
Alvan jalankan mobil ke rumah sakit sedangkan Heru dan Azzam pulang ke rumah. Azzam belum puas cuma berhenti di situ. Masih terngiang kata Dara tentang kata-kata Iyem tentang Alvan.
Iyem harus dimintai keterangan juga. Mengapa wanita itu tega mengeluarkan kata-kata yang tak sedap untuk Papi dan keluarganya. Bukan Azzam namanya bila tidak mengusuk sesuatu hingga tuntas. Kalau Iyem tega berkata buruk artinya wanita itu tak pantas diperlakukan baik. Rugi Alvan baik pada isteri Bonar itu.
"Kita pulang nak?"
"Apa opa bisa antar Koko jumpa seseorang?" tanya Azzam ingin jumpa Iyem di rumah Bonar.
Heru merasakan hawa dingin dari diri cucunya itu. Heru salut pada sikap ksatria Azzam dalam hal membela maminya. Seorang anak kecil tepis rasa takut cari keadilan untuk orang yang telah melahirkan dia. Semoga saja adik-adik Azzam seperti Azzam di kemudian hari. Heru sudah pastikan akan merawat anak Citra untuk berjaga dari kemungkinan Afung tak punya anak. Ada tau tidak tak jadi soal. Dia sudah punya penerus yakni Gibran. Anak Citra hanya untuk alihkan perhatian Afung dari kekurangannya.
"Mau jumpa siapa?" tanya Heru melirik Azzam sekejap lalu fokus kembali ke jalan raya.
"Iyem... dia telah beri masukkan menyesatkan pada kak Dara. Kak Dara itu agak stress, dia itu tak bisa kita salahkan. Yang salah orang yang ngasih info tak benar."
Heru tahu Azzam ingin bela keluarganya. Tapi mengingat masa lalu Alvan yang tak manis Iyem tak bisa disalahkan. Mungkin hanya Dara yang salah tangkap kalimat Iyem. Orang stress macam Dara tak mampu analisa kalimat orang dengan baik.
"Zam...opa tahu kamu memikirkan keluarga kamu tapi opa harap kamu dengar kata Iyem dengan baik ya! Kalau dia memang salah dia harus minta maaf! Ok? Opa akan bawa kamu ke sana." Heru mengalah ijinkan Azzam lampiaskan rasa penasaran pada Iyem. Mencari kebenaran langsung lebih bagus ketimbang mengira bikin hati kesal.
Heru arahkan mobil ke arah rumah Bonar. Di saat begini perasaan semua orang pasti tidak pas. Azzam marah mami dan adiknya dijadikan target orang sirik. Alvan di sana juga kesal niat baiknya disalah gunakan oleh Wenda. Pokoknya semua serba salah. Ini salah satu ujian bagi Citra sebelum melahirkan. Semoga saja Tuhan maha penyayang beri ketenteraman pada Citra menanti kelahiran anaknya.
Rumah Bonar sepi di lihat dari luar. Kalau dilihat seperti tak ada orang. Azzam belum puas bila tidak saksikan sendiri apa tuan rumah ada di dalam atau sudah keluar.
Heru dampingi Azzam ketuk pintu rumah Bonar supaya tak salah pengertian. Dia sebagai orang tua harus berdiri di tengah antara anak muda ini. Heru jamin Azzam akan berkata tajam pada Iyem. Lidah anak itu mengandung racun semua. Kena semburan langsung melepuh.
Azzam mengetuk dengan perlahan perlihatkan sopan santun seorang keturunan orang kaya. Lama tak terdengar jawaban akhirnya pintu dibuka juga. Iyem muncul dengan wajah kusut seperti baru bangun tidur.
Iyem kaget lihat Azzam dan Heru berdiri di depan rumah. Wajah Azzam yang serem bikin nyali Iyem menciut walau belum tahu ada masalah apa. Azzam biasanya memang dingin agak cuek di rumah. Tidak banyak omong bikin orang segan.
