
Daniel mendengar Niken tertawa lebar di sana. Niken tidak menganggap Daniel bersalah melainkan merasa lucu ada orang ingin menikahi adiknya yang konyol. Sejak kapan Natasha bisa diserahin tanggung jawab menjadi seorang istri. Asal tidak mengacaukan kedua orang tuanya Niken sudah bersyukur. Ini malah ada rencana ingin menikahi Natasha yang sangat kekanakan.
"Aku ngerti... anak itu memang selalu mendatangkan masalah pada keluarga. Apa dia di sana merepotkan anda?"
"Merepotkan sih tidak tetapi pandangan orang terhadap kami sangat tidak bagus maka itu aku berencana menikahinya tetapi setelah diselidiki nyatanya dia hanya ingin lepas daripada tekanan kalian di sana. Jadi kumohon kalian datang menjemputnya agar tidak terjadi salah paham aku dan Natasha. Untuk sementara Natasha diungsikan di rumah sahabat aku yang bernama Citra. Citra itu orangnya baik dan telah mempunyai keluarga. Kalau bersama Citra aku tidak kuatir tentang Natasha Citra pasti akan mengurusnya dengan baik."
"Baik...aku akan urus visa masuk Indonesia! Aku sudah hampir 10 tahun tidak pernah pulang ke tanah air. Mungkin sekalian berlibur di sana selama seminggu sebelum bertolak balik ke Amerika. Aku mewakili keluarga minta maaf padamu atas kesalahan Natasha. Mungkin aku akan membawa dua orang teman untuk berlibur ke sana. Semoga kamu tidak keberatan dengan kedatangan kami."
"Tentu saja tidak... terima kasih atas pengertian kalian. Aku menunggu kalian di sini."
"Terimakasih juga... aku akan berangkat ke sana dalam beberapa hari ini setelah visanya selesai. Terpaksa harus merepotkan kamu beberapa hari lagi menjaga adikku Natasha."
"Lebih lama sudah ku jaga masak tinggal beberapa hari aku tidak sanggup melakukannya. Itu tak perlu kamu kuatirkan. Aku jamin Natasha akan baik-baik saja."
"Baiklah! Tunggu saja aku di sana dan sekali lagi terima kasih."
"Sama-sama.." hubungan terputus. Semuanya lega telah mendapatkan satu titik terang. Natasha harus pulang ke Amerika untuk menyelesaikan kuliah. Tinggal selangkah lagi meraih gelar sarjana sangat disayangkan bila tidak dilanjutkan.
"Terimakasih Citra...maaf harus merepotkan kamu lagi!"
"Tak apa ..dia toh bukan anak kecil. Hanya numpang sementara bukan masalah asal jangan goda suami aku yang mulai jompo ini. Sudah tak sanggup punya banyak bini. Lutut sudah keropos." gurau Citra disambut tawa ngakak Daniel. Daniel bahagia banget Citra bongkar kelemahan Alvan.
Alvan merengut tak senang Citra meremehkan kemampuan seorang Alvan nafkahi istri di atas ranjang. Alvan merasa selalu perkasa melayani istrinya yang cukup muda. Tidak ada kendala sedikitpun dalam hal ini.
"Ejek terus...nanti aku kawin lima lagi baru sebut Alvan perkasa."
"Yang perkasa itu Heru. Ingat.. namanya saja Heru Perkasa! Pasti tokcer!" goda Daniel sengaja bikin Alvan keki. Daniel tahu Heru mencintai keponakannya sendiri. Heru tak dapat disalahkan karena waktu itu Heru tidak mengetahui kalau citra adalah keponakannya. Heru termasuk lelaki baik cepat berubah arah begitu mengetahui Citra adalah darah dagingnya.
"Kami pulang! Urus saja gadis kecilmu! Biar botak sekalian rambutmu." sewot Alvan merasa sedang kerjain oleh Daniel. Setiap ada kesempatan Daniel selalu ingin menjatuhkannya apalagi di depan Citra. Dari zaman dulu Alvan tahu kalau si Daniel menyukai Citra. Perasaan itu tak gampang berubah walaupun Daniel nya berusaha menerima kenyataan bahwa citra adalah istri dari sahabat kentalnya.
