ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Siapa Yang Durhaka


__ADS_3

Sebenarnya apa isi otak bapaknya tega berzinah dengan menantu sendiri. Isteri dari anak kandungnya. Bapak yang dia hormati dari kecil tak ubah seperti monster hancurkan rumah tangga anak sendiri. Kesedihan Alvan tak dapat dilukis dengan kata-kata. Terlalu sakit diungkap pakai kalimat.


Lama berpikir akhirnya Alvan ambil keputusan menjernihkan masalah sebelum terlambat. Penyakit HIV bukan penyakit biasa yang bisa cari dokter. Kena penyakit itu sama saja kena vonis hukuman mati.


Dengan tangan bergetar Alvan menghubungi papanya yang bertugas di kantor lain. Alvan harus tegas walau akhirnya buruk. Perselingkuhan dalam keluarga kapan akan berakhir baik. Lebih sakit sekarang ketimbang sakit panjang.


"Halo...papa di mana?" Alvan tanpa basa-basi langsung cerca Pak Jono dengan pertanyaan.


"Papa di kantor. Rencana mau pulang makan sama mama. Kenapa? Mau ikut pulang?"


"Pa...pernahkah papa merasa berdosa pada mama?"


"Apa maksudmu nak? Kapan papa bersalah pada mamamu? Jangan ngawur!"


"Pa...dari kecil papa dan mama ajar Alvan harus jadi manusia berakhlak dan setia. Apa pelajaran ini hanya kata kiasan? Diajar untuk dilanggar?"


"Papa bingung arah pembicaraanmu! Kasih tahu papa ada apa?"


"Anak Karin..."


Tak ada jawaban dari seberang. Alvan hanya dengar ******* nafas kasar papanya dari ponsel. Pak Jono kena syok mental dari Alvan. Pak tua itu tak bisa jawab untuk satu kesalahan fatal tak termaafkan.


"Papa tak bisa jawab? Di mana hati nurani papa? Khianati anak dan isteri! Orang yang paling Alvan hormati ternyata seorang pecundang. Masih pantaskah anda disebut papa?" emosi Alvan naik perlahan ke ubun. Kecewa, sedih, kesal, geram campur aduk jadi satu dalam hati Alvan.


"Alvan...papa juga tak mau gitu! Dari dulu papa tak suka pada Karin. Tiga bulan lalu waktu mamamu tour bersama ibu-ibu tetangga kejadian ini terjadi. Malam itu Karin datang ke rumah sendirian. Katanya kau sedang keluar negeri. Dia takut sendiri di rumah mau nginap di rumah. Papa ijinkan karena tak ada pikiran buruk. Kami ngobrol sambil minum teh hijau. Setelah itu papa seperti cacing kepanasan. Terjadilah hal terkutuk itu! Ternyata Karin masukkan obat perangsang dalam teh papa. Dia rekam semuanya. Dia ancam akan lapor mama bila tak penuhi hasratnya. Papa tak punya pilihan selain layani dia sampai dia hamil. Sejak dia hamil kami tak pernah lakukan lagi. Papa tahu tujuannya hendak punya anak dari keturunan kita. Dia licik gunakan papa karena takut suatu saat kamu test DNA. Kau kira papa mau? Papa merasa menjadi penjahat patut dihukum pancung."


Giliran Alvan terdiam setelah dengar cerita Pak Jono. Tak disangka Karin benar-benar rubah licik. Citra tak salah kasih julukan rubah pada Karin. Memang rubah kurang ajar. Otak Alvan berputar pada kejadian sembilan tahun lalu. Waktu itu Alvan juga terangsang setelah minum teh dari kulkas. Jangan-jangan itu juga hasil kelicikan Karin. Tapi apa tujuan Karin jebak dia dengan obat perangsang. Bukankah merugikan dia bila Alvan melakukan percintaan dengan Citra.


"Karin berhubungan intim dengan lelaki berpenyakit Aids. Lebih baik anda cek kesehatan. Jangan berhubungan dengan mamaku sebelum jelas hasil lab! Aku tak mau mamaku tertular penyakit kotor dari manusia bejat macam kalian. Aku akan ceraikan Karin secepatnya."