"Koko...pak Heru...ayok masuk!" Iyem mundur beri kesempatan pada Heru dan Azzam masuk ke dalam.
Suasana rumah sepi senyap tanpa ada kebisingan. Azzam tahu Bonar sedang piket jam begini. Sekarang Bonar lebih banyak kena jaga siang karena sudah punya keluarga. Pak RT yang ketiban rezeki gantiin Bonar piket malam.
"Kak Bonar kerja?" tanya Azzam basa basi walau sudah tahu laki itu pasti di gudang. Azzam tak mungkin langsung skak Iyem soal Dara.
"Iya...malam ini tak pulang. Piket malam. Mau minum apa?" tanya Iyem agak grogi kedatangan tamu di luar dugaan.
"Tak usah repot. Kami datang hanya konfirmasi satu soal."
"Soal apa Ko? Masalah kak Bonar?"
"Bukan ..soal kak Dara! Dia sudah ditahan di kantor polisi akibat celakai mami. Dia menyiram minyak dekat ruang sholat menyebabkan mami jatuh dan dirawat."
Iyem mendekap mulut tak percaya Dara bisa sejahat itu. Dari mana ide Dara sampai tega celakai majikan. Wajar kalau dia di bawa ke kantor polisi untuk bertanggungjawab.
"Astaghfirullah...kok Dara begitu? Bagaimana keadaan Bu Dokter?"
"Alhamdulillah tak apa cuma aku mau tanya mengapa kak Iyem kasih info pada Dara tentang papi. Kak Dara bilang kak Iyem yang kasih tahu papi itu gampang dirayu. Papi suka wanita sintal." ujar Azzam tidak ramah lagi. Ingat kejadian menimpa Citra hati Azzam kembali mendidih.
__ADS_1
"Ya Allah Dara...aku hanya bercanda! Aku hanya bilang kamu kerja baik di sana. Majikan kita baik suka orang bertubuh sehat dan sintal. Aku tak minta dia goda pak Alvan. Aku tahu semua kisah pak Alvan mana mungkin berpikir jahat. Aku bersyukur hidup pak Alvan sudah tenang tanpa gelombang lagi. Ya Allah Dara.. di mana akal sehat kamu?" keluh Iyem ikutan syok Dara bertindak terlalu jauh.
"Dara itu gila...dia bekerjasama dengan orang lain celakai mami aku. Harusnya kak Iyem jaga lisan agar tidak melukai orang lain. Apa papi pernah genit ganggu kak Iyem?"
"Nggak pernah...pak Alvan baik dan sopan pada Iyem. Maafkan kak Iyem omong gitu pada Dara. Kak Iyem hanya bercanda tak sangka Dara punya rencana lain. Kalau memang kak Iyem salah kak Iyem bersedia ikut Dara ditahan." Iyem memelas minta maaf.
Heru dan Azzam menarik nafas berat. Niat canda Iyem disalah artikan oleh Dara. Beginilah hasilnya. Pas pula otak Dara miring kiri kanan tak tetap pada satu posisi. Makin runyam persoalan.
"Kak...kau tahu betapa berharga mami bagi Koko. Tak seorangpun Koko ijinkan lukai mami. Kalau ada yang lukai mami akan Koko minum darahnya." ancam Azzam membuat Heru dan Iyem bergidik ngeri.
"Maafkan kak Iyem! Kak Iyem tak bermaksud buruk pada kalian semua. Kalian sudah sangat baik pada kak Iyem. Mana mungkin kak Iyem tega berbuat jahat lagi."
Azzam tersadar dia telah membuat Iyem ketakutan. Tapi rasa marah berkobar terlalu besar di dada anak laki itu. Semua jadi tak berharga di mata Azzam kecuali mami dan adik-adiknya.
"Kak... perbuatan kak Dara terlalu berbahaya. Maafkan kami bila harus tegas! Kak Dara akan habiskan separuh hidup di penjara."
Iyem termenung memikirkan nasib saudaranya berakhir di penjara. Datang ke kota cari kerja bukan dapat rezeki malah dapat hukuman.
