
Ternyata harapan Heru terkabul. Pagi ini Citra dalam kondisi terbaik. Wajah segar bak bunga mekar baru dipetik dari kebun pak tani. Heru menyimpan rasa kagum dalam hati. Tak mungkin Heru lontarkan gombalan di depan orang ramai. Ini hanya merusak reputasi Citra sebagai dokter idaman.
"Makan dulu! Aku bisa menunggu. Santai aja!"
"Iya mas..." sahut Citra tak sadar kata mas dari mulutnya menyulut percikan api cemburu di hati Viona. Panggilan itu terlalu intim untuk dokter yang baru dikenal. Viona tak tahu Heru bagai hantu gentayangan dalam hidup Citra.
"Mas??? Sejak kapan kau diijinkan panggil sayangku dengan panggilan mas? Kau masih belum sadar dari tidur ya!" Viona tak tahan maju melabrak Citra tanpa ampun.
Citra hentikan gerakan tangan hendak menyendok mie ke mulut. Bentakan Viona cukup mengundang tatapan mata ke arah mereka. Citra menjadi tak enak hati jadi pusat perhatian.
Heru sadar Citra sedang dilanda dilema. Mengubah panggilan atau ingkar janji pada Heru. Dia sudah janji akan panggil Heru dengan sebutan mas sedang Viona keberatan masnya direbut orang. Semua jadi kacau.
"Vi...Dokter Citra hanya ingin sopan hormati aku! Jangan bikin onar di sini! Ayok kita ke tempat heli. Jangan ganggu dokter makan!" Heru menyeret Viona tinggalkan dapur umum. Viona berjalan terseok-seok diseret Heru secara kasar. Viona sendiri minta dikasari. Sok berkuasa atas Heru.
Citra merasa selera makannya sirna seketika. Ada perasaan tak enak dibentak Viona hanya karena satu panggilan padahal apa arti satu panggilan. Apapun panggilan Citra tetaplah untuk hormati Heru yang jauh lebih tua darinya.
"Are you ok Citra?" tanya Melati hati-hati takut Citra tersinggung.
"Aku tak apa! Pak Heru memintaku panggil dia mas biar tidak kaku. Aku tak ada maksud apa-apa." ujar Citra tanpa diminta Melati. Citra ingin klarifikasi keadaan sesungguhnya agar tak ada salah paham.
"Aku tahu...tak usah dipikirin! Makan biar sehat. Bukankah kita masih ada pasien sedang menunggu?" Melati cuek tidak terprovokasi oleh amarah Viona. Melati sudah lihat sepak terjang Viona mengumpulkan rasa kesal di hati orang maka tidak terpengaruh.
"Iya..." jawab Citra tak enak hati. Heru bagai dewa asmara menancap panah cinta di hati setiap wanita. Ada berapa wanita beruntung bisa dekat dengan laki tajir itu. Salah satunya Viona, jadi wajar Viona cemburu pada orang yang dekati incarannya.
Citra tidak peduli apa hubungan Viona dan Heru. Dia hanya kenal Heru sebagai pasien dan sekarang sebagai dermawan bagi korban bencana alam. Citra tak berniat masuk ke dunia yang asing buatnya. Salah langkah malah tersesat tak tahu jalan pulang. Citra memilih di jalan terang agar tetap tahu di mana harus jalan dan di mana harus berhenti. Di rumah masih ada tiga bocah menanti limpahan kasih sayang seorang ibu.
Di kota Alvan dibuat kelabakan urus anak dan urusan kantor. Untung ada Andi bantu Alvan urus kedua bocahnya. Andi tahu seluk beluk mengenai Azzam dan Afifa maka Alvan tertolong sedikit.
Setelah antar Azzam dan Afifa ke sekolah Alvan ke rumah sakit menjenguk Karin. Alvan tak bisa abaikan Karin begitu saja walau kesalahan Karin tak terhingga. Selama Karin masih jadi bininya maka Alvan wajib beri perhatian.
Alvan menyuruh Andi menunggu di dalam mobil sementara dia masuk ke rumah sakit melihat kondisi Karin. Ntah bagaimana kondisi wanita nakal itu. Membawa sejuta masalah bagi keluarga Alvan. Gara-gara Karin mama dan papanya terpisah. Pak Jono terpaksa diungsikan ke Jogja untuk hindari akibat lebih fatal.
Sepanjang jalan menuju ke ruang rawat Karin Alvan mendapat sapaan dari dokter senior yang mengenal Alvan. Dokter-dokter muda belum gitu tahu siapa Alvan sesungguhnya karena selama ini Alvan jarang berkunjung.
Namun sejak Afifa sakit Alvan mulai rutin berada di situ ditambah perawatan Karin jadi pesakitan. Alvan tak punya pilihan selain laksanakan tugas sebagai suami bertanggung jawab.
Alvan tiba di ruang rawat Karin hendak masuk. Namun langkah Alvan terhenti karena terdengar ada orang bicara di dalam dengan suara keras. Suara Karin dan suara seorang lelaki sedang berdebat.
__ADS_1
Alvan menunda niat untuk masuk mencoba menguping apa jadi obrolan kedua orang di dalam kamar rawat.
