ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Malam Damai


__ADS_3

Terlepas dari tawa Azzam dan Afifa, semua bahagia malam itu. Anggap malam ini Alvan menjamu Citra sebelum pergi bertugas jauh ke pelosok daerah bencana. Citra dokter andalan rumah sakit berangkat dengan sukarela tanpa paksaan. Alvan harus angkat topi salut pada pilihan Citra. Rasa tak rela Citra pergi terbayar oleh pengabdian Citra di rumah sakitnya.


Makan malam berakhir dibarengi rasa puas semua yang hadir. Bagi keluarga Andi ini adalah malam penuh keajaiban. Seumur hidup mereka baru kali ini merasakan makanan restoran kelas atas.


Azzam dan Afifa kontan ngantuk setelah perut kenyang. Kedua anak itu makan sepuasnya terutama Azzam yang lagi tumbuh. Anak itu makan tak ada puasnya sampai hidangan ludes. Ditambah Andi dan Untung ikut bantu makan. Alhamdulillah makanan kandas pindah ke perut masing-masing.


Untung mengantar keluarga Andi sedangkan Alvan mengantar keluarga kecilnya. Afifa mulai lesu menahan ngantuk. Di dalam mobil gadis kecil itu nyaris tertidur. Azzam masih lumayan mampu bertahan walau mulai lowbat. Kedua anak itu jarang bergadang malam. Asal lewat jam sembilan kedua langsung diserang rasa ngantuk. Kedua anak itu bangun subuh ikuti perintah agama sholat subuh. Sekolah sampai jam empat sore. Mereka tak punya waktu tidur siang kecuali hari Sabtu dan minggu.


Alvan tersenyum lihat kedua buah hatinya mengangguk-angguk di jok belakang berusaha menjaga mata jangan merem. Afifa terkulai bersandar pada sandaran mobil mulai melayang. Azzam membuang mata ke jalanan lihat Kilauan bola lampu mobil lain. Hanya itu yang bisa dilakukan Azzam usir rasa ngantuk.


"Koko ngantuk ya?" Citra melihat anaknya berusaha melawan rasa ngantuk. Kasihan anak itu ingin tampil kuat di depan Alvan. Azzam mau perlihatkan pada Alvan bahwa dia anak kuat mampu lindungi keluarga. Masih tersisa rasa tak percaya pada Alvan walau Citra sudah kasih masukkan. Tetap ada keganjalan di hati Azzam mengapa Alvan tega duakan maminya.


"Ngantuk dikit mi!" sahut Azzam lemas tanda batere makin lowbat.


"Tidur saja! Nanti mami bangunkan kalau sudah sampai."


"Tak usah mi. Koko kuat kok!"


Citra diam tak mau merusak mood Azzam. Kalau dipaksa Azzam akan makin tak nyaman. Citra tak harap Azzam membenci papinya walah Alvan memang bersalah pada mereka. Bagaimanapun Azzam dan Alvan adalah anak bapak.


Selanjutnya suasana berubah hening. Afifa sudah duluan terbang ke awang mimpi sedang Azzam masih melawan ngantuk. Sekali-kali Alvan melirik ke jok belakang pantau kondisi kedua anaknya. Ternyata beginilah perasaan jadi orang tua. Was-was takut anak terjadi sesuatu hal tak diinginkan.


Sesampai di rumah Alvan menggendong Afifa masuk ke kamar. Azzam sendiri langsung tidur. Rasa kantuk mengalahkan segalanya. Untung pamitan setelah antar keluarga Andi tiba di rumah dengan selamat. Alvan ijinkan Untung pulang duluan. Dia sendiri tinggal di rumah Citra hendak ngobrol soal tugas daerah Citra.


Citra hidangkan teh hangat menjamu tamunya. Citra sekeluarga pencinta teh wangi. Mereka lama tinggal di Tiongkok. Sedikit banyak terbawa tradisi sana yang suka minum teh. Teh menyehatkan badan serta menenangkan pikiran.


Alvan perhatikan Citra tanpa berkomentar. Wanita di depannya makin menarik di usia makin matang. Wajah kekanakan dulu kini berubah adem bikin hati ingin dekat selalu.


