah ke tempat tidur. Mata Heru tak lepas dari wajah Citra. Tatapan mata itu seolah melihat di wajah Citra ada gambar indah. Sedap di mata.
Justru Citra tak nyaman ditatap mendalam oleh laki gila itu. Orang kaya tapi otaknya anak SD. Yang dioperasi tangan yang rusak otak.
__ADS_1
Citra tak banyak komentar setelah Heru tidur di ranjang. Citra laksanakan tugas sebagai dokter memeriksa Heru sesuai prosedur dokter. Semua berjalan normal. Tinggal pemulihan bagian operasi. Kalau mau dirawat jalan juga bisa. Tergantung keinginan pasien mau pulang atau dirawat lanjut.
"Semua aman pak! Kalau mau rawat jalan boleh." kata Citra ingin congkel mata nakal Heru. Mata itu tak lepas dari Citra.
"Dadaku masih sakit." ujar Heru tak nyambung. Yang operasi tangan, yang sakit dada. Dari mana hubungan kedua penyakit itu.
"Oh...mungkin bapak kena jantung koroner! Kayaknya harus dikeluarkan direndam formalin agar awet." sahut Citra santai. Suster dan dokter Rahma pingin tertawa terpingkal namun ditahan. Citra sungguh jahil kerjain pasien nakal itu.
"Sama aja aku mati! Dadaku sakit menahan rindu. Apa ada terapi obati rasa rindu aku?" Heru bukan orang bodoh tak tahu sedang dikerjain Citra.
Citra menelan ludah kalah set dari orang songong itu. Heru tak tahu malu langsung ungkap isi hati di depan orang banyak. Siapa yang jadi penawar rindu laki itu.
"Ada...bapak cari aja cleaning servis! Dia sanggup kok cuci bersih semua rasa rindu. Apa lagi kalau cs nya nenek tua. Lebih bersih karena pengalaman. Perlu bantuan?" tawar Citra besarkan mata intimidasi Heru.
"Kenapa tidak dokter saja buka praktek pengobat rindu? Aku pasien pertama. Dijamin sembuh."
"Aku bukan dokter pengobat rindu tapi dokter orang sarap." Citra sengaja pelesetkan lidah dari kata syaraf ke sarap. Orang sarap yang notabene orang gila. Citra anggap Heru punya kelainan jiwa. Kenal juga tidak malah anjurkan hal tak masuk akal.
Heru tertawa terbahak-bahak bukannya marah. Heru makin suka pada Citra yang menurutnya wanita menarik. Wanita ini tak open siapa pasien yang penting cepat sembuh tinggalkan rumah sakit. Heru duda keren digilai puluhan wanita dicueki seorang dokter mungil. Bagi Heru ini justru makin menarik hati.
"Aku mau jadi pasienmu. Tolong daftarkan aku sebagai pasien pertama dan terakhir. Cukup rawat orang sarap ini!"
"Suster tolong suntik rabies pasien ini!" ketus Citra kesal cara Heru menggoda dia. Laki tak tahu malu.
Tawa derai makin bergema dalam ruang itu. Heru tak mampu tahan tawa lihat wajah Citra berubah pink sakit geram digoda Heru. Baru kali ini Heru bahagia jumpa wanita menarik. Menurut informasi Citra ini janda ditinggal suami. Bagi Heru tak masalah janda yang penting klop di hati. Heru tak tahu di belakang Citra masih ada backing kuat yakni Azzam dan Alvan.
Alvan mana mungkin biarkan Citra lepas dari cengkraman. Apa pun cara Alvan harus menangkan hati Citra lagi baru ada kesempatan rebut hati Azzam dan Afisa.
"Maaf pak! Kami harus jenguk pasien lain. Tunggu saja tukang obras jantung datang!" Citra tak mau berlarut dalam obrolan bikin emosi. Niat Heru memang cuma mau isengi dia. Laki itu sengaja persulit Rahma untuk memaksa Citra muncul.
Citra datang bukannya bertingkah baik. Malah makin konyol. Citra jadi ragu kalau Heru ini bos perusahaan besar. Jangan-jangan orang gila nyamar jadi pengusaha. Beraninya dia ganggu dokter di depan orang ramai.
"Aku akan tunggu nona dokter periksa lagi. Datang lima menit sekali ya! Aku akan dirawat sampai luka kering."
"Tidak perlu. Bapak bisa pulang kalau mau. Luka bapak akan kering dalam beberapa hari asal jangan kena air!" Citra menukas ijinkan Heru tinggalkan rumah sakit kalau mau. Semua tergantung pasien itu. Tinggal di rumah sakit hanya buang uang.
"Aku senang di sini. Ada dokter cantik pengobat rindu. Sakit setahun juga tak masalah asal dirawat dokter cantik."
Kalau punya meteran Citra ingin ukur berapa tebal muka laki itu. Setebal tembok China atau setebal bendungan Glen Canyon Dam di Amerika Serikat. Sungguh laki tak punya rasa malu. Citra menjadi tak enak hati jadi objek incaran Heru. Heru berobat di situ seakan bukan karena sakit tapi karena dokternya.
Rahma mendehem ikut menggoda Citra. Heru memiliki pesona cowok macho. Kaya raya diintip semua wanita. Kini terbalik. Citra yang diincar Heru namun Citra tak tertarik. Standard Citra seberapa tinggi untuk ukuran calon suami. Desas desus Citra ini isteri Alvan menyebar di kalangan dokter dan perawat walau belum ada kepastian. Semua tahu isteri Alvan seorang selebgram banyak follower. Ntah murni follower murni atau hasil sogokan. Istilah follower dibayar pakai duit.
"Besok cek kejiwaan bapak. Aku ini dokter bukan pengasuh anak bayi." Citra berkata dengan ketus sambil lempar pandangan bermusuhan pada Heru.
Heru bukannya marah, laki ini makin penasaran pada dokter muda ini. Bicara dengan suara pelan namun tertangkap judesnya. Judes terselubung. Tak jauh beda dengan sikap Azzam. Bicara tidak urat tegang tapi menghujam ke sasaran. Ini warisan Alvan atau Citra.
"Kutunggu kehadiran Bu dokter cantik!" seru Heru belum menyerah walau Citra keluar dari ruang rawat dengan wajah memerah.
__ADS_1