"Duh yang sewot! Canda bro gitu aja diambil hati! Heru itu kan bapaknya si Citra mana mungkin ada listrik di antara mereka. Macam aja pikiran kamu! Cemburu boleh-boleh saja tapi jangan ditumpuk ntar kamu ketimpa cemburu sampai metong."
Citra merasa jengah berada diantara dua lelaki yang songongnya keluar tanpa mereka sadari. Di depan Citra masih saja mengeluarkan kata-kata yang hanya mereka berdua pahami.
"Aku ini dianggap sebagai apa? Boneka yang tak punya kuping?" omel Citra tak nyaman kedua laki itu ngobrol kurang sopan di depannya.
"Duh...nyonya Alvan yang cantik! Sori ya! Lupa ada nyonya di sini. Ayok kita makan dulu!"
"Jangan...nanti Oma kecewa masakannya tidak kita makan. Ini juga dekat magrib. Kami langsung pulang saja! Lama benar calon isteri kamu!"
"Kapan main sini lagi?"
"Pasti datang bila kemelut gue berlalu. Satu persatu mulai tampak hasil. Doakan semoga cepat kelar."
"Amin... biar kulihat di Natasha! Kok lama benar!" Daniel ringankan langkah lihat apa yang sedang dikerjakan Natasha.
__ADS_1
Natasha sibuk memasukkan pakaian ke koper secara serampangan. Sungguh cara kerja orang tak punya akal sehat. Bajunya bukannya muat ke koper malah Kumal kayak kertas buram kena remasan tangan. Daniel bersyukur tidak perlu tanggung jawab pada Natasha. Kalau tidak hidupnya bakal belangsak.
Daniel terpaksa turun tangan membantu Natasha bereskan pakaian. Daniel mengeluarkan semua pakaian Natasha yang telah terlanjur masuk ke dalam koper. Satu persatu Daniel susun kembali ke koper sehingga lebih rapi walau tak serapi tangan wanita. Paling tidak pakaian bisa muat di koper. Daniel membantu Natasha angkat koper keluar agar diserahkan pada Alvan.
Daniel tak dapat menahan langkah Alvan dan Citra untuk segera pulang. Daniel tahu Citra orangnya setia tak mau menyakiti hati orang. Mungkin wanita itu sudah janji pada keluarganya untuk pulang makan bersama.
Natasha tampak tanpa beban meninggalkan rumah Daniel. Rencana menikah seolah pupus dari ingatan gadis ini. Hilang terbawa angin. Yang ada dia begitu ceria dapat angin segar pindah ke tempat lebih ramai.
Alvan dan Citra pamitan sambil bawa Natasha. Dalam hati Citra hanya berdoa semoga Natasha tidak membawa masalah bagi keluarganya. Azzam pasti akan habisin Natasha seperti kerupuk kena air. Melempen tak berbentuk.
Sebelum magrib Citra dan Alvan sudah tiba di rumah. Citra mengantar Natasha tidur di kamar khusus untuk tamu. Ini jauh lebih baik daripada Natasha harus tidur di rumah Daniel. Daniel saja sudah tidak sanggup merawat Natasha maka lebih baik Natasha diungsikan ke tempat Citra. Agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Azzam dan Afifa heran dari mana Citra mendapat seorang anak gadis yang kelihatannya anak gaul. Kedua anak ini tidak terbiasa dengan kehadiran orang asing secara mendadak di rumah secara mendadak di rumah. Tentu saja si Azzam memantau siapa gadis yang dibawa oleh maminya. Mata jeli si Azzam tak henti-henti melirik Natasha yang kelihatan bahagia berada di lingkungan baru. Rumah Citra jauh lebih baik daripada tempat Daniel yang hanya merupakan kantor merangkap kamar tidur.