Citra sadar diperhatikan Alvan merasa punggungnya agak panas. Berapa tahun Citra tak pernah dekat lelaki selain Azzam dan ayah angkat Afisa. Mereka berdua lelaki paling dekat Citra.


Citra halau rasa canggung pura-pura sibuk dengan teh wangi yang masih ada asapnya. Citra menghirup bau teh dalam-dalam rasakan aroma penenang jiwa.


"Kau siap berangkat?" Alvan buka suara setelah berdiam diri sesaat.


"Siap pak! Kutitip anak-anak ya! Tegur mereka kalau nakal."


"Aku boleh ajak mereka main ke rumah?"


"Apa itu perlu? Aku takut kak Karin salah sangka."


"Citra...kau asyik pikir Karin! Apa dia pernah memikirkan perasaanmu? Jangan naif! Tidak semua orang akan baik padamu walau kau beri seluruh hidupmu!"


Citra tertawa simpul dengar suara Alvan sangat keras menekan kata Karin. Secepat itukah Karin terhapus dari ingatan Alvan? Di mana cinta mereka yang agung?

__ADS_1


"Termasuk bapak? Bapak termasuk orang yang bapak katakan?" sindir Citra buat Alvan kelabakan terjebak omongan sendiri.


"Bukan itu maksud aku! Kau matian bela Karin. Dia belum tentu bela kamu. Karin itu urusanku! Aku akan atur yang terbaik untuknya. Kita lihat apa dia bisa sadar tidak?"


"Semoga kak Karin berbalik arah. Dia memang bersalah besar berkhianat, tapi sekarang dia sekarat. Bapak tega biarkan dia sekarat terbuang tanpa ada yang urus?" Citra menatap bola mata Alvan dengan tajam.


Alvan meraup udara sebanyak mungkin masuk paru-paru biar tidak sesak ingat kelakuan Karin. Alvan terlalu kecewa pada Karin hingga tak mampu mengeluarkan kalimat kasar memaki perempuan itu. Cintanya yang tulus dibalas cinta palsu ntah kw berapa.


"Aku sudah bilang akan atur yang terbaik untuknya. Aku tetap bertanggung jawab pada kehidupannya di kemudian hari. Cuma bukan tinggal bersamaku lagi. Kau harus maklumi keadaanku. Aku takut HIV. Aku mau hidup lebih lama lihat Azzam tumbuh dewasa. Aku belum jumpa Afisa. Aku tak boleh mati." ujar Alvan berapi-api tetap teguh tak ijinkan Karin tinggal di rumahnya.


"Siapa bilang bapak mau mati? Orang yang mengidap HIV belum tentu langsung mati. Panjang prosesnya. Dulu aku pergi tanpa beri kabar pada bapak dengan harapan kalian hidup bahagia. Aku sengaja hindari kalian supaya bapak tak ada beban. Ternyata aku salah. Justru hidup kalian kacau balau."


"Jadi kau lihat kami selama kuliah di Jogja?"


"Iya...aku kan sudah bilang tinggal di belakang komplek kalian. Kakek yang sering kunjungi aku!" Citra mengingat kebaikan kakek Wira menemaninya lalui hari-hari kelabu hamil tanpa suami. Sayang pak tua itu keburu meninggal sebelum Citra lulus kuliah jadi dokter.


Berkat dorongan semangat dari kakek Wira tak pernah putus akhirnya Citra lulus dengan predikat cumlaude. Citra langsung ambil kuliah dokter spesialis syaraf di Tiongkok atas saran kakek Wira. Kakek Wira meninggalkan sejumlah dana untuk Citra selama kuliah di Tiongkok. Ditambah Citra dapat beasiswa atas prestasinya. Jadilah Citra dokter bagian syaraf.


"Maafkan aku tak tahu itu. Aku pernah mencarimu di kampus. Selalu dapat jawaban tak ada mahasiswi bernama Citra Ayu. Kau ngumpet di mana?"


"Aku ada...Karin bayar orang tunggu kamu di kampus. Setiap kau bertanya mereka akan bilang hal sama. Aku tahu dari kakek."


