
Alvan bukannya senang Citra buang image sederhana dia. Bergaya sok sosialita bukanlah gaya Citra. Alvan lebih senang pada Citra yang down on earth.
"Nggak capek gitu? Nggak usah meniru orang. Tetap jadi mami Azzam saja."
Citra tetap pada posisi semula untuk tunjukkan dia juga bisa elegan. Citra lebih banyak belajar etika daripada dua wanita Alvan lainnya. Masa seorang Citra harus kalah.
Pintu ruang kerja Alvan diketok orang dari luar. Serentak mata kedua pasang suami isteri mengarah ke pintu cari tahu siapa yang datang ganggu kebersamaan mereka.
"Masuk..." kata Alvan dengan wibawa seorang bos.
Kepala Andi duluan menyembul dibanding tubuhnya yang sekarang lebih berisi. Gaya nyiur melambai perlahan menyusut dari badan Andi.
Andi melempar senyum pada Citra girang kakaknya berada di kantor. Sudah berapa hari Andi tak jumpa Citra tak pelak datang rasa rindu. Kini mereka tinggal berjauhan membuat frekuensi jumpa mengecil.
"Ada apa?" tanya Alvan tak beri waktu pada Andi lebay pada Citra.
"Oh pak..notaris akan jumpa bapak besok untuk serah terima rumah. Semua telah beres tinggal timbang terima." lapor Andi lugas.
"Oh gitu ya! Ini ada kakakmu. Langsung lapor saja ke kak Citramu." Alvan menunjuk ke arah Citra.
Citra yang tahu apa-apa hanya melongo kayak orang bodoh. Apa yang menjadi topik bicara dua orang ini tidak diketahui Citra sama sekali.
"Ada apa ini? Kalian mau apa?"
"Begini lho kak! Pak Alvan telah membeli rumah Bu Hajjah yang di simpang atas nama kakak. Bu Hajjah minta barter sama rumah kakak. Kalau kakak ini kan barter maka kita dipotong rumah kakak. Kalau kakak mau pertahankan rumah kakak maka Pak Alvan harus bayar full. Bu Hajjah mohon agar kakak mau jual rumah kakak karena beliau tetap mau tinggal di kampung kita."
Citra pusing mendengar penjelasan Andi yang bertele-tele. Selama ini Alvan tak pernah utarakan akan beli rumah untuk mereka. Sedikitpun tak ungkit soal rumah kini mendadak telah beli rumah Bu Hajjah yang terkenal luas dan besar.
"Mas ..apa maksudnya?" Citra menuntut penjelasan dari Alvan.
Alvan bangkit dari kursi kebesarannya hampiri Citra agar lebih leluasa jelaskan niat hati beli rumah yang layak untuk anak-anaknya. Alvan malu hanya numpang pada keluarga Perkasa. Satu lagi niat tulus Alvan yakni tak tega pisahkan Azzam dan Afifa dari lingkungan teman dekat.
"Sayang...aku ini papinya anak-anak! Aku harus bertanggung jawab beri kehidupan layak pada keluarga. Aku lihat kamu dan anak-anak selalu teringat pada kampung lama maka aku berinisiatif beli rumah Bu Hajjah. Bu Hajjah sudah tua tak mampu urus rumah sangat luas maka beliau minta barter dengan rumahmu. Semua keputusan ada di tanganmu. Kalau kau kasihan pada Bu Hajjah maka biarlah dia miliki rumahmu! Kalau kau keberatan berarti Bu Hajjah harus cari rumah di lingkungan lain." Alvan jelaskan sambil menggenggam tangan Citra.
Andi ikutan angguk setuju penjelasan Alvan. Andi tentu saja senang bila keluarga Alvan pindah lagi ke kampung mereka walau tidak tetangga sebelah lagi. Yang penting masih dekat.
