ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Bu Dewi Sadar


__ADS_3

"Benar ada tempat begitu?" Karin ragu untuk percaya pada Citra.


"Apa ada untungnya bohongi kakak? Mas Alvan akan siap antar jemput kakak."


Karin tidak yakin Alvan masih mau dekat dengannya setelah jujur buka semua borok keluarga Lingga. Seharusnya Alvan tidak perlu marah pada Karin kalau memang itu fakta. Harusnya introspeksi diri cari di mana kesalahan sendiri.


"Aku bisa kok ke sana sendiri! Kamu tolong cari tahu lokasinya saja!"


"Kenapa tak suka diantar mas Alvan? Sudah tidak cinta lagi?" olok Citra dibalas delikan tajam Karin.


Apa masih ada hak bicarakan cinta dengan Alvan. Kisah cinta mereka sudah tamat, berakhir sad ending.


"Kamu ini...senang lihat kakak mati kutu? Kau tahu jelas kakak dan Alvan sudah tak mungkin bersatu. Kaulah yang harus kawani Alvan meniti tangga. Bawalah dia ke puncak!"


Citra bangkit dari kursi berjongkok di depan Karin umbar senyum. Bukan senyum ejek melainkan senyum damai.


"Kak...cinta tulus itu tak harap balasan. Dia akan damai bila lihat orang kita sayangi hidup bahagia. Mas Alvan memang tidak mungkin jalani tugas sebagai suami dalam hubungan badan tapi dia tetap jalani tugas sebagai suami kakak. Banyak cara kita ungkap perasaan yang keluar dari hati kecil. Seperti kakak tetap semangat agar Mas Alvan juga semangat. Kita tak perlu bebani dia. Biarkan dia lakukan apa yang harus dia lakukan."


Karin mencari kejujuran di mata Citra. Tak ada kedipan culas tertanam di mata itu. Bahkan siratkan ketulusan mendalam.


"Kau yakin?"


"Insyaallah...tunggu kakak enakan kita pergi bareng ya! Aku akan antar kakak ke sana."


"Terima kasih...kau baik sekali."


"Tentu dong baik karena tidak sakit. Kalau kakak juga mau baik ya jangan sakit! Kakak akan baik selamanya. Nah...sekarang kakak mau ke mana biar Citra kawani!"


"Kita jalan ke mall?" tawar Karin terdengar konyol. Sakit-sakit mau jalan ke pusat perbelanjaan. Sakit tubuh atau sakit mata.


"Kakak yakin sanggup putar mall dengan kondisi demam?"


"Aku mau tenangkan hati belanja pakaian. Pakaianku pada longgar. Aku sudah kurus." Karin merentang tangan perlihatkan tangan agak loyo.


"Baik...asal kakak sanggup. Kalau capek kita langsung pulang ya!"


"Gimana mau capek malah aku pakai kursi roda?"


"Ok..semua akan terjadi sesuai keinginan kakak! Aku peri baik hati siap temani tuan putri cari baju cantik. Kakak tunggu di sini sebentar. Aku pergi lapor bebas tugas dulu sekalian tukar pakaian." Citra berkata sambil buka pintu beri kode pada Iyem untuk masuk.


Iyem yang sok tahu menatap Citra tak bersahabat. Iyem mengira Citra sedang plonco majikannya. Iyem tak tahu kalau majikan aslinya itulah dokter yang dia tak sukai.


"Nona Karin..ada enakan?" buru Iyem segera periksa kondisi Karin.


"Sudah enakan...mualnya mulai hilang cuma dikit lemas!"


"Dokternya sok..apa dia tak tahu kalau nona Karin ini istri bos Alvan?" rengut Iyem merepet sekehendak hati.


"Ya ampun Yem...kau tak kenal dokter Citra?"


Iyem menggeleng lugu. Dia hanya beberapa kali jumpa sewaktu Citra merawat Karin.


Karin ingin ketawa terpingkal karena Iyem musuhi majikan sesungguhnya.


