ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Ancaman Karin


__ADS_3

Giliran Citra pusing dengar suara hati Alvan. Dinilai dari tingkah tak terpuji Karin bisa saja terjadi hal begini. Cuma Citra belum percaya ada orang sekeji gitu jerumuskan orang yang dia cintai. Hati nurani Karin termakan oleh virus maka tak ada tersisa.


"Kenapa? Tak bisa jamin kan? Citra...tidak semua orang tulus macam kamu! Beri aku waktu ambil keputusan soal nasib Karin. Aku bukan orang tak punya hati terlantar dia! Aku akan penuhi segala kebutuhan hidupnya tapi tidak hidup bersama lagi. Kuharap kau maklum."


Citra tak berdaya melawan kata-kata Alvan. Kata Alvan bukan tidak ada alasan. Sikap Karin sulit ditebak apa lagi di saat dia sedang kalap. Karin kehilangan bayi dan mengidap virus HIV, mentalnya pasti tergoncang. Dia butuh orang menenangkan jiwa.


Kalau bisa Citra ingin menenangkan Karin tapi banyak kendala melarang Citra jumpa dengan Karin. Ntah apa yang bakal terjadi bila mereka jumpa lagi. Hal baik atau buruk yang bakal datang? Itu belum terjawab sebelum Karin pulih dari keguguran.


"Baiklah! Tapi janji tiap hari jenguk dia! Atau aku yang pergi jumpa dia."


"No...jangan coba-coba jumpa sebelum kita tahu apa yang dia inginkan! Aku kuatir anak-anak jadi korban." Alvan kaget Citra punya pikiran jumpa Karin.


"Ok...kalau gitu bapak yang ke sana!"


"Baik...aku janji!"


"Terima kasih...Oya...Andi gimana? Bisa diandalkan?"


"Sangat bagus...teliti dan rajin! Dia kuangkat jadi asisten Wenda sekretaris aku! Tadi pagi ada file salah angka, untung Andi cermat menemukan kesalahan Wenda. Kalau sempat dikirim ke klien bukan sedikit rugi perusahaan."


Citra tersenyum puas akhirnya Andi punya kesempatan unjuk gigi memamerkan kepintaran di bidangnya. Selama ini orang anggap Andi hanya hama keluarga. Manusia tak berguna. Tiap hari seliweran gaya feminimnya. Untunglah Alvan bersedia kasih kesempatan pada Andi menjadi orang berguna.


"Terima kasih pak! Andi telah temukan jati diri! Jangan segan tegur dia bila melenceng dari kodrat!"


"Kalau dia masih bergaya kayak banci gitu akan kugantung dia di atap gedung. Semua ada batasnya. Yang harus berakhir tetap berakhir."


"Minum tehnya! Dingin tak enak lagi." Citra persilahkan Alvan cicipi teh seduhannya. Teh itu nganggur dari tadi tak disentuh Alvan. Teh itu tidak semenarik Citra. Teh berfungsi menenangkan pikiran sedang Citra menenangkan hati. Kedua sama-sama menenangkan.


Alvan mengangkat cangkir berisi teh. Wangi teh mints menyegarkan lidah. Mulut Alvan langsung berubah segar kena teh wangi. Kerongkongan plong tersiram air segar.


"Aku tidur di mana?" Alvan meletakkan cangkir setelah setengah isi cangkir berpindah tempat.


"Kalau Afifa sudah tidur bapak pulang saja! Rumah kami kecil untuk ukuran tubuh bapak."


"Tapi aku sudah janji pada Afifa tidur bersamanya. Kau tak ingin Afifa kecewa kan?"


Citra menutup mata tak bisa jawab. Mengecewakan Afifa tentu tak ada dalam hati. Tapi ijinkan Alvan tidur di rumah bukan jalan terbaik. Sekali dapat lampu hijau seterusnya lampu itu akan menyala.


"Aku butuh istirahat untuk operasi pasien. Kehadiran bapak ganggu konsentrasi aku. Kuharap bapak mengerti. Aku belum biasa ada laki dewasa berada di rumahku malam hari"


"Kau mau bilang tidak pernah hubungan dengan laki lain selain aku?"


