ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Diskusi Azzam


__ADS_3

Alvan hanya tersenyum dipuji oleh Citra. Alvan tak mau bentang jurang pemisah dengan keluarga Perkasa. Gimanapun Perkasa adalah keluarga Citra. Alvan tetap harus hormati orang tua Citra.


Kalau bukan niat Heru yang di luar akal sehat Alvan tak mungkin ingin cepat pindah. Biarlah tunggu anak-anak besar sedikit agar Citra punya teman berbagi. Namun Alvan takut cara Heru yang konyol pisahkan dia dari buah hati maka Alvan mengambil keputusan harus keluar dari rumah ini setelah syukuran atas kelahiran si kembar.


Malam hari Alvan baru dapat ketemu keempat buah hati setelah Bu Sobirin dan Afung pulang ke rumah sebelah.


Betapa senang hati Alvan lihat keempat bocah tumbuh sehat dari hari ke hari. Mereka akan ikut Azzam menjadi penerus Lingga sejati.


Alvan tak berani gendong mereka karena masih lembut. Salah-salah nanti malah terkilir. Cukup membelai pipi mungil nan lucu itu.


Citra dampingi Alvan jenguk bayi mereka ikut senang lihat Alvan meresapi peran sebagai papi dari empat bayi mungil. Dulu Alvan tak punya kesempatan ikut merawat Azzam dan kedua adiknya. Inilah kesempatan kedua Alvan.


"Mereka seperti malaikat diturunkan dari langit untuk aku!" keluh Alvan tak henti bersyukur.


"Mas tak ragu kalau semua ini anak mas?" guyon Citra membuat Alvan besarkan mata kurang senang Citra bicara ngawur. Tak ada keraguan sedikitpun di hati Alvan tentang ketujuh anaknya.


Alvan memeluk Citra dari belakang disaksikan keempat bayi yang belum ngerti rasa cinta orang tua mereka.


"Kalau kau omong gitu lagi aku hukum kamu hamil lagi tahun depan. Supaya kau yakin mereka itu anak Alvan."


"Sadis amat hukumannya! Aku ngeri pada bibit mas yang spektakuler. Sekali kena kontan mengandung. Jujur aku tak percaya hamil secepat ini setelah mas operasi. Mas memang tokcer."


"Suami siapa dong?" Alvan mengecup ubun Citra berulang kali untuk ekspresi rasa terimakasih telah bersedia melahirkan anak untuknya lagi.


Pintu kamar para bayi terbuka. Dari balik pintu datang dua sosok yang disebut kakak-kakak sang bayi. Di tangan Afifa tergenggam tablet sedang aktif. Wajah Afisa jelas di terpapang di layar tablet.


Afisa kangen ingin lihat adiknya lebih dekat. Afisa sedih tak bisa jumpa langsung dengan adik-adiknya yang baru lahir. Ini akibat tinggal di negeri orang.


"Ce...ada papi mami!" Afifa arahkan tablet ke arah Citra dan Alvan.


"Hai...apa kabar papi mami?" Afisa melambai dari ujung bumi lain.


"Baik sayang... gimana sekolahmu? Sekarang kan tidak ada musim pertandingan. Belajar yang rajin." kata Citra menjawab Afisa.


"Tenang mi...Cece tetap terdepan! Kami di sini akan segera Imlek. Libur seminggu. Cece boleh pulang lihat adik-adik?"


"Tanya papi dulu! Siapa akan jemput kamu? Musim dingin gini papi mana sanggup ke sana! Papi kamu sudah tua lho! Rematik sering kumat."


"Tidak perlu jemput. Cece bisa datang sendiri kok!"


"No way...bahaya kamu pulang sendiri. Papi akan minta om Untung jemput kamu. Kasih tahu kapan jadwal kamu liburan. Papi akan urus kamu pulang." sahut Alvan dari samping.


"Tak usah Pi...ada Thomas jemput Cece! Dia mau ikut lihat adik Cece. Dia akan datang dari Inggris ke sini baru kami datang bersama."