"Yem... dokter itu istri pak Alvan! Dia itu istri tua pak Alvan sedang aku hanya istri muda. Dialah majikan kalian!"


Iyem melongo sampai pipi tembemnya makin lebar. Berita apa ini? Tiada badai tiada angin muncul istri Alvan yang lain. Sungguh kabar mengejutkan. Citra jauh lebih muda dari Karin mengapa jadi istri tua dan Karin jadi istri muda. Dunia apa ini?


Alvan selingkuh dengan Karin yang lebih keriput? Wah mata Alvan harus dibawa ke dokter mata periksa kesehatan mata. Jelas dokter Citra jauh lebih menarik dari Karin. Muda dan mirip anak SMA.


"Yem...kamu kaget ya?" tanya Karin tidak heran Iyem kaget.


"Tapi nona... mengapa sekarang dia baru muncul?"

__ADS_1


"Aku yang salah memisahkan mereka! Citra orang baik. Kamu juga punya tiga majikan kecil. Pak Alvan punya anak kembar dari Bu dokter. Kamu harus hormati dia kalau tak mau dipecat pak Alvan. Jangan cari perkara!"


"Jadi nona Karin dan pak Alvan berselingkuh?"


Karin mengangguk."Iya...kau lihat? Aku telah jahat padanya tapi dia masih mau rawat aku. Apa ada orang sebaik dia lagi?"


Iyem meremas kedua tangan menyesal telah berburuk sangka pada seorang dokter berhati mulia. Salah Iyem cepat vonis tanpa lihat kiri kanan.


"Apa Bu dokter tidak marah padaku? Aku telah menatapnya dengan judes." Iyem ketakutan sendiri.


"Tenanglah! Bu dokter bukan orang suka buang amarah tanpa alasan jelas. Nanti minta maaf ya! Sebentar lagi kita akan jalan ke mal."


"Tapi nona Karin sedang sakit. Nanti orang akan kejar berita nona Karin muncul di mal dengan kursi roda. Sebaiknya jangan nona!" Iyem berpendapat lain hasrat Karin buang rasa jenuh.


Karin termakan omongan Iyem. Dia terkenal sebagai selebgram top. Wajahnya sering muncul di medsos. Pasti banyak orang mengenalnya. Berbahaya tampil di umum dalam kondisi tidak fit.


"Kau benar Yem...tunggu Bu dokter balik kita dengar pendapatnya." Karin benarkan pendapat Iyem.


Iyem masih galau ingat kata Karin. Dia tak sengaja telah berbuat bodoh musuhi orang tak berdosa. Fatalnya yang dia musuhi nyonya besar sesungguhnya.


Citra kembali telah ganti pakaian biasa. Wanita ini memakai baju kaos lengan panjang warna putih serta celana kulot warna hitam. Paduan menyolok di mata.


"Sudah siap kak?" tegur Citra riang seolah Karin itu konco akrab. Tak ada tanda Citra benci pada Karin rival dalam rumah tangga.


"Cit...batal aja deh! Bukan karena tubuhku demam tapi karena aku belum siap muncul dengan kondisi begini!"


"Bagaimana senang kakak saja! Aku siap antar kakak ke manapun! Tugasku juga sudah kelar."


"Gimana kalau kita ke pesantren yang kau cerita?"


"Mau kakak ke sana? Ok...biar kucoba cari tahu lokasinya! Tunggu ya!" Citra berbalik badan keluar lagi.


Kini Iyem mengerti mengapa Karin hormat pada Citra. Citra memang luar biasa bisa pertimbangkan perasaan madu. Kalau Iyem jadi Citra mungkin akan cakar muka madunya hingga jadi madu belang.


"Assalamualaikum mas!"


"Waalaikumsalam..gimana Karin?"


"Alhamdulillah tak apa. Hanya masalah psikis! Sampai sini aman dia! Tadi minta ke mall, tiba-tiba minta pula diantar ke pesantren yang dimaksud pak Ustad. Apa pendapat mas?"


