
Andi dan Azzam ngobrol di kamar kucing sementara Tokcer dan Natasha ntah ngobrol sampai ke planet mana. Bisa planet mars, lebih jauh ke matahari biar gosong sekalian.
Sebelum jam sembilan Andi pamitan karena tahu jadwal waktu istirahat kedua anak Citra. Kedua anak itu tidur tepat waktu bila masa sekolah. Mereka hanya kelonggaran bila hari Sabtu dan Minggu. Selebihnya mereka tidur tepat waktu.
Azzam dan Andi keluar untuk jumpai Tokcer dan Natasha yang sedang hangat-hangat tahi ayam. Dari jauh keduanya melihat Tokcer dan Natasha ngobrol dengan seru sambil umbar tawa renyah. Kedua remaja itu tampak bahagia.
Aktifitas dalam rumah juga mulai tiada. Semua telah masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat Songsong hari esok yang masih jadi misteri. Sesungguhnya Andi tidak tega usik kegembiraan Tokcer namun peraturan tetap peraturan. Andi belum punya nyali melawan Alvan. Resiko terlalu besar. Taruhannya kena PHK berimbas pada kedua jagoan neon lain.
Andi keraskan hati hampiri Tokcer dan Natasha untuk pamit pulang. Tokcer sudah ngerti kode dari Andi waktunya angkat kaki dari rumah Citra. Lelaki ini merutuk waktu yang berjalan cepat. Maunya jalan kayak siput biar jalan lamban.
"Yok cabut bro!" ajak Andi.
"Hei...ini masih pagi! Kenapa cepat pulang?" seru Natasha tak terima cowok idolanya harus segera pulang.
"Pagi hidungmu...apa anda tak lihat di mana-mana sudah gelap! Buka mata biar melek!" ketus Azzam geram cara Natasha abaikan waktu istirahat mereka.
"Tapi aku belum mau tidur!" rengek Natasha manja sambil goyangkan tangan Tokcer minta dukungan. Natasha tak tahu kalau Tokcer tak punya kuku buat keputusan.
"Tuh...bantu pak satpam ronda sampai subuh! Ngantuk baru masuk!" kata Azzam dengan kejamnya.
Tokcer serba salah. Mau bela Natasha pasti kena semprot Andi. Dari jaman mereka sudah tahu kalau Citra sangat ketat atur waktu tidur kedua anaknya. Tak ada toleransi boleh begadang sampai larut malam.
"Nat...Abang pulang dulu! Besok pagi kan datang lagi antar Koko ke sekolah. Ini waktunya tidur. Pergilah bobok! Besok kita sudah jumpa kok!" bujuk Tokcer tak enak hati pada Azzam yang melotot tak suka pada Natasha.
Bagi Azzam Natasha itu menyebalkan namun bagi Tokcer itu hanya kemanjaan anak cewek. Semua cewek rata-rata manja. Pingin dibujuk, pingin diperhatikan. Sejuta kata pingin disematkan ke dada sang cewek.
"Besok jumpa ya! Pakai minyak wangi kayak tadi ya! Aku ikut antar Koko ke sekolah. Habis itu kita pergi main." ujar Natasha perlihatkan sifat asli yang kolokan. Untung saja Daniel tidak jadi nikahi anak gadis ini. Belum dewasa sama sekali.
"Main...main gundu di halaman sekolah bareng anak TK. Tuh!!!Kak Tokcer jadi gurunya gundu!" serobot Azzam makin gemas lihat gaya pecicilan Natasha.
Andi mencolek Azzam agar tutup mulut. Orang sedang kasmaran mana peduli hitam putih. Semua jadi berwarna seperti pelangi setelah hujan. Warna warni indah.
"Sana ayok pulang kalian! Ntar mami datang baru nyaho! Di kuliahi lima jam biar hilang ngantuk. Gepeng deh wajah kakak!" ancam Azzam supaya Tokcer punya inisiatif segera angkat kaki dari rumahnya.
"Sadis amat nih anak! Kesambet apa sih nih bocah?" omel Tokcer.