Alvan tergugu ternyata Afisa sudah ada pelindung kuat dari Eropa. Alvan heran mengapa Thomas demikian suka pada Afisa hingga rela buang waktu dan materi hanya untuk menyenangkan anaknya.


"Sayang...itu merepotkan orang! Coba kamu bayangkan dari Eropa dia ke Tiongkok lalu ke sini lagi! Belum lagi nanti dia antar kamu. Papi jadi tak enak hati."


Afisa tertawa renyah sungguh sedap didengar. Tawa persis tawa Citra lembut di kuping adem di hati.


"Thomas bilang setelah ini dia akan tetap di Tiongkok dan sekolah di sini."

__ADS_1


"Masyaallah...segitu sayang dia pada Cece?" nimbrung Afifa iri ada yang sangat sayang pada Afisa. Rela lakukan apapun demi teman.


"Huusss bukan sayang...dia itu cuma senang lihat Cece ikut bertanding senam! Dia suka senam kok! Cece mau lihat adik-adik! Ayok arahkan ke wajah mereka!" pinta Afisa pada Afifa.


Afifa seperti kerbau ke cocok hidung alihkan layar satu persatu wajah adik bayi yang tidur pulas. Afisa tertawa senang melihat adik-adiknya yang imut dan cantik. Hari Afisa makin tak sabar ingin pulang sentuh adik-adiknya.


"Apa Cece boleh ajak satu adik tinggal sini?" terdengar Afisa keluarkan pertanyaan pancing rasa ngilu di hati Alvan. Dia berusaha kumpulkan anaknya ini malah minta satu untuk diajak tinggal jauh dari keluarga.


"Tidak boleh...Tunggu mereka dewasa baru boleh pergi jauh untuk kuliah! Sekarang biar sama kita di sini dulu!" tukas Azzam wakili Alvan mematahkan keinginan Afisa yang dia anggap berlebihan.


Alvan bersorak gegap gempita dalam hati sudah ada wakilnya yang lebih tegas. Azzam pantas jadi anak sulung Alvan. Kecil berwibawa.


"Idih pelit...Cece kan sepi sendiri di sini! Kalian di sana ramai. Gimana kalau Amei kemari kawani Cece?"


"No...no...Erce ogah pisah sama adik-adik. Mereka lucu dan imut. Rugi pisah sama mereka. Cece saja pindah pulang sini. Kita kumpul bersama. Setalah gede kita pergi kuliah bersama."


Alvan makin lega dengar Azzam dan Afisa mulai Galang rencana pulangkan Afisa ke tanah air. Dia tak perlu takut kehilangan buah hati lagi. Dua pendukung besar telah kibar bendera siap lindungi adik mereka. Alvan ingin ngobrol dengan Azzam tentang rencana pindah rumah. Alvan mau tahu bagaimana pendapat anak sulungnya.


"Isshhh...Amei kok jadi pelit? Adiknya banyak kok!" Afisa memancungkan mulut tidak senang ditolak Afifa.


"Stop panggil Amei! Ini sudah Amei kecil. Namanya Alika Perkasa Lingga." potong Afifa gerah masih dipanggil sebutan adik. Padahal dia sudah naik pangkat jadi kakak. Panggilan adik seharusnya diwariskan pada adik mereka yang paling bungsu.


"Sori...Erce..jadi sance (kakak ketiga) siapa namanya?"


"Namanya Alisa Perkasa Lingga." jawab Afifa dengan mulus sudah hafal nama adiknya.


"Yang cowok siapa namanya?"


Citra dan Alvan diam saja biarkan ketiga anaknya bahas tentang adik-adik mereka. Mereka seperti bagi harta Karun serta namai harta mereka dengan sebutan sesuai pangkat.


"Ya ampun betapa senang kalian ya! Cece akan segera datang bawa lari adik-adik ke Tiongkok!" gurau Afisa di alas Afifa berkacak pinggang dengan sebelah tangan. Sebelah tangan lagi digunakan untuk pegang tablet.