"Mas sih tidak masalah. Cuma pesantrennya jauh dari sini! Di Jawa tengah."


"Oh...pikir sekitar sini! Gimana tuh? Dia sedang semangat mau coba ke sana cari damai."


"Mas a dia ke sana?"


"Silahkan! Aku setuju..."


"Kau tidak keberatan mas berdua dengan Karin?"


"Kenapa harus keberatan? Dia istri mas juga. Mas harus perhatikan dia juga."


"Kau tidak cemburu?"


"Apa yang harus kucemburui? Rasa cemburuku sudah habis. Tidak ada tersisa." ketus Citra bikin Alvan kaget. Kalau tak ada rasa cemburu artinya Citra tidak cinta padanya. Kata orang cemburu tanda cinta.


"Mas tidak jadi antar Karin deh!"


"Jangan gila mas! Kita harus jaga mood dia jangan sempat drop! Buatlah dia merasa berharga!"


"Jujur mas takut dia balas dendam celakai mas. Dia jebak mas sepeti yang dia lakukan dulu. Mas takut padanya."


"Suudzon melulu...jangan gitu mas! Aku ijinkan mas pergi antar kak Karin. Aku percaya kak Karin takkan berbuat curang lagi. Dia sudah ada kesadaran bertobat maka dia berpikir negatif. Ajak Untung ataupun Andi biar mas merasa aman."

__ADS_1


"Baiklah! Mas akan atur jadwalnya. Tunggu pekerjaan mas sedikit reda. Di mana dia?"


"Masih di ruang praktek aku. Tadi dia diantar siapa?"


"Supir kantor. Mas agak pusing hari ini. Nanti kita bahas di rumah ya. Pandai-pandai kamu urus dia! Mas ngak ikut campur."


"Sembarangan...dia itu istri kesayangan mas! Buah hati, jantung hati." Citra menyindir Alvan biar sadar betapa menyakitkan dikhianati sekian tahun. Kini mereka seri. Alvan dapat pelajaran berharga jadi pengkhianat. Dia sendiri dikhianati.


"Citra .. bisakah tidak bahas yang telah pergi? Kau mau mas ikut berbaring di rumah sakit? Yang kau rawat sekarang tiga. Apa mau tambah satu lagi?"


"Ngak masalah kalau mau! Bukankah bayaranku akan lebih banyak bila tambah pasien. Apalagi yang VVIP."


"Kau ini...capek berdebat dengan mu! Terserah kamu mau ke manakan Karin! Mas masih banyak kerja! Assalamualaikum.." Alvan mematikan ponsel kalah debat dengan Citra. Citra memegang kartu as Alvan. Laki ini tak berkutik bila diserang Citra.


Jangan balik badan, bergerak sedikit saja terasa berat bila sudah diserang Citra. Kadang kumat juga sifat keras Citra. Apapun Citra tetap jadi ratu nomor satu di hati Alvan.


Citra mendecak kesal tak punya kesempatan membalas salam Alvan. Laki itu terburu-buru matikan ponsel. Gitulah gaya cowok bila tersudut di gang buntu. Mati gaya.


Citra harus menyampaikan kabar ini pada Karin supaya tidak berharap lama. Dipikir pesantren sekitar kota nyatanya beda propinsi. Alvan harus antar sendiri agar Karin tidak dipandang rendah oleh penghuni lain. Karin bukan orang buangan melainkan ingin menimba ilmu agama.


Karin dan Iyem masih menanti Citra dengan sabar. Apa lagi yang bisa mereka lakukan kalau bukan menanti. Kabar dari Citra akan jadi jalan hari ini buat Karin.


"Kak...tadi aku telepon sama mas Alvan. Mas Alvan yang akan antar kakak ke sana. Pesantren nya si Jawa Tengah kak!"


Karin terdiam karena jarak yang sangat jauh. Karin bukan takut pergi jauh tapi takut tak ada sandaran lagi. Karin bersandar pada Citra saat ini. Citra lah beri semangat hidup padanya. Kalau sempat pergi jauh bagaimana rasanya.


