ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Cicit Berlian


__ADS_3

Citra merasa tak enak dengan jawaban aja yang menolak undangan dari Gibran secara kontan. Alvan bersorak di dalam hati melihat keteguhan Azzam tidak tergoda oleh suguhan fasilitas dari Gibran.


Azzam sangat pantas menjadi anaknya. Anak yang tidak mempermalukan orang tua. Sebagian anak mendengar kehidupan yang lebih baik langsung tertarik namun Azzam perlihatkan keteguhan sebagai seorang lelaki.


"Wah... keponakanku yang satu ini keren. keren abis..." Gibran tidak malu-malu memuji keteguhan Azzam. Gibran pikir Azzam sama saja dengan anak lain yang langsung tertarik bila diajak jalani hidup lebih mewah.


Pak Sobirin dan Bu Sobirin saling berpandangan kagum pada acara Citra mendidik anak-anak. Jiwa anak-anak Citra telah terlatih jalani betapa kerasnya hidup ini. Gibran mungkin tidak tahu bagaimana perjuangan kakaknya menghidupi ketiga anaknya. Kehidupan yang dijalani oleh Gibran sangat jauh berbeda dengan Citra. Gibran telah terbiasa dihujani oleh kemewahan sedang Azzam dan Afifa hidup di dalam kesederhanaan.


"Citra.. apa kamu tidak mempunyai rencana pindah ke tempat Opa dan Oma?" tanya Bu Sobirin mengharap Citra bersedia diajak pulang tinggal bersama mereka.


Citra tersenyum sambil melirik Alvan yang was-was Citra akan pilih tinggal bersama keluarga Perkasa. Citra tidak dapat disalahkan bila memilih kembali ke keluarga Perkasa karena penerimaan keluarga Linggar sangat tidak ramah. Sikap Bu Dewi saja telah melukai hati Citra bagaimana mungkin Citra bersedia pulang ke rumah Alvan.


"Oma... beri Citra waktu untuk beradaptasi dengan keadaan. Sejujurnya Citra katakan kalau Citra sangat kaget mendadak mendapat keluarga baru. Untuk sementara ini biarlah Citra dan anak-anak menetap di sini. Setiap saat kalian semua boleh datang ke sini dan kalau ada waktu Citra yang akan berkunjung ke tempat Opa dan Oma." kata Citra tak bisa kasih keputusan secara mendadak.


Alvan tak dapat sembunyikan kelegaan dalam dada. Citra sangat bijaksana tidak berpihak pada salah satu keluarga terpandang ini. Kedua keluarga mempunyai hak yang sama terhadap Citra.


"Tapi sampai kapan kami harus menunggu kamu pulang? Oma sudah tidak sabar ingin dengar celoteh kedua anakmu." kata Bu Sobirin antusias pada Afifa yang menggemaskan.


"Oma...masih ada Cece kami di Beijing! Sekarang di sana sedang lockdown karena covid 19 ramai lagi." timpal Afifa kesal Afisa selalu luput dari pembicaraan.


"Oh gitu ya! Oya...kalian kembar tiga! Sini sayang..."


Gibran kembali terbelalak dengar kata kembar. Azzam dan Afifa anak kembar? Tidak mirip anak kembar karena perbedaan sangat mencolok. Azzam tinggi besar sedang Afifa kecil mungil mirip boneka Barbie.


Keponakan aku kembar? Yang bener?" tanya Gibran belum percaya.


"Iya Om kami kembar 3. Yang pertama Koko kedua Cece dan yang ketiga Amei." cerita Afifa dengan gaya menggemaskan. Gibran makin suka pada keponakannya yang dia rasakan sangat menarik dan lucu. Afifa memang selalu menjadi pusat perhatian karena kecantikannya yang melewati batas.


"Om jadi bingung..." Gibran menggaruk kepala pusing dengar penjelasan Afifa.


"Anak kakak kembar tiga. Yang tua Azzam, kedua Afisa sedang sekolah di Beijing dan Afifa yang bungsu. Mereka selalu memanggil diri sendiri Koko, Cece dan Amei." Citra turun tangan menjelaskan agar Gibran tidak kebingungan. Gibran mulai memahami dan manggut makin kagum pada keponakannya.