Azzam mengejar Citra meminta penjelasan siapa orang yang dibawa maminya ke dalam rumah. Azzam belum puas bila tak menemukan jawaban siapa sesungguhnya si Natasha.
"Mami... siapa dia?" tanya Azzam sebelum Citra masuk ke dalam kamar.
"Itu saudaranya Om Daniel. Dia tinggal di sini untuk sementara sampai keluarganya menjemputnya."
"Kalau saudaranya Om Daniel mengapa tidak tinggal di tempat Om Daniel saja. Mengapa harus datang ke rumah kita kalau menurut aja orangnya agak egois dan angkuh. Tidak ada sopan-sopannya masuk ke rumah orang." protes Azzam langsung keluarkan rasa tak senang pada Natasha yang kurang pandai ambil hati orang. Masuk ke rumah tanpa basa basi.
Inilah yang ditakuti Citra daripada Azzam. Anak ini selalu kritis melihat suatu masalah kalau tak cocok dengan sudut pandangnya.
"Tapi orang itu sangat sombong mi! Masuk ke rumah orang saja tidak kasih salam dan menyapa kita-kita yang berada di sampingnya. Apakah didikan orang Amerika demikian?"
"Tidak nak.. dia itu masih muda belum mengerti tata krama. Kita kita yang mengerti norma harus belajar memaklumi orang yang tidak mengerti apa-apa. Kalau bisa kita yang mengajarnya agar sadar bahwa tak sopan santun itu sangat penting. Mami mohon pada Azzam untuk bersabar kira-kira seminggu. Ya nak ya!"
"Baik...Azzam akan ajar dia hargai orang lain!" ujar Azzam melempar pandangan ke tingkat atas di mana Natasha tidur untuk sementara ini.
"Koko...ingat kata mami! Kita harus sopan pada tamu. Bagaimanapun menyebalkan tamu itu kita harus bersabar agar meninggalkan kenangan baik. Dia cuma seminggu di sini jadi berilah dia kenangan yang indah!" Citra menepuk bahu Azzam agar bersabar menghadapi Natasha yang memang kurang didikan.
Azzam angguk-angguk seolah memahami apa yang dikatakan oleh Citra. Padahal di dalam hati Azzam telah menyusun rencana untuk menundukkan Natasha yang menganut kehidupan di daerah barat.
"Ya sudah mami masuk ke kamar bersih-bersih dulu karena sebentar lagi sudah mau magrib. Nanti kita shalat bersama-sama ya!"
Azzam mengiyakan kata-kata Citra hanya dengan anggukkan kepala. Si lajang ini bertekad membeli pelajaran pada Natasha agar bisa berubah menjadi lebih baik. Azzam pandai menilai orang. umur Natasha dan umur maminya tidak jauh beda tetapi perilaku sangat berbeda bagai langit dan bumi. Citra selalu menghormati orang dan berlaku baik. Lain dengan Natasha yang kelewat banyak makan keju sehingga melupakan adat ketimuran.
Natasha tidak muncul walau tidak walaupun hari telah menjelang malam. Waktu makan malam gadis itu tetap tidak turun dari atas. Padahal semua telah menunggu di ruang makan untuk menyantap makan malam bersama-sama. Untuk kali ini Citra tidak menyalakan Natasha karena gadis itu tentu belum mengetahui jam makan malam di keluarga Citra.
Seluruh anggota keluarga sudah lengkap di ruang makan. Tinggal menunggu tamu agung mereka. Bagi Citra itu bukan hal yang harus dijadikan satu masalah. Tinggal memanggil Natasha segalanya jadi beres.
"Ko...ayok panggil kak Natasha di atas!" pinta Citra kepada anaknya.
Pak Sobirin dan Bu Sobirin terheran-heran siapa yang dimaksud oleh Citra. Mengapa tiba-tiba muncul orang lain di dalam rumah mereka.
__ADS_1
"Siapa Citra? Tamu siapa?" tanya Bu Sobirin menatap heran pada Citra.
"Itu tamunya teman Alvan. Tak baik seorang anak gadis berada di rumah laki maka Citra ajak ke sini. Keluarga nya akan segera jemput dia balik ke Amerika." Citra menjelaskan dengan sabar.
"Oh...Oma kira siapa? Ayok kita makan duluan! Cicit Uyut sudah tak sabar ingin makan bakso tahu ya!" Bu Sobirin menggoda Afifa yang asyik menatap bola-bola tahu di masak sop.
"Iya Uyut! Amei lapar nih!" Afifa meraba perutnya yang telah tipis akibat lapar. Padahal sebelum Asar tadi Uyut Sobirin telah sogok Afifa dengan puding coklat. Rasa lapar tetap datang tanpa diminta. Pipi Afifa makin chubby sejak pindah tinggal bersama Uyutnya.
"Kasihan keponakanku! Sini om ambilkan!" Gibran bangkit menyendok bakso ke piring Afifa tanpa peduli orang yang disebut tamu. Keponakan lebih penting dari tamu. Gibran kan sangat sayang pada keponakan-keponakan spektakuler nya.
"Makasih om ganteng! Amei makin sayang om deh!"
Gibran tertawa kena gombalan gadis imut itu. Gibran selalu bangga pada setiap keponakan yang memiliki karakter berbeda. Azzam yang cool sedikit menyebalkan, Afisa yang super jenius dan Afifa yang cantik jelita. Sebagai om, Gibran tak henti bersyukur punya keponakan tidak memalukan.
Natasha akhirnya muncul ditemani Azzam. Wajah Natasha sedikit cemberut. Alvan menduga Natasha telah kena semburan gas beracun dari mulut Azzam. Gibran terkesima melihat ada gadis kebarat-baratan berada di rumah mereka.
"Ayok makan Natasha! Kau tentu lapar." ajak Citra menunjuk tempat samping Afifa.
"Iya kak...maaf aku terlambat! Tadi ketiduran.." Natasha melirik Azzam dengan ekor mata. Azzam pasang wajah cool tidak terpengaruh oleh lirikan runcing Natasha.
Dalam hati Azzam bersyukur Natasha telah punya insiatif minta maaf. Padahal tadi Azzam tak banyak omong. Cuma ingatkan Natasha bahwa rumah mereka bukan hotel dan ada penghuni. Bukan kuburan sepi.
"Siapa namanya nak?" tanya Bu Sobirin ramah.
"Natasha Tante..."
"Oh Natasha...ayok di makan! Jangan malu-malu! Anggap rumah sendiri ya!" kata Bu Sobirin tetap tunjukkan sikap tuan rumah yang baik.
"Iya Tante..."
"Di rumah sendiripun ada aturan. Budidaya kan ucapan salam dan kata terima kasih. Kita hidup berdampingan dengan sesama. Bukan tinggal di hutan belantara tanpa kenal adat." Azzam berkata sambil menyuap bakso tahu yang lezat. Selera Azzam dan Afifa hampir sama. Suka yang berbau kuah.
"Ko...makan dulu!" kata Citra ingatkan Azzam agar rem mulut.
Gibran tertawa segera sadar Azzam sedang menyindir seseorang. Keponakan yang satu ini tak pernah puas bila tak lontarkan kata yang menyindir bila tak cocok dengan kata hatinya. Lucunya apa yang dikatakan Azzam selalu tepat.
"Iya mi..."
"Natasha suka makan apa? Ini masakan sederhana. Apa cocok seleramu?"
"Apa saja kak asal jangan pedas! Aku jarang makan pedas. Perutku tidak tahan pedas."
"Oh..itu banyak yang tak pedas. Amei juga kurang suka pedas. Kalian sama seleranya."
Acara makan berlangsung tenang karena tak ada yang bersuara selain bunyi dentingan piring dan sendok. Azzam tidak peduli pada Natasha karena lebih fokus pada makanan suguhan Uyut mereka yang selalu lezat.
__ADS_1