"Tapi dia selalu ancam sebar rekaman itu. Papa tak berdaya. Papa sangat benci padanya. Gara dia seluruh hidup papa berantakan."


"Sekarang baru takut? Ke mana rasa takutmu waktu naik ke tubuh menantu sendiri?"


"Ya Allah Alvan! Papa tak berkutik diancam Karin."


"Kenapa papa tak ajak Alvan diskusi? Biar Alvan kenal siapa yang telah kunikahi."


"Papa takut kau marah. Papa bersumpah tak berhasrat padanya. Papa dirundung rasa takut kehilangan kalian maka terpaksa bungkam. Papa saja jijik pada diri sendiri."


"Tak usah cari alasan. Besok Alvan akan kirim mama ke Kalimantan. Biar dia di sana sampai semua aman. Aku tak mau mama berpikiran."

__ADS_1


"Kau tega pada papa? Papa tak pernah jauh dari mama. Kalimantan sangat jauh."


"Mungkin ini yang terbaik untuk mama. Biar kuselesaikan masalah Karin dulu. Perempuan jahanam itu harus enyah dari hidupku."


"Apa mamamu mau ke Kalimantan?"


"Tentu mau...dia sudah rindu pada keluarga di sana. Biar mama kumpul dengan keluarga di sana sampai keadaan kondusif. Alvan akan minta adik mama jemput mama ke sana." Ujar Alvan tegas tak mau mamanya terlibat dalam konflik gila di antara papanya, Alvan dan Karin. Mama Alvan terlalu baik untuk dijadikan korban dari manusia berhati serigala.


"Alvan...kau tahu papa ini korban dari Karin. Dia mau anak dari keturunan Lingga maka jebak papa. Kamu juga kenapa tak bisa hamili wanita setan itu. Sekarang papa yang kena imbas dari kekonyolan kalian."


"Pa...kalau sekali mungkin papa dijebak tapi ini berulang kali. Papa punya akal tidak. Aku ini memang mandul. Ini karena kecelakaan empat tahun lalu."


"Lantas sekarang apa maumu? Kasih tahu mama soal ini? Lebih baik kita tutup saja. Kau terima anak itu sebagai anakmu. Toh masih darah daging keluarga kita! Papa tak ingin terjadi keributan."


"Wow papa bijak! Anak itu tetap anak haram. Papa sadar tidak sudah lukai hati mama dan Alvan. Bagaimana Alvan bisa terima anak hasil hubungan gelap isteri dan papa aku? Aku bukan malaikat...dan lagi anak itu belum tentu sehat. Karin mabukan tiap hari, Gonta ganti pasangan tiap malam. Kita tunggu saja hal lebih mengerikan kalau dia positif Aids. Hidupmu juga hancur."


"Papa tak pernah hubungan lagi sejak dia hamil. Dia sudah berhasil hamil mana perlu papa lagi. Alvan...bisakah kau berpikir waras? Kau mandul, Karin hamil anak papa. Bukankah itu termasuk darahmu? Ayoklah! Papa mohon lupakan semua itu. Anggap itu anakmu!"


"Masalah bukan di anak tapi betapa rendah akhlak orang yang kuhormati. Papa pergi keluar kota hari ini. Katakan ada tugas harus diurus! Untuk sementara papa hindari mama sampai dia berangkat ke Kalimantan. Karin biar kuurus."


"Tega kau pisahkan papa dan mama?"


"Kenapa tidak kalau untuk kebaikan mamaku?. Kalau papa ini orang lain sudah kubunuh. Alvan masih punya perasaan. Pergilah ke Jogja untuk sementara! Jangan menolak lagi sampai Alvan cek HIV di tubuh Karin!"


"Ini Alvan mau cek kesehatannya. Bersiaplah! Jangan bikin Mama curiga! Alvan akan urus papa pergi!" Alvan berkata tegas tak kasih Pak Jono kesempatan bikin alasan apa pun.


Alvan terlanjur kecewa pada papanya. Segampang itu minta Alvan terima Karin dan anak dalam kandungan. Alvan tak butuh anak itu karena dia memiliki anak-anak lebih berharga. Pintar dan cantik.