"Iya ko! Maafkan kak Iyem sekali lagi! Apa yang harus kak Iyem lakukan untuk tebus rasa salah kak Iyem. Tapi ada satu permohonan kak Iyem yaitu jangan pecat kak Bonar ya! Dia tidak tahu apa-apa."
"Ini tak ada hubungan dengan kak Bonar. Koko bisa memisahkan dua masalah. Untuk sementara cukup sekian. Kak Iyem harus siap bila dipanggil ke kantor polisi!"
"Kak Iyem akan dipenjara juga?" tanya Iyem waspada.
"Belum tahu ..mungkin sebatas saksi atau ikut terseret." Azzam tidak berbelas kasihan karena Iyem secara tak langsung beri semangat pada Dara berbuat jahat.
"Iya ko..."
"Kami permisi dulu!" Azzam pamitan setelah tahu sekilas Iyem bukan ingin beri info salah pada Dara. Dara yang salah tangkap kata-kata Iyem.
Heru kasihan pada Iyem harus terlibat. Tapi siapa yang akan kasihan pada Citra. Dia selalu tabah bila disakiti. Sepuluh kali disakiti ada sebelas maaf dari Citra asal tidak menyangkut keselamatan anak-anaknya.
Semua telah terjadi. Yang bersangkutan tetap harus tanggung jawab.
Waktu terus berlalu dari hari ke hari. Kasus Wenda dilimpahkan ke pengadilan. Wenda kembali masuk penjara sedang Dara dikirim ke RSJ untuk tangani kejiwaan wanita itu. Iyem bebas murni karena tidak terlibat sama sekali.
Tampaknya Wenda sangat demen nginap di hotel gratis. Baru keluar masuk lagi. Kali ini dengan hukuman lebih panjang. Lima belas tahun penjara. Waktu lumayan panjang menghitung hari-hari sepi di penjara. Alvan tak mungkin berbaik hati bebaskan orang yang menyakiti Citra dan anak-anak.
Menjelang akhir tahun kandungan Citra makin membesar menyaingi karung beras. Citra memang tak bisa bergerak bebas lagi. Para dokter mulai kuatir dengan kesehatan Citra yang agak menurun sebab kandungan tidak seperti orang umum.
Alvan pekerjakan seorang perawat khusus untuk melayani semua masalah Citra di bidang kesehatan sedang untuk yang lain ada pembantu terlatih dari yayasan. Citra diperlakukan bagai ratu oleh seisi rumah.
Prahara mulai jauhi keluarga Lingga dan Perkasa. Kedamaian menyelimuti dua keluarga ini. Tiap hari hanya ada canda tawa warnai atmosfer keluarga ini.
Di Beijing Afisa mulai ikut pertandingan di Jepang. Para atlet berbondong-bondong datang ke negeri Sakura itu untuk ikuti lomba senam musim dingin tingkat dunia.
Hanya doa dan harapan dihaturkan oleh keluarga di tanah air. Dapat medali atau tidak bukan tujuan utama. Yang penting Afisa berusaha tanding dengan semangat tinggi.
__ADS_1
Siang itu hujan besar mengguyur persada bumi. Akhir tahun intensitas hujan agak tinggi karena memang musim penghujan. Ada pepatah kuno mengatakan masuk bulan yang berujung ber wajib sediakan ember. Ember buat tampung air hujan.
Pepatah itu mulai ditinggalkan karena bukan ember harus disiapkan kalau musim hujan tapi menyiapkan tempat tinggi untuk pindah perabotan bila hujan. Hujan satu dua jam banjir datang tanpa pakai kartu undangan. Begini kondisi kekinian hampir merata di seluruh daerah bila debit hujan melebihi batas.
Alvan berada di kantor tetap aktifitas seperti biasa. Lelaki ini sudah hidup tenteram bersama anak isteri. Kalau ada umur panjang tak lama lagi keluarga mereka akan bertambah anggota. Alvan tersenyum ingat betapa ramai keluarga mereka bila bayi Citra lahir. Model Azzam lagi atau model Afifa. Apapun dia tetap karunia terindah.
