
Alvan tak jawab karena ini menyangkut harga diri sebagai seorang laki. Isteri yang dipuja bak malaikat suci ternyata seorang tukang pemulung. Pungut sampah di mana-mana. Tak peduli itu sampah bermanfaat atau hanya limbah. Salah-salah kena infeksi kotoran mengandung bakteri jahat. Kondisi ini sangat cocok disematkan pada Karin.
"Gue hancur dalam sekejap. Mungkin ini karma atas dosa gue melawan kakek. Kakek sudah ingatkan agar jangan nikahi Karin! Beginilah akibat jadi anak durhaka!" keluh Alvan ingat bagaimana sang kakek menentang hubungan dia dan Karin.
Sang kakek sudah melihat sifat Karin secara transparan maka matian larang Alvan nikahi wanita berakal busuk itu. Semua sudah terlambat. Kaki Alvan terlanjur masuk ke dalam jebakan Karin. Mau lepas tak segampang lari estafet maju ke depan. Alvan harus terima nasib jadi pelari gawang lalui banyak kendala untuk capai Finish.
"Jangan gitu bro! Hidup itu ada masa pasang naik pasang surut. Yang penting lhu jangan patah arang. Semua ada jalan selama Pemda masih ada niat bangun jalan untuk raya. Jalan tikus juga banyak!" Daniel menguatkan Alvan agar jangan putus asa. Laki itu masih banyak pr harus dikerjakan. Urusan Karin dan urusan dengan Citra. Bonus bocil-bocil cantik harus diselidiki Alvan. Tugas ini akan menyita sebagian perhatian Alvan. Urusan kantor tetap jadi tanggung jawab utama.
"Daniel benar Van! Kita hadapi bersama. Kami akan dukung kamu selama kamu benar. Kapan-kapan kamu bawa Karin cek up ke sini biar kulihat apa yang terjadi."
Alvan memandangi kedua temannya silih berganti. Dukungan kedua temannya sangat berarti di saat ini. Alvan butuh tulang belakang menyanggah tubuhnya yang sedang rapuh. Tanpa dukungan Daniel mungkin Alvan sudah drop dari awal.
"Terima kasih! Kita pergi makan siang dulu! Gue traktir." ajak Alvan mengisi perut yang mulai berdendang. Lagu sedih mengemis minta diperhatikan bermain di pulau tengah tubuh Alvan.
"Setuju...perut gue juga menari. Makan di mana?" Daniel perlihatkan semangat juang 45 dengar kata makan. Dia sendiri tak makan dengan baik gara-gara Alvan tak sarapan. Dapat kesempatan balas dendam pada makanan mana mungkin disiakan.
"Restoran di sekitar sini saja! Hari ini ada pasien mau dioperasi angkat tumor di rahim. Masih muda sudah harus kehilangan aset berharga."
"Tak bisa diselamatkan?" mulut Daniel menimpali pasien Hans.
"Aku akan coba selamatkan rahimnya. Skenario terburuk yakni angkat rahimnya. Tapi aku akan usaha. Doakan saja! Masih gadis lho! Umur dua puluhan." Hans bercerita tentang pasien yang dia tangani.
"Kasihan...dari mana asal penyakitnya? Obral diri?" sekak Daniel beri pandangan negatif.
"Gadis tulen. Masih ori. Kurasa itu gen bawaan. Semoga anak itu tabah. Kau tahu orang tuanya pukul dia setengah mati pikir dia hamil dengan perut buncit. Tetangga sampai usir dia. Untunglah aparat desa masih ada yang waras bawa dia ke dokter! Dia dirujuk ke sini atas swadaya penduduk sekampung. Gotong royong kumpul duit untuk operasi gadis ini tebus rasa bersalah pada anak itu."
Daniel dan Alvan bersyukur atas berkah yang terjadi pada pasien Hans. Di tengah kegelapan muncul seberkas sinar terangi jalan gadis itu. Semoga muncul manusia-manusia berhati mulia siap bantu sesama tanpa pamrih.