"Cece itu atlet senam! Dia dapat banyak hadiah dan uang kalau menang." Afifa membanggakan Afisa di Beijing.


"Wow...aku makin keren punya keponakan terkenal! Kita harus jumpa Afisa juga. Kapan kita ke sana jemput Afisa pulang?"


"Cece tak bisa pulang karena sekolah dan harus tanding senam. Kata Cece dia tak bisa pulang dalam waktu lama. Sekolah Cece sudah atur tempat kuliah Cece kelak."


"What? Masih SD tempat kuliah sudah ditentukan? Afisa pasti jenius." Gibran semakin terpesona punya keponakan luar biasa.


"Iya dong! Cece ranking satu di sekolah. Anak kelas enam kalah tanding cerdas sama Cece. Koko Azzam juga ditawari tempat kuliah tapi Koko pulang sini." Afifa celoteh panjang lebar bikin orang kagum prestasi anak Citra.


"Kalian pintar bahasa Mandarin dong!"

__ADS_1


"Ya bisa karena kami memang belajar Mandarin dan Inggris. Kata mami kami akan balik gabung sama Cece tahun depan." Afifa buka rahasia rencana Citra.


Alvan dan yang lain terhenyak mendengar rencana Citra untuk meninggalkan tanah air. Apa yang ada di pikiran Citra ingin meninggalkan keluarga melalang buana di luar negeri. Kini seluruh mata bertumpuk pada citra yang kebingungan untuk menjawab.


Citra seperti pesakitan di pengadilan siap jalani hukuman ditentukan oleh Hakim. Citra meringis tidak tahu harus menjawab apa karena rencana semula sebelum bertemu Alvan memang ingin kembali ke Beijing. Tak disangka Afifa tetap mengingat rencana itu.


"Bukan gitu! Itu rencanaku waktu pertama kali menginjak tanah air. Aku harus berbakti selama setahun di tanah air sesuai janjiku dengan kakek Wira. Setelah itu aku bebas menentukan masa depanku. Tapi setelah bertemu dengan kalian aku sendiri tak tahu harus bagaimana." Citra berkata untuk memenuhi tuntutan jawaban dari seluruh keluarganya.


"Nak... jangan kamu pergi lagi. Keluarga kamu seluruhnya ada di tanah air. Kalau bisa anakmu Afisa juga harus dibawa pulang. Apa kamu lupa kamu juga punya tanggung jawab terhadap keluarga kamu di tanah air baik dari sebelah Lingga maupun dari sebelah Perkasa." kata Bu Sobirin ingin menghapus semua harapan Citra keluar dari tanah air.


"Iya Oma... semua ini terjadi terlalu mendadak di dalam hidup Citra dan anak-anak. Citra tak pernah menyangka akan bertemu dengan keluarga di akhir cerita ini. Oma opa dan Om tidak usah takut Citra akan menyangkal bahwa Citra adalah keturunan dari Perkasa. Cuma Citra memohon agar dipisahkan masalah keluarga dengan masalah materi. Di sini Citra tekankan bahwa Citra tidak ingin menerima sepeserpun hak daripada Perkasa. Kalaupun kita berkeluarga adalah dasar dari hubungan darah jadi Citra mohon jangan bahas soal pembagian harta! Citra cukup bahagia memiliki kalian. Itu saja Opa dan Oma!"


Heru tidak dapat menyembunyikan rasa kagum kepada Citra yang sama sekali tidak tertarik pada yang namanya materi. Tidak salah dia melabuhkan perasaan kepada seorang wanita yang berhati mulia. Cuma sayang Citra tidak dapat dimiliki sebagai pendamping Citra hanya bisa menjadi keponakan dari Heru.


"Ngomong apa kamu tuh nak? Siapa lagi mau bahas soal materi? Semua yang ada di Perkasa adalah milik kalian semua. Baik Gibran Azzam Afisa dan Afifa. Semua mendapat porsi yang sama di dalam keluarga Perkasa." kata Pak Sobirin tidak mau mengecilkan nilai Citra di keluarga. Citra boleh menolak tetapi hak tidak dapat dihapus begitu saja.


