ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Akalan Heru


__ADS_3

Citra dan dokter Rahma akhirnya sampai di depan pintu pasien kurang waras dirawat. Katanya orang kaya tapi akal kayak orang tak berpendidikan. Citra baca asma basmalah sebelum masuk. Tantangan apa sedang menunggu nya.


Rahma mendorong pintu geser perlahan takut pasien sedang tidur. Tugas mereka menyembuhkan orang sakit bukan membuat orang tambah sakit. Dua hari lalu Heru masih sehat diijinkan pulang. Laki itu bersikeras belum sembuh tak mau dirawat di rumah.


Bukannya tambah sembuh malah drop karena tak mau makan apapun. Sehari-hari mengandalkan cairan infus. Makan cukup asupan gizi buat orang segede pak Heru.


Di situ ada wanita cantik berdandan menor menunduk lesu duduk di samping ranjang Heru. Heru terbaring di ranjang dengan wajah pucat pasi.


Citra kaget melihat perubahan Heru. Dua hari tak jumpa laki itu drop sangat jauh dari bayangannya. Citra tak sangka di dunia ini ada orang sekonyol gitu permainkan nyawa sendiri.


Citra meminta stetoskop Rahma untuk periksa kondisi Heru. Citra periksa denyut nadi dan detak jantung. Agak melemah karena kurang asupan makanan. Kulit berkeriput kekurangan cairan.


"Percepat cairan infus. Cari bubur dan air gula!" Citra beri perintah pada Rahma agar cepat tangani Heru. Dibiarkan gitu nyawa laki itu bisa melayang.


"Kau marah Citra?" selidik Rahma tak gunakan panggilan resmi lagi.


"Dokter Rahma...pasien di rawat di rumah sakit kenapa bisa sampai gini? Di mana kalian sih?" omel Citra kesal para perawat tak bertugas dengan baik.


"Dianya tak mau makan! Sudah dibujuk tetap menolak. Kami bisa apa?" Rahma memelas minta pengertian Citra.


"Dokter Rahma...sekarang bawa makanan lunak dulu. Nanti kita ambil sampel darah cek lab penyebab pak Heru drop! Panggil perawat ke sini!"


"Iya...aku cari makanan! Aku akan minta suster ambil sampel darah." Rahma malu ditegur junior. Seharusnya Rahma lebih ngerti tangani pasien dibanding Citra. Citra jadi dokter belum keluar dari sepuluh jari sedang dokter Rahma sudah lewati masa puluhan tahun.


Sepergi Rahma ke kantin Citra kembali fokus pada lelaki mirip dewa Yunani itu. Ganteng sangar. Dalam keadaan sadar tidak sadar masih tersisa kegantengan tak memudar.


Citra menepuk pipi Heru dengan lembut. Sekali tak ada reaksi. Kedua Citra gunakan kedua belah tangan menepuk pipi Heru selembut mungkin. Wanita cantik penjaga Heru menyaksikan gerak gerik Citra dengan tatapan tajam. Ada kilasan cemburu di wajah wanita itu.


Citra masa bodoh dengan kecemburuan pasangan Heru. Dia datang menyelamatkan pasien bukan merayu pasien. Nyawa pasien lebih penting dari kecemburuan tak beralasan. Hanya orang tolol cemburu pada dokter.


Heru membuka mata. Sinar mata laki itu sayu seakan belum sadar dia di mana. Citra menarik nafas lega pasien tidak koma.


"Aku sudah meninggal?" lirih Heru tak percaya di depan matanya hadir bidadari impian.


"Huusss...bapak sehat walafiat!" tukas Citra menyadarkan Heru.


"Kok aku melihat bidadari surga?" racau Heru masih menatap Citra tanpa berkedip.


Citra beri kode pada wanita Heru agar mendekat. Bidadari yang dimaksud Heru mungkin pasangannya maka Citra meminta wanita itu mendekat. Wanita itu secepat kilat berdiri dekati Heru. Pasang wajah manis memikat sukma Heru. Kali aja Heru anggap dia bidadari surga.