"Jangan harap! Cece hanya boleh lihat tak boleh ajak adik pergi jauh. Mereka masih ***** sama mami. Kasihan toh dibawa pergi jauh!"


"Iya...Cece cuma bercanda kok! Mana tega pisahkan mereka. Kelak sudah gede mereka boleh gabung sama Cece sekolah di sini. Cece harap ada yang suka senam kayak Cece. Oya...Erce mau dibeliin apa? Cece dapat banyak bonus dari senam."


"Apa ya? Nggak ada deh! Cece simpan saja duit untuk bantu mami beli susu untuk adik. Mereka kuat sekali minum susu. Sebentar-sebentar nangis minta minum. Erce kasihan lihat mami repot kasih ASI satu persatu. Itupun masih nangis! Rakus amat terutama Si Azkar." lapor Afifa bikin Alvan dan Citra terharu. Tak disangka secara diam-diam Afifa perhatikan perkembangan keempat adiknya. Semula mereka pikir Afifa akan cuek bebek tak open kegiatan sang adik. Ternyata semua tak luput dari pantauan Afifa.


"Iya deh! Cece akan beli suplemen bergizi untuk mami biar kuat jaga adik. Sudahan ya! Cece masih ada pelajaran sebelum libur. Kalian juga cepat tidur. Tak usah ganggu adik bayi lagi. Besok malam vc lagi ya! Cece mau lihat adik tiap malam."


"Siap bos! Selamat belajar. Daa..." Afifa melambai pada Afisa sebelum tutup tablet. Afifa juga arahkan kepada Alvan dan Citra untuk dadahan dengan Afisa.


Alvan beri senyum damai pada anaknya yang selalu bikin hati merindu. Andai dulu mereka berkumpul Afisa tentu takkan terdampar di negeri orang. Anak itu hampir kehilangan hak di tanah air bila beberapa tahun ke depan tidak segera pulang.


Afifa menyimpan tablet lalu mengendap dekati adiknya sambil beri ciuman melalui tangan. Citra melarang siapapun cium adik-adik kecil karena takut tertular virus. Mereka masih rapuh belum sekuat Azzam dan Afifa. Berat badan juga masih dibawah rata-rata maka perawatan mesti super hati-hati.


"Koko dan Erce mau tidur?" tanya Citra melihat Afifa mulai menguap. Tak perlu lihat jam dinding sudah ada kode pukul sembilan sudah datang.


"Iya mi...Erce tidur ya! Adik-adik jangan nakal nyusahin mami ya!" pesan Afifa kepada adik yang mulai gelisah ntah buang air kecil atau lapar.


Citra segera memeriksa salah satu bayinya yang mulai resah meliukkan tubuh. Mulutnya maju mundur mencari sesuatu untuk diisap. Citra tertawa ngerti si kecil minta minum.

__ADS_1


"Adik mau ASI! Kalian pergilah tidur!" usir Citra secara halus karena adanya Azzam di antara mereka. Citra tak mau Azzam selaku anak laki diberi pemandangan tak pantas walau itu maminya. Azzam mulai jelang remaja.


"Iya mi...kami tidur. Selamat malam..." Azzam tahu diri juga tahu malu segera pamit duluan. Dari belakang susul Afifa. Keduanya berjalan beriringan menuju keluar. Alvan ikutan keluar untuk ajak Azzam bicara soal pindah rumah. Alvan berharap dukungan anak lakinya.


Afifa meloncat bak kelinci cantik menaiki anak tangga satu persatu. Azzam berjalan normal tidak selincah Afifa. Azzam jaga sikap cool tak mau dianggap anak kecil suka bermain.


"Zam.." panggil Alvan menahan langkah Azzam.


Azzam hentikan langkah langsung turun untuk hormati Alvan. Bicara dengan papi sendiri dia berada di atas bukanlah sikap anak sopan. Anak ini turun sampai ke lantai dasar barulah dia jawab.


"Ya Pi..."