"Sudahlah! Untuk apa bahas yang tidak perlu di saat ini. Yang penting adalah kita telah berkumpul kembali. Malam yang bahagia ini jangan dinodai oleh kata-kata yang tidak perlu." ucap Heru mencairkan ketegangan yang baru saja menghinggapi suasana di ruang tamu Citra.


"Benar...benar... kita cerita yang lain saja. Untuk apa bahas yang tidak penting. Ayo cerita tentang Afisa di Beijing! Oma kok sangat tertarik pada kepintaran Afisa."


"Iya Oma...Afisa menang sangat pintar! Dia ranking dari kecil. Cuma dia lebih ke gaya Tiongkok karena lebih sering interaktif dengan orang sana!"


"Dia tinggal dengan siapa?"


"Kok berlatih? Katanya lockdown!"


"Iya lockdown tidak terima orang masuk! Tapi mereka beraktifitas kok walau dibatasi."


Bu Sobirin mengangguk-angguk paham. Perempuan tua ini tak sangka punya cicit luar biasa. Tidak malu bila diceritain pada orang dia punya cicit cantik dan pintar.


"Oma pingin lihat Afisa! Mirip siapa?"


"Amei punya foto Cece waktu terima medali! Tunggu Amei ambil!" si mungil Afifa berlari ke kamarnya mengambil tablet pemberian Alvan.


Mata Heru tak lepas dari Citra yang menyimpan sejuta pesona. Segala yang ada dalam diri Citra bagai lukisan langka tidak dijual bebas. Alvan bukan tak tahu Heru asyik melirik Citra. Kecemburuan berkobar dalam dada Alvan siap panggang Heru hingga gosong. Mengapa Heru tak mau terima kenyataan wanita yang dia kagumi adalah darah daging Perkasa.


Afifa kembali membawa tablet kebanggaan berisi semua dokumen tentang Afisa. Orang paling Afifa kagumi adalah Afisa. Afisa adalah panutan Afifa.


Afifa perlihatkan sosok Afisa sedang latihan, sedang tanding dan waktu terima medali. Bu Sobirin terkagum-kagum pada cicit bertalenta milik keluarga Perkasa. Bu Sobirin makin tak rela orang lain miliki Afisa yang full talenta. Harusnya Afisa dibawa pulang ke tanah air.


Gibran ikut numpang lihat sosok Afisa. Postur tubuh Afisa lebih mirip Azzam tinggi jangkung. Wajahnya tak kalah cantik dari Afifa cuma Afisa lebih dewasa dari Afifa. Afifa full imut anak kecil. Afisa matang kayak Azzam.


Afisa cocok jadi kembaran Azzam. Mereka lebih mirip beda dengan Afifa yang imut. Kalau orang tak ngerti pikir ada jarak usia antara Azzam dan Afifa.

__ADS_1


"Waduh...keponakan luar biasa! Gi suka punya keponakan hebat-hebat. Bisa dibanggakan!" seru Gibran tepuk tangan beri apresiasi pada keunggulan Afisa.


"Jangan hanya bangga om! Maunya saingi biar punya sesuatu bisa dibanggakan juga!" kata Azzam mencubit hati Gibran. Prestasi Gibran biasa saja tak ada yang bisa diandalkan selain suka musik.


Anak orang kaya tidak perlu menonjolkan prestasi. Kekayaan merupakan satu prestasi mampu bungkam mereka yang di bawah. Yang kuat yang jadi pemimpin. Kali ini Gibran ketemu anak berotak jenius merontokkan harga seorang Perkasa yang andalkan materi.


"Aku nggak bisa senam. Gimana mau bersaing?" tukas Gibran belum paham maksud Azzam. Gibran mengira Azzam minta dia menyaingi Afisa di bidang sama.


"Berprestasi tidak mesti sama. Tonjolkan dirimu dengan kemampuan sendiri! Kalau om senang musik dan olahraga jadikan itu kelebihan! Jangan hanya iseng! Iseng bukan prestasi om!"