"Apa aku serendah itu? Akhlak aku masih utuh. Belum tergerus oleh nafsu. Pergilah lihat Afifa! Tak lama lagi dia akan tidur. Lalu pulang ya!" ujar Citra halus tanpa memaksa.


Alvan mengangguk mengingat kejujuran Citra. Citra butuh konsentrasi untuk lakukan operasi pasien. Alvan bukan manusia tak punya akal sehat. Permohonan Citra sangat masuk akal. Dia butuh istirahat cukup.

__ADS_1


Andai Alvan ngotot mau tidur di situ. Citra mungkin tak bisa tidur semalaman. Ini akan menganggu pekerjaan Citra di rumah sakit.


"Baiklah! Kuharap suatu hari nanti aku bisa tidur di sini. Aku bapak anak-anak lho!"


"Aku tahu...yang bilang bapak kakeknya anak-anak siapa? Aku mau mandi dulu! Sudah malam..." Citra bangkit hendak tinggalkan Alvan.


"Mau kumandiin?"


"Boleh...asal rela kusuntik obat anjing gila!" sahut Citra santai. Lelaki cabul macam Alvan bukan sedikit warnai hari-hari Citra. Dari jaman kuliah hingga sekarang ntah sudah berapa banyak cowok ingin dekati Citra. Citra acuh tak acuh terhadap semua gombalan cowok. Citra menutup mata hati dari cowok agar tak jatuh pada lubang yang sama.


"Sadis amat! Cepat mandinya! Ini sudah kelewat malam. Jangan mentang seorang dokter abaikan kesehatan sendiri! Apa ilmu kedokteran tak ajarkan bahaya mandi malam? Rawan reumatik dan masuk angin."


"Cerewet..." Citra tinggalkan Alvan masuk ke kamar sendiri. Alvan menatap nanar sosok mungil itu hilang di telan pintu. Andai saja dia tidak khilaf talak Citra mungkin sekarang dia bahagia bersama dua wanita dia cintai. Mau dibilang tamak Alvan takkan menolak. Dia memang mulai suka pada Citra sejak kejadian naas menimpa Citra. Sayang sekali waktunya singkat. Sebulan setelah mereka hubungan intim kakek datang memaksa Alvan jatuh talak pada Citra. Segalanya berubah. Citra pergi tanpa kabar selama sembilan tahun.


Semua salah Alvan memandang Karin terlalu sempurna. Sekarang makan tuh wanita paling sempurna di dunia. Saking sempurna sampai mengeluarkan belatung dari hati Karin. Bau busuk menyebar ke mana-mana.


Alvan menghela nafas sedih. Umur bertambah kepedihan juga ikut bertambah. Bukannya menikmati jerih payah seumur hidup. Justru nelangsa di usia dekat kepala empat. Masih untung Citra mengandung anak-anak. Coba kalau tidak, keturunan Lingga punah di tangannya. Alvan bergidik mengingat balasan yang diterimanya berbuat dzolim pada Citra.


Dengan berat hati Alvan masuk ke kamar Afifa. Gadis kecil itu masih belajar sendirian tanpa Azzam. Alvan puji ketekunan Afifa mengulang pelajaran walau tidak sepintar Azzam. Selama ada kemauan tetap ada jalan.


"Sayang...belum siap belajar?" Alvan berdiri di belakang Afifa melihat apa yang dibaca anaknya. Buku pelajaran Bahasa Indonesia.


Afifa memutar kepala menatap Alvan sambil tersenyum manis. Lagi-lagi dekik kecil Afifa menyumbang kecantikan alami gadis mungil ini.


"Sudah selesai! Diajar Koko! Amei cuma ulang biar tidak lupa. Papi sudah ngantuk?"


"Sebentar lagi! Tinggal dikit. Papi berbaring saja di kasur Amei. Tidur duluan."


Alvan melirik kasur single bed Afifa dengan hati gundah. Kasur sekecil ini apa muat menampung tubuhnya yang besar. Jangan-jangan nanti ambruk tak mampu tampung dua sosok manusia walau beda ukuran.


"Papi tunggu Afifa saja! Ayok selesaikan pelajaran kamu! Papi menunggumu."