Hans bersiap-siap tinggalkan ruang praktek ikut Alvan dan Daniel isi perut. Sebelumnya Hans tinggalkan pesan pada suster yang menjadi tangan kanannya. Hans berjanji akan tepat waktu lakukan tugas sebagai dokter untuk kasus gadis bertumor.
Di tempat lain di komplek perumahan sederhana seorang wanita bertubuh mungil turun dari motor matic persis di depan pintu pagar. Wajah lembut dan sendu wanita ini mendatangkan keteduhan bagi orang yang menatap wajahnya.
Wanita itu Citra, isteri Alvan yang tercampak tanpa belas kasihan dari Alvan. Citra membuka pintu pagar lalu mendorong motor matic itu masuk ke pekarangan kecil penuh tumbuhan herbal.
Citra buka helm melemaskan leher yang lelah menyanggah topi keselamatan berkendaraan. Helm diletakkan di meja kecil samping kursi rotan.
"Assalamualaikum..." suara lembut Citra berkumandang beri salam pada penghuni rumah.
"Waalaikumsalam.." terdengar sahutan bukan dari dalam rumah melainkan dari samping.
__ADS_1
Citra tersenyum melihat kedua anaknya keluar dari rumah sebelah. Mereka tampak senang melihat mama mereka pulang tepat waktu sesuai janji. Keduanya berlarian dari rumah Ance menyeberang ke rumah sendiri. Ance ikut dari belakang pastikan kedua anak itu selamat pulang ke tangan mama mereka.
Afifa langsung memeluk pinggang sang mama saking kangen padahal pisah belum setengah hari. Azzam lebih dewasa menatap interaksi kedua anak ibu dengan senyum puas. Azzam senang lihat adiknya nyaman.
"Yok masuk! Mama ada beli makanan lezat. Pizza kesukaan Koko dan Amei. Ance ikut makan! Terima kasih sudah awasi Koko dan Amei."
Ance malu-malu kucing diajak masuk oleh wanita berparas anak-anak itu. Kalau cerita Afifa dan Azzam anak Citra takkan ada orang percaya. Wanita semuda Citra dari mana ada segede Azzam. Citra tak ubah anak gadis berumur tujuh belas tahun.
Citra buka pintu rumah iringi anak-anak dan Ance masuk rumah. Di sudut rumah sudah ada tiga buah koper untuk keluar Citra. Citra berniat ajak anak-anak tinggalkan kota ini sementara waktu untuk hindari masalah. Citra tak mau jumpa Alvan lagi. Alvan adalah kenangan buruk bagi Citra.
Mimpi pun Citra tak menyangka akan bertemu laki itu lagi. Orang yang paling dia takuti kini hadir lagi mengusik ketenangan hidupnya. Sembilan tahun dia pergi jauh untuk tak bertemu dengan mantan suami. Citra tak mau berada dalam tekanan laki itu lagi. Cukup sudah kesedihan yang diberi laki itu.
"Mbak...jadi berangkat ke Jogja?" Ance berkata lihat koper-koper sudah siaga berangkat jauh. Ance akan kehilangan teman tengkar yang sok dewasa padahal masih bayi. Ance menyayangi Afifa dan Azzam seperti adik sendiri ataupun keponakan. Kedua anak itu jadi pelipur lara Alvan di kala sepi. Azzam selalu hibur Ance dengan ocehan bikin hati gemas.
"Kayaknya jadi...tunggu mbak balik rumah sakit ambil dokumen mbak! Selama kami pergi Ance harus jaga rumah mbak ya!" ujar Citra sambil menyuguhkan pizza buat ketiga orang itu. Dua kotak pizza ukuran sedang untuk jadi santapan makan siang. Hari ini Citra tak sempat masak karena urus surat ijin dan surat resign dari rumah sakit pimpinan Hans. Citra harus menghindari Avan agar kenangan buruk tak hantui dia.
"Kak Citra...kita lama di Jogja?" tanya Azzam mencomot pizza yang sudah diberi saos cabe oleh Citra.