Hanya mereka yang cerdas bisa cerna makna kalimat Azzam yang mendalam. Afifa dan Gibran masih kurang ngeh makna kalimat Azzam namun mereka yang telah banyak makan asam dunia memahami maksud Azzam.


"Aku bukan terlalu suka keduanya. Hanya jadikan selingan." Gibran cengar-cengir tak paham.


"Artinya om belum punya tujuan hidup! Biasakan diri mengarah ke satu titik tumpu ke mana kita akan bawa langkah kita. Seperti Afifa ingin jadi dokter seperti mami kami dan aku ingin jadi ahli di bidang teknologi. Itu sudah kami pupuk dari dini. Berhasil atau tidak tergantung nasib kami." ujar Azzam mendatangkan rasa takjub di hati semua orang. Apa kalimat ini keluar dari mulut anak SD? Gibran yang sudah SMP tak mampu melawan kebijakan Azzam. Keluarga Perkasa telah memiliki calon kuat penerus perusahaan. Ke mana arah perusahaan Perkasa telah temukan jawaban dini.


Pak Sobirin tak dapat menahan diri untuk berdiam diri punya cicit berotak berlian. Berkilauan di manapun di berada. Kepintaran Azzam sudah jelas tercetak di otak mungil Azzam. Pak Sobirin makin lega telah temukan pusaka warisan yang langka.


"Ini baru cicit opa! opa dukung semua keinginan Azzam. Azzam boleh pilih mau sekolah di mana. Opa akan biayai Azzam hingga lulus." kata pak Sobirin semangat.


Heru tertawa pahit. Anak satu-satunya tidak seujung kuku Azzam. Jarak usia antara Gibran dan Azzam lumayan jauh tapi Azzam tonjolkan cahaya terang di usia belia. Gibran bukan apa-apa bila dibanding Azzam.


"Terima opa..." kata Azzam sopan.


"Ini opa Uyut...kakeknya mami kamu! Kapan Azzam mau temani opa Uyut jalan-jalan di taman dekat komplek rumah opa Uyut?"


"Kapan saja asal mami ijinkan!"


"Ok...hari Minggu nanti kita jalan! Opa Uyut akan jemput kalian!"


"Siap opa Uyut!" Azzam bersiap ala militer disambut tawa derai semuanya. Suasana akrab warnai pertemuan keluarga Perkasa. Alvan iri pada keluarga Perkasa yang bisa merebut hati Citra dan anak-anak. Sangat berbeda dengan keluarganya yang masih hitung soal pembagian harta. Alvan sangat sedih lihat sifat Bu Dewi fokus pada materi. Beliau tidak ingat siapa bakal jadi penerus bila Citra melarang anak-anak dekatan dengan Lingga.


Azzam dan Afifa tak dapat tahan ngantuk begitu jam sembilan berdentang. Keduanya selalu tidur tepat waktu karena besok sekolah. Mereka bangun subuh, dilanjutkan aktifitas rutin ke sekolah sampai sore. Tak ada waktu tidur siang maka harus cepat tidur.


Azzam dan Afifa pamitan untuk tidur. Tak ada yang larang mengingat ini untuk kebaikan anak-anak itu sendiri. Anak-anak seumur Azzam butuh waktu istirahat penuh agar punya semangat berjuang di sekolah.


Pak Sobirin dan istri tak putus bersyukur menemukan keluarga anaknya. Melihat keturunan Hamka model Citra dan anak-anak rasanya hidup ini telah sempurna. Bila telah terima lonceng dari malaikat maut rasanya tak ada penyesalan meninggalkan dunia ini.


"Citra...hari Minggu nanti ijinkan opa jemput anak-anak ya!" pinta pak Sobirin mengharap Citra tidak keras pada anaknya.


"Tentu opa...semoga mereka tidak merepotkan ya!"


"Kakak tak usah kuatir! Gi akan jaga mereka! Gi salut pada Azzam. Anak kecil tapi pintarnya kayak papi. Gi kalah deh kalau adu mulut." Gibran akui kelincahan lidah Azzam bertutur kata.

__ADS_1


__ADS_2