"Iya Pi! Duduk saja di kasur!" pinta Afifa memutar kepala menghadap buku di meja. Wajah Afifa serius menekuni setiap bait kalimat di buku cetak. Kalaupun Afifa tidak dapat ranking tak masalah. Gadis kecil ini telah berusaha belajar sebaik-baiknya. Hasilnya ya tergantung nasib Afifa.


Alvan tidak keluarkan suara biarkan Afifa belajar tenang. Cukup bosan sih! Namun ini resiko menjadi bapak teladan. Bapak yang sedang belajar menjadi papi baik buat anaknya. Alvan terkantuk-kantuk di atas kasur Afifa. Ingin rebahan takut benaran ketiduran. Citra bisa anggap Alvan ingkar janji tidak usik Citra.


Alvan serba salah. Bagaimana cara melawan kebosanan menanti Afifa belajar. Pergi melihat Citra mandi atau lihat apa yang sedang dilakukan Azzam. Lajang kecil itu memang anak berpendirian kokoh. Hadiah dari Alvan masih tergeletak manis di atas meja. Tidak bergeser dari posisi semula. Alvan harus menangis sedih diabaikan Azzam atau harus bangga pada keteguhan anak laki satu-satunya. Alvan harus putar otak menarik simpatik Azzam. Tidak gampang menaklukkan anak sebrilian Azzam. Butuh olah otak lebih licin.


Alvan terkantuk-kantuk di pinggir ranjang Afifa. Satu jam berlalu menguji kesabaran Alvan. Ternyata menjadi papi sempurna tidak gampang. Afifa mudah dikuasai namun gadis ini menyita waktu Alvan. Afifa sedikit lamban dibanding Azzam.


"Papi..." suara lembut Afifa mengembalikan alam sadar Alvan yang nyaris melayang ke alam tidur.


Mata sayu Alvan berusaha dibuka. Samar-samar Alvan melihat gadisnya berdiri di depannya dibarengi senyum manis. Antara sadar tidak sadar Alvan meraih Afifa ke pelukannya. Karunia Allah yang paling berharga dalam hidup Alvan. Malaikat suci pemberian Yang Maha Kuasa.


"Sudah selesai?" tanya Alvan mendekatkan kepala Afifa ke jantungnya. Alvan bisa merasakan anggukan kecil dari Afifa. Kepala mungil itu bergerak menggesek dada Alvan.

__ADS_1


"Amei pergi sikat gigi dulu ya! Sekalian ucapkan selamat malam pada mami! Papi mau ikut?"


"Ke mana?"


"Ke kamar mami!"


"Tak usah! Afifa saja. Papi tunggu di sini." Alvan sengaja tidak ikut takut Citra salah sangka pikir dia lelaki mesum cari kesempatan. Alvan akan bangun image baru agar Citra respek padanya. Kalaupun kelak mereka bersama lagi bukan karena hawa nafsu tapi perasaan tulus dari Alvan.


Memang butuh pengorbanan namun cuma itu bisa Alvan lakukan membuang bayangan buruk di hati Citra. Alvan sudah terlanjur buruk di mata Citra. Ini gara-gara perilaku gila Alvan sembilan tahun lalu.


Tak lama Afifa balik bersiap tidur. Buku-buku pelajaran sudah tersusun rapi di tempat masing-masing. Tas warna cream pudar tergantung di belakang kursi. Alvan duga itu tas berisi buku pelajaran sekolah untuk esok hari.


Anak mandiri tak menyusahkan orang tua. Citra patut diacungi jempol melatih anak hingga benar patuh dan mandiri.


Afifa naik ke kasur lantas be geser ke samping beri tempat pada Alvan untuk ikut berbaring di sampingnya. Alvan meringis sedih lihat tempat disediakan Afifa. Setengah badan Alvan saja tidak tertampung di situ. Bagaimana Alvan bisa tidur nyenyak bila ranjangnya seupil.


"Afifa tidur dulu! Papi tidur nanti! Papi menunggu telepon dari Om Untung." Alvan membantu Afifa berbaring dengan posisi telentang. Satu kecupan mesra Alvan hadiahkan buat putri tercinta.


