ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Cekcok


__ADS_3

Andi dan Tokcer ingin sekali mencubit mulut Azzam yang bijak. Mereka berdua yang setua gini tak sanggup berpikir segitu jauh. Kok malah ada anak kecil berpikir panjang. Masih kalah rel kereta api.


"Kiblat itu tak pernah salah kecuali ada orang berhati tak bersih salah lihat arah. Dia sendiri melencengkan posisi sesungguhnya." sahut Afisa menangkis kata-kata Azzam.


Andi dan Tokcer merasa kepala kok jadi berat ikuti perdebatan dua anak kecil berotak jenius. Obrolan tingkat tinggi. Hanya orang suka berpikir panjang akan pahami inti perdebatan mereka.


Alvan mengurut dada lihat kedua anaknya yang lain dari yang lain. Kalau boleh memilih Alvan lebih suka kedua anaknya seperti Afifa saja. Nikmati dunia kanak-kanak tanpa akal sepanjang tembok great wall di Tiongkok.


Azzam dan Afisa sudah di luar batas anak kecil. Memandang satu persoalan dari sudut berbeda dengan anak lain. Apa Bu Dewi yang grasa grusu bisa melawan kedua anak itu. Anak sejuta dalil.


"Sayang Papi...kita sudahi semuanya! Sekarang berdoa semoga opa cepat sehat ya! Percayalah semua akan segera berlalu! Kita semua akan bersatu melewati hari-hari yang bahagia."


Afisa ingin menjawab tapi segera ditahan Azzam. Azzam sudah menduga Afisa akan melawan harapan Alvan. Sungguh keluarga ribet. Tidak ibu, tidak cucu punya cara pikir berbeda. Cuma Bu Dewi pakai gaya anarkis sedang Afisa pakai lisan menohok.


"Papi bener! Sekarang kita cuma berdoa untuk opa dulu." tukas Azzam melarang Afisa buka mulut.


Tidak lama kemudian Citra keluar dari ruang perawatan. Bu Dewi langsung hampiri Citra untuk minta penjelasan mengenai kesehatan pak Jono. Mulut yang biasa asal ngoceh kini hilang powernya. Pak Jono tiba-tiba drop cukup bikin nenek cerewet ini sport jantung.


"Gimana kondisi papa kamu?" buru Bu Dewi pada Citra. Nenek tua ini masih dipenuhi rasa menyesal telah membuat suaminya kolaps.


"Alhamdulillah...papa sudah stabil! Biarlah beliau dirawat sampai tekanan darah tidak turun naik. Jantung tidak masalah. Tidak ada gejala penyakit jantung. Ini murni dari hipertensi. Papa akan dibawa ke ruang rawat." sahut Citra di barengi senyum lembut. Hadapi orang gelap mata tidak perlu kasar. Malah akan memperkeruh suasana. Citra yang merasa dirinya waras memilih mengalah.


"Oh...terima kasih..." kata Bu Dewi melupakan rasa jengkel pada Citra.


"Itu kewajiban Citra." Citra sengaja tidak rincikan kewajiban sebagai dokter atau seorang menantu. Biarlah Bu Dewi berpikir sendiri. Mau anggap Citra menantu atau dokter.


"Papa di tempatkan di mana?" tanya Bu Dewi.


"Tentu di tempat nyaman. Nanti ada perawat dua puluh empat jam layani papa. Mama juga tenang. Bagusnya kita cek tensi darah mama karena agak pucat. Yok kita cek di ruang Citra!"


"Tapi papamu?"


"Mama tidak usah kuatir. Nanti papa akan diantar ke ruang rawat. Kita bisa jumpai Papa di sana. Sekarang kita tensi tekanan darah mama dulu. Ayok!" Citra mengandeng Bu Dewi menuju ke ruang praktek yang tidak dibuka karena tak ada jadwal praktek.