"Boleh kita bicara sebentar di ruang kerja papi?"


Azzam mengangguk walau belum tahu apa yang dibincangkan. Azzam selalu berpikir positif karena Alvan telah berusaha berubah maki. baik.


Alvan duluan masuk ke ruang kerjanya barulah Azzam ikut masuk. Alvan beri kode agar Azzam duduk di kursi single di depan meja kerjanya. Alvan jarang ruang kerja ini sebab jarang bawa pulang tugas kantor. Lebih baik lembur di kantor daripada bekerja sendirian di ruang pengap ini.


Azzam menanti dengan sabar apa yang akan dibahas papinya dengan dirinya. Di mata Alvan anaknya ini makin dewasa.


Alvan duduk di belakang meja cari posisi santai untuk mulai buka pokok pembahasan. Alvan mesti hati-hati bicara karena Azzam ini juga sangat sayang pada Uyutnya. Pindah tanpa harus sisakan rasa kurang enak di hati.


"Zam...kau betah tinggal sini?"


"Betah...semuanya baik."


"Zam...kau tahu ini rumah Oma Uyut. Papi ada rencana mau boyong kalian ke tempat lebih besar karena adik-adik kamu ramai. Kita butuh rumah lebih besar. Apa pendapat kamu?"


Azzam menutup mulut belum bisa langsung jawab sebab ini menyangkut perasaan. Azzam tak bisa abaikan perasaan opa dan Oma Uyut mereka yang sangat baik. Azzam tak tega lihat kekecewaan terukir di wajah orang tua tersebut.


"Koko ngerti tapi apa mami mau pindah?"


"Zam... papi sudah bicara dengan mami tapi dia juga tak bisa beri jawaban. Ada satu hal papi ingin jujur padamu tapi tidak pada mami kamu. Papi tak tega sakiti hati mami. Kau tahu opa Heru berniat adopsi adik-adik kamu. Maka itu dia ngotot masukkan nama pilihannya pada adik-adik kamu. Dia takut Oma Afung tak bisa beti dia anak maka dia berniat asuh adik kamu. Papi sudah kehilangan Afisa jadi belum siap kehilangan adikmu lagi. Opa Heru sudah minta ijin pada papi tapi papi tolak."


Perkataan Alvan menusuk jantung Azzam. Azzam pun tak rela kehilangan salah satu adiknya. Mereka terlalu berharga untuk dipisahkan satu sama lain. Kalau Opa Heru berniat begitu artinya opa itu sudah salah. Tak salah bila Alvan ingin segera pindah.


"Lalu apa rencana papi?"


"Papi sudah dapat rumah sesuai harapan papi. Papi sudah lihat rumah itu dan cocok buat kita. Ada dua belas kamar. Setiap adikmu bisa punya kamar pribadi seperti kalian. Masalahnya gimana minta ijin pindah dari Oma Uyut kalian."


"Itu akan kupikirkan. Cuma ada satu permintaan Koko pada papi. Ini memang terdengar kurang sopan tapi ini lebih baik daripada terpendam dalam hati."


"Katakan keinginanmu! Sebisanya papi penuhi."


"Maaf Pi...mungkin papi akan anggap Koko kurang ajar! Koko tak mau tinggal serumah dengan opa dan Oma. Koko belum siap tinggal bersama Oma."


Alvan angguk paham. Anak ini masih belum terima perlakuan Bu Dewi yang sangat keterlaluan hina mami mereka. Bagi Azzam maminya adalah segalanya. Tak ada orang boleh sakiti maminya.


"Iya...papi janji! Oma juga akan berangkat ke Kalimantan setelah acara syukuran kelahiran adik kalian. Cobalah kau pikir cara sampaikan keinginan papi pada Uyut tanpa menyakiti perasaannya."


Azzam iyakan permintaan Alvan. Sejujurnya Azzam tak ingin pindah karena adanya kehangatan dalam rumah ini. Tapi bila ingat rencana Heru membuat Azzam berpikir ulang.

__ADS_1


__ADS_2