"Dengar ya Karin! Kalau kau tak beri aku uang maka aku akan datangi Alvan cerita semua kebusukanmu pada Citra selama ini."
"Semua kartu aku sudah diblokir Alvan dan aku sedang sakit. Apa kau pikir Alvan akan beri aku uang lagi?"
"Pakai rekaman mertuamu ancam dia. Berikan rekaman biar aku datang pada Alvan. Aku akan peras dia! Aku akan minta uang satu trilliun. Setelah itu kita pergi nikmati uang kita."
"Tak ada guna semua itu lagi Ryan! Aku sekarat...lebih baik kau pergi test HIV! Aku terjangkit HIV dari Zaki. Orang yang terakhir tidur denganku itu kamu. Kita berpesta di hotel sampai lupa diri."
"Kau...dasar perempuan ******! Si Zaki Pakistan tidur denganmu? Ya Tuhan...dia sudah terjangkit dari beberapa tahun lalu. Mengapa kau tega lakukan itu padaku? Aku masih muda tak mungkin mati sia-sia"
"Aku tak tahu dia pengidap HIV. Setelah keguguran anak baru aku tahu. Mungkin ini karma buatku. Aku telah banyak salah pada Citra. Aku jebak dia dengan obat perangsang tapi yang kena justru Alvan, aku kelabui Alvan kalau Citra minggat jauh padahal dia tinggal tak jauh dari rumah kami, aku tutupi kehamilan Citra agar Alvan tak tahu dia punya anak dari Citra. Itu aku lakukan demi hidup mewah. Tapi sekarang tak ada gunanya. Hari aku bisa dihitung jari."
"Kau mati saja! Aku masih mau hidup. Aku belum tentu kena HIV, beri rekaman itu padaku! Aku akan minta uang pada Alvan. Aku akan pergi jauh dari sini. Di mana kau simpan file itu?"
"Sudah kuhapus! Aku tak tega pada Alvan. Aku yang salah jebak mertuaku hingga keluargaku jadi kacau. Kau ikut bertanggung jawab atas kekacauan ini. Aku ikuti semua saranmu hingga jadi gini. Andai aku duduk manis seperti harapan Alvan mungkin kini aku wanita paling bahagia. Sudahlah Ryan! Jangan ganggu aku lagi! Aku ingin bertobat di sisa hidupku!" Alvan dengar suara Karin melemah tidak segarang perdebatan pertama.
"Kau mau mati terserah! Aku masih ingin hidup. Aku butuh uang untuk beli narkoba. Dasar kau perempuan tolol! Kesempatan cari uang kau siakan! Ingat-ingat apa kau masih simpan salinan file itu?"
"Aku akan balik ambil hak aku! Ingat! Aku punya sebagian harta Alvan. Kau yang janji itu padaku. Aku sudah jadi budakmu puluhan tahun masa tak dapat apa-apa."
"Jadi selama ini siapa biayai hidupmu? Memangnya kau kerja apa? Main perempuan? Isap narkoba? Uang dari mana? Itu semua uang aku! Sekarang aku tak punya apapun! Hidup mati aku tergantung pada Alvan. Kau mau bunuh aku silahkan! Toh tak ada beda mati sekarang atau nanti!"
"Kau pikir kau omong gitu aku akan menyerah? Tunggu aku akan jumpai Alvan!"
Alvan segera bersembunyi di blok lain agar tidak kepergok laki bernama Ryan. Alvan makin tak kenal Karin yang sangat dia cintai. Siapa sesungguhnya wanita itu hingga punya rencana sangat jahat pada keluarganya. Apa Alvan pernah berbuat salah pada Karin sampai dia susun rencana matang jebak dia dan papanya.
Alvan mengintip laki bernama Ryan keluar dari ruang rawat Karin. Alvan tidak begitu kenal lelaki piaraan Karin itu. Mereka berdua bisa berbuat jahat pada Citra artinya hubungan keduanya berjalan cukup lama. Mengapa Alvan begitu bodoh tak tahu apa yang terjadi pada rumah tangganya. Punya isteri tak ubah perempuan malam.
Niat Alvan temui Karin pupus sudah. Alvan merasa sangat terhina dipermainkan Karin sampai puluhan tahun. Bahkan Citra mengandung anaknya ditutupi Karin demi ego sendiri. Betapa sengsara Citra besarkan tiga anak seorang diri. Tapi wanita muda itu masih membela Karin yang jelas telah hancurkan hidupnya. Hati Citra terbuat dari apa mampu melawan rasa dendam. Alvan makin tak sabar ingin jumpa wanita mulia itu. Citra pantas menjadi ibu dari anak-anaknya.
Di balik tragedi memilukan Alvan bersyukur ide Karin jebak Citra. Dari situlah hadir anak-anak cantik miliknya. Andai Karin tidak licik maka seumur hidup Alvan takkan punya keturunan. Kejahatan Karin ada hikmahnya juga.