Kembali Alvan termenung. Karin yang dia anggap wanita baik ternyata ular berbisa. Karin telah bertindak duluan sebelum Alvan mengambil keputusan membawa Citra kembali ke rumah. Pantesan bertahun cari Citra hasilnya nihil. Ternyata ada dalang di balik kegagalan Alvan cari Citra.


"Aku tak sangka Karin demikian jahat. Aku mencarimu ingin rujuk. Aku merasa berdosa telah merengut mahkota berhargamu. Aku ingin bertanggung jawab. Tapi kau raib di telan bumi."


"Citra...beri aku kesempatan menjagamu dan anak-anak! Kita rujuk ya!" bujuk Alvan seperti bujuk Afifa biar anteng.


Citra tidak beri reaksi. Citra belum terpikir jalin hubungan dengan lelaki manapun. Citra masih trauma dengan yang namanya pernikahan. Lebih banyak sedih dari pada suka. Hidup tanpa pasangan justru beri rasa nyaman. Tanpa harus pikir suami ke mana, sedang apa, lagi sama siapa? Semua itu hanya jadi beban otak.


Citra tak mau jatuh dua kali di lubang yang sama. Lebih baik tiarap dulu tunggu anak-anak dewasa.


"Biarlah waktu yang bicara! Hari sudah malam pak! Pulanglah! Besok aku berangkat cukup pagi. Bapak pulang istirahat juga ya!"


"Iya...besok aku akan jemput anak-anak ke sekolah sekalian antar kamu ke rumah sakit. Persiapkan bekalmu secukupnya! Jangan lupa bawa baju lebih tebal! Kita tak tahu udara di sana."


"Ngerti pak! Terima kasih perhatiannya."


"Baiklah! Aku pamit!" Alvan tahu diri minta ijin pamit. Untuk mencapai akhir baik Alvan harus bersabar. Citra harus lihat kesungguhan Alvan untuk bersatu kembali. Alvan ingin bersama Citra lagi bukan karena nafsu tapi hati tulus.


Citra mengantar Alvan sampai ke luar pagar. Angin nakal membelai pipi Citra untuk rasakan betapa halus kulit dokter muda itu. Jangan salahkan cowok bila suka pada Citra! Citra memang pantas digilai. Angin saja akui kecantikan Citra maka tak malu membelai pipinya.


"Masuklah! Kunci pintu ya!"

__ADS_1


Citra mengangguk sambil memberi senyum lembut pada Alvan sebagai bonus telah traktir mereka makan malam mewah.


"Selamat malam pak! Terima kasih jamuannya tadi!"


"Itu restoran punya Azzam kelak. Dia berhak makan sepuasnya di sana. Selamat malam." Alvan melambai sebelum pergi.


Citra membalas lambaian Alvan sedikit kaget karena tak tahu itu restoran keluarga Lingga. Azzam anak sulung maka semua aset berharga akan jatuh ke tangan anak itu. Tapi itu bukan harapan Citra. Harta takkan berarti bila tidak dibarengi sumber daya manusia kompeten.


Gunung emaspun akan kandas bila tidak dirawat dengan baik. Yang penting sekarang Azzam harus sekolah tinggi agar bisa menjadi penerus berotak licin bagi keluarga Lingga.


Citra ikut jejak Azzam dan Afifa menyongsong fajar esok. Tugas berat sudah menanti di depan mata. Inilah saatnya Citra beri dedikasi seorang dokter milik masyarakat. Malam berlalu penuh kenangan bagi yang ikut makan di restoran. Baik Alvan maupun Untung. Untung bersyukur Alvan bisa jumpa lagi dengan Citra yang akhlak jauh lebih indah dari Karin. Untung juga sedang memupuk satu taman berhias bunga cinta. Singkat kata Untung menyukai Nadine. Tetangga plus perawat di rumah sakit Alvan. Semoga taman bunga Untung berkembang menjadi taman cinta.