Dering ponsel membuyar lamunan Alvan tentang keluarga penuh kebahagiaan. Kening Alvan berkerut karena masuk nomor tidak dikenal. Panggilan dari nomor baru dari kartu SIM nomor luar negeri.
Sedikit ragu Alvan angkat panggilan itu.
"Halo..."
"Assalamualaikum pak Alvan! Ini Nadine..."
"Waalaikumsalam...ada apa? Kenapa kamu yang telepon? Mana papa dan mama aku? Ada masalah?"
"Oh tidak...ibu dan bapak ada dalam ruangan penghangat! Mereka tak tahan dingin. Ibu minta pulang karena pengobatan dihentikan sampai bukan depan. Bapak minta saya telepon pak Alvan minta ijin pulang dulu."
"Oh gitu ya! Kapan rencana pulang? Apa kami harus jemput ke sana atau pulang dengan pesawat komersial? Aku tak mungkin tinggalkan Citra yang hamil besar."
"Kapan saja asal bapak ijinkan! Aku bisa urus beliau-beliau sampai tanah air. Pak Alvan cukup jemput di Bandara saja. Apa Citra dan kandungan baik saja?"
"Semua aman cuma dia sulit bergerak. Anaknya juga lumayan sehat. Rata-rata di atas satu kilogram. Bisa jadi nanti naik lagi berat mereka. Citra kuat makan."
"Baguslah! Nanti kami kabari bila sudah dapat tiket. Musim dingin di sini luar biasa dingin. Kami tak berani keluar rumah. Semua membeku. Papa Afisa yang antar makanan untuk kami. Mereka sangat baik."
"Aku tahu...di rumah saja kalau memang tak mampu adaptasi. Apa Afisa ada bilang mau pulang sini?"
"Dia kan sedang ikut kejuaraan senam di luar negeri. Sudah dua Minggu lalu mereka berangkat. Afisa didampingi mamanya. Mereka benaran sayang sama Afisa. Kadang aku tak bisa bayangkan kalau Afisa pulang tanah air. Betapa patah hati mereka."
Hati Alvan ikut membeku seperti musim dingin di Tiongkok. Alvan berencana bawa Afisa pulang untuk kumpul dengan saudaranya. Susah dengar kata Nadine pendirian Alvan mulai goyah. Apa Alvan tega pisahkan Afisa dari orang yang sangat sayang padanya. Semua sayang Afisa. Baik Perkasa, Lingga maupun keluarga Chen. Tapi Afisa harus pilih yang mana?
Alvan jadi pusing ingat rencananya layu sebelum berkembang. Baru tumbuh kuncup langsung kena badai tak bisa berbunga mekar.
"Aku tahu ..kabari bila sudah keputusan! Kalau kau tak bisa urus sendirian akan kuutus Untung jemput kalian."
"Tak usah merepotkan mas Untung pak! Biar dia tetap fokus di kantor."
"Baiklah...kutunggu kabar dari kalian. Salam untuk papa dan mama. Katakan semua sehat."
"Iya pak. Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Alvan termenung ingat kedua orang tuanya di negeri orang. Alvan dan kedua orang tuanya makin menjauh sejak kemunculan Citra. Yang Karin berulah, ditambah kasus Kayla. Alvan hampir tak kenal kedua orang tuanya lagi. Papa berselingkuh dengan Karin dan mama dukung orang jahatin Citra.
Bu Dewi dan pak Jono tak bisa tinggal bersama Citra. Apa lagi kondisi Citra jauh dari kata baik. Wanita itu makin hari makin susah bergerak. Mood juga acap kali berubah akibat tak bisa bergerak bebas. Alvan harus berpikir dua kali meminta Citra hamil lagi. Citra tidak sekuat dulu. Energi telah berkurang seiring bertambah usia.
__ADS_1