"Mas...ini bukan masalah kecil! Mengapa tidak ajak Citra dan anak-anak diskusi. Gimana perasaan opa dan Oma bila kami pindah? Orang akan mengira aku poroti mas. Belum apa-apa sudah minta rumah. Mama benci padaku mungkin karena dengar mas mau beli rumah untukku."
"Aku belum pernah cerita niat ini pada siapapun selain Andi. Andi yang jadi negosiator rumah itu. Jangan pikir aneh-aneh! Rumah itu gede, kita bisa ajak opa dan Oma tinggal di sana. Kita kumpul satu rumah. Bukankah lebih baik lagi?" bujuk Alvan berharap Citra mau terima pemberian pertama darinya yang berharga ini.
__ADS_1
Alvan belum pernah kasih Citra sesuatu yang berharga. Alvan tak mau tanggung-tanggung limpahkan hadiah untuk Citra. Kalau perhiasan, pakaian branded atau tas harga selangit itu bukan type Citra maka Alvan memilih hadiah yang takkan habis di makan model.
"Mas...aku tak habis pikir mas demikian gampang hambur uang. Rumah segede itu tidak perlu. Itu hanya menambah beban biaya hidup. Kita harus pakai jasa pembantu, aku tak sanggup bekerja sendirian di rumah segede itu. Bukankah satu pemborosan?"
"Sayang...mas bukan mau sombong! Kita guna jasa pembantu artinya buka lowongan kerja bagi mereka yang perlu. Mas janji akan makin rajin cari duit untuk penuhi semua kebutuhan kalian. Kau setuju ya!" Alvan tak henti bujuk Citra agar menyerah pada pilihannya.
Citra menatap Andi dengan bimbang. Citra tak tahu harus pilih yang mana. Bertahan atau biarkan Alvan membeli rumah Bu Hajjah. Citra memang sudah lama dengar Bu Hajjah ingin jual rumah untuk cari rumah lebih kecil. Beliau sudah tua tak sanggup urus rumah segede itu. Manalagi perlu biaya besar untuk merawat rumah.
"Kak...kasihani Bu Hajjah! Dia ingin tetap dekat dengan lingkungan mendiang suaminya. Pak Haji kan meninggal di kampung kita." Andi ikutan membujuk agar Citra luluh.
"Aku pusing..."
"Ya sudah...kita beli rumahnya biar Bu Hajjah cari rumah lain. Aku dan Andi akan bantu beliau cari rumah di kampung sebelah. Di kampung kita sudah tak ada tempat kosong. Rumah Bonar ada tapi anak itu tak mau jual karena peninggalan orang tuanya. Dia mau renovasi katanya." Alvan beri keputusan agar Citra tidak dilema. Alvan tidak marah Citra tak mau jual rumahnya untuk Bu Hajjah. Itu hak Citra karena rumah itu memang dia beli dengan uang sendiri.
"Jangan! Kasihan Bu Hajjah..ya sudah! Aku ngalah..."
Andi dan Alvan tersenyum mendapat jawaban Citra sesuai harapan mereka. Citra gampang disetir bila ada cerita menyentuh kalbu. Sudah Andi duga Citra pasti akan setuju bila gunakan senjata pamungkas yakni kisah sedih Bu Hajjah. Citra orangnya paling tidak bisa melihat orang lain sedih.
"Terima kasih kak! Andi segera kabari notaris untuk selesaikan surat menyurat. Kalau boleh Andi ingin minta surat rumah kakak agar bisa diproses ke nama Bu Hajjah!" ujar Andi ceria. Andi bukan pikir komisi dari Bu Hajjah tapi memikirkan hari-hari ceria bersama Azzam. Mereka akan kumpul lagi seru-seruan kayak dulu.
"Nanti malam kau datang ke rumah kakak. Jangan naik motor! Ajak Tokcer datang dengan mobil!"
"Siap kak! Numpang makan sekalian ya! Andi rindu pada masakan kakak." kata Andi tak tahu malu. Andi benar-benar sangat merindukan suasana kayak di kampung. Tiap hari bersama Azzam dan Afifa. Membantu Citra di dapur. Pekerjaan rutin yang telah ditinggalkan sejak dia kerja dan keluarga Citra pindah jauh.