Alvan putar badan balik ke parkiran mobil. Alvan pilih balik ke kantor melanjutkan tugas sebagai pemimpin perusahaan. Andi disibukkan oleh cek ulang semua file kantor dari tahun kemarin. Alvan beri akses penuh pada Andi audit ulang semua file dan data di komputer. Lelaki bertulang lunak itu kini jadi orang penting di kantor. Siapa berani ganggu Andi berarti sedang urus surat resign.
Andi kaget Alvan cepat balik ke parkiran mobil. Apa bosnya tidak jadi jenguk bini sirinya? Andi tentu saja senang bila Alvan jauhi perempuan penuh akal licik itu. Andi berharap Citra satu-satunya wanita Alvan. Citra terlalu baik diduakan. Kalau Alvan pilih Karin maka Andi harap Alvan bebaskan Citra. Begitu juga sebaliknya.Di dalam keluarga tak mungkin satu kapten gunakan dua juru kemudi. Arah yang dilewati pasti akan berbeda. Bahkan melawan arah.
__ADS_1
"Kita harus cari supir baru!" ujar Alvan setelah masuk ke dalam mobil. Laki itu tampak muram beda dari waktu masuk ke rumah sakit.
"Iya pak! Aku bisa pergi ke kantor naik angkot bila merepotkan bapak!" Andi tahu diri telah memberi image buruk pada Alvan. Mana ada bos supiri anak buah. Di mana harga Alvan sebagai majikan.
"Ngomong apa kamu? Aku ingin ada orang siap siaga antar jemput anak-anak kalau ada perlu. Aku ini kadang ke luar kota urus bisnis."
Andi lega Alvan tidak memandang rendah pegawai kecil macam dia. Andi pikir Alvan malu antar jemput Andi yang statusnya hanya pegawai rendah di kantor. Alvan tidak disalahkan bila keberatan Andi duduk di samping bos besar. Mana ada bos jadi supir pegawai. Mungkin hanya ada satu bos model gitu yaitu Alvan.
"Aku ada satu teman. Dia mantan supir angkot. Sekarang nganggur cuma..." Andi melirik Alvan dari samping segan lanjutkan omongan. Alvan mengerjit alis tak paham apa maksud Andi tak lanjutkan kalimat. Mata Alvan fokus ke jalan menembus kemacetan. Suara bunyi klakson bergema sana sini hendak beri kode pada mobil di depan agar melaju ke depan.
"Cuma apa?"
"Dia mantan preman pak! Cuma dia sudah insaf sedang ayahnya meninggal. Dia kerja serabutan biayai hidup ibunya. Dia itu jago karate lho pak! Setiap Minggu dia dibayar melatih anak-anak latihan karate. Ayahnya dulu juga guru karate."
"Dia tidak nakal?"
"Sebenarnya dia baik cuma bapak tahulah kehidupan di jalanan. Serba keras jadi orang anggap dia nakal. Padahal dia anak baik sangat sayang orang tua."
"Suruh dia datang ke kantor pagi ini. Aku mau omong langsung dengannya."
"Benar pak?" seru Andi kegirangan karena salah satu temannya akan segera putus hubungan dengan si pengangguran. Artinya di komplek mereka sudah ada dua anak lepaskan gelar pengangguran sejati. Yang pertama dia dan kedua Tokcer. Semoga kantor Alvan bersedia menampung teman lain agar para remaja di kampung tidak hanya duduk kongkow menghitung waktu dari detik ke detik jelang malam.
"Siap pak! Nanti kutelepon dia agar ke kantor."
"Iya..."
Mobil melaju terus sampai ke kantor. Seperti biasa Andi membawa tas kerja Alvan menuju ke lantai atas. Andi si gemulai menjadi pengawal Alvan mengikuti langkah besar bos. Andi berkejaran dengan langkah Alvan yang sekali jalan melampaui dua langkah Andi.
Satu meter delapan puluh delapan melawan satu meter enam puluh lima. Berapa jauh beda tinggi badan Alvan dan Andi. Di tambah tubuh Alvan kekar berotot membuat pengawal kecil Alvan nyaris hilang dari pemandangan.
Di atas sudah ada Untung kelihatan gelisah menanti kehadiran Alvan. Andi menduga ada sesuatu hal luar biasa terjadi baru lelaki bertubuh subur itu tampak nervous.
Alvan masuk kantor melewati dia pegawainya. Untung dan Andi saling tukar pandang merasakan hawa tak sedap di kantor pagi ini. Peristiwa apa membuat mood bos yang seharusnya baik berubah jadi buruk. Bisa menjaga anak sepanjang waktu merupakan kegembiraan luar biasa tapi mengapa berubah muram durja.
Andi dan Untung ikut masuk menanti perintah dari Alvan untuk kegiatan hari ini. Alvan duduk di kursi singgasananya Melontarkan tatapan ke arah Andi dan Untung bergantian. Apa maksud Alvan menghukum mereka seperti anak sekolah lupa kerjakan PR dari guru.
"Hari ini kalian berdua lembur ceking data file secepat mungkin. Kita tak boleh terlalu lama biarkan para koruptor merajalela. Dan kau Untung! Ada laporan dari Kalimantan? Gimana usaha ekspor biji besi ke Jepang?"
__ADS_1