ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Tamu Heru


__ADS_3

"Iya ..Cece sudah gambarkan semuanya! Aku siap belajar!" lirih Afung kecil nyaris tak terdengar.


Citra tak dapat memberi wejangan lagi. Dia sudah katakan akibat yang terburuk daripada pernikahan dua kultur yang berbeda. Afung mantap menerima semua perbedaan ini maka Citra wajib mendukungnya. Citra percaya Heru tidak akan menyia-nyiakan Afung sebagai istri di kemudian hari. Semoga saja Heru mendapat yang terbaik begitu juga dengan Afung. Timbal balik begitulah ceritanya begitulah ceritanya.


"Kita doakan saja kebahagiaan Afung! Kami yakin Afung takkan hidup sengsara karena ada kamu. Kami dukung Afung menikah dengan om kamu. Kalau ada yang cocok aku juga mau tinggal di sini! Orang sini sangat ramah ramah. Aku suka melihatnya." Lan Yin menyuarakan isi hatinya.


"Kau baru datang bagaimana bisa tahu orang sini ramah?" Citra balik bertanya karena heran mengapa tiba-tiba Lan Yin mengatakan bahwa orang Indonesia ramah.


Lan Yin buka mulut keluarkan tawa kecil yang merdu. Lan Yin gadis Tiongkok umum sama seperti Afung berkulit putih. Tidak terlalu cantik namun sangat manis.


"Aku melihat Heru ramah, kau baik dan ramah begitu juga suamimu menyambut kami dengan baik. Tidak semua orang bersedia direpotkan oleh banyak tamu."


Citra angguk anggap kata Lan Yin masuk akal. Tidak semua orang bersedia menerima tamu lebih dari satu orang. Banyak tamu menambah beban tuan rumah. Dari segi biaya dan repotnya layani tamu.


"Kau benar...silahkan habiskan tehnya! Sudah dingin tak enak lagi. Kalau kalian mau istirahat silahkan! Aku mau menunggu kedua anakku pulang sekolah sekalian siapkan makan siang mereka."


"Tak apa ..kau pergi sibuk sana! Kami duduk di sini saja!" Afung mengijinkan Citra menyibukkan diri dengan urusannya. Tak enak hati menjadi penghalang tuan rumah melakukan kegiatan.


"Baik...kalau perlu sesuatu aku ada di dapur! Kalau Koko dan Amei pulang bilang mami di dapur." Citra terpaksa tinggalkan para tamu untuk meracik makanan untuk anak-anak dan tamu. Tamunya tak biasa makan makanan pedas. Citra harus timbang selera tamunya agar tidak dicap tuan rumah tidak peka.


Citra cukup lama di tinggal di negeri tirai bambu pasti tahu warga sana jarang konsumsi cabe berlebihan. Sebelum mulai kegiatan Citra seberang ke rumah Omanya untuk cari tahu apa Omanya juga memasak. Biasanya Oma yang urus menu makan mereka. Citra mulai pensiun jadi juru masak anak-anak sejak pindah.


Bu Sobirin sedang berleha di kursi malas mendengarkan alunan musik klasik yang tak pernah pudar di makan waktu. Sejuta kali diputar tetap enak dinikmati.


Sambil mengendap-endap Citra hadiahkan kecupan di pipi yang mulai di makan usia. Citra kasihan pada Omanya yang berada di antara dua mata pisau. Harus berpijak di pihak mana. Satu adik, satunya lagi cucu kandung. Yang mana harus di bela.


Bu Sobirin membuka mata merasakan kecupan di pipinya. Melihat siapa yang berada di depannya Bu Sobirin menarik bibir membentuk seulas senyum tipis.


"Kok cepat pulang?"


"Om Heru sudah pulang! Tadi Citra jemput di bandara. Om bawa pulang calon Tante." olok Citra. Reaksi Bu Sobirin biasa saja. Bu Sobirin sudah tak percaya pada kesungguhan Heru mencari pengganti isterinya. Yang ada wanita bikin sakit kepala. Salah satunya Viona. Gara Viona bikin ulah Bu Sobirin dibuat malu walau ada hikmahnya. Gara Viona juga Bu Sobirin menemukan cucu dan cicitnya.