"Ini bidadari bapak!" ujar Citra lembut agar Heru tidak terbawa halusinasi berada di surga tingkat tujuh.


"Bukan...bidadariku cantik macam kamu! Kamulah bidadariku!" Heru berkata ngawur.


Citra mendesah pusing. Heru sedang berhalu atau sedang permainkan dia. Dari tadi ngomongnya ngawur. Jelas dia dokter bedah syaraf kok naik pangkat jadi bidadari.


Wanita Heru monyongkan bibir marah diabaikan Heru. Bela belain jaga Heru sambutannya ngeselin hati.


"Maaf nyonya Heru! Suamimu mungkin sedang halusinasi. Itu hal wajar bila seorang baru sadar dari pingsan! Bujuk dia makan dan minum ya! Dia akan pulih seperti semula." ujar Citra memberi kesan baik pada wanita Heru.


"Oh gitu ya dok! Kapan dia akan pulih?"

__ADS_1


"Segera...nah! Kita ambil sampel darah cek lab cari di mana penyakit suamimu! Bantu pegang tangannya! Mungkin agak sulit sedikit karena venanya tenggelam karena kekurangan cairan."


Seorang perawat datang bawa nampan berisi tabung vacutainer dan jarum suntik untuk sedot darah dari Vena. Hasil sampel darah akan disimpan di tabung vacutainer untuk dibawa ke laboratorium. Di sana darah akan diolah cari penyebab pasien sakit.


"Suntik lagi sayang?" tanya Heru ntah ditujukan pada siapa. Citra anggap itu untuk wanita penjaga Heru.


"Nggak tahu mas! Kata dokter untuk periksa sakit mas!" sahut wanita itu merasa disayang Heru. Citra dan perawat tidak berkomentar karena sibuk cari vena darah Heru persis di antara lipatan lengan.


Citra menepuk-nepuk lengan Heru agar venanya timbul. Nona perawat ikut membantu dokter agar tugas cepat kelar. Heru bukan pasien favorit para perawat karena banyak tingkah. Susah diajak kerja sama cari kesembuhan. Tak boleh sakit namun tak mau minum obat. Kapan bisa sembuh bila hanya andalkan cairan infus.


"Cari di punggung tangan sus! Vena sulit didapat." Citra mengalihkan mata pada urat darah di punggung tangan Heru. Urat situ lebih kecil agak sulit diambil darah. Tak ada jalan lain selain coba dari urat kecil.


Heru diam saja disiksa Citra. Tak ada keluhan keluar dari mulut laki seganteng dewa Yunani itu. Lumrah bila cewek jatuh cinta pada Heru. Kharismanya luar biasa. Dalam kondisi drop gini masih terpancar aura strong.


Kerja sama luar biasa membuahkan hasil. Citra berhasil sedot darah Heru satu tabung kecil. Citra menulis sesuatu di catatan agar perawat laksanakan serangkaian cek lab.


Perawat pergi keluar setelah ijin dari Citra. Citra adalah dokter handal, setiap perintah Citra tentu untuk kesembuhan pasien.


"Gimana pak? Ada enakan?" tanya Citra perhatian tetesan infus berjalan kencang. Citra sengaja percepat turun cairan untuk kurangi dehidrasi Heru.


"Asal ada dokter tersayang aku langsung sehat! Ke mana dua hari ini? Aku merindukanmu!" ujar Heru tak tahu malu. Beraninya ungkap isi hati di depan wanita sendiri. Bagaimana perasaan wanita itu Heru bilang rindu pada wanita lain.


Citra bukan orang tak punya hati. Citra pernah rasakan kepedihan dikhianati pasangan maka paham kehancuran hati wanita Heru. Citra menggeleng beri kode pada wanita itu agar jangan peduli ocehan Heru.


"Bapak istirahat ya! Tenangkan diri agar pikiran bapak pulih!" bujuk Citra jaga perasaan wanita Heru.


Rahma balik ke ruang bawa mangkok berisi bubur dan segelas susu hangat. Rahma bersyukur Heru sudah sadar walau masih pucat. Rahma kuatir Heru drop di luar kendali. Pihak rumah sakit bisa vonis Rahma tak becus rawat pasien. Yang iya pasien nya tak mau kerja sama ikuti nasehat dokter.


"Nah bapak makan dulu! Jamin bapak akan segar! Ayok silahkan suap suaminya!" Citra beri kesempatan pada wanita berdandan menor mengurus Heru.


Rahma menyerahkan mangkok dan susu pada wanita itu sesuai arahan Citra. Rahma tentu saja harap Heru mau makan akhiri acara mogok makan.


Citra dan Rahma mundur selangkah beri tempat pada pasangan itu berinteraksi. Citra dan Rahma saling berpandangan berdoa semoga Heru bersedia diajak berdamai. Umur setinggi tiang jemuran tapi tingkah kayak bocah kecil suka ngambek.


Di luar dugaan Heru menolak disuap nona menor. Laki itu buang muka tak terima suapan bubur panas dari tangan nona menor. Citra menggeram dalam hati. Pasien paling sulit diatur selama dia jadi dokter. Anak kecil saja masih bisa patuh bila kena rayuan gombal Citra. Yang ini makin tua makin menjadi.


Rahma mencolek pantat Citra beri kode maju gantiin wanita itu. Citra berpikir sejenak baru maju ambil alih mangkok dari tangan si nona. Wanita itu menyerahkan mangkok dengan berat hati. Rencana mau cari cinta Heru kandas sudah.


Citra meniup bubur dua kali baru angsur ke mulut si cowok. Bagai robot kena remote kontrol, Heru buka mulut terima suapan bubur Citra. Sedikit demi sedikit bubur pindah ke perut Heru hingga mangkok bersih. Tak ada penolakan sampai susu ikut berpartisipasi dalam lambung Heru.


Rahma surprise Citra demikian gampang tangani pasien kurang akal itu. Di tangan Citra semua berjalan lancar bak air mengalir dari kran. Mulus tanpa hambatan.


Acara makan Heru selesai. Laki itu tersenyum puas dapat layanan dokter tercantik di rumah sakit ini. Sakit sebulan juga tak apa asal dokternya adalah Citra.


Citra kok merasa Heru sengaja pancing dia jadi perawat pribadi. Dua kali Heru mogok makan, dua kali pula Citra suap dia. Apa Heru kurang kerjaan hendak menyusahkan dia! Apa tujuan laki itu berbuat konyol undang perhatian Citra.


"Pak...sekarang istirahat! Kalau tak yang tak enak panggil perawat. Aku harus kembali ke tempat praktek. Pasien sudah menunggu."


"Iya sayang!" Heru tersenyum manis.


Rahma tertawa dalam hati lihat wajah Citra berkerut dipanggil sayang oleh Heru. Citra mau muntah dipanggil sayang oleh pasien dewasa. Kalau pasien anak-anak yang manggil Citra tidak keberatan. Ini laki tua sok imut bikin perkara.

__ADS_1


Orang lain bisa salah paham pikir Citra merayu pasien. Citra sumpah mati tidak tertarik pada cowok untuk sementara ini. Cowok manapun takkan bisa ketuk pintu hati Citra yang sudah karatan. Sulit untuk terbuka.


Citra beri kode pada wanita Heru agar ikut dia keluar. Rahma membantu Heru berbaring di posisi nyaman agar laki itu bisa tidur baik.


Di luar sana Citra langsung memegang tangan wanita Heru agar jangan salah paham. Tak terlintas di benak Citra berbuat jahat pada sesama wanita. Dia sudah rasakan kepahitan diduakan. Citra tak ijinkan diri sendiri menyakiti kaum hawa.


"Maaf nyonya! Kau tahu aku tidak ada apa-apa dengan suami nyonya! Mungkin pak Heru belum sadar sepenuhnya maka ngawur. Kita tunggu dia bangun baru cek apa yang terjadi."


Wanita mengangguk percaya. Citra tidak perlihatkan gelagat suka Heru. Jelas Citra berusaha hindari Heru. Heru sendiri kegeeran anggap Citra sebagai kekasih hati.


"Aku tahu.. Bu dokter tidak salah! Mas Heru yang kelewatan."


"Terima kasih pengertianmu! Aku harus pergi karena pasienku sudah menanti. Tolong bujuk dia banyak minum dan makan! Kalau dia kuat boleh pulang!"


"Terima kasih dok! Maafkan mas Heru ya! Dia emang suka ngawur!"


"Aku sudah biasa hadapi pasien aneh! Ok...aku tinggal ya! Kalau ada kesulitan jumpai aku di bagian syaraf." Citra menepuk bahu wanita Heru sambil melempar senyum damai. Citra melangkah pergi menyongsong tugas lain.


Bisa berbuat sesuatu untuk pasien merupakan kepuasan tersendiri. Citra merasa berguna bila pasien sehat. Itulah tujuan mulia seorang dokter.


Citra tak punya waktu memikirkan Heru. Puluhan pasien sedang menanti keajaiban sentuhannya. Pasiennya kebanyakan pasien stroke aneka tingkatan. Dari yang parah hingga yang ringan. Semua Citra tangani sepenuh hati tanpa buat perbedaan. Pasien diobati sesuai tingkatan penyakit.


Lewat tengah hari pasien masih banyak. Citra teringat pada Azzam dan Afifa. Hari ini mereka sekolah sampai jam empat sore. Mungkin Alvan tak tahu jadwal belajar kedua anak itu. Senin hingga Rabu pulang jam empat sore sedang Kamis dan Jum'at pulang siang.


Citra takut Alvan luangkan waktu jemput anak-anak jam siang. Lelaki itu takkan dapat apa-apa karena kedua bocah masih belajar. Citra terpaksa teleponi Alvan agar tak usah jemput Azzam dan Afifa. Tak ada guna lakukan hal sia-sia.


Citra aktifkan ponsel di saat tak ada pasien. Pasien masih ada tapi ini waktu dokter istirahat makan siang. Citra akan sholat dahulu sebelum ke kantin isi pulau tengah tubuh. Tanpa bantuan makanan dari mana energi kuat layani pasien yang antri minta pengobatan.


Citra telepon Alvan dulu sebelum ke musholla di rumah sakit. Dirikan sholat sama saja mendirikan kekuatan kaki. Segala keluh kesah akan disampaikan pada Allah SWT. Tempat mengadu paling tepat tentu hanya pada junjungan kalbu Yang Mulia Allah SWT.


"Halo.. assalamualaikum..!"


"Waalaikumsalam...tumben telepon? Tidak sayang pulsa?"


"Sarap...aku cuma mau kasih tahu jemput anak-anak jam empat sore."


"Oh itu aku sudah tahu! Afifa sudah bilang tadi. Sudah makan?"


"Mau sholat dulu. Baru selesai periksa pasien."


"Pasien sudah habis?"


"Masih ada. Sambung setelah makan siang. Bapak tidak menjenguk Karin?"


"Sore nanti. Sekarang masih sibuk. Oya...pasien Heru sudah pulang?"


Citra tak mungkin cerita kalau pagi-pagi Heru sudah buat ulah memaksa Citra jadi baby sister dia. Citra bukan tidak tahu Alvan dan Heru adalah teman di meja bisnis. Mengadu yang tidak perlu hanya membuat hati Alvan tambah kurang enak.


"Belum pulang. Masih sakit katanya. Dia kan pasien dokter Rahma. Aku hanya tukang bedah syaraf. Pemulihan di bawah kontrol dokter Rahma."


"Bagus...aku tak suka kau dekat dengannya!"

__ADS_1


"Bagus apanya? Aku dokter bertanggung jawab pada kesehatan pasien. Aku tetap pantau pemulihan pak Heru walau bukan bagian aku. Bapak tahu sumpah seorang dokter kan? Utamakan pasien dalam suasana genting apapun."


"Itu kalau pasienmu waras. Heru itu kurang waras. Dia seenak perut mau beli rumah sakit agar dekat denganmu."


__ADS_2