"Kesambet orang mabuk kepayang. Awas besok telat datang jemput Koko! Tidur ingat bangun! Jangan tidur panjang tenggelam dalam mimpi."
"Dasar mulut beracun! Amit-amit..." Tokcer mengetok meja berkali-kali melawan kata Azzam. Ternyata pindah rumah baru tidak menyembuhkan penyakit Azzam. Malah tambah parah.
Andi mencolek Tokcer agar sadar diri cabut dari rumah bos mereka sebelum tuan rumah usir mereka. Citra tentu tidak benar ingin usir mereka tapi karena anak-anak harus sekolah maka pengacau diharapkan sadar diri.
__ADS_1
Andi dan Tokcer pamitan gunakan mobil Alvan. Tokcer dan Andi sudah kayak bos besar pulang pergi pakai mobil mewah. Siapa sangka preman tanggung dipercayakan jaga mobil harga beratus juta.
Perlahan mobil yang ditumpangi Andi dan Tokcer menghilang ditelan gelap malam. Keheningan menyeruak di sekeliling teras rumah Azzam. Tinggal Azzam dan Natasha saling melempar tatapan tak bersahabat.
"Tamu tak diundang!" gerutu Azzam meninggalkan Natasha masih bengong di teras. Gadis ini belum rela ditinggal cowok terganteng di seluruh dunia. Sosok Tokcer yang sangar terpahat indah di hati. Bau minyak wangi Tokcer yang rada aneh justru jadi daya tarik Tokcer.
Mungkin Tokcer berhasil eksperimen minyak wangi pelet milik engkong. Terbukti Natasha klepek-klepek jumpa Tokcer. Apa yang menarik dari laki itu kalau bukan seraut wajah sangar.
Dalam perjalanan pulang Andi langsung interogasi Tokcer mengapa lengket dengan Natasha yang baru dikenal. Siapa sesungguhnya Natasha masih menjadi pertanyaan. Keluarga Bu Sobirin atau keluarga dari Alvan. Tokcer sok-sokan gombalin cewek dari kasta yang berbeda. Andi takut nanti Tokcer yang sakit hati setelah menaruh harapan besar pada gadis itu. Melambung ke awang-awang tiba-tiba terbanting ke bumi dengan tulang belulang hancur lebur.
Dari tadi Andi melihat sahabatnya tersenyum-senyum sendirian seperti orang kurang waras. Mungkin kenangan sekejap bersama Natasha masih bermain di kelopak mata lagi sangar itu.
"Tok... mata lhu masih nampak jalan?"
"Ya nampak... emang kenapa kamu tanya kayak gitu?"
"Kirain belekan kena bayangan cewek bule tadi. Lhu nggak takut dicambuk sama keluarga Perkasa atau Lingga gara-gara menggoda keluarga mereka."
"Takut apa? Kan bukan aku yang menggodanya dia yang menggoda aku. Aku sih mau aja dikasih cewek yang mulus kayak gitu. Daripada cewek belang-belang dari kampung kita. Mending gua dekatin cewek cantik ini. Syukur-syukur dia senang sama gua kan bisa memperbaiki keturunan."
"Gila lhu ya! Cewek yang berada di rumah gedongan mana mungkin akan mendarat di tempat tidur kita. Paling cewek itu lagi sakit mata tidak melihatmu dengan jelas. Atau dia lupa pakai softlens sehingga tidak jelas melihat wajahmu yang berantakan." ejek Andi terus mematahkan niat Tokcer bikin kisah cinta mendadak dengan Natasha. Andi cuma takut Tokcer bakal kecewa ditinggal oleh Natasha pada suatu saat.
Tokcer sudah pernah sekali dikecewakan oleh wanita yang dia cintai. Namun kedua orang tua wanita itu menolak kehadiran di kehidupan Putri mereka. Tokcer sempat patah arang cukup lama gara-gara patah hati. Untunglah Andi dan Bonar tidak henti-henti memberi semangat pada Tokcer untuk bangkit kembali. dan sekarang Tokcer telah berhasil keluar dari bayangan wanita itu. Sekarang mau pula terlibat dengan wanita yang tidak selevel dengannya.