Afifa tersenyum merasakan suasana beda dari biasa. Bertahun Citra yang selalu di sampingnya menjelang tidur. Kecupan selamat malam tak pernah absen selama delapan tahun. Malam ini Afifa tak dapat kecupan Citra diganti kecupan Alvan. Ada rasa haru di hati Afifa. Penantian bertahun akhirnya datang. Seorang papi ganteng menemani dia menyongsong fajar cerah.


"Tidurlah sayang! Mimpi indah!" Alvan menarik selimut tutupi seluruh tubuh Afifa hingga batas leher.


"Selamat malam Pi..!" Alvan mengangguk. Laki ini duduk di pinggir ranjang Afifa tak bosan menatap buah hati yang sempat hilang selama delapan tahun. Seorang anak cantik bak boneka.


Nafas Afifa teratur dibarengi dada turun naik ikuti irama ******* nafas. Anak gadis Alvan telah tidur dibuai mimpi. Ntah apa isi mimpi gadis cilik ini. Semoga saja mimpi sesuai keinginan Afifa.


Alvan perlahan meninggalkan kamar Afifa. Alvan melirik sekali lagi yakinkan diri Afifa sudah pulas. Alvan tak ingin mengecewakan Afifa pergi setelah dia tidur. Gadis cilik itu pasti sedih papinya ingkar janji.


Alvan menemukan Citra sendirian di ruang tamu memainkan laptop berpangku di atas paha. Keheningan meliputi seluruh ruang tamu itu. Tak ada tanda-tanda ada kegiatan di dalam rumah selain nafas Alvan dan Citra.


Alvan tak berniat ganggu Citra menekuni benda mirip kotak tipis itu. Laki ini tempatkan pantat di samping Citra tanpa niat jelek. Alvan hanya ingin tahu apa yang dikerjakan Citra.


Di layar laptop tampak artikel tentang penyakit Aids. Citra sedang pelajari segala yang menyangkut penyakit Karin. Citra berharap ada kemujizatan hilangkan penyakit mengerikan itu dari tubuh Karin.


Alvan tak tahu harus bagaimana menyanjung kebesaran jiwa Citra. Karin itu musuh terbesar Citra. Karin yang telah menghancurkan seluruh hidup Citra. Bisa-bisanya Citra mengkuatirkan kesehatan musuh bebuyutan dia.


Hati Citra terbuat dari apa? Emas murni atau berlian berkualitas internasional? Kalau jatuh pada orang lain mungkin akan bersyukur musuh kena adzab luar biasa dahsyat.


"Citra...kau sedang apa?"


Citra mengalihkan mata dari laptop menatap Alvan dengan mata bening. Tak tersirat dendam atau amarah di mata bersih itu. Itulah Citra yang pernah rasakan kesedihan bergunung.


"Aku lagi cari artikel tentang Aids. Ini ada seorang tentara kena Aids waktu transfusi darah. Dia terluka waktu ikut perang. Dokter terpaksa transfusi darah tanpa cek lab. Maklumlah di daerah rawan. Ternyata pendonornya ada virus HIV. Dia pasrah memilih hidup di alam bebas beternak kambing dan sapi. Dia konsumsi herbal dari alam. Dia tak pernah cek ulang hingga akhir hayatnya. Dia hidup sampai umur tujuh puluh tahun. Dia sendiri tak tahu dia telah bebas HIV atau tidak. Dia hidup empat puluh tahun dari dia kena HIV. Keajaiban dari ketulusan tentara itu." cerita Citra tanpa diminta Alvan. Alvan tak tahu makna apa ingin disampaikan Citra padanya.


"Lalu?" tanya Alvan menanggapi cerita Citra.

__ADS_1


"Hidup damai dan tetap berbahagia sanggup melawan segala penyakit. Karin punya peluang hidup puluhan tahun asal dia berpikir positif sambil konsumsi obat. Buang segala pikiran buruk."


"Apa kau pikir Karin bisa? Otaknya penuh ide gila. Hanya orang gila mampu khianati suami berzinah dengan mertua. Kau tak tahu bagaimana dia ancam aku kalau ceraikan dia? Dia akan sebar rekaman dia sedang hubungan dengan papa."


__ADS_2