"Jauh sekali Citra!"


"Kakak tak perlu pergi kalau tak suka. Di mana kakak nyaman di situ kita berteduh? Ok? Sekarang kakak mau ke mana? Kita pergi bersama."


"Maukah kau pertemukan kakak dengan jagoan Alvan?"


Citra tidak segera jawab karena memikirkan efek jumpa Azzam. Takutnya mulut anaknya beracun lukai hati Karin. Azzam sudah pasti tidak suka pada Karin yang dia anggap benalu dalam hidup Citra. Pertemukan mereka bukanlah jalan baik.


"Mereka sekolah sampai sore kak! Gimana tunggu hati libur? Biar enak ngobrol."


"Oh gitu ya!" Karin tidak ngotot memaksa. Karin belum tahu kalau mulut anak Citra lebih tajam dari pisau silet. Cukup ditiup langsung terluka. Tidak perlu diiris ke tubuh. Anginnya saja melukai tanpa berdarah.


"Gimana kalau kita ke kantor mas Alvan?" usul Citra biar Alvan dan Karin bisa jumpa bicara kayak dulu sebelum kejadian.


Karin kontan menolak. Karin belum siap jumpa Alvan di saat ini. Barusan tadi mereka sempat adu mulut tentang Bu Dewi. Karin buka aib Bu Dewi. Alvan sebagai anak tentu saja marah dan malu.


"Kakak pulang saja Citra.. maafkan kakak merepotkan kamu!"


"Omong apa itu? Kakak pikir perlahan soal pesantren. Kalau sudah yakin baru kasih tahu rencana kakak."


"Iya..."


Begitu Karin selesai menjawab ponsel Citra berbunyi. Panggilan dari ruang ICU. Dengan sigap Citra klik tanda hijau tanda terima panggilan.


"Halo.. assalamualaikum Bu dokter! Pasien Bu Dewi mulai siuman. Harap datang!"


"Iya segera..." Citra menyimpan ponselnya dengan hati lega. Bukan kabar buruk melainkan kabar gembira. Tadinya Citra langsung berpikir negatif. Puji syukur kehadirat Allah SWT Bu Dewi mendapatkan kesembuhan. "Kak..mama mas Alvan sudah siuman! Kita ke atas lihat kondisinya ya!"


Karin dipenuhi keraguan jumpa mertuanya itu. Bu Dewi jatuh sakit gara-gara adu mulut dengannya. Jangan-jangan nanti malah drop lagi jumpa dengannya. Karin memikirkan resiko jumpa mertua casingnya wanita mulia berhati bersih. Dalamnya belatung semua.


"Ayok tapi kakak tunggu di luar ya! Kakak di dalam juga tak bisa bantu apa."


"Baik...ikut saja! Ayok nona cantik! Bawa majikan kamu ikut aku!" kata Citra baik pada Iyem.


Iyem menarik nafas lega. Senjata Laras panjang yang tertuju di jidat punah sudah. Tak ada ancaman berbahaya bagi kelangsungan pekerjaannya. Hampir saja dia kena tendangan bebas out dari rumah Alvan. Untung Karin cepat bocorkan rahasia siapa sesungguhnya dokter cantik ini.


Citra bergegas naik ke lantai atas di mana Bu Dewi dirawat. Iyem mendorong Karin di atas kursi roda tak dapat menyamai Citra yang melesat bak anak panah terlepas dari busur. Mereka ketinggalan jauh.

__ADS_1


Karin memaklumi mengapa Citra mengejar keadaan Bu Dewi. Dia seorang dokter yang bertanggung jawab pada hidup mati seorang pasien. Begitu ada berita gembira tentu saja tidak akan berleha menunggu di tempat. Citra harus kejar kesembuhan Bu Dewi. Yang penting melaksanakan sumpah dokter. Bu Dewi mau benci dia itu urusan belakangan.


__ADS_2