Citra bangun lebih awal untuk berberes. Ini pertama kali Citra tinggalkan Azzam dan Afifa dalam tempo lama. Ada rasa kuatir di dada tapi rasa rendam mengingat ada orang tak kalah mencintai kedua anak itu. Alvan Lingga. Alvan pasti akan berusaha menyenangkan kedua anak itu agar tidak terlalu memikirkan Citra di tempat tugas.


Citra bisa bernafas lega selama ada Alvan. Dia bisa bertugas dengan baik.


Seperti biasa Citra siapkan sarapan pagi untuk Azzam dan Afifa. Setelah semua beres barulah Citra bangunkan kedua buah hatinya untuk sholat. Pagi ini tak ada imam hati karena Alvan tidak muncul walau azan berkumandang. Citra tak tahu laki itu terbangun atau masih berpelukan dengan guling. Citra hanya bisa berharap Alvan bangun untuk sholat. Bukan hanya sholat di rumah Citra. Tiba di rumah sendiri lupa akan kewajiban umat Islam. Asli muslim KTP.


Azzam dan Afifa bantu Citra membawa bekal ke tempat daerah kena dampak gempa. Afifa paling kuatir maminya kekurangan makanan. Semua anak ringan dikumpulkan Afifa untuk di bawa. Afifa pikir Citra seperti dirinya mementingkan isi perut.


Azzam lain pula gayanya. Anak lajang itu memasukkan banyak pakaian ke tas Citra padahal Citra sudah atur pakaian yang akan dibawa ke sana. Azzam takut Citra kedinginan di tempat lembab.


Citra terharu melihat kasih sayang dari kedua anaknya. Tidak sia-sia Citra korbankan seluruh hidup untuk kedua anak itu. Balasan yang di dapat Citra setimpal dengan pengorbanannya.


Citra biarkan kedua anaknya berbuat sesuka hati. Bila Citra menolak perhatian mereka tentu akan kecil hati. Paling Citra bersabar sedikit demi menyenangkan hati buah hati. Biarkan mereka merasa mami mereka aman atas kemurahan hati mereka.


Pintu depan diketok orang. Citra beri kode pada Azzam untuk melihat siapa datang bertamu pagi hari. Sudah pasti tamu tak diundang.


Di luar cahaya keemasan Surya mulai hiasi langit. Semburan jingga melukis di langit ciptakan lukisan tangan Tuhan sangat indah. Awan putih keabuan menjadi pendamping semburan jingga keemasan. Sungguh ciptaan Tuhan tak tertandingi pelukis maestro manapun.


Azzam pasang muka masam di suruh lihat siapa tamu pagi hari. Dalam hati Azzam tidak perlu main teka teki sudah bisa langsung tebak siapa orang iseng bertamu pagi hari.


Ketokan halus kembali terdengar disusul suara khas Alvan. Azzam mulai hafal suara bass papinya. Sedikit demi sedikit Azzam mulai hafal kebiasaan Alvan bila datang ke rumahnya.


"Sabar Om..." Azzam sengaja berlama-lama di depan pintu untuk menyiksa Alvan menanti di depan. Syukur kalau banyak nyamuk. Donor darah dulu pada vampire kecil itu.


Setelah puas mainkan kesabaran Alvan barulah Azzam buka pintu. Sosok tinggi besar sudah berpakaian rapi seperti hendak ke kantor. Azzam akui Alvan sangat tampan bila tidak kuyu kena sekak mental darinya.


Kelak Azzam dewasa akan sebelas dua belas dengan Alvan. Azzam mewarisi semua gen Alvan. Dari postur tubuh hingga ketampanan wajah rupawan.


"Assalamualaikum Zam..lihat papi bawa apa?" Alvan menyodorkan satu kotak roti susu wangi.


Bukan Azzam namanya kalau langsung terima pemberian Alvan. Lajang ini memilih sisikan tubuh ke samping pintu beri jalan pada Alvan untuk masuk.

__ADS_1


"Waalaikumsalam..." sahut Azzam setelah pindah dari depan pintu.


Alvan geser tubuh masuk ke dalam. Laki ini meletakkan kotak roti di atas meja berhubung tuan rumah tidak bersedia menerima.


__ADS_2