"Afung ie datang? Wah senangnya! Cece ikut pulang?" Andi makin bersemangat dengar ada tamu dari Tiongkok.
"Cece balik besok karena dia sudah ketinggalan pelajaran. Dia dapat dua emas satu perak. Nanti kamu beri dia selamat ya!"
"Yap...nanti malam kami video call. Andi permisi dulu ya! Oya kak..masih ya! Andi senang kita berkumpul lagi." Andi acungkan jempol tanda senang.
Alvan biarkan saja Citra dan Andi berbicara. Andi memang merupakan kesatuan dari bagian Citra. Andi duluan hadir dalam hidup kedua anaknya ketimbang dia. Wajar Andi merasa memiliki Citra dan kedua anaknya.
Bayangan Andi menghilang di balik pintu. Alvan menghembus nafas lega karena telah sukses menjadi papi bertanggung jawab terhadap anak-anaknya. Memberi tempat teduh nyaman pada anak-anak merupakan tugas seorang bapak. Alvan sudah selesaikan misi utama sebagai bapak. Selanjutnya nafkahi Citra dan anak-anak agar mereka hidup layak.
Alvan melemaskan tangan melingkari tubuh Citra. Alvan memeluk tubuh isterinya erat-erat bangga Citra bersedia melepaskan rumahnya demi seorang wanita tua. Alvan yakin Citra takkan mengalah bila hanya untuk barter rumah. Rasa iba di hati Citra melebihi tingginya gunung.
"Terimakasih sayang! Kau telah mempermudah jalan pembelian rumah. Kita sama-sama mendapat yang terbaik. Soal opa dan Oma kita atur yang terbaik. Aku janji takkan kecewakan keluargamu. Yang pertama kita bawa Gibran bersama kita. Aku lihat dia tak bisa dipisahkan dari Afifa. Tapi itu butuh proses karena aku akan rombak banyak dekorasi. Kita buat senyaman mungkin. Kita buat kamar indah untuk anak-anak kita. Jika perlu kita tambah ruang untuk adik Afifa kelak." bisik Alvan sedikit mesum. Alvan menghembus nafas panas ke kuping Citra agar wanitanya terbakar oleh gairah seketika.
Satu cubitan mendarat di pinggang Alvan akibat menggoda istri di siang bolong. Citra bukan tak tahu Alvan selalu berhasrat padanya tak kenal waktu dan tempat. Andai Alvan tidak ada kendala di syaraf mungkin sekarang Citra sudah hamil anak mereka yang ke empat.
__ADS_1
"Sakit nyonya! Kayak kepiting saja! Main jepit..." Alvan mengelus pinggangnya yang jadi korban keganasan Citra. Pinggang tak berdosa jadi korban suami mesum. Masa di kantor goda isteri. Gimana kalau keduanya terpancing. Bakal terjadi perang asmara di ruang bos.
"Itu akibat jadi orang mesum! Cepat selesaikan pekerjaanmu! Kita harus jemput Om Heru dan Afung ie. Aku tak sabar ingin jumpa Afung. Kangen banget sama orang itu."
"Kangen sama Afung atau om Heru nya." sinis Alvan teringat bagaimana dulu Heru berusaha merayu Citra. Dasar tidak jodoh dalam percintaan, Citra malah jadi keponakan.
"Omong apa itu? Itu orang tuaku! Dasar tukang makan cuka!" Citra tak gubris kecemburuan Alvan. Kecemburuan tidak mendasar. Citra belum gila suka pada om sendiri. Kalaupun Heru bukan omnya belum tentu Citra bersedia dipinang Heru.
"Makan cuka? Istilah apa itu?"
"Asem...cemburu berlebihan! Cepatlah Mas! Waktu berjalan terus!" buru Citra tak sabar lihat Alvan masih santai tidak cepat selesaikan beberapa dokumen.