Citra besarkan mata tak suka Azzam permainkan statusnya. Anak lajang itu cengar-cengir pura-pura tak lihat mata indah mamanya sedang memancarkan sinar tajam.
"Jaga mulut Ko! Aku ini mamamu. Bukan kakakmu!" seru Citra sewot.
"Dasar anak nakal! Rugi mama berjuang sembilan bulan melahirkan kamu. Ini balasanmu pada mama?"
Azzam bukannya takut tapi terkekeh lihat Citra sewot tak diakui sebagai ibu. Di mata Azzam Citra masih terlalu muda untuk punya anak segede dia. Citra tak ubah anak kecil cantik berprofesi dokter.
"Ko...kasihan mami! Ayok minta maaf!" Afifa bela Citra yang disudutkan abang kembarnya.
"Tuh dengar! Adikmu ngerti...ayok makan! Setelah itu kalian tidur siang. Sore kita pergi ke Jogja." kata Citra beri perintah tak mau dibantah.
"Mami...kita sedang sekolah! Tiba-tiba libur..apa tak ketinggalan pelajaran? Koko rasa kita tunda dulu sampai liburan baru ke sana. Apa mami tak kasihan pada kami harus kejar pelajaran tertinggal?" mulut bijak Azzam kembali kemukakan isi hati.
Citra ingin benarkan kata Azzam namun ada yang lebih dari itu. Alvan hadir ganggu ketenangan mereka yang sudah terbina bertahun-tahun. Citra hidup dengan baik tanpa campur tangan manusia berhati batu itu. Cukup sekali Citra dapat perlakuan tak pantas dari Karin dan Alvan. Tak ada kedua kali.
"Ko...mami minta maaf! Kita harus pergi untuk sementara." Citra perlihatkan wajah tak berdaya.
Afifa dan Ance diam nikmati pizza tak begitu simak obrolan Azzam dan Citra. Makanan full keju itu lebih menarik dari obrolan kosong antara ibu anak itu.
"Beri alasan mengapa kita harus pergi? Karena orang yang mirip Koko?"
__ADS_1
Kalimat dari mulut Azzam bekukan Citra. Citra bagai kesengat listrik jutaan volt sampai tak sanggup keluarkan sepatah kata. Dari mana anaknya tahu ada makhluk mirip dengannya. Apa mereka pernah jumpa. Di mana?
"Iya mbak...pagi tadi ada dua cowok ganteng datang sini cari mbak! Kami suruh tunggu di teras. Azzam dan Afifa kubawa ke rumah takut orang itu niat jahat. Katanya sore akan balik sini." Ance ikut sumbang cerita makin dinginkan hati Citra.
Mulut Citra terasa kelu untuk jawab kata-kata Ance. Citra tak sangka Alvan bergerak cepat menemukan rumahnya. Kejutan apa akan diberikan aki itu.
"Mami...kita tak perlu menghindar terusan! Hadapi semuanya dengan tangan terbuka! Sampai kapan mami mau menghindar? Kami anak-anak mami pasti akan dukung mami. Kami sudah gede tahu mana baik dan buruk. Selamanya kami berpihak pada mami." Azzam bangkit dari kursi memeluk Citra dari belakang. Tinggi Azzam hampir menyamai maminya. Maka itu Azzam suka meledek maminya hanya sebagai kakak bukan mami.
"Ko...apa maksudmu?" tanya Citra dengan mulut bergetar.
"Koko ngerti kok! Mami tak perlu main petak umpet dengan orang itu! Cepat atau lambat kalian akan bertemu lagi. Jaga sikap! Mami memang kecil tapi mental harus terbuat dari baja. Mami punya tiga backing gede. Jika perlu tambah kak Ancur! Kami akan jadi pendukung mami."
Citra dibuat termenung oleh kata-kata Azzam. Dari mana terpikir oleh anak seumur Azzam kalimat bijak nasehati induk sendiri. Semua kata Azzam itu mengandung kebenaran. Sampai kapan dia akan main kucing-kucingan dengan Alvan. Anak-anak dari hari ke hari tumbuh besar perlu satu jawaban tentang silsilah keluarga mereka. Citra tak mungkin seumur hidup berbohong siapa bapak mereka.
