
Alvan merasa leher dicekik Citra. Wanita ini telah tumbuh kuku tajam siap cakar Alvan hingga terluka parah. Cuma Citra masih berbelas kasih tak gunakan kekerasan balas sakit hatinya dulu. Cukup permainkan kata jatuhkan harga diri Alvan yang setinggi langit. Citra tidak takut dibuang Alvan kayak dulu. Citra telah punya sangkar adem penuh kasih sayang.
"Tak bisakah kau sedikit berbaik hati jaga perasaanku?" tanya Alvan mengharap mulut Citra keluarkan kalimat menghibur. Bukan kalimat provokasi bikin hari Alvan makin kelabu.
"Aku? Aku selalu baik terutama pada pengemis elite. Berpakaian necis minta dikasihani. Dunia ini indah asal kita lihat dari teropong kebenaran. Amei sudah tidur! Bapak boleh cabut dari sini!"
"Ngusir?" Alvan tak suka Citra meremehkan dirinya seakan dirinya pengemis butuh belas kasihan.
"Bukan ngusir! Tak baik bapak lama di sini! Kita bukan muhrim, kita sudah cerai. Bapak boleh datang lagi bersama Kak Karin! Ok?" Citra membuka pintu kamar Afifa lebar-lebar meminta Alvan sadar diri kalau mereka sudah cerai secara agama.
Alvan tidak berniat beranjak dari kamar Afifa. Kalau dia angkat kaki maka semakin sulit balik situ. Hanya Afifa bersedia menerimanya. Azzam dan Citra telah pasang palang tidak terima Alvan.
"Aku di sini untuk anakku! Kalau kau tak suka aku di sini ya terpaksa aku bawa Afifa ke rumah aku." ancam Alvan keluarkan jurus jitu. Citra mana rela Alvan bawa putri kesayangan dari rumah. Wanita itu wanti-wanti Alvan boleh datang tak boleh bawa anak-anak.
"Mau menculik?"
"Lapor saja polisi kalau Alvan Lingga menculik Afifa Lingga! Kita lihat siapa yang berhak asuh anak-anak ini?" sahut Alvan tebalkan muka ancam Citra. Kalau tidak Alvan akan segera tersingkir dari retina mata Afifa. Azzam pasti punya sejuta trik halau bayangan Alvan dari otak Afifa.
Citra tepuk tangan puji keangkuhan Alvan menekan dirinya. Dasar manusia plin plan. Baru janji takkan rebut anak-anak kini lontarkan ancaman akan tuntut hak atas anak-anak.
"Hebat...tak kusangka Pak Alvan terhormat hanya penipu licik! Bapak jangan lupa aku bisa sembunyikan mereka selama sembilan tahun! Bukan tidak mungkin aku sembunyikan mereka dua kali sembilan tahun lagi." sinis Citra belum kalah gertak. Dalam hati Citra bergetar bila benar Alvan mau tuntut Azzam dan Afifa di pengadilan. Kalah menang tergantung kekuatan kekuasaan.
Citra dipastikan kalah total bila jumpa di pengadilan. Kekuatan Alvan menggurita jangkau setiap sudut hukum. Apalah artinya seorang dokter tak punya tulang punggung. Citra tak ada backing di hukum walau punya backing di kehidupan sehari-hari.
"Bapak pikir bisa ancam aku? Aku punya dua saksi hidup bisa melunturkan hak bapak. Kita sudah bercerai sebelum mereka lahir. Jadi apa hak bapak terhadap mereka?"
Alvan tertawa kecil meremehkan Citra. Citra tak paham hukum bisa diatur asal ada bukti konkrit. Secara hukum mereka suami isteri. Talak secara lisan tak ada kekuatan hukum. Alvan bisa saja menyangkal telah pisah dengan Citra. Alvan bisa karang cerita kalau Citra kabur bawa anak-anak. Bukan Alvan terjerat masalah. Citra yang bakal kesandung hukum lari dari suami.
"Neng Citra...kau masih harus sekolah kalau mau lawan aku! Apa ada bukti aku ceraikan kamu? Aku punya bukti kau isteriku dan anak-anak adalah darah dagingku. Sudah kuselidiki mereka memakai marga Lingga. Akta juga tercantum nama Lingga. Apa kau rasa bisa lawan aku di pengadilan?" Alvan tertawa ngejek. Citra menggeram majukan tangan bikin gerakkan ingin cekik leher Alvan.
"Kau tak pernah berubah! Tetap sombong."
"Sombong? Bercermin dulu! Kau atau aku yang sombong? Berhubung aku lelaki sejati bisa dipercaya maka kuhapus niat tuntut hak asuh anak. Keduanya boleh bersamamu tapi jangan batasi aku jumpa mereka. Aku bisa datang semauku. Atau kalian pindah ke rumahku. Dengan demikian kita tak perlu hidup pisah."
Citra besarkan mata tak kira mulut Alvan bisa keluar ajakan tak masuk akal. Mau ulang kisah lama satukan dia dan Karin. Citra tak mau masuk perangkap sama kayak dulu. Sekarang dia punya anak-anak yang pasti sedih lihat ibu mereka dimadu.
"Sakit jiwa...coba cek kewarasan bapak dulu! Dulu aku boleh mengalah jadi kacung kalian. Sekarang aku sudah punya anak-anak. Apa kata Azzam bila lihat ibunya harus serumah dengan saingan. Kau yang akan dicap sinting oleh Azzam. Tak usah mimpi muluk pak!" ujar Citra dengan wajah merah padam. Alvan kembali menghinanya. Lebih baik tinggal di kandang kambing dari pada tinggal serumah dengan Karin.
__ADS_1
"Siapa bilang kamu tinggal serumah dengan Karin. Dia akan pindah setelah sehat. Aku tak mau dia berada di rumah."
"Pak...buang tuh ego! Kasihan Karin! Dia sudah jatuh bapak campakkan dia lagi! Cinta bapak pada Karin cuma setipis kertas? Dulu dia adalah bidadari suci di mata bapak! Kenapa berubah jadi sampah? Ke mana kisah cinta penuh romantika kalian?" Citra kesal Alvan tega usir Karin dari rumah karena dia kena Aids. Semua ini tak lepas dari kesalahan Alvan sebagai suami. Seharusnya Alvan jaga isteri jangan sampai terjadi tragedi hari ini. Alvan ikut bertanggung jawab.
"Baru kali ini kulihat ada orang matian bela saingan cinta."
"Siapa saingan cinta? Aku tak merasa bersaing dengan Karin. Aku sebagai dokter juga sesama wanita melarang bapak buat semena pada Karin. Ingat kisah manis kalian! Sudah kubilang HIV tak menular gitu saja!"
"Tapi dia berselingkuh. Puluhan pria bergilir di tempat tidurnya. Apa dia ada ingat aku? Aku tak pernah selingkuh. Dalam hidupku cuma ada kamu, Karin dan mama. Kini ada ketiga bocahku. Aku lelaki tapi setia. Lalu dia apa?" bentak Alvan bela diri. Alvan tak tahan dipojokkan Citra seakan dia laki paling jahat sedunia. Campakkan Karin di saat dia terpuruk.
Alvan takkan buat gitu kalau Karin tak mulai buat ulah memalukan. Karin sendiri memaksa Alvan berbuat kejam. Harga diri Alvan terkoyak oleh perzinahan Karin. Parahnya dia lakukan juga dengan mertua sendiri.
Citra terdiam tak mampu menjawab. Alvan tidak bisa disalahkan bila Karin berbuat sejauh itu. Cuma Alvan tetap tak boleh usir Karin begitu saja. Alvan harus tunjukkan tanggung jawab sebagai suami menjaga wanitanya.
"Maafkan aku pak! Bukan maksudku memojokkan bapak! Kita lihat dari sisi kemanusiaan. Karin berhak dapat kesempatan kedua." Citra rendahkan nada takut ganggu tidur Afifa.
"Kesempatan kedua? Setengah saja dia tak berhak. Kau tahu anak yang dikandungnya anak papa aku!" akhirnya ganjalan hati Alvan meluncur dari bibirnya. Aib paling memalukan di keluarga Lingga terbongkar pada Citra.
Citra merasa kedua lututnya lemas tak bertenaga. Citra melorot terduduk di lantai tak percaya laporan Alvan. Seberapa bejat Karin melukai Alvan dari luar hingga ke dalam. Pantas Alvan sangat marah pada Karin. Ternyata ada rahasia terselubung dalam keluarga.
Citra tak percaya kupingnya dengar laporan Alvan yang sangat luar biasa. Melukai harga diri Alvan juga menyakiti hati mama Alvan. Masih pantaskah kedua orang itu disebut keluarga? Kini Citra tak menyalahkan Alvan berbuat semena pada Karin. Wanita itu sendiri memilih terjun ke jurang.
Citra menatap Alvan merasa bersalah telah salahkan laki itu. Laki mana sanggup bertahan bila yang berzinah itu isteri dan papa sendiri. Alvan termasuk kuat tidak ambruk.
"Maafkan aku pak! Aku tak tahu Karin berbuat sejauh itu!" lirih Citra.
"Sudahlah! Karin wanita pilihanku! Cuma aku menyesal telah berbuat tak adil padamu. Ijinkan aku cari pegangan pada kalian! Andai tidak ingat anak-anak mungkin aku sudah bertindak di luar akal sehat. Aku mohon jangan pisahkan aku dari anak-anak aku!" Alvan memegang kedua bahu Citra minta toleransi. Di saat rapuh begini Citra dan anak-anak yang jadi obat kuat.
Citra mengangguk ikut prihatin pada nasib Alvan. Alvan menarik Citra ke dalam pelukan merasa kedamaian menyejukkan kalbu. Di sinilah surga sesungguhnya.
Citra tak melawan biarkan Alvan mencari apa yang dia mau. Alvan butuh penyemangat hidup biar tak terpuruk hilang semangat hidup.
"Terima kasih Citra! Ternyata pilihan kakek tak pernah meleset. Aku yang buta tak lihat sebongkah berlian mahal."
"Tak usah sesali yang sudah berlalu. Aku tahu kesalahan Karin sangat fatal tapi kumohon jangan tinggalkan dia di saat ini! Stress akan bantu virusnya berkembang pesat. Cari solusi terbaik!"
"Aku janji takkan usir dia asal kau bersamaku! Aku takut tak mampu tangani Karin sendirian. Aku takut HIV."
__ADS_1
Citra mendengar degup jantung Alvan berpacu sangat kencang. Citra bisa analisa pikiran Alvan sedang kacau balau. Laki ini berusaha nampak tegar di hadapan Citra padahal dalam dada sudah remuk. Citra ijinkan Alvan memeluknya bukan berarti Citra takluk pada laki itu. Citra hanya simpatik pada Alvan.
Citra mendorong tubuh Alvan menjauh. Waktu berkeluh kesah sudah habis. Citra sudah dengar dan jatuh iba. Alvan tetap harus berhadapan dengan kenyataan ini. Lari dari masalah bukan jalan terakhir. Alvan harus punya pendirian bikin keputusan terakhir.
"Bapak tak usah takut. Aku tetap di sini sampai bapak bisa move on. Aku ijinkan bapak temui anak-anak asal jangan ada rencana busuk!"
"Rencana busuk apa? Kau anggap aku ini mafia culik anak-anak?"
"Siapa tahu?" Citra melengos jauhi Alvan risih terlalu dekat dengan laki yang bukan muhrim dalam agama.
"Kau mau ke mana?"
Citra melenggang menuju ke dapur tak peduli pertanyaan Alvan. Citra bisa ke mana selama anaknya masih tidur. Piring kotor di dapur melambai menanti uluran tangan Citra membersihkan tubuh mereka. Kalau piring mangkok bisa bicara tentu akan berseru minta Citra secepat mungkin mandiin mereka.
Alvan menatap punggung Citra sedikit lega. Respon Citra ada perubahan. Wanita itu mulai buka tangan menyambut keberadaan Alvan. Kelihatannya Alvan harus pakai akal bulus tarik rasa iba Citra. Bersandiwara teraniaya oleh Karin dan Pak Jono adalah skenario terbaik. Citra akan jatuh iba hati ijinkan Alvan nginap di rumahnya.
Itu hanya angan Alvan. Fakta belum kelihatan. Kalaupun Citra melunak ada satpam sangar kawal rumah. Alvan pasti diperlakukan bak penjahat hendak maling di rumah Citra.
Strategi Alvan sekarang adalah bertahan di posisi sekarang. Benteng Alvan adalah Afifa. Diserang dua arah masih ada benteng besar siap lindungi Alvan dari ancaman kepunahan.
Alvan duduk bengong tak tahu harus berbuat apa. Ingin berbaring luruskan tulang tua tak ada ranjang memadai tampung tubuh raksasa itu. Paling berbaring di lantai dingin tanpa alas. Lantainya bersih mengkilap tanpa debu. Berbaring takkan kotori pakaian, masalahnya Alvan sanggup tidak berbaring di lantai keras. Orang sudah biasa hidup nyaman di atas kasur empuk. Masa demi anak harus telan pil pahit.
Selagi berpikir keras Alvan menangkap bayangan lewati pintu kamar Afifa yang tak terkunci. Alvan yakin itu Azzam sedang patroli sidak Alvan sedang apa di kamar adiknya. Anak itu tidak singgah, hanya lewati pintu kamar Afifa.
Alvan pindah tempat ke tempat duduk meja belajar Afifa. Kursinya terlalu mungil untuk tubuh besar Alvan. Alvan memaksa tubuhnya duduk di tempat tak semestinya. Bunyi derit tak ramah terdengar samar-samar seolah menolak menampung tubuh tak sesuai porsi.
Alvan menghela nafas. Nasibnya cukup apes sampai kursi saja tak menyambutnya baik. Alvan segera angkat pantat dari kursi Afifa sebelum mematahkan kursi kecil itu. Alvan sadar satu isi kamar Afifa rata-rata berbentuk mini. Ranjang mini, kursi mini bahkan kamar juga mini. Apa Citra tak perhitungkan Afifa akan tumbuh besar kemudian hari. Barang mini begini mana terpakai kelak.
Alvan keluar dari kamar pindah duduk di ruang tamu. Laptop mini untuk Azzam masih belum pindah tempat. Masih setia pada posisi semula. Bisa dibayangkan betapa keras sifat Azzam. Tak bisa disogok pakai hadiah. Azzam cocok jadi pejabat kalau dewasa kelak. Jamin bebas korupsi.
Alvan iseng-iseng buka kotak laptop mini untuk Azzam. Tak ada beda dengan laptop ukuran besar. Semuanya berfungsi sama kecuali layar dan keyboard nya kecil. Tangan Alvan terasa kaku mengetik di keyboard mini itu. Bisa dijalankan namun terasa aneh mengetik kayak ketik di ponsel.
Alvan tak sadar sepasang mata tajam sedang memantau aktifitas Alvan di ruang tamu. Setiap gerak gerik Alvan terpantau cctv hidup. Cctv tanpa kabel, tanpa listrik. Cctv manual online.
"Koko...ngapain situ?" terdengar teguran Citra pada Azzam.
Azzam yang sembunyi di balik bufet beri kode pada Citra agar jangan bersuara. Jari lajang itu menempel di bibir stop Citra melanjutkan bertanya. Citra manggut bodoh tak tahu arah tujuan Azzam.
__ADS_1
Alvan tertawa dalam hati Azzam ketahuan intip dia. Suara Citra terdengar jelas di kuping Alvan. Kode Azzam terlambat datang. Target sudah tahu dipantau satpam sangar. Namun Alvan bijak tidak buka suara agar Azzam tak malu ketangkap basah intip papinya.
Azzam balik badan masuk kamarnya hindari pertanyaan Citra. Tiarap dulu baru lanjutkan misi memantau musuh dalam karung. Tinggal cari pentungan hajar musuh bila ada kesempatan.