"Sabar...masih ada waktu satu jam lagi!"
"Satu jam...kita harus tiba sebelum mereka mendarat."
"Iya...iya.." Alvan tinggalkan Citra untuk teken beberapa file penting agar bisa diteruskan ke Andi. Andi punya peran cukup penting di kantor. Andi makin banyak belajar di bawah pengarahan Untung sang calon kakak ipar. Untung dan Nadine makin lengket menjurus ke arah serius. Untung ajak Nadine tunangan sebelum berangkat ke Tiongkok tapi ditolak Nadine menolak. Nadine tak mau pertunangan dilaksanakan tergesa-gesa. Kalau Untung memang cinta pasti bersedia menunggu. Itu saja kunci Nadine.
Setengah jam kemudian Alvan telah selesaikan sebagian pekerjaan. Sebagian lagi bisa ditunda setelah menjemput saudara jauh Citra. Alvan tak bisa menemani Citra sampai sore karena masih banyak pekerjaan. Alvan harus kejar target agar pemulihan perusahaan cepat terealisasi.
Alvan membereskan file dan dokumen lalu mendekati Citra yang terpaku pada layar ponsel. Alvan melirik apa yang di pelototi isteri di layar benda warna hitam itu. Hanya dipenuhi sederetan huruf-huruf kanji bahasa Mandarin. Alvan menduga Citra paham tulisan Mandarin. Apa kedua anaknya juga fasih dengan bahasa dan tulisan yang kini sedang mendunia?
"Sayang...kita berangkat?" Alvan menarik perhatian Citra.
Citra segera mematikan ponsel berdiri tegak sambut kesiapan Alvan antar dia jemput kerabat jauh. Hati Citra berbunga-bunga segera jumpa saudara tanpa pertalian darah.
"Sudah siap mas?"
"Siap ya belum! Mas antar kamu dulu baru balik kantor! Mungkin mas akan lembur malam ini. Kau tak keberatan?"
"Kok keberatan? Mas kan bukan pergi bersenang-senang. Kecuali mas main kedipan dengan paha mulus barulah aku alih profesi jadi dukun sunat."
"Itu lagi...nggak bakalan! Kalau kau tak suka mas lihat cewek ntar mas pakai kacamata hitam saja!"
"Itu lebih parah! Mas lihat cewek aku mana tahu! Pokok nya jangan sampai aku terpikir alih profesi." rengut Citra meraih tas kecilnya bersiap menuju ke bandara.
Alvan menggeleng makin tak paham dunia wanita. Sikap sok cuek tapi di dalam menghunuskan pedang hendak tebas leher Alvan bila genitan sama cewek. Yang mana sikap asli Citra sebenarnya. Apapun dia Alvan harus hati-hati melangkah jangan sampai tergelincir. Wanita makan dalam model Citra lebih susah ditimbang daripada mereka yang meletup-letup.
Alvan dan Citra meluncur ke Bandara jemput Heru dan Afung. Di mata Citra sudah terbayang Afung yang ramping bermata sipit. Hidung Afung juga tidak mancung meskipun tidak pesek. Afung menang di warna kulit. Kulit Afung bening saking putihnya. Mungkin Heru jatuh cinta pada kebeningan kulit Afung.
__ADS_1
Heru termasuk nekat berani ajak anak orang berkunjung ke tanah air. Kalau Alvan jadi Heru belum tentu punya nyali segede gitu. Alvan tidak selihay Heru di dunia percintaan. Alvan bukan playboy macam Heru. Sebelumnya Heru tergila pada Citra. Kini meloncat ke kulit bening lain. Jatuh cinta segampang minum air putih. Tinggal Glek masuk kerongkongan.
Alvan menggelengkan kepala tepis bayangan negatif pada Heru. Seburuk apapun Heru dia tetap omnya Citra. Lelaki itu sayang pada Citra dan ketiga anaknya itu tak dapat Alvan sangkal. Heru memang baik pada keluarganya.