Citra tidak memanggil perawat untuk membantunya memeriksa Bu Dewi. Cukup Citra lakukan sendiri karena hanya sekedar checking tensi darah Bu Dewi. Alvan yang ketiga anaknya mengikuti Citra dan Bu Dewi ke tempat praktek Citra. Di belakang dua jagoan neon juga mengikut seperti bebek mengikuti gembala bebek yang duluan di depan.


Citra meminta yang lain tunggu di depan ruang praktek biar dia lebih leluasa memeriksa Bu Dewi. Citra membantu Bu Dewi naik ke ranjang untuk diperiksa.


Citra lakukan semua prosedur yang seharusnya dilakukan dokter. Bu Dewi diam seribu bahasa biarkan Citra bekerja.

__ADS_1


"Darah tinggi sedikit...yang lain ok! Nanti Citra bikin resep tebus obat darah tinggi. Kalau besok darah mama masih tinggi artinya harus minum obat secara rutin." Citra membantu Bu Dewi turun lantas meletakkan sepatu Bu Dewi persis di depan kaki mertuanya. Pengabdian seorang dokter atau pengabdian seorang menantu.


"Minum obat rutin? Emang ada penyakit mama?"


"Setiap orang yang telah berumur pasti memiliki masalah dengan tekanan darah. Untuk menstabilkan tekanan darah maka kita harus minum obat darah tinggi secara rutin yang rendah mili. Tapi mama belum tentu harus minum obat itu karena kita akan observasi tekanan hipertensi Mama selama seminggu."


"Mama harus bolak-balik ke rumah sakit untuk cek darah?"


"Tidak perlu... kita bisa swadaya checking darah sendiri di rumah. Telah ada cek tekanan darah yang digital. Citra akan mengurusnya satu untuk Mama dan papa. Setiap pagi sebelum sarapan kalian cek dulu tekanan darah. kalau setiap pagi darahnya normal tidak meloncat artinya mama dan papa aman. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ayok kita jenguk papa! Mungkin sudah di bawa ke ruang perawatan." Citra dengan telaten membimbing Bu Dewi keluar dari ruang praktek. Tidak ada tanda-tanda Citra dendam pada Bu Dewi.


Di luar dua pasang mata bersiap melontarkan pandangan tak senang pada Bu Dewi. Dari samping Alfan bisa melihat tatapan permusuhan dari kedua anak kembarnya. Itu bukan salah Azzam dan Afisa karena Bu Dewi duluan mengangkat bendera perang. Pas pulang kedua anaknya bangsa maju tak gentar jadilah perang keluarga. Alvan dan Citra yang jadi sasaran berhadiah di antara dua kubu yang berseteru. Perang antara oma dan cucu.


"Mami...apakah boleh kami pulang duluan? Koko sudah tidak sabar ingin menunjukkan rumah baru kita kepada Cece. Waktu kami bersama sangat sempit maka kami harus pergunakan dengan sebaik mungkin." ujar Azzam jengah harus berdekatan dengan Oma mereka yang rada sinting.


Citra minta pendapat Alvan. Rasanya tak enak meninggalkan mertua yang sedang kurang fit. Dari segi manapun Citra tak bisa tinggalkan pasien sebelum aman di ruang rawat inap.


Alvan mengangguk izinkan Azzam dan Afisa duluan pulang. apa yang dikatakan Azzam adalah kebenaran. waktu untuk anak-anaknya sangat singkat. Karena Afisa mempunyai tugas yang tak kalah penting dengan keluarga.


Bu Dewi melototi kedua anak Alvan dengan sorot mata kurang senang. Gencatan senjata yang baru terjadi telah dilanggar lagi. Tidak bosannya Bu Dewi cari pasal dengan Citra dan anak-anaknya. Kalau Bu Dewi sebangsa kutu busuk enaknya disemprot pakai obat nyamuk semprot biar KO.


"Ma...biar mereka pulang! Afisa tak bisa lama di sini. Dia masih harus balik ke Singapura untuk ikuti kejuaraan senam. Mereka pasti kangen." lerai Alvan sebelum Bu Dewi keluarkan gas beracun dari mulut comberannya.