Andi hanya katakan yang rasional saja. Mereka dari kalangan bawah tidaklah mungkin meraih bintang di langit. Membentang tangga setinggi apapun takkanlah mencapai bintang yang bersinar angkuh di angkasa. Janganlah seperti pungguk merindukan bulan!
"Sadar bro! Sebelum memanjat tinggi ingatlah kalau jatuh itu sakit. Syukur kalau cuma keseleo. Gimana kalau out dari dunia? Siapa bakal jadi teman berantem kami?"
Tokcer agak kesal pada Andi dan Azzam tak dukung dia merasakan elusan tangan halus wangi. Masak harus rasakan tangan emak yang bau terasi tiap hari. Sekali-kali disentuh cewek full aroma high class takkan jadi dosa.
"Gue masih waras bro! Sekedar rasakan bau aroma segar kenapa? Masak tiap hari nyium bau minyak jelantah. Natasha itu hanya selingan. Dia akan balik ke Amerika kok! Paling dua tiga hari lagi di sini. Kasih kesan indah kenapa?"
Andi menghembus nafas lega ternyata Tokcer tidak karam oleh pesona Natasha. Kalau untuk sekedar berteman Andi mendukung 100%. Asal jangan menaruh harapan besar pada Natasha karena itu tidak akan membawa hasil yang memuaskan. Lebih baik tidak memiliki karena tidak akan kehilangan. Dari awal memang sudah tidak memiliki maka Tokcer tidak akan merasa kehilangan.
"Syukurlah kalau memang itu adanya! Aku dukung kamu jadi teman si bule tapi tak dukung kamu letakkan harapan padanya. Kita harus sadar di mana kita berdiri."
"Sudah tahu kali..." sungut Tokcer.
"Hidup kita ini tak bisa berandai-andai. Aku juga mulai sadar kalau hidup di bawah angan yang akan bawa aku ke hancuran. Kita harus bangun tantang kemiskinan dan tepuk dada katakan kita mampu. Kita harus bersyukur jumpa pak Alvan. Nasib kita berubah total sejak ketemu pak Alvan."
"Iya pak ustad gadungan! Gue masih waras punya otak. Kali ini biarkan aku bermimpi jadi pangeran tampan impian putri cantik. Cukup sekali dalam hidupku. Aku sudah puas pernah dikagumi cewek cantik."
__ADS_1
Andi angguk-angguk setuju. Andi gerakan tangan menepuk bahu Tokcer ijinkan cowok itu bermimpi walau nanti terbangun tetap akan sedih. Anggap saja itu bunga tidur yang hanya berlaku dalam angan.
Keduanya segera pulang ke kampung tercinta yang sekarang terasa sepi tanpa Azzam dan Afifa. Biasa mereka akan kumpul di rumah Citra walau hanya sekedar main monopoli. Kini Azzam dan Afifa tinggal jauh. Mau ke sana hanya bisa sekali-kali mengingat semua ada kerjaan.
Tokcer mengantar Andi duluan sebelum pulang ke rumahnya. Setiap malam Tokcer sudah bisa tidur nyenyak tak perlu pikir uang belanja emak esok hari. Kebutuhan hidup tercukupi bahkan sudah berlebih. Mereka cuma berduaan, biaya hidup juga ringan.
Begitu mobil yang dikendarai Tokcer berhenti di depan rumah Alvan ntah dari mana muncul dua gadis muda hampiri Andi yang baru turun dari mobil. Sementara Tokcer bertahan dalam mobil ogah turun setelah lihat siapa yang datang.
Nila mantan pacar Tokcer hampiri Andi sambil melirik Tokcer yang tak mau melihat ke arahnya. Kisah cinta tak sedap berakhir hinaan telah lama terhapus dari relung hati Tokcer. Tokcer sudah move on dari kisah lama menyakitkan itu.
"Selamat malam An..." Nila menyapa Andi tapi mata tertancap pada Tokcer yang diam dalam mobil.