Di balik duka terselip juga suka. Bu Sobirin tak bisa kesal pada Viona sepenuhnya. Bila Bu Sobirin tidak ikut Viona labrak Citra maka selamanya mereka berada di dunia asing. Sama-sama tak saling mengenal.


"Om kamu mana?" Bu Sobirin bangkit dari kursi malas ingin jumpa Heru. Berapa hari tak jumpa ada rasa kangen di hati kendatipun sudah tua. Baik buruk Heru tetaplah anak Bu Sobirin.


"Om sudah ke kantor. Katanya sekalian ke rumah duka."


"Oma belum ke sana takut mereka marah pada kita." kata Oma lebih mirip keluhan. Citra merasa tak enak membawa keluarga Omanya dalam masalah.


Dalam hal ini siapa mau jadi kambing hitam. Selvia dan ibunya dengan segala cara jahat ingin menguasai Alvan, terjebak kejahatan sendiri hendak limpahkan kesalahan itu pada orang lain.


"Maafkan Citra Oma!" Citra memeluk Omanya tetap simpan rasa bersalah walau bukan salah Citra mereka masuk penjara.


"Itu bukan salahmu nak! Mereka yang terlalu jahat. Sudahlah tak perlu kau pikirkan! Baik buruk kita bukan kita yang bilang. Di mana teman yang dibawa om kamu?"


"Ada di rumah. Citra datang mau tanya apa Oma sudah masak?"


"Oh sudah...om Heru kamu sudah kasih kabar mau pulang! Oma sudah bereskan! Tinggal di bawa ke tempatmu! Oma berencana cari orang kerja untukmu agar kamu tidak capek."


"Tidak usah Oma...untuk sementara cukup numpang sama pembantu Oma. Toh di rumah tidak banyak kerja! Anak-anak juga sudah besar. Kita ke sebelah untuk kenalan?"

__ADS_1


"Masa Oma ke sana...mereka dong yang ke sini! Biar om kamu yang ajak ke sini. Orangnya gimana?"


"Anaknya baik dan sopan. Umurnya sekitar dua puluh enam. Dia itu adiknya mama angkat Afisa. Mereka dari keluarga baik-baik. Itu Citra jamin."


"Lantas dia mau sama Om kamu? Kendala agama?"


"Dia bersedia ikut Om Heru! Soal agama Oma tak usah kuatir. Dia sudah sering lihat Afisa sholat kok! Mereka tak memaksa Afisa ikut mereka. Afisa tetap teguh pada agamanya walau orang tua angkatnya beragama lain."


Oma manggut bisa menilai bagaimana keluarga yang angkat Afisa jadi anak. Mereka bisa hormati orang lain pasti datang dari kumpulan orang baik.


"Semoga om mu tidak main-main kali ini. Hari ini Oma makan di rumah sini saja ya! Biar om mu yang atur wanita itu jumpa Oma."


"On harus bawa Azzam atau Afifa untuk jadi penterjemah. Namanya Afung. Tidak bisa bahasa Indonesia sama sekali."


"Jadi bagaimana mereka komunikasi?"


"Kayak orang bisu kali. Pakai gerak tangan."


Oma dan Citra tertawa geli bayangkan Heru dan Afung pacaran pakai bahasa isyarat. Betapa konyol cara pacaran orang itu. Mirip orang bisu bicara pakai gerakkan tangan.


"Itulah indahnya cinta! Kita lihat sampai di mana keteguhan om Heru. Citra balik ke rumah dulu ya! Nanti Oma minta si bibik antar lauknya ke rumah Citra."


"Pergilah! Oma akan atur semuanya."


"Terima kasih Oma .." Citra berjalan ke belakang untuk balik ke rumahnya. Dari belakang tembus langsung ke teras belakang rumah Citra. Antara dua rumah ini tak ada jarak. Heru sengaja rancang demikian agar penghuni kedua rumah bisa saling kunjungi setiap saat.