"Opanya sedang sekarat masih pikir bersenang-senang. Cucu apa itu?" sinis Bu Dewi kayak orang kesurupan jin sinting. Ngomel tidak jelas.


"Ya sudah pergilah! Sama saja tak punya cucu!" sungut Bu Dewi.


Afisa tertegun mendengar sungutan Omanya. Anak kecil ini sama sekali tidak berharap terlahir dari keluarga tak waras. Punya papi tukang selingkuh piara wanita di depan hidung maminya. Punya Oma mantan orang sakit jiwa. Klop sudah nilai tambah keluarga Lingga yang kaya raya.


"Bu Dewi yang terhormat.. kalian kaya raya! Tentu gampang beli cucu! Kami ini bukan apa-apa dan tidak penting untuk diakui. Kami sama sekali tidak berharap menyandang nama Lingga. Cuma nasib kami sial harus pakai marga Lingga. Kami tidak keberatan kembalikan marga busuk kalian. Dan ingat jangan ganggu kami lagi! Beli cucu yang sesuai dengan keinginan ibu."


Alvan dan Citra langsung lemas dengar perlawanan Afisa. Ibu Dewi mengira anak-anak Alvan hanya anak kecil gampang digertak. Ditakuti dikit langsung anteng.


Bu Dewi besarkan mata tak mengira Afisa berani melawan bahkan tidak ingin menjadi bagian dari Lingga. Apa mereka tak mau hidup mewah dengan harta Lingga yang tak habis di makan tujuh kali tujuh keturunan.


"Kau...kau anak kecil! Tajam benar lidahmu! Kalau kau tidak mau jadi bagian dari Lingga mengapa kau pakai fasilitas Lingga?"


"Fasilitas? Emang fasilitas apa yang telah kucuri dari keluarga kalian?" Afisa mengerut kening tak merasa gunakan uang dari papinya satu sen pun. Dia datang ke Indonesia atas biaya sendiri.


"Kau pulang pergi dari mana uangnya kalau bukan dari anakku?" tantang Bu Dewi kayak anak kecil bertengkar dengan sesama anak kecil.

__ADS_1


"Uang anakmu? Tuh anakmu masih hidup! Tanya apa aku Afisa pernah pakai uang dia satu sen? Jangan sembarangan tuduh! Aku bisa tuntut nenek peyot mencemarkan nama baik. Aku punya penghasilan sendiri untuk apa jadi benalu isap darah orang." Afisa keluar dari garis kesopanan sebagai seorang anak. Andai orang tua angkat Afisa melihat Afisa begini kurang ajar pasti hukuman telah menanti.


"Cece...sudah! Tak baik melawan orang tua! Itu Oma kamu lho!" kata Citra menurunkan emosi Afisa meningkat drastis. Alvan tak salahkan Afisa marah tak dianggap cucu. Dari awal mereka juga tak ingin dianggap bagian dari Lingga. Susah payah Alvan rebut hati anak isteri dihancurkan oleh mamanya sendiri.


"Maaf...Oma aku hanya ada di Beijing! Mereka menyayangi kami dengan tulus. Ayok kita pergi! Mami juga ikut! Kita pasti akan mendapatkan hari lebih cerah. Mami ingat Awung Chiu! Dia bersedia jadi Daddy kita. Ayok pergi!" Afisa membentak Citra dengan mata berkaca-kaca.


Afisa merasa berdosa kasar namun juga tak ijinkan siapapun anggap remeh maminya.


Citra tercekat lihat Afisa menangis. Azzam dan Afisa adalah anak kuat. Mereka terlatih hidup menantang badai. Kini Afisa meneteskan air mata. Peristiwa sangat langka. Afisa tahan banting sanggup tahan derita. Berlatih senam saja dia tak pernah mengeluh.


"Sayang...opa kamu lagi sakit!" bujuk Citra lembut agar Afisa melemah.


"Aku tak punya opa. Opa aku ada di Beijing! Aku anak keluarga Chen bukan Lingga." Afisa melontarkan tatapan penuh dendam pada Alvan.