Andi kontan pasang wajah judes tak suka pada cewek gila materi. Gara-gara Tokcer miskin dicampakkan kayak campak telor busuk.
"Malam...ada apa?" sinis Andi tidak ramah sedikitpun.
"Ach ngak...cuma lewat sini! Nampak kalian maka kami singgah! Dari mana? Kok tampak semangat sekali?" Ujar Bila selembut salju.
"Dari rumah doi Tokcer...Tokcer kan dapat gandengan cewek cantik. Anak gedongan lagi. Putih bersih dan hidungnya mancung keluar. Bukan mancung ke dalam alias pesek. Kulitnya licin tidak burik." ketus Andi masih pasang wajah angkuh tak suka kehadiran orang masa lalu Tokcer.
Nila terpukul dengar Tokcer sudah dapat pengganti yang jauh lebih licin versi Andi. Benar atau tidak hanya Andi yang tahu. Nila sudah mendengar kalau Tokcer sudah makmur sekarang. Ke mana-mana naik mobil mewah. Mobil itu parkir di rumah Tokcer setiap malam tanda lajang itu sudah dapat penghasilan bagus.
Nila sengaja datang adu nasib lihat apa ada sela menyambung kisah cinta mereka yang kandas karena adanya campur tangan orang tua.
"Selamat ya bang Totok! Semoga abang bahagia bersama wanita pilihan Abang." Kata Nila sendu pada Tokcer yang masih mematung dalam mobil. Tokcer memilih diam ketimbang harus mengeluarkan kalimat tak sedap di telinga. Perpisahan mereka bukan sepenuhnya salah Nika. Nila juga korban keegoisan orang tua.
"Sudah malam...kalian pulang lah! Kami besok masih harus masuk kantor. Orang kantoran harus tepat waktu. Tidak seperti preman jalanan yang tidak punya alamat kerja."
Tokcer tertawa dalam hati. Andi banyak belajar dari Azzam jadi penebar racun. Mulut Andi mulai menyamai Azzam. Belum sempurna tapi mendekati.
"Kalian kerja di kantor?" tanya Nila tak percaya pendengaran sendiri. Orang kasar model Tokcer sudah jadi karyawan kantoran? Apa pangkatnya di sana? Tukang sapu atau tukang parkir.
"Iya...Bonar kepala gudang, Tokcer manager keuangan dan aku asisten bos." sahut Andi mulus meluncurkan kebohongan publik. Andi asal bunyi untuk naikkan pamor Tokcer agar orang tua Bila mati kesetrum rasa jengkel.
Tokcer makin ingin ledakkan tawa tanggapi ocehan bohong Andi. Andi membela Tokcer total habis. Inilah teman sejati yang dibutuhkan. Selalu ada di saat duka. Bukan hadir saat suka.
Nila dan temannya bulatkan bibir saking kaget dengar jabatan ketiga orang yang pernah jadi limbah kampung. Mereka telah berhasil menjadi orang besar. Pantesan Tokcer ke mana-mana bawa mobil. Ternyata pangkatnya sangat tinggi. Nila dihinggapi rasa sesal tak terhingga telah nekat ikuti omongan keluarga tinggalkan Tokcer. Siapa sangka Tokcer telah makmur sekarang.
"Gajinya gede dong!" lirih teman Nila ntah sadar tidak telah ungkap isi hati pandang materi sebagai basis berhubungan asmara.
"Yang paling gede Bonar. Gajinya lima puluh juta sedang Tokcer empat puluh juta dan aku sedikit di bawah orang ini. Tugas Bonar dan Tokcer lebih berat maka gajinya gede." Andi bercerita seakan apa yang dia katakan itu adalah kenyataan.
__ADS_1
"Wow... Bonar si Batak Kumal punya gaji fantastis? Wah... isterinya kelak hidup dalam gelimang harta dong!" seru teman si Bila mendekap dada membayangkan ratusan lembar uang merah melayang di depan mata.
Andi mencibir. Wanita begini harus ditendang sejauh ribuan mil dari mereka. Kalau ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang.