ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Nasehat Daniel


__ADS_3

Alvan dan Afifa ikut masuk merasakan ketenangan dari aroma terapi wewangian mints. Otak yang mumet sedikit terbantu oleh perhatian dari sang Oma.


Alvan meletakkan kotak di atas meja mengharap Citra ada solusi mengembalikan keceriaan Afifa. Alvan tak peduli pada isi kotak itu. Dia lebih butuh senyum manis Afifa. Anak itu harus ceria lagi.


Citra menggandeng Afifa ke salah satu sudut sofa. Citra mendudukkan Afifa di sofa lalu berjongkok di depan anaknya ingin jelaskan siapa Karin. Anak itu tak boleh menyimpan beban. Citra harus gambarkan sosok Karin dalam bahasa paling sederhana. Karin tak boleh buruk di mata Afifa juga anak ini tak boleh tertekan.


"Amei sayang mami?"


"Sayang..." Afifa mengangguk dua kali.


"Baiklah! Mami bicara dengan Amei karena Amei sudah gede. Amei kan penasaran siapa bunda Karin?"


Afifa kembali mengangguk. Kali ini cuma sekali.


Alvan ambil tempat seberangan dengan Afifa agar bisa lihat dengan jelas reaksi anaknya bila Citra buka siapa Karin. Apa Afifa juga akan benci padanya seperti Azzam pada awalnya. Alvan belum siap dimusuhi anak kesayangan.


"Bunda Karin itu isteri papi juga. Dia yang temani papi sewaktu kita berada di Beijing. Papi dan mami ada salah paham maka berpisah. Bunda Karin datang temani papi sampai bunda sakit. Sekarang bunda pergi setelah papi dan mami jumpa lagi. Dia telah kembalikan papi pada Koko dan Amei."


Amei masih diam memikirkan kata-kata Citra. Penjelasan Citra sederhana supaya Afifa gampang menangkapnya.


"Mami pergi karena papi bersama bunda Karin?" pertanyaan menohok meluncur mulus dari bibir mungil Afifa.


Alvan merasa lehernya dicekik puluhan tangan raksasa. Mampet sulit bernafas. Pertanyaan Afifa seperti pertanyaan hakim menyelidiki seorang penjahat cinta.


"Iya...waktu itu mami masih muda tak tahu mana yang benar dan salah. Mami menyalahkan papi telah berkhianat tapi kenyataan papi tidak begitu. Papi mencari kita ke mana-mana. Mami yang salah paham. Tapi sekarang semua sudah jelas. Papi mencintai kita dan bunda Karin mengundurkan diri karena kita telah kembali. Bukankah bunda Karin sayang Amei?"


"Amei merasa bukan gitu! Kalau bukan papi main cewek dengan bunda Karin, mami takkan hidup susah. Itu salah papi dan bunda Karin!" Afifa melempar tatapan tajam ke arah Alvan.


"Sudah mami bilang hanya salah paham. Mami mengira papi tak sayang pada mami maka mami pergi. Papi sayang kok sama kita. Papi mencari kita tak ketemu karena kita sudah berada di Beijing. Amei tak usah pikir bukan-bukan. Bunda Karin pergi agar kita bisa hidup damai. Kita buka kotak dari bunda Karin? Bukankah bunda bilang itu untuk Amei?" bujuk Citra meminta Afifa lupakan masalah orang tua.


"Papi kenapa tidak muncul sewaktu kita ada di tanah air?" Afifa tidak peduli pada kotak pemberian Karin. Afifa memilih kejar dosa Alvan pada mereka.


Lidah Alvan terasa kelu untuk menjawab. Tak ada kata yang tepat untuk bela diri. Citra sudah gunakan kalimat sederhana namun anak gadisnya belum terima. Alvan keluar dari mulut harimau masuk ke mulut macan kecil.


"Sayang ..mami yang sembunyi tak mau jumpa papi karena pikir papi tak suka pada mami. Nyatanya papi suka kok! Buktinya kalian lahir."


Kalimat terakhir ini masuk ke pikiran Afifa. Kalau tak cinta tak mungkin ada mereka. Itu alasan tepat walau melenceng dari fakta. Citra gunakan kalimat mengandung bunga kebohongan untuk menjernihkan pikiran Afifa.


"Mami tak bohong?"


"Tidak...Amei bisa lihat! Bunda mengalah pergi jauh demi kebahagiaan kita. Sekarang tak ada orang lain ganggu keluarga kita. Kita hidup tenang sampai papi mami tua."


"Dengan rambut putih?"


Citra mengiyakan pertanyaan Afifa. Ketegangan di wajah Afifa mengendor walau belum sepenuhnya bersih dari rasa curiga. Afifa menyimpan niat akan tanya pada Azzam selaku tutor hidupnya. Afifa selalu patuh pada Azzam. Apapun kata Azzam jadi arah kebenaran Afifa.


"Kita sudah bisa buka kotak dari Bunda?" Citra memutar kunci di depan mata Afifa minta ijin membuka kotak amanah Karin.


"Terserah!"


Alvan tak menemukan keceriaan Afifa. Alvan menyalahkan Karin silap buka cerita di depan Afifa. Andai Karin tidak keceplosan tadi mungkin mood Afifa masih dalam kondisi baik. Nasi telah terlanjur jadi bubur. Tak ada jalan lain selain masak ulang.


"Kita buka bersama. Siapa tahu isinya boneka Barbie?" Citra mengangkat kotak itu rasakan lumayan berat. Mungkin ada tiga kiloan.

__ADS_1


Afifa diam saja waktu Citra sibuk dengan anak kunci. Alvan menanti dengan sabar apa yang diberikan Karin pada Afifa.


Kotak terbuka membesarkan mata Citra. Alvan ikut melihat isi kotak tak percaya isi kotak pemberian Karin berisi barang mewah dan berharga. Seluruh perhiasan Karin berada di situ telah diwariskan pada Afifa.


Kalau dijadikan uang mungkin mencapai milyaran. Afifa ikut takjub melihat begitu banyak barang indah terbuat dari emas dan platina. Namanya juga anak perempuan. Masih kecil kan ngerti juga pada perhiasan.


"Wah indahnya mi...Punyaan Amei semua?" seru Afifa senang.


Citra mengambil sepasang anting terbuat emas putih bertahta batu berlian lalu serahkan pada Afifa.


"Ini bagus...Amei mau mami pasangkan?" Citra perlihatkan anting berkilauan ditimpa cahaya lampu.


"Mau mi..." Afifa langsung berdiri memberi telinganya kepada Citra minta dipasangkan sepasang benda berkilauan itu.


Citra bergerak hendak menyenangkan anaknya supaya lupa soal Karin. Andai mood Afifa baik maka besok dia akan ikuti ujian dengan baik.


"No.." seru Alvan melarang Citra memakaikan Afifa dengan barang Karin. Alvan parno dengan penyakit darah Karin. Alvan tak mau buah hatinya tercemar oleh penyakit Karin.


Afifa dan Citra serentak menatap Alvan dengan tatapan horor. Perhiasan itu dunia cewek, kapan giliran Alvan ikut campur.


"Papi mau pakai?"


"Emang papi cewek pakai anting. Papi cuma mau bilang barangnya sudah lama tersimpan. Harus kita steril dulu. Sekarang kan banyak virus. Jadi kita harus hati-hati. Ayok mami sterilkan semua barangnya dulu baru jadi mainan Afifa!"


Citra paham maksud Alvan. Alvan takut keringat Karin menempel di barang pribadinya dan membawa bencana pada Afifa. Namun Alvan tak mungkin katakan secara langsung kalau Karin mengidap penyakit mematikan. Ini menambah kekacauan.


"Oh iya...mami lupa! Ok...mami sterilkan dulu semua barang Amei. Semua ini milik Amei. Amei mau simpan sendiri atau mami yang simpan?"


"Bunda bilang mami yang simpan


"Iya mi..." Afifa patuh walau dalam hati masih tersimpan rasa tak puas. Afifa mesti sabar menanti Azzam pulang untuk dapat jawaban pasti tentang Karin.


Citra menatap sekotak perhiasan di atas meja dengan hati gundah. Citra bukan senang Afifa dapat warisan dari Karin. Citra merasa Karin berlebihan memikirkan kelanjutan hidupnya. Cerita hidup Karin masih panjang. Butuh berjilid buku bila hendak dituangkan dalam kisah cerita.


"Apa maksud kak Karin beri semua pada anak-anak?"


"Dia merasa tak butuh semua ini setelah lalui proses panjang menjadi lebih baik. Barang beginilah butakan hatinya. Dia mengumpulkan materi untuk hidup mewah. Terakhir dapat apa? Kehancuran. Barang ini harus kau sterilkan dulu baru kasih Afifa. Dan satu lagi. Besok aku akan minta Tokcer jemput Bik Ani dan Iyem ke rumah sakit. Kau test darah mereka apa terjangkit virus HIV."


Citra menutup kembali kotak perhiasan Karin. Rasa takut berlebihan buat Alvan parno terhadap kata HIV. Berpuluh kali Citra sudah katakan HIV tidak mudah menular kecuali dari darah dan hubungan intim. Kena air ludah Karin belum tentu bisa terjangkit.


"Mas... HIV tidak mudah menular. Tapi demi menjaga keamanan rumah aku akan test terhadap Bik Ani dan Iyem. Puas?"


"Terima kasih. Untuk sementara barang ini jangan bawa masuk kamar! Baik kamar kita maupun Afifa. Kau steril dulu baru boleh disentuh anak-anak."


"Iya...kok jadi bawel?"


"Bawel demi kebaikan seisi rumah. Bik Ani dan Iyem akan kerja di sini. Supaya ada yang jaga anak-anak bila Oma sudah berangkat. Bik Ani itu baik."


"Boleh juga...di sana mereka juga kesepian! Untuk sementara rumah kak Karin kita tutup. Barang berharga apa perlu dipindahkan?"


"Tidak perlu. Kita gaji satpam saja. Kau mau masak atau kita pesan makanan?"


"Aku lihat tempat Oma dulu. Nanti Oma sudah siap masak. Di rumah banyak tamu Oma tentu sudah siapkan makanan."

__ADS_1


"Aku rindu pada masakanmu! Kapan kau mau masak lagi?"


"Setiap saat mas mau. Aku ke sebelah dulu ya!"


"Iya tapi simpan dulu barang Karin. Di rumah banyak tamu, tak baik pamer kekayaan. Kita kan belum mengenal sifat tamu kita. Lebih baik berjaga dari pada saling curiga."


Kata Alvan mengandung kebenaran. Kejahatan itu terjadi karena ada kesempatan. Mereka belum tahu sifat tamunya, ntah jujur atau tidak. Mata manusia acap kali buta bila sudah berhadapan dengan materi. Rata gelap mata.


Citra patuhi kata Alvan menyimpan perhiasan Karin di tempat aman di luar kamar mereka. Citra belum bongkar habis isi kotak namun isinya jelas bisa membuat orang kaya mendadak.


Alvan memejamkan mata sepeninggalan Citra. Karin pergi membawa kisah baru bagi Alvan. Seharusnya Alvan senang benalu hidupnya pindah ke pohon lain. Tapi ntah mengapa Alvan tidak bahagia Karin memilih jalan pergi jauh. Kejadian masa lalu terulang kembali cuma beda kisah. Salah satu wanita Alvan pergi lagi.


Betapa rumit kisah cinta Alvan. Tak ada yang perlu jadi kambing hitam. Alvan sendiri bodoh terpaku pada pesona semu Karin. Diulang-ulang takkan berubah keadaan.


Kali ini Alvan harus menang melawan semua cobaan. Alvan tak boleh lengah biarkan ada orang merusak semua yang telah membaik.


Ponsel di saku Alvan bergetar tanda ada panggilan masuk. Alvan mengeluarkan benda warna hitam itu melihat siapa yang memanggil. Nama Daniel tertera di layar. Tanpa ragu Alvan menerima panggilan Daniel.


"Halo bro...ada apa lagi? Apa semalam berlalu kau makin rindu padaku?" olok Alvan sebagai awal percakapan.


"Rindu pada wanita di samping kamu. Mana yayang Citra? Aku selalu rindu padanya. Kalau sama kamu ogah. Najis..."


"Sialan kamu! Belum mati cinta di hatimu pada Citra?"


"Cinta sejati takkan mati walau kau bunuh berkali. Dia tetap tumbuh karena telah berakar. Di babat ratusan kali tetap sama tumbuh subur di hati aku."


"Aku sarankan kamu cepat cari jodoh. Asyik pantau bini teman. Ada apa telepon? Jangan bilang cuma tanya kabar Citra!"


"Woi bro...aku belum mabuk air putih. Otakku masih waras. Mencintai Citra itu urusan aku! Dibalas syukur, tidak ya tak apa. Aku cuma ingin Citra tahu dia punya backing kuat bila kau sakiti lagi. Aku akan bertarung denganmu."


"Ngerti pak bos cafe. To the point. Ada apa telepon?"


"Semalam Zaki telah meninggal. Tepat waktu kita sedang berpesta untuk Heru."


"Innalillahi...lalu bagaimana pemakamannya?"


"Diatur oleh pihak berwajib. Mereka lagi coba hubungi keluarganya di Pakistan. Satu persatu orang jahat gugur. Aku makin takut salah jalan."


"Kau benar bro! Salah satunya adalah mencintai isteri teman sendiri. Itu dosa besar!" Alvan gunakan kesempatan ini sekak Daniel yang seperti orang kurang akal asyik mengatakan Citra pujaan hati. Padahal Citra jelas-jelas isterinya dengan tiga anak.


"Itu kau yang salah bro! Cinta itu merdeka. Boleh mencintai asal tidak mengganggu. Aku mencintai Citra itu problem aku. Aku tak mengharap balasannya tapi kalau balas lebih syukur. Aku ini orang setia, cintaku tak gampang pindah. Tidak seperti seseorang. Di jaman purba matian kejar seonggok sampah, terkena virus langsung dibakar." Daniel balas sindir Alvan yang plin plan dalam cinta.


Dulu cinta mati pada Karin. Demi Karin dia campakkan isteri sempurna macam Citra. Sekarang proklamirkan cinta pada Citra. Yang mana cinta tulus dari hati Alvan. Kalau Alvan bukan temannya dari masa masih ingusan ingin rasanya Daniel bawa lari Citra agar terhindar dari cinta jelly. Berbentuk tapi bergoyang-goyang ntah mau berdiri di sebelah mana.


"Kau menyalahkan aku tentang Citra?"


"Jelas...apa aku harus salahkan rumput yang bergoyang? Tak menjawab bila ditanya? Mengangguk tanpa kepastian."


Alvan kaget tak sangka Daniel betulan serius mencintai Citra. Anak itu rela tidak pacaran demi Citra. Inilah cinta paling tulus yang pernah Alvan lihat. Alvan tak dapat salahkan Daniel bila jatuh cinta pada Citra. Benar kata Daniel mencintai itu hak setiap orang. Dapat atau tidak menggenggam cinta itu bukan hal utama. Melihat orang dicintai bahagia itu merupakan kedamaian terbesar bagi Daniel.


"Maafkan aku bro! Aku memang salah."


"Ngapain minta maaf padaku? Minta maaf pada Citra dan ketiga anakmu. Aku nasehati kamu jangan coba-coba main gila dengan semua wanita di bumi ini. Aku mengancammu.. kalau kau salah sedikit jangan salahkan aku merebut Citra darimu!"

__ADS_1


"Aku akan usaha..."


"Bukan usaha bro tapi pasti. Tak ada kata berusaha. Selama kau berusaha akan ada sela masuk angin. Tutup rapat hatimu dari godaan. Jika perlu las mati bila nama Citra telah terpahat di situ. Jangan ijinkan nama lain masuk situ lagi!"


__ADS_2