Kasihan Alvan harus berdiri di antara dua kutub. Satu panas dan satunya dingin. Semua ini gara-gara Bu Dewi tak pandai jaga mulut. Asal Nyaplak tidak tahu sakit hati orang.


"Mami ngerti perasaanmu! Tapi Allah tak suka kita berbuat kasar pada orang tua. Siapapun dia. Tak peduli dia itu siapa. Koko bawa Cece dan Amei pulang dulu! Bentar mami nyusul!"


"Kita pulang ke Beijing! Di sana rumahku. Aku mau balik Singapura hari ini juga. Afisa datang untuk lihat wajah orang yang sakiti mami. Ternyata manusia berhati malam."


Citra langsung memeluk Afisa karena anaknya sangat terluka. Datang dari jauh hanya dapatkan duka lara. Afisa makin yakin boyong saudara dan maminya ke tempat damai.


"Sayang...kita punya papi siap lindungi kita! Jangan buat papi jadi anak durhaka melawan orang tua. Kita bicara di rumah ya!" bujuk Citra.


Andi dan Tokcer takjub lihat keteguhan Afisa. Anak itu dibesarkan tangan besi oleh keluarga Chen. Wajar anak itu punya jiwa keras. Pantang disenggol.


"Aduh Citra... anak-anak kamu itu cengeng tak tahu sopan santun. Baru dibilang sedikit kayak mau dipenggal. Kau tahu anak keluarga Lingga sopan dan patuh. Tidak liar kayak anakmu!" gerutu Bu Dewi tidak paham situasi.


"Kami liar karena kami bukan keturunan Lingga! Kami tak ada hubungan dengan keluarga anda. Anakmu yang baik tidak liar tapi bejat. Piara wanita di depan mata isteri. Inikah kebaikan keluarga Lingga?" semprot Afisa makin tajam.


Alvan pucat pasi di sekak Afisa ungkit kesalahan Alvan di masa lalu. Afisa puas telah balas semua dendam yang tersimpan dalam hati. Tidak masuk keluarga bukanlah masalah besar. Bagi Afisa justru berkah. Dengan demikian dia bisa ajak mami dan saudaranya berkumpul di tempat tepat.


"Afisa ..jangan tidak sopan! Ko.. bawa adikmu pulang!" Citra terpaksa gunakan Azzam sebagai tameng atur adiknya. Afisa dan Afifa paling patuh pada Azzam sebagai Abang tua. Kali ini Citra harap Azzam bijaksana tidak ikutan kucilkan Alvan.


Alvan tak berharga sama sekali di mata Afisa. Ditambah teror Bu Dewi lengkap sudah penderitaan Alvan. Citra kasihan pada Alvan jadi bulanan anak sendiri. Salah sendiri mengapa memberinya anak dengan otak terlalu cemerlang.


"Iya mi... ayok kita pulang! Kita tunggu mami di rumah." Azzam memilih ikuti perintah Citra agar tidak memperkeruh suasana. Azzam bukannya tidak geram pada Omanya tapi kasihan pada Alvan juga.


Alvan pasti bingung memilih antara anak dan orang tua. Punya emak keras mulut dan anak keras kepala. Sama-sama mempunyai kekerasan berbeda. Afisa takkan menyerang bila tidak diganggu. Sayang Bu Dewi tidak menyangka punya cucu bertaring walau kecil. Sekali menggigit sakit juga.

__ADS_1


Bu Dewi terdiam di serang Afisa gunakan darah keturunan. Semula Bu Dewi pikir bisa bungkam Afisa pakai nama besar Lingga ternyata kebesaran itu tidak berharga di mata Afisa. Anak itu tidak bangga dimasukkan ke dalam daftar keluarga Lingga. Afisa menolak dianggap keturunan Lingga. Gadis itu memilih menjadi anak orang lain ketimbang sandang marga Lingga.


Citra beri kode pada Tokcer agar bawa Azzam dan Afisa pulang ke rumah baru mereka. Biarlah Afisa menenangkan diri bersama keluarga Perkasa yang jauh lebih ramah.


__ADS_2