"Iyalah! Tapi jangan kirim mamamu ke Kalimantan! Papa susah jumpa kalau rindu."


Alvan ingin ketawa saking jijik dengar papanya katakan rindu. Waktu naik ke tubuh Karin apa teringat pada mamanya? Alvan yakin papanya terbuai oleh binalnya Karin. Alvan bukan tak tahu betapa liarnya Karin bila berada di ranjang. Pak Jono klepek-klepek ketagihan nikmati tubuh yang jauh lebih ranum dari Bu Dewi.


"Tak usah sandiwara Pak Jono. Alvan sudah hafal semua omong kosong tukang selingkuh. Nanti renungkan semua yang sudah terjadi. Pantaskah anda disebut papa?"


Alvan belum buka soal Azzam dan Afifa. Alvan takut bahaya akan mengancam kehidupan anak-anak mengingat Pak Jono menginginkan anak itu sebagai penerus marga Lingga. Bagaimanapun anak itu darah daging Lingga. Baik buruk tetap anak tak berdosa. Yang berdosa itu orang tuanya. Berzinah hasilkan anak.


"Alvan...aku ini papamu! Jangan kurang ajar!" seru Pak Jono terpancing emosi tak terima dihina Alvan. Dia adalah orang tua Alvan, seorang anak apa pantas menghina papa sendiri.


"Papa kenapa? Berkacalah apa anda pantas dianggap papa? Adakah papa berzinah dengan isteri anak sendiri sampai hamil?"


"Itu karena salahmu. Kamu mandul tak bisa kasih keturunan pada keluarga ini. Apa keluarga ini harus punah di tanganmu?"

__ADS_1


Alvan tertawa sumbang tak sangka papanya yang terkenal bijak sudah gila. Tak merasa bersalah telah hamili menantu sendiri. Akal sehat Pak Jono telah dimakan iblis sampai lupa statusnya.


"Tak usah kuatir soal penerus marga Lingga. Aku tetap akan meneruskan marga Lingga sampai ratusan tahun tapi bukan anak hasil zinah. Kurasa mama tidak keberatan pisah dari papa bila tahu masalah perselingkuhan papa. Kita lihat saja kalau papa bersikeras ingin salahkan Alvan!" balas Alvan tak kalah keras. Alvan berusaha tekan emosi agar tak jadi anak durhaka. Alvan masih punya akal sehat tak gunakan cara kekerasan beri pelajaran pada laki tak tahu malu itu.


"Alvan...bukan itu maksud papa! Papa hanya ingin kita semua hidup tenteram. Anggap semua ini tak pernah terjadi. Setelah anak Karin lahir kau boleh ceraikan dia. Asal anaknya sama kita. Papa bersumpah takkan sentuh dia lagi."


"Terlambat pa! Nasi sudah jadi bubur. Kita masak lagi tetap tak bisa kembali jadi nasi. Ingat...Karin itu suspect Aids! Kalau hasilnya positif Aids maka kalian dua harus keluar dari keluarga ini. Kalian dua bisa hidup bahagia bersama anak kalian yang pasti kena virus bawaan dari ibunya. Inikah penerus Lingga? Terserah anda mau pilih jalan mana! Semalam Karin masih bersama penderita Aids di hotel sampai pagi. Pikirkan sendiri!" Alvan menutup ponsel dengan hati terbakar. Avan marah bukan karena cemburu tapi karena papanya anggap persoalan ini sederhana. Lupakan lalu terima anak Karin. Anggap semua tak pernah terjadi perselingkuhan.


Betapa dangkal pola pikir seorang direktur. Kelewat lama tergiur tubuh ranum Karin hingga lupa moral yang harus ditegakkan selaku orang tua. Siapa sanggup memaafkan papa kurang ajar garap menantu sendiri. Alvan belum sanggup mengubah diri jadi malaikat berhati mulia. Alvan tetaplah seorang lelaki dengan emosi dan ego tinggi. Harga diri Alvan sedang diinjak oleh papa dan isterinya.