Cuma Citra takut Alvan menuntut anak-anaknya karena laki itu menderita kekurangan tak bisa punya keturunan. Citra takut Alvan meminta anak-anaknya untuk dirawat Karin. Citra tak rela anaknya yang cantik manis disentuh wanita judes macam Karin. Tingkah Karin yang jauh dari kata positif pasti akan pengaruhi pertumbuhan anak-anak. Citra belum punya jiwa sebesar itu serahkan anak-anaknya kepada Alvan.
"Ko...mami takut?" desis Citra.
"Mamiku sayang! Koko sudah gede bisa pilih yang terbaik. Koko akan lindungi mami dan Afifa semampu Koko. Ada kak Ancur lindungi kita. Kita aman di sini! Tak perlu hindari badai. Angin sudah bertiup tetap akan muncul badai. Kita bangun benteng kuat lindungi diri." ujar Azzam bak orang tua bicara dengan anak kecil. Gaya Azzam bikin Ance gemas pingin cubit pipi berisi daging itu. Azzam dewasa belum waktunya.
Citra makin galau dikuliti Azzam. Azzam mengajar Citra untuk lebih berani hadapi Alvan. Menghindar sana sini bukan jalan tepat. Kalau memang harus jumpa umpet di kandang tikus tetap akan jumpa. Mungkin sudah saatnya Citra berdiri tegak lawan Alvan. Tak peduli seberapa keras Alvan menuntut sesuatu yang bukan haknya, Citra bulatkan hati akan melawan.
"Baiklah Ko! Kita tetap di sini tapi mami akan cari kerja di rumah sakit lain."
"No problem...yang penting kita tetap di sini menanti badai. Yok makan mami! Lihat tuh bayi mami makan belepotan saos!" Azzam menunjuk Afifa yang sedang fokus santap pizza di beri saos tomat. Afifa tak seperti Azzam terlalu dewasa. Afifa seperti anak kecil umumnya. Berpikir lugu tak banyak putar otak cari jawaban untuk masalah maminya. Dunia Afifa murni dunia kanak-kanak tanpa trik.
Citra tersenyum lucu lihat bibir anak bungsunya penuh saos. Bibir mungil Afifa jadi merah berhias bercak saos. Mata bening Afifa berputar tak open bagaimana suasana hati Citra. Makan kenyang kan perut lebih penting. Apa lagi pizza yang dibawa Citra cukup lezat. Makan dua potong belum puaskan perut Afifa.
Citra ambil tisu bersihkan pipi dan sekitar bibir mungil Afifa. Gadis mungil itu meruncingkan bibir agar Citra gampang bekerja bersihin bibirnya.
Ance tuang air minum untuk Afifa agar gadis mungil yang dia sayangi tak tersedak keasyikan kunyah makanan junk food itu. Semua sayang pada Afifa yang mirip boneka. Kalau dibawa keluar tak ada yang tak ingin cubit pipi putih mulus itu. Dekik kecil di kedua pipi membuat kelucuan Afifa makin menyeruak.
"Oya mbak...tadi tubuh Amei agak hangat dikit! Nanti kasih obat ya! Takutnya makin panas nanti!" Ance teringat suhu tubuh Afifa sedikit panas dari pagi tadi. Ance segera laporkan agar tak terjadi hal tak diinginkan.
"Amei kurang enak badan nak? Ada yang sakit?" Citra menyentuh kening Afifa pakai telapak tangan ukur suhu Afifa secara manual. Memang sedikit hangat.
"Amei sehat kok mami! Cuma pagi tadi ada mual dikit. Dikit sekali." Afifa peragakan mualnya pakai ujung jari.
"Ya sudah...kita minum obat setelah makan. Lalu tidur ya nak! Biar cepat sehat lagi."
__ADS_1
"Kita tak jadi naik kereta api?"