Citra kembali ke rumahnya sekalian hendak lihat apa anak-anak sudah pulang? Citra mendapatkan ruang tamunya riuh oleh celoteh riang Afifa. Suara Afifa sangat lepas bicara dalam bahasa Mandarin fasih. Kalau sudah gini tak ada tampak Afifa itu asli produk dalam negeri. Seluruh aksennya mirip orang Chinese.


"Mami...." pekik Afifa senang." Lihat siapa ini? Ie ie Afung.."


"Mami tahu...sudah cuci tangan?" Citra ingatkan Afifa tentang protokol kebersihan sepulang dari luar.


"Sori mi...Afung ie tunggu sini ya! Amei mandi dulu. Nanti malam kita tidur berdua ya!"


Afung mencolek pipi Afifa yang makin tembem mirip bakpau isi kacang merah. Afifa tambah besar dan makin menggemaskan. Badan bertambah subur tanda makin sehat.


Afifa turun dari pangkuan Afung berlari ke atas untuk mandi. Azzam sudah duluan masuk kamar setelah Salami Afung dan temannya. Di mata Afung Azzam makin dewasa, tambah cool dan keren.


Citra duduk bergabung dengan tamunya sambil tunggu waktu makan. Pembantu rumah Oma Sobirin pasti sedang menata meja. Kalau sudah kelar pasti akan tiba pemberitahuan.


Afung angkat topi pada Citra berhasil didik kedua anaknya jadi anak patuh. Citra tak perlu keluarkan jurus Mak lampir untuk atur buah hati. Keduanya patuh bagai kena remote control dari Citra.


"Aku pangling lihat keduanya! Satu makin cool dan satunya makin menggemaskan. Amei kuat makan ya,!" Afung tak bisa move on dari Afifa yang makin menarik.


"Uyut mereka selalu sediakan menu sesuai selera mereka maka badan keduanya tambah melar. Kita siap-siap makan siang. Kalau masakan sini kurang sesuai selera kalian harap maafkan ya!"


"Kami yang minta maaf sudah merepotkan! Tak usah pikir selera kami. Sudah dikasih makan sudah syukur." ujar Lan Yin sungkan Citra minta maaf. Mereka datang merepotkan Citra harusnya malu. Mau protes soal makanan sudah kebangetan.


Sore hari Heru duluan pulang. Alvan belum bisa tinggalkan kantor karena ada pekerjaan belum selesai. Andi dan Untung terpaksa ikutan lembur dengan bos sampai malam. Tak mungkinlah bos ditinggal sendirian kerja di kantor.


Heru datang ajak Afung dan kedua temannya makan di luar sebagai penghormatan pada tamu. Tujuan Heru tentu ingin menambah keakraban antara mereka. Sayang sekali Citra tak dapat ikut karena tak ada yang jaga Azzam dan Afifa. Kedua orang tuanya berkunjung ke tempat mendiang Selvia. Seburuk apapun penerimaan keluarga Selvia mereka tetap harus datang.

__ADS_1


Heru sudah ke sana tak ada reaksi negatif selain dingin pada Heru. Ibunya Selvia juga sudah dibebaskan Untung. Sesuai amanah Alvan ibunya Selvia jadi tahanan kota. Kini Untung tinggal urus masalah Kayla dan ibunya. Alvan sudah ijinkan Kayla dan ibunya ditahan di Kalimantan karena Alvan tak mau ada korban jiwa lagi. Yang bersalah tetap dihukum sesuai kesalahan walau ditahan di kandang sendiri. Semua yang menggalang kejahatan mendapat hukuman sesuai prosi masing-masing.


Alvan pulang hampir tengah malam. Untung dan Andi terpaksa begadang sampai malam juga. Andi pulang diantar Untung berhubung hari larut malam. Membawa motor sendirian bukanlah hal aman.


Citra yang jarang tidur malam memaksa diri berjaga untuk menanti suami pulang kerja. Rencana video call dengan Afisa sebelum balik ke Beijing ambyar karena pekerjaan Alvan menumpuk.


Citra menyambut Alvan begitu bunyi deru mesin mobil masuk rumah. Wanita ini bergegas keluar dari kamar menemui suaminya.


Citra duluan buka pintu walau Alvan masih dalam mobil. Obat rasa lelah suami adalah senyum di wajah isteri. Mendapat sambutan tulus dari isteri akan menarik separuh dari kelelahan.


Alvan tertawa kecil lihat Citra belum tidur. Isterinya bukan orang pandai menghitung bintang di gelapnya langit. Jarang lihat Citra jauh dari kasur bila jam berdentang sepuluh kali.


"Assalamualaikum...belum tidur?" sapa Alvan merengkuh bahu Citra sambil membawa masuk.


"Waalaikumsalam...mas belum pulang gimana aku bisa tidur? Sudah makan?"


"Sudah..." Alvan mengunci pintu rumah dengan sebelah tangan. Satunya lagi masih nangkring di pundak Citra.


"Masih ingin cemilan malam?"


"Kayaknya mau deh! Cemilan yang bisa mendesah ya!" goda Alvan menjurus ke adegan delapan belas tahun ke atas.


"Isshhh...capek gini masih mesum! Aku bikin air hangat ya! Rendam air hangat bisa rilex kan badan."


"Kau ikut mandi ya!" bisik Alvan merayu isteri mungilnya.


"Sudah malam mas! Jangan bercanda! Nanti masuk angin! Ayok kita ke kamar!"


"Ayo! Makan cemilan ya!"


Citra mencubit pinggang Alvan yang asyik mengarah ke hal nakal. Tubuh mau rontok di dera rasa capek masih mau tambah aktifitas ranjang. Bisa kwadrat capeknya.


"Orang tua tak boleh nakal! Mandi langsung tidur. Rumah kita banyak tamu. Jangan mesum ya!" kata Citra tak peduli pandangan penuh harapan Alvan. Tengah malam gini otaknya bergerilya mencari nikmat duniawi. Citra takkan biarkan Alvan kelelahan.


Citra buatkan air hangat untuk Alvan di bathtub. Berendam sebentar di bathtub akan memulihkan sebagian rasa penat. Citra selalu ingin beri yang terbaik untuk Alvan.


Alvan masuk kamar mandi tanpa berulah lagi. Citra menyediakan piyama di tepi tempat tidur agar bisa dikenakan Alvan seusai mandi.


Citra tidak menyesal telah korbankan waktu tidur untuk Alvan. Yang penting Alvan pulang dengan selamat. Citra mulai terbiasa berada di samping Alvan. Andai ada hal memisahkan mereka mungkin Citra akan alami stress panjang. Citra belum siap kehilangan untuk kedua kali.


Sambil menanti Alvan siap mandi Citra rebahkan tubuh di atas ranjang bergulung dalam selimut. Suhu ruang kamar cukup dingin karena setelan AC disesuaikan keinginan Alvan yang ingin dingin.


Badan Alvan tinggi besar mudah keluar keringat maka perlu suhu udara dingin. Citra harus sesuaikan diri dengan Alvan agar tak ada kesenjangan antara mereka.


Mata Citra makin sayu seiring waktu. Alvan masih berendam Citra susah tertidur. Alvan sudah berada dalam rumah memberi ketenangan pada Citra. Rasa was-was raib bersama munculnya Alvan. Makanya Citra tidak menahan matanya beristirahat.


Alvan keluar dari kamar mandi mendapat isterinya telah pulas. Citra makin cantik dalam posisi tenang berlayar ke pulau kapuk.


Alvan segera berpakaian menyusul Citra bergulung dalam selimut. Rasa hangat mengalir begitu dua tubuh saling berdekatan. Alvan memberi kecupan lembut di kening Citra.


"Selamat malam sayang..." Alvan bisikan kata mesra walau tak didengar Citra.

__ADS_1


__ADS_2