Alvan basahi kerongkongan dengan air mineral di atas meja. Hawa panas dalam hati tak jua kunjung pergi. Masih meletup-letup bak lahar dalam perut gunung api. Ntah kapan akan meledak hancurkan segala yang dilalui.


Alvan menghela nafas berkali-kali menenangkan diri. Otak boleh panas tapi jangan sampai gosong tak berguna lagi. Alvan harus selamatkan mamanya dari penyebaran virus HIV walau belum pasti. Menjaga lebih baik dari terserang. Sekali kena tak ada ampun. Vonisnya mati.


Lama berpikir akhirnya Alvan angkat ponsel hubungi seseorang untuk bantu dia cari jalan keluar. Di sini Alvan tak punya pilihan selain jujur tragedi yang menimpa keluarganya termasuk kebejatan Pak Jono garap Karin.


"Halo... assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam...Alvan...wah..sudah lama tak kasih kabar! Mama dan papamu sehat?"


"Alhamdulillah sehat amang (paman dalam bahasa Banjar). Bagaimana usaha amang?"


"Lumayanlah! Sekarang penghasilan sudah jauh bagus karena harga barang tambang sedang aduhai. Kapan ajak mamamu kemari? Ini kebetulan amang hendak pesta untuk cucu amang. Mau datang?" tanya Om tepatnya adik mama Alvan.


Pucuk di cinta ulam pun tiba. Nasib baik sedang berpisah pada Alvan. Alvan punya alasan kirim mamanya ke Kalimantan hindari konflik untuk sementara.


"Amang...kami sini ada sedikit masalah! Amang boleh datang sini jemput mama?"


"Walah...ada apa? Amang kok deg-degan. Jangan bilang mamamu sakit ya!"


"Oh tidak...mama sehat kok! Cuma ini sangat penting. Keutuhan keluarga ini tergantung pada sikap mama. Alvan tak ingin mama sedih. Alvan akan cerita dari awal."


Alvan buka cerita dari awa hingga akhir. Tak ada yang Alvan tutupi termasuk kehadiran ketiga anak kembar Citra. Alvan butuh ada orang tua jadi tempat mengadu. Sekuat apapun Alvan tetap butuh seorang jadi penasehat. Adik mamanya Om Khoirul yang biasa dia panggil amang adalah sandaran tepat menghadang kemelut lebih besar.


"Ya Allah Ya Rabbi...begini kacau rumah tanggamu nak! Alvan...amang sarankan kau jangan gegabah bertindak! Kalau si Karin sanggup berbuat gini pasti hatinya penuh kedengkiannya. Kau harus hati-hati selamatkan ketiga cucu amang! Jika perlu kirim ke sini biar dirawat amang!"


"Mang...untuk sementara kita sembunyikan dulu ketiga anakku. Jangan kasih tahu siapapun termasuk mama! Alvan takut dia beri tahu papa. Papa sedang perjuangkan tempat untuk anaknya. Kita tak tahu apa isi otak orang tua itu? Kalau pas syukurlah! Coba kalau niatnya buruk kayak Karin. Amang jemput mama alasan untuk hadiri pesta keluarga. Amankan mama dulu!"


"Baiklah! Amang akan minta adikmu si Abdullah jemput mamamu! Amang yang kabari mamamu biar dia tak curiga. Amang tak sangka papamu yang terkenal baik dan bijak sanggup cipta rekor baru. Makin tua bukannya tobat, makin menjadi. Tua-tua keladi."


"Alvan juga tak sangka. Tadi Alvan pikir Karin main gila dengan laki di luar sana. Siapa sangka justru tikus dalam rumah curi makan. Alvan sangat sedih mang!"

__ADS_1


"Nak..Allah sedang beri cobaan lihat sampai di mana batas kesabaranmu! Di sisi lain Allah beri nikmat kembalikan anak-anak padamu. Semua ada hikmahnya. Jangan bosan sholat minta lindungan Allah supaya jalanmu terbuka! Insyaallah ada jalan terang nanti!"


Hati Alvan terasa sejuk dapat siraman rohani dari adik mamanya yang tinggal di pulau Kalimantan. Alvan butuh dukungan tangan tepat angkat dia dari keterpurukkan.


__ADS_2